Rabu, 22 Januari 2025

Nihil

Kita terus berusaha
Kita terus berdoa
Kita terus berharap
Biar Allah yang menentukan

Semudah itu cara mainnya, tapi tidak semudah ini menghadapinya. Hidup memang benar-benar seperti rollercoaster.

Pada september 2023 saya punya sebuah pekerjaan. Malamnya ia menghilang. Tidak terlalu sedih. Tapi setahun setelahnya, penyesalan itu bertubi-tubi menghantui.

Apakah setahun itu adalah waktu yang menakutkan? Padahal nyatanya tidak. Banyak cerita yang bisa saya bagikan. Mungkin satu tulisan tidaklah cukup. Namun, jika semua sudah berlalu, yang tersisa hanya kenangan yang perlahan menjadi keheningan.

Ketika keheningan tiba. Maka rasa takut dan penyesalan dengan bahagia mewarnai hidupku, dengan hitam yang pekat.

Hari-hari tidak seburuk yang dibayangkan. Masih banyak hal yang bisa saya kerjakan. Namun, menjadi mimpi buruk ketika sadar banyak orang yang sepantaran sudah menjadi jutawan. Mentereng betul kendaraannya. Besar betul istananya.

Apakah saya iri? Oh tentu saja. Manusia mana zaman sekarang yang tidak tergiur dengan kemewahan dan kegemilangan harta dan tahta. Sudah gila rasanya.

Tapi-tapi. Banyak teman-teman yang hilang dari peredaran. Tidak terdengar kabarnya. Tidak terlihat akun sosial medianya. Apakah ia sedang bahagia? Atau sedang sedih? Kita tidak ada yang tahu.

Rasa-rasa itu memang aneh. Padahal Allah bilang akan kepastian rezeki setiap hambanya. Tapi, ketakutan-ketakutan itu seolah berkata, hidup tidaklah adil. Karena ada si kaya dan si miskin. Si kaya bisa melihat jelas rezekinya, begitu saja. Sementara si miskin terus menenangdah dan berharap. Berdoa. Agar ia mendapatkan rezekinya.

Jadi siapa yang paling beruntung? Tentu saja, kata Allah orang-orang yang beriman kepada-Nya. Tapi, rasanya hidup tidak ada bedanya, atau jangan-jangan kita yang tidak diberikan kenikmatan merasakannya?

Bisa jadi Allah telah memberikan hal yang kita usahakan, doakan, harapkan. Namun, rasa-rasa takut iri benci itu menihilkan semuanya. Kita yang memusnahkan kenikmatan itu sendiri.

3 Tahun Dari 2022

2025.
Itu tiga tahun dari 2022.
Waktu terasa begitu cepat berlalu. 
Padahal kehidupan isinya mengeluh melulu. 
Hari-hari adalah ujian. 
Pusingnya tak karuan.

Perjalanan-perjalanan ini sedikit menyimpulkan.
Kesukaan saya dalam bercanda ternyata hanya tipu muslihat dari ketakutan dan rasa pesimis.

Keluhan seolah menjadi ramu dalam setiap kata kehidupan.
Hari esok yang terlihat hanyalah kekalahan demi kekalahan.

Walau kata orang kita tidak sedang dalam perlombaan.
Tapi, perasaan-perasaan kalah itu selalu menyelimuti pikiran.

2025.
Aku pikir tahun yang sama seperi lainnya.
Dipenuhi ketidakpastian.
Ketakutan.

Jumat, 04 Maret 2022

Kenapa Manusia Harus Diuji?

 Langit-langit terus memudar setiap harinya. Begitu pun perasaan-perasaan ini. Sudah 2 bulan 2022 ini berjalan, rasanya yang tersisa hanyalah kesalahan-kesalahan dan luka.

Mungkin Allah sedang memperingatkan, tapi hamba-Nya ini begitu banyak mengabaikan. Bahkan langit-langit terus merundungnya, petir-petir menyambarnya, tapi hamba-Nya ini terus saja enggan.

Waktu-waktu akan terus berlalu, aku tidak tahu sampaikan aku akan tiba di pembaringan. Rasanya aku ingin segera ke sana, tapi tak luput kuteringat atas dosa-dosa dan keluarga yang mungkin ditinggalkan.

Setiap waktu aku meminta kematian, aku pikir aku tidak perlu lagi penderitaan pada setiap waktunya. Ujian-ujian yang terasa sangat samar-samar ternyata membuatku merundung kesakitan, rasanya hanya kematian yang membuatku tenang.

Walau banyak ustadz bilang, ketenangan adalah kedekatan kita kepada Allah. Tapi yang kulakukan justru sebaliknya, membuang waktu atas segala tindakan tak berguna. Bahkan menjerumuskan orang.

Apakah aku masih layak berkehidupan setelah ini? Sayangnya Allah berkata ia hingga detik ini aku menulis. Entah berapa banyak kesalahan yang akan aku lakukan, semoga Allah terus membawaku ke pintu taubat-Nya, dan meninggalkan dunia dengan segala kebaikan yang tersisa.

Tapi, sungguh, rasanya hidup ini semakin berat. Sangat berat. Rasanya aku ingin menyerah disetiap ujian, aku merasa tak sanggup lalu beratanya-tanya.

Kenapa manusia harus diuji? Bagaimana jika aku menjadi tanah saja? Terdiam dan tak perlu diuji ataupun dihisab.

Sehingga aku tenang, tak perlu sedih kepayang.

Sabtu, 25 Desember 2021

Halo Blog, Lama Tak Bersua :)

Halo blog, sudah lama aku tidak bercerita. Hari ini dirimu terbuka kembali, karena obrolan santai bersama para mentee. Bukan maksud melupakanmu, tapi, entahlah rasanya semua banyak sekali yang sudah berlalu.

Seperti beberapa hari ini, perasaan rasanya kalut, didukung cuaca yang mendung, hingga aku selalu termenung. Rasanya, benar-benar bingung.

Coba tebak apa yang aku bingungkan? Apa yang aku renungkan? Jawabannya tidak ada, aku benar-benar tidak tahu apa yang ada dipikiran dan perasaanku. Rasanya aku ingin terdiam, menatap sesuatu yang tak kupedulikan. Rasanya seperti sedih tak berkesudahan.

Halo blog, terima kasih sudah menemaniku hingga hari ini. Dari aku memulai bangku SMK hingga sekarang aku punya anak. Dari semua perjalananku, satu yang tidak pernah berubah, ketersediaanmu mendengar keluh kesah gelisahku.

Rasanya kesedihan ini tercampur rindu, aku rindu sekali menulis disini. Dulu aku pernah bercita-cita menjadi penulis hebat, tapi entah kenapa sekarang aku tutup semua kans itu. Aku tidak menulis cerita lagi blog.

Blog, aku tidak tahu kalau ternyata menjadi orang yang semakin tua ini begitu melelahkan. Aku tidak tahu menjadi kakak itu melelahkan. Aku tidak tahu menjadi ayah itu melelahkan. Rasanya lelah sekali, tidak ingin aku memikirkan semuanya. Tapi tidak mungkin kuabaikan semua.

Rasanya, tidak ada hari libur untuk pikiran-pikiran ini. Semua begitu saja dihadapanku, mereka menangis, mereka bersedih, mereka mengeluh, mereka bercerita. Tapi aku seolah tak tahu harus bicara dengan siapa. Bahkan dengan istriku sendiri aku bingung ingin bercerita apa.

Rasa yang kesekian kali, aku ingin sendiri tanpa siapa-siapa, termasuk para binatang dan bintang. Biarkan detak jam menghantui kepalaku. Biarkan kesunyian itu menyelemutiku, dan aku tenggelam kedalamnya.

Halo blog, mungkin itu saja ceritaku di akhir tahun. Aku tahu kita tidak boleh menyerah, tapi sesekali lelah tak masalah bukan?

Senin, 11 Oktober 2021

Membersamai

Awalnya aku kira menjadi ayah adalah tentang mendidik dan menafkahi, tapi rupanya ayah adalah sesosok yang membersamai anaknya hingga dewasa, menyaksikan dan menjadi tempat khusus dalam setiap perjalanan sang anak.