Rabu, 08 Oktober 2014

Hukum Sepuluh Ribu Jam

Lakukan 'itu' sepuluh ribu jam, maka kamulah sang ahli.
*  


  Beberapa dosenku bilang, kamu akan menjadi ahli saat melakukan hal itu sebanyak 10 ribu jam. Dan saat itu, aku merasa berdosa. Begitu berdosa. Saat ketertarikan suatu bidang melebihi hawa nafsu akan harta. Saat peluang selalu menampilkan jati dirinya ditengah kehampaan, seolah aku menjadi orang yang linglung, tersesat, dan benar-benar payah.

  Di dunia itu terlalu banyak hal, terlebih lagi banyak hal menarik yang ingin sekali ditelusuri, dipelajari, dan dinikmati. Terlalu banyak, sangat banyak, bahkan aku tak bisa membedakan, mana yang diminat atau sekadar ingin tahu. Semua terlalu hebat.

  Ini menjadi beban yang begitu berat, saat peluang yang hadir memberimu harapan. Terkadang aku berdiam diri, ya, kembali di tengah pekat malam. Terkadang pun misuh-misuh ke seseorang. "Aku begitu tak fokus, bayangkan, setiap hari yang kulakukan berbeda-beda." Setelah itu aku lalu menasehati temanku yang lain dengan sotoynya, bahwa hidup jangan statis.

  Tapi, setelah ditilik, hidup dinamis, terlalu dinamis memang asyik. Namun, ada efek samping. Apa yang bisa aku jadikan sebuah keahlian? Jangankan 10 ribu jam, seratus jam saja aku tak mampu. Terkadang aku ingin melepas segalanya dan fokus terhadap satu hal. Tapi, seperti ibu yang menyayangi semua anaknya tanpa memikirkan anak pertama hebat atau kedua begitu. Aku ingin mengasuh mereka semua.

  Hukum 10 ribu jam itu terus menghantui, sialnya begitu. Sekarang aku menulis ini dengan hati yang bimbang. Apa bisa aku merelakan sesuatu untuk sesuatu yang lebih hebat? Seharusnya bisa, tapi... Ah sial, peluang itu hadir lagi, ia menggodaku. Dan akhirnya, aku terjerembat lagi. Lagi, dan lagi.

  Ketikda konsistenan ini kuyakin bakal menikamku diam-diam saat aku tak berdaya dan seolah tak berguna, karena tak ada satu pun yang kusebut ahli. Entah, itu hanya presepsi semata. Tapi, aku benar-benar kesal dengan diri ini saat ini. Tolong, fokus... Fokus!

Selasa, 07 Oktober 2014

Dolog

  Apa itu Dolog? Saat itu ruangan senyap, beberapa orang menanti satu orang untuk menjawabnya. Sementara satu orang itu sibuk mengetik kata 'Dolog' di papan keyboardnya. Jeda beberapa detik, semua kembali berbincang.

  Jadi Dolog adalah... Dan malam itu diakhiri dengan berpusing dan pekerjaan yang siap menikam.

Minggu, 05 Oktober 2014

Efek Manipulasi Tulang Rawan

  Apa ada yang memperhatikan detail kecil itu? Ya, ada perbedaan postur tubuh saat siang hingga malam hari dengan pagi hari. Apa yang membuatnya berbeda? Beberapa hari ini, aku menjadi doyan baca hal-hal seperti ini. Dan akhirnya aku mendapati jawabannya.
  
  Sebenarnya inti permasalahannya adalah tulang rawan kita. Pada saat siang hingga malam hari kita banyak melakukan aktivitas sehingga tanpa disadari kita mengkompres atau menekan tulang rawan kita saat kita berjalan, berlari, atau aktivitas lainnya.

  Hal tersebut yang mengakibatkan kita terlihat lebih pendek saat malam hari. Berbeda dengan pagi hari, di pagi hari kita telah melewati proses hebat yaitu, tidur. Saat tidur tubuh kita menjadi lebih rileks dan tidak mendapati tekanan terhadap tulang kita, sehingga tubuh kembali mengembang dan seolah-olah memanjang.

  Dan sekarang aku memikirkan, tepatnya saat aku menatap cermin lamat-lamat. Aku merasa, hidungku terkadang membesar dan ketika mencermin di lain waktu aku merasa hidungku baik-baik saja. Apakah ini ada sebab sehingga berakibat seperti itu? Oh hidungku.

Sabtu, 04 Oktober 2014

Apresiasi Kaula Muda

  Ketika itu waktu sedang senggang, selepas melepas keringat, mengorbit kesana-kemari mencari sebuah kemenangan yang tak kunjung pasti. Dan pada akhirnya, keringat itu membuahkan hasil. Hasil yang sebanding dengan usaha yang cukup giat. Dan di saat senggang itu, aku sejenak terdiam. Melepas karbondioksida dan terus bertukar dengan oksigen, detik demi detik.

  "Hello... Kaula Muda." ujar salah satu pembawa acara salah satu radio yang terdengar dari salah satu laptop temanku. Saat itu aku terbangkit dari terdiam. Dan tiba-tiba saja kata-kata kaula muda itu mengganggu diriku. Seolah-olah aku terus dibisiki kata-kata itu. Sungguh laknat memang, kata-kata itu memintanya untuk mengaitkan dengan perihal lain. Ya, ini yang cukup menarik.

  Beberapa waktu sebelumnya, di malam yang ramai. Aku dan beberapa orang hebat berdiskusi renyah, dengan sajian ala kadarnya dariku. Kami tenggelam dalam berbagai opini, fakta, dan cerita pengalaman yang tak kalah menariknya.

  Perbincangan yang terjadi sebenarnya tak terlalu penting, tapi tak cukup hebat untuk diabaikan. Saat itu salah seorang dari kami bilang. "Kalian tahu perbedaan bangsa ini dengan bangsa maju diluar sana?" pertanyaan itu seolah mengundang seribu tanya dalam sel-sel otakku. Menstimulus bekerja lebih giat, pada akhirnya aku mendapati buku hampa dalam otakku. Aku tak tahu menahu akan perbedaan yang ia tuju.

  "Apresiasi." saat itu aku tenggelam. Beberapa hari setelah diskusi itu, aku menjadi seorang panitia di sebuah acara. Di sana, aku mencoba lagi hal baru. Aku menikmatinya, tapi aku bukanlah apa-apa. Tak terlalu hebat performaku saat itu, dan sebenarnya sebuah apresiasi sedikit menarik. Setidaknya atas usaha itu.

  Tentu saja, apresiasi itu melayang. Walau lebih terlihat, banyak hal yang harus diperbaiki. Malam itu menjadi sedikit bahan renunganku, bahwa waktu memang begitu implikasi terhadap semua hal. Tak jauh seperti pengalaman, butuh waktu untuk membuatnya menjadi hebat.

  Keesokannya, setelah aku mencari kemenangan dan mendengar pembawa acara radio berkata "Kaula Muda." Saat itu juga aku merasa, semua ini berhubungan. Ya, apa yang membedakan kebiasaan masyarakat kita dengan negara lain? Ya! Bentuk apresiasi.

  Jika kalian percaya tentang sugesti, apresiasi merupakan sebuah bentuk sugesti berkonotasi positif yang luar biasa menarik. Jika ditilik, memang benar, di negara kita yang hebat ini banyak hal-hal menarik yang dilakukan. Tapi, terkadang entah kita terlalu sibuk atau apa, kita memilih tak peduli. Sekalinya peduli, bahkan kita sering kali menyela daripada memuji.

  Banyak anak muda melakukan hal hebat, tapi mereka lebih sering dicecar, dikritik habis-habisan, dan banyak lagi bentuk yang membuat para pemuda kita enggan berinovasi atau berkreasi. Berbanding terbalik di negara-negara hebat di luar sana.

  Di negara hebat sana, bentuk apresiasi adalah sebuah tradisi. Bentuk apresiasi bisa berupa apa aja, dan dampaknya memang luar biasa. Seolah menstimulun perasaan serta otak menjadi begitu gembira dan dihargai.

  Hidup ini memang menarik, satu kata bisa membuat bahagia atau sedih. Apresiasi kaula muda, para pemuda butuh apresiasi untuk lebih percaya diri akan apa yang dilakukan dirinya. Apresiasi tak perlu ditunjukkan secara langsung, setidaknya jangan terlalu membuatnya merasa berdosa akan kreatifitas yang mereka lakukan.

  Halo kaula muda, jangan takut berkarya. Ini hidup bukan remah-remah roti, kita adalah susu yang berada di tengah-tengah roti. Membuat roti menjadi begitu nikmat, manis, dan bermanfaat. Seolah roti tersebut bak dunia yang akan menjadi berwarna dengan adanya karya-karya kita. Kuharap ini apresiasi untuk kita semua.

Kamis, 02 Oktober 2014

Tak Semudah Itu Mie Instan

  Kini aku berharap gagal. Karena aku yakin, dibalik gelap akan ada terang. Seperti pepatah-pepatah bijak berkata. Ya, seperti inilah cara kerja semesta. Dibalik kesusahan ada kemudahan. Dan di sinilah aku berharap, dibalik segala kegagalan ini terbitlah kesuksesan.

  Dan sekarang aku berharap gagal sebanyak mungkin, membuatku merasa sedih dan ingin menyerah. Membuatku merasa telah melakukan berbagai hal yang sia-sia. Tapi, angkatlah kepalaku saat itu terjadi, dan ingatkan tulisan ini. Bahwa aku yang meminta kegagalan besar itu, untuk apa? Untuk keberhasilan yang besar pula.

  Tak ada yang instan, sekalipun mie instan, tentu saja ada prosedur pembuatannya. Bagaimana bisa mie instan itu enak? Karena usaha mereka membuatnya. Mudahkah? Tentu saja tidak, seperti teorema-teorema dan aksioma di mata kuliah, semua harus dipahami dan dipelajari. Dan kegiatan tersebut bukanlah hal yang instan, butuh proses dan butuh waktu untuk mendapati mie instan yang nikmat.

  Memang hidup terlihat tak serumit itu, bahkan simpel, seperti artis yang tiba-tiba naik daun karena gosip-gosip yang melecit di televisi. Tapi, mereka pun sejatinya berusaha. Berusaha terlihat buruk atau baik di mata dunia, agar apa? Setidaknya mereka dibicarakan, dikenal. Walau menyedihkan atau membanggakan. Ya, itu usaha mereka untuk menggapai keinginan mereka.

  Tapi, sekali lagi, kegagalan yang kuinginkan adalah sebuah telur yang sedang ingin menetas. Orbit yang ingin menghancurkan cakrawala. Membuat dobrakan hebat, untuk mengguncang dunia. Dan suatu saat aku akan bercerita layaknya para motivator dunia. Bahwa aku dulu adalah seorang pecundang, gagal ini gagal itu. Dan sekarang berdiri di sini, dengan jatuh bangun tiada tara.

  Mungkin terdengarnya membosankan dan mulai mainstream, tapi memang begitu cara kerjanya semesta. Kita harus tiba di tidak tahu untuk menjadi paling pintar. Karena ketika berada di paling pintar, kita akan terpentok. Dan sejatinya itu seperti penurunan, layaknya pergerakan umur dan pertumbuhan. Dari kecil hingga besar badan kita, lalu ketika sudah mentok, badan kita menciut.

  Proses dan waktu. Kesakitan dan mimpi. Itu satu paket menuju kegagalan yang berbuah keberhasilan. Walau masih banyak aspek-aspek penunjang lainnya. Tapi, ingatlah, kegagalanmu adalah keberhasianmu. Sekarang aku mencoba menjadi motivator gadungan, ah, peduli setan. Aku sedang bicara dengan diriku sendiri.