Setiap kali sedang berupaya, aku selalu ingat kisah Ibunda Siti Hajar yang terus berupaya dalam mencari air, dan akhirnya hasil itu didapatkan dari sesuatu yang tak terduga.
Sedari pagi hingga menjelang sore kemarin, mencari kain yang ingin dibeli tak kunjung dapat. Rasanya sudah letih dan ingin sekali menyerah. Hari minggu toko-toko tutup lebih cepat. Aku semakin panik. Menyusuri lorong demi lorong, tirai-tirai besi sudah merapat ke daratan.
Langkah kakiku berjalan tak bertujuan. Hanya menyisir jalan-jalan lorong, bertanya sembarang. Hingga akhirnya tak sengaja terhenti dengan seorang penjual kain. "Pak, ada kain ini?" tanya ayahku.
Bapak penjual kain yang berketurunan cina itu sedang beberes, ia berdiri di atas gulungan-gulungan kain penuh warna. Ia melihat kain yang di tunjukkan ayahku. Bapak penjual itu melanjutkan beberesnya sambil menunjuk ke ujung tokonya, tepatnya ke gulungan kain yang berdiri tersusun di atas lantai. "Coba cek di sana."
Aku dan ayahku langsung mengikuti instruksinya, dan benar saja. Aku tersenyum saat itu, mungkin aku merasakan apa yang Ibunda Siti Hajar rasakan, setelah lelah berlali dari bukit Shafaa ke bukit Marwa akhirnya mendapatkan air zam-zam. Kain itu, seperti air zam-zam. Menyegarkan kepercayaanku, bahwa terpenting adalah ikhtiar saja.
Pun sebenarnya di masa toko-toko mau tutup dapat kain serupa juga dengan yang aku cari, tapi karena banyak pertimbangan akhirnya urung beli. Entah kenapa, kain-kain sulit dicari ini ketemu di akhir? Memang berjuang itu harus sampai akhir ya.
Senin, 23 September 2019
Selasa, 17 September 2019
Teralih
Selalu, entah bagaimana ini selalu, selalu ada sebuah pertanyaan. Apa di dunia ini aku saja yang tidak pernah sibuk? Atau aku mudah teralih?
Minggu, 15 September 2019
Lelah
Aku kira aku adalah orang yang mudah beradaptasi, mudah mengerti orang lain, mudah mentolerir orang lain.
Namun, lambat waktu bergulir, ternyata aku adalah anak bayi yang meraung-raung ketika ibu tidak ada untukku. Ketika ibu sibuk dengan ayah, ketika ibu sibuk dengan kakak atau lainnya. Aku merasa tercampakan, aku merasa tidak disayang.
Sampai aku di sebuah titik. Apa bisa aku hidup bersama dengan orang lain? Digantungkan oleh orang lain? Sementara kepalaku saja mentok pada kesedihan akan kasih sayang yang terbagi.
Aku seolah selalu ingin dimengerti tapi tak mau mengerti orang lain. Pun aku berpikir, sepertinya hidup sendiri, tidak merepotkan orang lain, mengganggu orang lain, mengharapkan kasih sayang orang lain adalah tindak laku yang sesuai dengan permasalahanku.
Aku ternyata tidak terlalu mengerti diriku, sendiri. waktu demi waktu, semua asumsiku runtuh. Begitu pun perasaanku. Akankah aku melangkah lebih jauh, lagi? Atau akhirnya menyerah dengan segala kondisi, lagi?
Aku tak tahu. Apakah aku hanya akan menjadi sumber masalah orang yang kusayangi? Hanya akan menjadi beban orang yang menyayangiku? Atau, aku menjadi kekuatan bagi mereka?
Aku tak tahu.
Dan rasanya, lelah untuk mencari tahu.
Namun, lambat waktu bergulir, ternyata aku adalah anak bayi yang meraung-raung ketika ibu tidak ada untukku. Ketika ibu sibuk dengan ayah, ketika ibu sibuk dengan kakak atau lainnya. Aku merasa tercampakan, aku merasa tidak disayang.
Sampai aku di sebuah titik. Apa bisa aku hidup bersama dengan orang lain? Digantungkan oleh orang lain? Sementara kepalaku saja mentok pada kesedihan akan kasih sayang yang terbagi.
Aku seolah selalu ingin dimengerti tapi tak mau mengerti orang lain. Pun aku berpikir, sepertinya hidup sendiri, tidak merepotkan orang lain, mengganggu orang lain, mengharapkan kasih sayang orang lain adalah tindak laku yang sesuai dengan permasalahanku.
Aku ternyata tidak terlalu mengerti diriku, sendiri. waktu demi waktu, semua asumsiku runtuh. Begitu pun perasaanku. Akankah aku melangkah lebih jauh, lagi? Atau akhirnya menyerah dengan segala kondisi, lagi?
Aku tak tahu. Apakah aku hanya akan menjadi sumber masalah orang yang kusayangi? Hanya akan menjadi beban orang yang menyayangiku? Atau, aku menjadi kekuatan bagi mereka?
Aku tak tahu.
Dan rasanya, lelah untuk mencari tahu.
Selasa, 10 September 2019
Kamis, 29 Agustus 2019
Hebat
Bagaimana jika kita kalah bukan karena mereka semua hebat? Tapi kitalah yang belum lebih hebat? Kitalah yang belum bisa mengalahkan diri kita yang levelnya segitu-segitu saja. Kitalah yang harus mengalahkan diri kita saat ini. Untuk jadi lebih baik.
Langganan:
Postingan (Atom)