Pada akhirnya berada di rindu-rindu yang sulit terucap. Sekali pun itu sudah tak kuasa lagi tertahan. Tapi, tidak tersampaikan.
Hujan tiba-tiba datang, kupikir bisa pulang cepat dan terbenam dalam rutinitas keseharian, rupanya ku mesti terjebak. Oleh rindu-rindu yang tiba-tiba begitu saja menyelimuti bayang-bayang.
Kembali memutar lagu-lagu sendu mendalam, waktu-waktu semua amat terlihat secara terang benderang, saat rindu-rindu adalah sebuah nyata dan keniscayaan, bukan bayangan atau angan-angan kesedihan.
Entah apa yang diinginkan, sore ini amat teramat dingin. Menyisakan tulisan-tulisan yang tidak menentu, tidak berbentuk, hanya serpihan-serpihan kisah atau pikiran.
Ingin rasanya menyapa atau sekadar tukar pikiran, tapi tidak ada yang bisa kusapa ataupun setelahnya. Semua masih terlihat amat sibuk, di ruangan begitu amat sepi, dan aku seperti orang tengah kesepian.
Tapi, rupanya suara langit-langit meramaikan telingaku, tiada henti suara gemuruh silih beganti. Hanya saja, aku masih membingung, rasanya sudah tidak ada energi lagi hari ini.
Aku, ingin pulang, dan terbenam.
Kamis, 28 Februari 2019
Lara
Puing-puing itu menghiasi bayang-bayangku. Tak ada sisa suara yang terdengar selain lagu penuh lara. Semua ucapan orang-orang rasanya seperti... Membisu. Tak bersuara, tak ku peduli, aku benar-benar mati.
Jika kamu lihat langit-langit di luar sana, semua tersikap oleh awan menghitam. Tak ada yang peduli, paling hanya bergumam bahwa bumi mau menghujan. Suara petir hanya seperti pekikan maki yang menyakiti hati.
Telingaku seolah tertancap pendengar suara yang amat dalam, tidak ada suara selain lara. Sedikit saja lara itu mendengarkan gegap gempita suara dirinya--seseorang--, aku mulai muak dan mengerang kesakitan.
Rasanya, amat teramat benci.
Orang banyak bilang kepadaku, kata mereka, hatiku sudah mulai membusuk. Seolah semua salah di mataku, di telingaku, dan mulutku. Aku tahu, tapi kalian sungguh tidak pernah tahu, derita itu. Erangan sakit itu.
Tapi kamu dimana? Saat semua itu menyiksaku, mengajariku, bagaimana membenci kehidupan ini. Membenci kalian semua. Dan tak acuh akan sebuah masa.
Puing-puing itu masih menghiasi bayang-bayangku. Sampai kapan akan seperti ini. Kata orang, lebih baik mati daripada menderita tiada tara tak terhingga. Aku setuju dengan mereka, jadi, biar kuakhiri...
Lara ini...
***
Rasanya keluh saat ingin berbicara.
Rasanya malu saat ingin bertingkah.
Rasanya derita saat ingin mendengarkan.
Rasanya hampa, saat melihatnya.
Seperti lara-lara sebelumnya
Ada angin yang mulanya menyejukan
Lalu menyakitkan
Seperti kisah-kisah pada umumnya
Kata mereka
Ada luka-luka di hati
Atau titik-titik hitam di hati
Atau kebencian yang membekas, di hati
Awalnya ku coba peduli
Ku coba pikir-pikir apa yang tengah terjadi
Namun, nyatanya aku hanya menutupi
Lara-lara yang silih berganti
Tiada henti, tak terhingga mungkin sampai mati
Mungkin juga sampai aku tak merasa hidup lagi
Tidak benar-benar mati
Tapi, hampa.
Kata mereka
Ada pikiran-pikiran yang belum selesai dimengerti
Atau pesan-pesan belum tersampai
Atau kisah-kisah yang belum terurai hingga selesai
Awalnya ku coba menunggu
Tapi, lambat hari aku hanya menjadi seonggok batu di laut mati
Hanya menunggu
Dan menunggu
Air menghempaskanku
Memecahkanku.
Meniadakanku.
Dan dirinya berjalan berlalu.
Bahagianya, saat lara benar-benar tiada habisnya.
Dan keputusasaan adalah teman sejatiku.
***
Pernahkah dirimu dalam keadaan yang antah berantah penuh duka dan lara? Berarti, selamat menikmatinya.
Jika kamu lihat langit-langit di luar sana, semua tersikap oleh awan menghitam. Tak ada yang peduli, paling hanya bergumam bahwa bumi mau menghujan. Suara petir hanya seperti pekikan maki yang menyakiti hati.
Telingaku seolah tertancap pendengar suara yang amat dalam, tidak ada suara selain lara. Sedikit saja lara itu mendengarkan gegap gempita suara dirinya--seseorang--, aku mulai muak dan mengerang kesakitan.
Rasanya, amat teramat benci.
Orang banyak bilang kepadaku, kata mereka, hatiku sudah mulai membusuk. Seolah semua salah di mataku, di telingaku, dan mulutku. Aku tahu, tapi kalian sungguh tidak pernah tahu, derita itu. Erangan sakit itu.
Tapi kamu dimana? Saat semua itu menyiksaku, mengajariku, bagaimana membenci kehidupan ini. Membenci kalian semua. Dan tak acuh akan sebuah masa.
Puing-puing itu masih menghiasi bayang-bayangku. Sampai kapan akan seperti ini. Kata orang, lebih baik mati daripada menderita tiada tara tak terhingga. Aku setuju dengan mereka, jadi, biar kuakhiri...
Lara ini...
***
Rasanya keluh saat ingin berbicara.
Rasanya malu saat ingin bertingkah.
Rasanya derita saat ingin mendengarkan.
Rasanya hampa, saat melihatnya.
Seperti lara-lara sebelumnya
Ada angin yang mulanya menyejukan
Lalu menyakitkan
Seperti kisah-kisah pada umumnya
Kata mereka
Ada luka-luka di hati
Atau titik-titik hitam di hati
Atau kebencian yang membekas, di hati
Awalnya ku coba peduli
Ku coba pikir-pikir apa yang tengah terjadi
Namun, nyatanya aku hanya menutupi
Lara-lara yang silih berganti
Tiada henti, tak terhingga mungkin sampai mati
Mungkin juga sampai aku tak merasa hidup lagi
Tidak benar-benar mati
Tapi, hampa.
Kata mereka
Ada pikiran-pikiran yang belum selesai dimengerti
Atau pesan-pesan belum tersampai
Atau kisah-kisah yang belum terurai hingga selesai
Awalnya ku coba menunggu
Tapi, lambat hari aku hanya menjadi seonggok batu di laut mati
Hanya menunggu
Dan menunggu
Air menghempaskanku
Memecahkanku.
Meniadakanku.
Dan dirinya berjalan berlalu.
Bahagianya, saat lara benar-benar tiada habisnya.
Dan keputusasaan adalah teman sejatiku.
***
Pernahkah dirimu dalam keadaan yang antah berantah penuh duka dan lara? Berarti, selamat menikmatinya.
Rabu, 27 Februari 2019
Sudah Setahun Di Kehidupan Baru
Sudah setahun.
Tidak terasa ya sudah setahun berlalu, rasanya baru kemarin aku pergi meninggalkan begitu banyak masalah yang belum berakhir dan mungkin ku merasa tak akan pernah bisa berakhir.
Aku pikir, saat itu, hanya ada rasa sakit yang membekas, atau mungkin kenangan-kenangan buruk yang terngiang di kepala. Tapi, waktu rupanya berbicara, semua mungkin sudah bahagia pada waktunya, pada tempatnya, pada alasannya. Walau masih tersisa kenangan-kenangan buruk itu, lalu membuatku bertanya, kenapa yang terngiang atau teringat itu kenangan-kenangan buruknya? Kenapa tidak kenangan menyenangkannya?
Manusia tergoda setan, lebih suka keburukan.
Aku senang, semua baik-baik saja pada akhirnya.
Sudah setahun, dari anak lab di Jakarta sangat komplit, hingga sekarang, entahlah, semua punya urusan masing-masing, kebutuhan masing-masing, mimpi masing-masing, hingga akhirnya beberapa meninggalkan Jakarta ini.
Sudah setahun, aku benar-benar tidak tahu harus berbicara kepada siapa, tidak tahu harus bercerita aku sedang bahagia, atau sedang sedih, atau mungkin sedang bingung. Dimana pada akhirnya aku tuangkan semua disini, dari merasa aku seperti tidak bisa berhenti menulis, sampai malu sendiri karena tulisannya terlalu gamblang, kurang improvisasi, kurang kunikmati.
Sudah setahun pula, aku kembali aktif lagi di blog ini, bahkan lebih sangat aktif tepatnya. Mengeluhkan segala masalah, segala hal, atau sedikit berbisik beberapa cerita, yang mungkin tidak begitu penting, tidak begitu tepat untuk diceritakan.
Sudah setahun, akhirnya aku kembali tinggal dengan kedua orang tuaku. Kali ini menjadi anak tunggal lagi. Mulai belajar menjalin komunikasi dengan keluarga, mulai banyak cerita, sampai ummi heran. "Ternyata Hilmy nggak pendiem ya." Dan aku tersenyum-senyum sambil bicara dalam hati. "Nggak tahu aja gimana kelakuan anaknya di luar rumah."
Bicara setahun, aku jadi ingat dulu pernah ditolak sebuah perusahaan besar karena belum punya pengalaman kerja setahun. Terus jadi kepikiran, mau coba apply lagi? Haha, entahlah.
Sudah setahun, membuatku bertanya-tanya, seperti apa ya Hilmy versi 3? Hilmy yang beda dari zaman SMA dan Kuliah. Pikirku, aku harus lebih banyak pakai otak sekarang, harus lebih banyak mikir dan merenung, terus jadi batu. Eh, maksudnya jadi bijak gitu, tapi ya biarkan saja semua berjalan dengan sendirinya.
Sudah setahun, aku menikmatinya, mungkin, aku memaknainya lebih baik sekarang, walau banyak hal yang tidak menutup membuatku sedih dan berkutat pada kata menyerah. Tapi, kata Mas Salingga tadi. "Masa lalu itu..."
Ah, sial, aku lupa lanjutannya apa.
Haha. Intinya, tadi Mas Salingga komentar soal, penilaian terhadap masa lalu.
Tidak terasa ya sudah setahun berlalu, rasanya baru kemarin aku pergi meninggalkan begitu banyak masalah yang belum berakhir dan mungkin ku merasa tak akan pernah bisa berakhir.
Aku pikir, saat itu, hanya ada rasa sakit yang membekas, atau mungkin kenangan-kenangan buruk yang terngiang di kepala. Tapi, waktu rupanya berbicara, semua mungkin sudah bahagia pada waktunya, pada tempatnya, pada alasannya. Walau masih tersisa kenangan-kenangan buruk itu, lalu membuatku bertanya, kenapa yang terngiang atau teringat itu kenangan-kenangan buruknya? Kenapa tidak kenangan menyenangkannya?
Manusia tergoda setan, lebih suka keburukan.
Aku senang, semua baik-baik saja pada akhirnya.
Sudah setahun, dari anak lab di Jakarta sangat komplit, hingga sekarang, entahlah, semua punya urusan masing-masing, kebutuhan masing-masing, mimpi masing-masing, hingga akhirnya beberapa meninggalkan Jakarta ini.
Sudah setahun, aku benar-benar tidak tahu harus berbicara kepada siapa, tidak tahu harus bercerita aku sedang bahagia, atau sedang sedih, atau mungkin sedang bingung. Dimana pada akhirnya aku tuangkan semua disini, dari merasa aku seperti tidak bisa berhenti menulis, sampai malu sendiri karena tulisannya terlalu gamblang, kurang improvisasi, kurang kunikmati.
Sudah setahun pula, aku kembali aktif lagi di blog ini, bahkan lebih sangat aktif tepatnya. Mengeluhkan segala masalah, segala hal, atau sedikit berbisik beberapa cerita, yang mungkin tidak begitu penting, tidak begitu tepat untuk diceritakan.
Sudah setahun, akhirnya aku kembali tinggal dengan kedua orang tuaku. Kali ini menjadi anak tunggal lagi. Mulai belajar menjalin komunikasi dengan keluarga, mulai banyak cerita, sampai ummi heran. "Ternyata Hilmy nggak pendiem ya." Dan aku tersenyum-senyum sambil bicara dalam hati. "Nggak tahu aja gimana kelakuan anaknya di luar rumah."
Bicara setahun, aku jadi ingat dulu pernah ditolak sebuah perusahaan besar karena belum punya pengalaman kerja setahun. Terus jadi kepikiran, mau coba apply lagi? Haha, entahlah.
Sudah setahun, membuatku bertanya-tanya, seperti apa ya Hilmy versi 3? Hilmy yang beda dari zaman SMA dan Kuliah. Pikirku, aku harus lebih banyak pakai otak sekarang, harus lebih banyak mikir dan merenung, terus jadi batu. Eh, maksudnya jadi bijak gitu, tapi ya biarkan saja semua berjalan dengan sendirinya.
Sudah setahun, aku menikmatinya, mungkin, aku memaknainya lebih baik sekarang, walau banyak hal yang tidak menutup membuatku sedih dan berkutat pada kata menyerah. Tapi, kata Mas Salingga tadi. "Masa lalu itu..."
Ah, sial, aku lupa lanjutannya apa.
Haha. Intinya, tadi Mas Salingga komentar soal, penilaian terhadap masa lalu.
Tiba-Tiba Bahagia
Pernah merasa tiba-tiba bahagia? Tapi sebenarnya tidak tahu kenapa kok ada perasaan bahagia? Padahal jika ditilik ke belakang atau kondisi saat itu, rasanya tidak ada hal apapun yang membuat kita bahagia.
Semua terasa biasa saja, berjalan seperti pada biasanya seperti hari-hari sebelumnya. Tapi, kenapa tiba-tiba merasa bahagia ya? Aku iseng cari-cari di google, ini saking penasarannya, eh keluarnya soal gangguan jiwa yang biasa disebut bipolar.
Aku mengernyitkan dahiku, ah sepertinya perkara ini tidak seekstrim itu. Jika bicara bipolar ku teringat tulisan Hannan tentang bipolar, dan jika ku coba hubungkan, ah tidak, ini tidak seperti itu. Tapi rasa ini tidak hanya sekali, mungkin beberapa kali, mungkin kalian juga pernah?
Tiba-tiba bahagia tanpa sebab, tiba-tiba sedih tanpa sebab, tiba-tiba merasa senang, tiba-tiba kok rasanya hati tuh nggak enak. Sebagai orang yang suka mendahulukan insting daripada logika akan keadaan-keadaan, aku biasanya lebih menebak-nebak.
Ada apa ini? Apa ada yang tengah terjadi tapi aku tak tahu, apa ada kesedihan atau kebahagiaan yang akan menanti sebentar lagi? Karena terbiasa membawa insting, jadinya selalu bersiaga, terutama kalau perasaan lagi tidak enak-enaknya.
Sore itu, perasaan bahagia menyelimutiku, saat itu aku iseng berlaga selebrasi seperti Cristiano Ronaldo, entahlah, rasanya ingin saja. Aku hanya tidak sabar untuk futsal sore itu. Sampai aku teriak-teriak di kantor saat berlaga seperti Cristiano Ronaldo.
Aku masih tidak tahu apa yang membuatku bahagia, bahkan sampai menulis ini, apa benar bahagianya karena bermain futsal?
Tapi, pertandingan futsal hari ini adalah pertandingan terbaikku dari sekian minggu bermain futsal dengan anak-anak kantor, bahkan pernah aku begitu mandul. Hari ini, aku hampir mencetak semua gol timku dengan berbagai keadaan, dari yang keren sampai tidak disengaja, hehe.
Menyenangkannya lagi, aku banyak solo run dan ngolongin--nutmeg--beberapa orang. Lalu umpan tarik gol, lalu menendang bola dan gol, lalu mencongkel bola dan gol. Permainan tim pun sangat bagus sekali, passing-passing pendek lalu berlari kemudian passsing lagi.
Selain bermain menyerang, dalam bertahan permainan kita sangat rapih. Menutup operan-operan silang dan pergerakan, beberapa kali counter attack yang menyisakan kiper doang di sisi lawan. Ah, menyenangkan sekali futsal sore ini.
Aku benar-benar merasa puas, sore ini. Alhamdulillah. Terus jadi pertanyaanku sendiri, apa ini perasaan bahagia yang diluapkan lebih dahulu? Yang dirasa lebih dahulu? Apakah ini jawaban dari kebahagiaan itu?
Ah aku tak benar-benar tahu, tapi tentu saja Allah Maha Pengasih sekaligus Penyayang. Mungkin ini hiburan dari-Nya, atas hal-hal yang sangat luar biasa belakangan ini.
***
Hari ini, ka Amri cerita soal memaknai kegagalan untuk menjadikan sudut pandang agar mudah move on. Rasanya baru kemarin aku nulis soal memaknai hidup, eh dibahas. Ah, mudah sekali aku senang, pembahasan yang menyenangkan.
Lalu bahas juga soal ekspetasi, rupanya, diri ini bukan takut bermimpi, bukan tak punya mimpi, tapi sepertinya aku lebih takut gagal dan kemudian diam tak berekspetasi dalama kehidupan ini, diam tak bermimpi dalam kehidupan ini.
Ini knowledge sharing pertama timku, kita sudah buat jadwal sharing-sharing, walau baru dua orang yang ngisi hihi. Aku tak tahu harus sharing apa, aku cukup senang dengan perkembangan tim ini.
Hampir tiap hari tidak ada selang waktu beberapa menit pasti selalu ada saja yang bisa diobrolkan, dari diskonan yang membuat diriku menjadi sangat boros, atau soal perjodohan di ruangan karena masih banyak jomblo disini, atau soal kerjaan yang tidak ada habis-habisnya, atau apapun yang bisa kita obrolkan.
Walau, aku masih menunjukkan sikap bocahku. Dan itu membuatku berpikir, apa aku tidak bisa diam dan terlihat lebih cool gitu? Lebih berwibawa gitu deh. Lalu Mbak Dian menolah. "Jadi diri sendiri aja, biar yang cool dan diam tugasnya Bambolz."
Lalu Mbak Dian melanjutkan. "Tapi, kalau ada Hilmy dua disini, mungkin orang-orang--introvert--pada capek juga."
Aku tertawa. "Mbak, jangankan mbak, saya pun juga capek mbak."
Semoga berisikku tidak mengganggu mereka-mereka yang pada pendiem menggemaskan ini. Kalau soal yang tidak suka ruangan sepi itu jadi ingat Zaki, dia baru keluar awal bulan ini, hiks, orang ekspresif itu memang seru ya, apalagi pede, dulu aku tidak pede tapi pas tahu Zaki lebih ekspresif dan menjadi dirinya sendiri, aku seperti melihat keniscayaan untuk menjadi Hilmy 'bocah' lagi.
Jadi, Zaki itu pernah tiba-tiba ngomong apa gitu, padahal semua lagi sibuk kerja. Dia bilang, "Biar ada obrolan aja." aku terkejut saat itu dan merasa ada temannya.
Satu hal yang membuatku tetap masuk ke kantor walau semalas-malasnya diriku adalah, aku bisa ngobrol dengan orang, bisa membicarakan dari a hingga z, dari tidak penting sampai sangat-sangat-sangat tidak penting.
Dan awal perpindahkan dari tim lama ke tim baru adalah takut akan perubahan suasana, aku takut jika tim atau tempat baruku sangat senyap dan aku tercekik sesak napas tidak bisa ngobrol. Tapi, rupanya, itu fungsiku. Walau aku tidak tahu, lebih banyak positif atau negatifnya.
Aku menikmatinya, dan semoga semua menjadi lebih mudah.
Semua terasa biasa saja, berjalan seperti pada biasanya seperti hari-hari sebelumnya. Tapi, kenapa tiba-tiba merasa bahagia ya? Aku iseng cari-cari di google, ini saking penasarannya, eh keluarnya soal gangguan jiwa yang biasa disebut bipolar.
Aku mengernyitkan dahiku, ah sepertinya perkara ini tidak seekstrim itu. Jika bicara bipolar ku teringat tulisan Hannan tentang bipolar, dan jika ku coba hubungkan, ah tidak, ini tidak seperti itu. Tapi rasa ini tidak hanya sekali, mungkin beberapa kali, mungkin kalian juga pernah?
Tiba-tiba bahagia tanpa sebab, tiba-tiba sedih tanpa sebab, tiba-tiba merasa senang, tiba-tiba kok rasanya hati tuh nggak enak. Sebagai orang yang suka mendahulukan insting daripada logika akan keadaan-keadaan, aku biasanya lebih menebak-nebak.
Ada apa ini? Apa ada yang tengah terjadi tapi aku tak tahu, apa ada kesedihan atau kebahagiaan yang akan menanti sebentar lagi? Karena terbiasa membawa insting, jadinya selalu bersiaga, terutama kalau perasaan lagi tidak enak-enaknya.
Sore itu, perasaan bahagia menyelimutiku, saat itu aku iseng berlaga selebrasi seperti Cristiano Ronaldo, entahlah, rasanya ingin saja. Aku hanya tidak sabar untuk futsal sore itu. Sampai aku teriak-teriak di kantor saat berlaga seperti Cristiano Ronaldo.
Aku masih tidak tahu apa yang membuatku bahagia, bahkan sampai menulis ini, apa benar bahagianya karena bermain futsal?
Tapi, pertandingan futsal hari ini adalah pertandingan terbaikku dari sekian minggu bermain futsal dengan anak-anak kantor, bahkan pernah aku begitu mandul. Hari ini, aku hampir mencetak semua gol timku dengan berbagai keadaan, dari yang keren sampai tidak disengaja, hehe.
Menyenangkannya lagi, aku banyak solo run dan ngolongin--nutmeg--beberapa orang. Lalu umpan tarik gol, lalu menendang bola dan gol, lalu mencongkel bola dan gol. Permainan tim pun sangat bagus sekali, passing-passing pendek lalu berlari kemudian passsing lagi.
Selain bermain menyerang, dalam bertahan permainan kita sangat rapih. Menutup operan-operan silang dan pergerakan, beberapa kali counter attack yang menyisakan kiper doang di sisi lawan. Ah, menyenangkan sekali futsal sore ini.
Aku benar-benar merasa puas, sore ini. Alhamdulillah. Terus jadi pertanyaanku sendiri, apa ini perasaan bahagia yang diluapkan lebih dahulu? Yang dirasa lebih dahulu? Apakah ini jawaban dari kebahagiaan itu?
Ah aku tak benar-benar tahu, tapi tentu saja Allah Maha Pengasih sekaligus Penyayang. Mungkin ini hiburan dari-Nya, atas hal-hal yang sangat luar biasa belakangan ini.
***
Hari ini, ka Amri cerita soal memaknai kegagalan untuk menjadikan sudut pandang agar mudah move on. Rasanya baru kemarin aku nulis soal memaknai hidup, eh dibahas. Ah, mudah sekali aku senang, pembahasan yang menyenangkan.
Lalu bahas juga soal ekspetasi, rupanya, diri ini bukan takut bermimpi, bukan tak punya mimpi, tapi sepertinya aku lebih takut gagal dan kemudian diam tak berekspetasi dalama kehidupan ini, diam tak bermimpi dalam kehidupan ini.
Ini knowledge sharing pertama timku, kita sudah buat jadwal sharing-sharing, walau baru dua orang yang ngisi hihi. Aku tak tahu harus sharing apa, aku cukup senang dengan perkembangan tim ini.
Hampir tiap hari tidak ada selang waktu beberapa menit pasti selalu ada saja yang bisa diobrolkan, dari diskonan yang membuat diriku menjadi sangat boros, atau soal perjodohan di ruangan karena masih banyak jomblo disini, atau soal kerjaan yang tidak ada habis-habisnya, atau apapun yang bisa kita obrolkan.
Walau, aku masih menunjukkan sikap bocahku. Dan itu membuatku berpikir, apa aku tidak bisa diam dan terlihat lebih cool gitu? Lebih berwibawa gitu deh. Lalu Mbak Dian menolah. "Jadi diri sendiri aja, biar yang cool dan diam tugasnya Bambolz."
Lalu Mbak Dian melanjutkan. "Tapi, kalau ada Hilmy dua disini, mungkin orang-orang--introvert--pada capek juga."
Aku tertawa. "Mbak, jangankan mbak, saya pun juga capek mbak."
Semoga berisikku tidak mengganggu mereka-mereka yang pada pendiem menggemaskan ini. Kalau soal yang tidak suka ruangan sepi itu jadi ingat Zaki, dia baru keluar awal bulan ini, hiks, orang ekspresif itu memang seru ya, apalagi pede, dulu aku tidak pede tapi pas tahu Zaki lebih ekspresif dan menjadi dirinya sendiri, aku seperti melihat keniscayaan untuk menjadi Hilmy 'bocah' lagi.
Jadi, Zaki itu pernah tiba-tiba ngomong apa gitu, padahal semua lagi sibuk kerja. Dia bilang, "Biar ada obrolan aja." aku terkejut saat itu dan merasa ada temannya.
Satu hal yang membuatku tetap masuk ke kantor walau semalas-malasnya diriku adalah, aku bisa ngobrol dengan orang, bisa membicarakan dari a hingga z, dari tidak penting sampai sangat-sangat-sangat tidak penting.
Dan awal perpindahkan dari tim lama ke tim baru adalah takut akan perubahan suasana, aku takut jika tim atau tempat baruku sangat senyap dan aku tercekik sesak napas tidak bisa ngobrol. Tapi, rupanya, itu fungsiku. Walau aku tidak tahu, lebih banyak positif atau negatifnya.
Aku menikmatinya, dan semoga semua menjadi lebih mudah.
Selasa, 26 Februari 2019
Basah Langit Abu-Abu
Aku menekan tuts vending machine ini, ah rasanya nikmat sekali gedung ini punya alat ini. Aku bisa kapan saja beli minuman, sungguh bisnis yang tepat.
Kleng... Kleng...
Aku mengambil minumanku. Aku menatap kaca-kaca gedung, terlihat basah langit abu-abu. Lantas duduk di sebelah temanku, sembari masih memandang basah langit abu-abu. "Hujan." Kataku dan memberi minuman yang kubeli. Aku beli dua.
"Terima kasih." Katanya dengan lembut namun masih termenung.
Cklek.
Kita sama-sama meminum minuman itu. "Ah... Sungguh nikmat." Kataku sambil mengusap mulutku. Aku menoleh ke arah temanku. "Jika kamu diizinkan menyesal, apa yang akan kamu sesali?"
Temanku menoleh, menatapku, memincingkan matanya, dan menatap ke arah kaca gedung lagi. "Berleha-leha di masa muda dan menderita sekarang." jawabnya datar.
"Oh." sahutku, meminum lagi. "Jawaban yang klise." lanjutku.
Dia meminum juga, dengan cepat lalu membalas kata-kataku. "Persetan dengan klise, tapi sekarang aku sungguh menderita. Semoga tuaku, aku bisa berleha, karena sungguh aku benar-benar menderita sekarang!" katanya dengan menahan keluhan.
Aku terbahak-bahak.
Dia menoleh menatapku heran, lalu terbahak-bahak juga.
"Aku tidak tahu, kapan kita bisa berleha-leha sehingga tak akan menyesal lagi." kataku.
Dia meminum lagi lalu ber-'ah'. "Mati, aku yakin setelah mati kita bisa berleha-leha." matanya sangat tajam kali ini, tak ada gerakan lain selain jawaban itu. Dia benar-benar serius kali ini.
"Kalau begitu, berarti seharusnya kita sekarang tidak duduk dan memandang langit abu-abu yang basah itu dengan kopi kaleng ini?"
Dia beranjak dari duduknya. "Kamu benar, kita tidak boleh buat penyesalan lagi, setelah mati."
Aku tersenyum.
***
Mungkin sebulan terakhir, oh tidak, dua bulan terakhir, atau enam bulan terakhir? Apa setahun terakhir? Atau jangan-jangan 23 tahun terakhir? Ups, itu terlalu berlebihan. Tapi, memang beberapa bulan belakangan ini membuat terpikir soal masa lalu.
Leha-leha masa lalu akan membuat derita masa kini, derita masa kini apakah akan membuat leha masa depan? Tapi, derita masa kini rupanya menjawab leha-an masa lalu. Jadi bagaimana dengan masa depan?
Sekarang, lebih hati-hati dalam memaknai hidup, dalam memilih jalan hidup, karena penyesalan itu sungguh menelan hidup-hidup, sebuah rasa. Setidaknya aku tidak mau mati karena penyesalan seperti raja Emitez.
“Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.” QS Al-Fajr, ayat 24
“Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman.” QS Al-An’am, ayat 27
*
Seorang berkomentar tentang 'Basah Langit Abu-Abu'.
"Tulus (penyanyi) keren ya, dia mau bilang hujan aja harus pake kata-kata itu (Basah langit abu-abu)."
Aku tersenyum membacanya dan mengangguk, iya-ya, dia padahal cuman mau bilang hujan.
Kleng... Kleng...
Aku mengambil minumanku. Aku menatap kaca-kaca gedung, terlihat basah langit abu-abu. Lantas duduk di sebelah temanku, sembari masih memandang basah langit abu-abu. "Hujan." Kataku dan memberi minuman yang kubeli. Aku beli dua.
"Terima kasih." Katanya dengan lembut namun masih termenung.
Cklek.
Kita sama-sama meminum minuman itu. "Ah... Sungguh nikmat." Kataku sambil mengusap mulutku. Aku menoleh ke arah temanku. "Jika kamu diizinkan menyesal, apa yang akan kamu sesali?"
Temanku menoleh, menatapku, memincingkan matanya, dan menatap ke arah kaca gedung lagi. "Berleha-leha di masa muda dan menderita sekarang." jawabnya datar.
"Oh." sahutku, meminum lagi. "Jawaban yang klise." lanjutku.
Dia meminum juga, dengan cepat lalu membalas kata-kataku. "Persetan dengan klise, tapi sekarang aku sungguh menderita. Semoga tuaku, aku bisa berleha, karena sungguh aku benar-benar menderita sekarang!" katanya dengan menahan keluhan.
Aku terbahak-bahak.
Dia menoleh menatapku heran, lalu terbahak-bahak juga.
"Aku tidak tahu, kapan kita bisa berleha-leha sehingga tak akan menyesal lagi." kataku.
Dia meminum lagi lalu ber-'ah'. "Mati, aku yakin setelah mati kita bisa berleha-leha." matanya sangat tajam kali ini, tak ada gerakan lain selain jawaban itu. Dia benar-benar serius kali ini.
"Kalau begitu, berarti seharusnya kita sekarang tidak duduk dan memandang langit abu-abu yang basah itu dengan kopi kaleng ini?"
Dia beranjak dari duduknya. "Kamu benar, kita tidak boleh buat penyesalan lagi, setelah mati."
Aku tersenyum.
***
Mungkin sebulan terakhir, oh tidak, dua bulan terakhir, atau enam bulan terakhir? Apa setahun terakhir? Atau jangan-jangan 23 tahun terakhir? Ups, itu terlalu berlebihan. Tapi, memang beberapa bulan belakangan ini membuat terpikir soal masa lalu.
Leha-leha masa lalu akan membuat derita masa kini, derita masa kini apakah akan membuat leha masa depan? Tapi, derita masa kini rupanya menjawab leha-an masa lalu. Jadi bagaimana dengan masa depan?
Sekarang, lebih hati-hati dalam memaknai hidup, dalam memilih jalan hidup, karena penyesalan itu sungguh menelan hidup-hidup, sebuah rasa. Setidaknya aku tidak mau mati karena penyesalan seperti raja Emitez.
“Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.” QS Al-Fajr, ayat 24
“Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman.” QS Al-An’am, ayat 27
*
Seorang berkomentar tentang 'Basah Langit Abu-Abu'.
"Tulus (penyanyi) keren ya, dia mau bilang hujan aja harus pake kata-kata itu (Basah langit abu-abu)."
Aku tersenyum membacanya dan mengangguk, iya-ya, dia padahal cuman mau bilang hujan.
Langganan:
Postingan (Atom)