Kamis, 06 Mei 2021
Ekspetasi
Minggu, 07 Februari 2021
Anak-Anak dan Bergerak
Dahulu saya sangat suka sekali bergelayutan pada mainan-mainan yang berada di taman. Ada yang bentuknya kubus, ada juga yang bentuknya seperti jaring laba-laba atau paling umum main di perosotan dan ayunan.
Semua itu menyenangkan, tapi rasanya ya biasa saja. Tidak begitu spesial, tidak seperti memiliki playstasion yang bisa bermain di rumah dengan banyak pilihan permainan.
Namun belakangan ini mainan-mainan untuk tempat panjat-panjatan atau perosotan dan semacamnya itu banyak sekali di perjual belikan untuk kebutuhan pribadi, bukan untuk di taman-taman.
Saya heran, itu kan nggak murah, terlebih tempatnya juga butuh tempat luas.
Hal yang saya dulu kira tidak spesial itu ternyata sekarang sangat spesial. Banyak sekali orang tua bermasalah dengan anak yang tidak bisa diam. Orang tua banyak berpikir—termasuk saya—kalau anak tidak bisa diam, maka anak itu tidak fokus.
Tapi anggapan itu salah, rupanya anak itu butuh banyak bergerak. Mereka punya jatah bergerak yang dibutuhkan agar bisa fokus. Lalu sekarang dengan jarangnya taman, atau kebutuhan anak semakin meningkat karena sering kali teralihkan oleh gawai membuat orang tua membeli peralatan yang dulu berada di taman-taman, sekarang berada di rumah mereka.
Untuk apa? Untuk memenuhi kebutuhan gerak sang anak.
Terlebih masa pandemi ini, anak jadi kesulitan main di luar, peralatan seperti ini—pikler, trampolin, papan titian, dll—menjadi solusi tepat bagi para orang tua untuk memenuhi kebutuhan gerak anak.
Fokus memang semakin sulit pada zaman distrupsi ini. Jangankan anak-anak, orang tua saja susah sekali untuk fokus. Tapi saya juga baru sadar, ternyata tidak anak-anak saja yang butuh gerak, orang seusia saya juga butuh gerak.
Sederhananya, kalau saya kurang bergerak, badan saya rasanya tidak enak sekali, duduk saja tidak betah, apalagi menjelang tidur, rasanya badan saya nggak nyaman.
Adanya pandemi membuat saya semakin jarang berolahraga, yang berarti juga jarang bergerak. Lalu saya tertawa sendiri.
Dahulu, perkara bergerak ini adalah hal yang biasa, seperti anak bermain di taman, bermain bersama teman-temannya, kejar-kejaran, petak umpet, petak jongkok, sekarang rasanya sungguh spesial. Apalagi untuk memenuhi kebutuhan gerak ini.
Pun begitu orang tua. Zaman dahulu semua tidak instan, kalau ingin membeli barang tidak bisa cek e-commerce, semua ke pasar. Mereka bergerak disana. Mau cari bacaan, mereka pergi ke perpustakaan untuk meminjamnya. Serta banyak lagi kegiatan yang memaksa orang dahulu terbiasa bergerak.
Sekarang, bergerak untuk fokus saja susah, di tambah pas fokus banyak sekali distrupsi oleh sistem rekomendasi dari teknologi yang ada.
Ya, setiap zaman punya tantangannya masing-masing. Pun anak kita, di zamannya kelak, mereka punya tantangan yang kita tidak pernah tahu apa. Tapi yang perlu mereka tahu adalah prinsip dalam berkehidupan.
Selasa, 19 Januari 2021
Antara Lutut, Punggung, Pinggang, dan Saya
Belum mulai pengobatan untuk lutut yang cidera bertahun-tahun, ternyata datang lagi cerita tentang pertubuhan ini. Saat itu saya terheran, ini kenapa punggung rasanya ngilu, belum kelar juga punggung, pinggang juga.
Saya merasa sudah di usia senja rasanya.
Akhirnya saya memberanikan diri untuk periksa. Berobat adalah fakta unik sendiri bagi saya, tak jarang saya menyuruh orang untuk berobat jika ada keluhan, tapi ketika saya yang mengalami rasanya enggan sekali. Salah satunya mungkin karena saya takut akan kenyataan kalau ternyata tubuh saya tidak baik-baik saja.
Tentu saja, biaya berobat yang tidak murah. Itu momok yang mengerikan dari berobat.
Akhirnya saya mulai pergi ke rumah sakit. Saya pun mendapati tulang saya agak sedikit skoliosis, ditambah adanya tulang punggung yang menyempit dan membuat syarafnya terhimpit. Umumnya saya menderita syaraf kejepit atau HNP.
Saya dipinta untuk terapi, saya semakin sering ke rumah sakit. Rumah sakit seperti rumah kedua saya saat ini. Beberapi kali terapi, terapisnya menanyakan umur saya. Saya jawab semestinya. Lalu si terapis menyayangkan usia saya yang muda tapi sudah mengalami hal seperti ini.
Sejak itu saya menyadari, ternyata dari sekian banyak orang yang pergi terapi bisa dikatakan saya paling muda. Kebanyakan sudah ibu-ibu atau bapak-bapak yang cukup berumur.
Saya jadi sering bermuhasabah, mengingat saya sudah berkeluarga, sakit itu jadi hal yang serius. Ketakutan akan keluarga yang masih harus dinafkahi terus mencuat, jika saya tidak bisa bekerja secara reguler, banyak yang akan berubah.
Saya jadi sering termenung kalau lagi mengendarai motor, sampai tak sengaja saya melihat penjual jamu yang sudah paruh baya, ibu-ibu, menggendong jamu yang tak sedikit, dan dalam perjalanan menanjak.
Saya jadi membandingkan penjual jamu itu dengan diri saya. Ibu itu dengan dengan segala atributnya entah usia, gender, atau keadaannya masih sangat kuat untuk menggendong jamu kemana-mana, termasuk tanjakan.
Lalu kesimpulan liar tercetus, apa saya kurang minum jamu ya? Apa ibu-ibu kuat karena minum jamu? Haha.
Saya tidak tahu apakah ibu penjual jamu itu memang tidak memliki masalah pada tubuhnya yang terus menggendong jamu kemana-mana. Tapi yang saya dapati, semua memang harus dikelola dengan baik, termasuk kesehatan.
Selama pandemi ini, aktivitas gerak semakin berkurang, duduk sepanjang hari didapati. Tampaknya, Allah memberikan sinyal lewat tubuh yang tidak enak agar kita berolahraga, minimal stretching.
Yuk, hidup sehat, dan jangan lupa minum jamu. Eh…
Menulis Diam-Diam
Saya pernah menulis tentang betapa banyaknya manfaat yang saya dapatkan ketika menulis. Hal itu membuat saya terus menulis walau tidak selalu tahu untuk apa, rasanya senang saja, seperti merunutkan dan mengeluarkan yang ada di kepala. Terlebih, menulis menambah kepekaan saya akan sesuatu yang kecil.
Selain itu juga saya merasa senang karena bisa mengenang hal-hal penting yang mungkin suatu hari saya dapat membacanya dan mengenangnya lagi.
Tapi, semenjak menikah saya kesulitan menulis. Entah kenapa ketika menulis saya sangat tidak suka jika dilihat orang yang saya kenal, termasuk pasangan. Rasanya kalau ada Fitri lewat saya langsung pindah aplikasi agar tidak terlihat sedang menulis.
Karena sekarang kehidupan saya hampir 24 jam di rumah saja, dan Fitri duduknya di sebelah saya kalau bekerja, rasanya saya seperti tidak ada celah untuk menulis tanpa dilihat atau disadari oleh Fitri.
Terkadang saya memanfaatkan malam, tapi terkadang mood menulisnya tidak saat itu, ah saya tidak menyangka ternyata saya serumit ini dalam perkara menulis. Padahal saya hanya menulis hal-hal receh, kenapa jadi sulit begini.
Ya, saya sudah memberi pengertian ke Fitri kalau saya tidak suka saat menulis dilihat dan semacamnya, tapi tetap saja, merasakan hawa keberadaan Fitri di sekitar saya membuat saya tertahan dalam menulis, pikiran saya sudah siap-siap pindah aplikasi saja.
Akhirnya banyak pikiran yang belum sempat diejawantahkan dalam tulisan. Ah, dasar saya. Semoga perlahan mampu beradaptasi dengan semua ini.
Kalau kalian, apa ritual unik kalian?
Untuk lebih banyak tulisan receh saya bisa kunjungi sapimen.blogspot.com
Harus Sempurna
Melihat kehidupan di sosial media, rasanya semua itu terasa begitu indah nan sempurna. Hal tersebut perlahan membuat pikiran saya menjadi terpatri akan sesuatu langkah itu harus indah, besar, dan sempurna.
Padahal dalam melangkah bukan kesempuranaan yang terpenting, tapi bagi saya menyelesaikan langkah itu yang terpenting. Agar tidak terpelatuk, agar berhasil ke suatu tempat, ah tentu saja.
Hal ini saya dapati ketika belakangan saya sering melihat musisi pada bikin konten di youtube. Jujur kesan awal saya “kok jadi alay gini ya” entah dari judul atau thumbnail mereka serta dari segi pakaian mereka sangat berbeda jauh dibandingkan ketika konser.
Mereka benar-benar tampil dengan pakaian seadanya, lalu rekaman di kamar dengan kualitas gambarnya yang benar-benar tidak proper untuk musisi sekelas mereka.
Namun jika mendengar musiknya, pasti akan terlihat seperti paradoks. Bagus sekali, sungguh, tidak mengecewakan. Namun hal yang membuat saya bertanya-tanya adalah “Kok mereka buatnya dengan visual yang gini banget sih?”
Ya, walau dengan kualitas video dan desain seadanya, tapi itu semua berjalan dengan baik. Mereka benar-benar melangkah dengan mantap, tanpa harus sempurna. Terpenting mulai saja dahulu.
Jika di dunia produk mungkin ini disebut minimum vaiable product, ya produk yang sederhana dengan banyak kekurangan tapi tujuan utamanya tercapai.
Sekarang-sekarang mereka sudah meningkatkan kualitas lainnya. Mulai rekaman di studio, desain thumbnail yang cukup enak dilihat mata, sampai isi konten yang lebih dipersiapkan.
Memang terkadang masalah utama kita adalah memulainya, lantas semakin dipusingkan dengan kesempurnaan, dan pada akhirnya hanya menjadi impian belaka.
Ya, saya seperti itu. Semoga kalian tidak.