Kita terus berusaha
Kita terus berdoa
Kita terus berharap
Biar Allah yang menentukan
Semudah itu cara mainnya, tapi tidak semudah ini menghadapinya. Hidup memang benar-benar seperti rollercoaster.
Pada september 2023 saya punya sebuah pekerjaan. Malamnya ia menghilang. Tidak terlalu sedih. Tapi setahun setelahnya, penyesalan itu bertubi-tubi menghantui.
Apakah setahun itu adalah waktu yang menakutkan? Padahal nyatanya tidak. Banyak cerita yang bisa saya bagikan. Mungkin satu tulisan tidaklah cukup. Namun, jika semua sudah berlalu, yang tersisa hanya kenangan yang perlahan menjadi keheningan.
Ketika keheningan tiba. Maka rasa takut dan penyesalan dengan bahagia mewarnai hidupku, dengan hitam yang pekat.
Hari-hari tidak seburuk yang dibayangkan. Masih banyak hal yang bisa saya kerjakan. Namun, menjadi mimpi buruk ketika sadar banyak orang yang sepantaran sudah menjadi jutawan. Mentereng betul kendaraannya. Besar betul istananya.
Apakah saya iri? Oh tentu saja. Manusia mana zaman sekarang yang tidak tergiur dengan kemewahan dan kegemilangan harta dan tahta. Sudah gila rasanya.
Tapi-tapi. Banyak teman-teman yang hilang dari peredaran. Tidak terdengar kabarnya. Tidak terlihat akun sosial medianya. Apakah ia sedang bahagia? Atau sedang sedih? Kita tidak ada yang tahu.
Rasa-rasa itu memang aneh. Padahal Allah bilang akan kepastian rezeki setiap hambanya. Tapi, ketakutan-ketakutan itu seolah berkata, hidup tidaklah adil. Karena ada si kaya dan si miskin. Si kaya bisa melihat jelas rezekinya, begitu saja. Sementara si miskin terus menenangdah dan berharap. Berdoa. Agar ia mendapatkan rezekinya.
Jadi siapa yang paling beruntung? Tentu saja, kata Allah orang-orang yang beriman kepada-Nya. Tapi, rasanya hidup tidak ada bedanya, atau jangan-jangan kita yang tidak diberikan kenikmatan merasakannya?
Bisa jadi Allah telah memberikan hal yang kita usahakan, doakan, harapkan. Namun, rasa-rasa takut iri benci itu menihilkan semuanya. Kita yang memusnahkan kenikmatan itu sendiri.