Sabtu, 30 Juni 2018

Ketakutan Kelak II

Siang itu, ummi baru kelar rutinitasnya, pulang dijemput olehku. Setiba di rumah, kembali ke rutinitas lainnya. Aku main laptop di kamar, ummiku sibuk di depan laptopnya tepat di ruang tengah. Ya, siang itu terasa bingung oleh perjalanan ke nikahan temenku, seperti yang aku jelaskan di postingan sebelum ini. Tapi, tiba-tiba ummi masuk ke kamar dan membuat kegaduhan lainnya.

Ternyata, ah, maaf, harus membahas soal penikahan dan jodoh semacamnya, tapi ini jadi kepikiranku juga, padahal sebelumnya biasa aja. Saat itu ummi membahas facebooknya yang tidak berteman dengan facebook-ku. Singkat cerita ummiku yang upload fotoku dan kedua adik cowokku berenang menjadi obrolan soal perjodohan oleh teman-temannya. Ya, biasalah, lazim. Tapi, ternyata ummi dan abiku mempunyai obrolan seperti ini juga dan diutarakanlah ketakutan mereka, aku yang tidak pernah terpikirkan jadi kepikiran...

Ya, mereka takut, misalkan, apakah calon mertuaku itu setuju denganku untuk menikahi anaknya? Apa bisa menerima ummi abi ku yang sudah insecure sendiri? Apa calon mertuaku rela melepas anak kesayangannya, anak yang dirawat dari kecil hingga besar ini, anak yang selalu didoakan dan dinanti calon pasangan sehidup-sematinya yang benar-benar sesuai kriteria mereka? Bagaimana jika calon mertuaku ini memiliki kriteria yang tinggi karena keluarga mereka terbilang keluarga yang berbobot tinggi?

Ternyata ummi abiku sudah ketakutan akan hal itu, terlebih akunya juga begini-begini aja. Padahal sebelumnya aku sudah enggan membahas beginian lagi, tapi apa daya siang itu ummiku bercerita seperti itu.

Tapi, itu memang benar-benar masuk diakal, aku memposisikan sebagai ayah, jelaslah aku ingin anakku mendapatkan pasangan terbaik. Jadi teringat ceramahnya ustadz Felix Shiauw, tentang beginian.

Ceramahnya teruntuk yang pacaran sih, tapi, apa rela anak yang dirawat, disayang, pokoknya segalanya tapi malah diajak hubungan tidak jelas oleh pria tidak jelas? Pasti tidak relakan? Ya begitulah. Karena orang tuaku punya anak wanita juga, jadi mereka pasti kebayang, apalagi melihat aku yang begini-begini aja.

Aku ingin tertawa jadinya, aku senang sekali rasa pesimis ini. Ah, berapa kali aku selalu membuat asa menjadi sepesimis mungkin. Sungguh senang, karena kalau berhasil membuktikan berarti itu benar-benar memuaskan karena dari perasaan yang tertekan dan tak mungkin bukan? Kenikmatannya seperti orang yang sekarat mau mati kelaparan lalu tiba-tiba mendapat makanan lezat, begitulah, aneh memang jalan pikirku.

Ya, aku semakin takut sekarang, apakah ayah ibunya menerimaku? Banyak temenku yang cerita perjuangan menghampiri ayah ibunya dan seru-seru, ada yang harus jago ngomongnya dan ngelesnya, bagaimana bisa meyakinkan lewat bukti tindakan dan kegigihannya menyambangi rumah sang wanitanya langsung, aku suka sih iseng membayangkan, dan itu membuatku tergelak. Rasanya jadi ingin main game terus aja deh, eh... haha

Ketakutan Kelak

Setengah bulan lagi temanku akan melepas masa lajangnya, ya, menikah. Sudah dari lama aku tahu, hingga tanggalnya, karena aku sempat diminta membuat souvenirnya. Ya, walau pada akhirnya tidak jadi digunakan. Tapi, tetap saja pernikahannya terhitung mundur 22 hari lagi.

Acara yang jauh, sepasang teman satu sekolah, satu kuliah, satu jurusan, untung tidak satu pekerjaan. Calon mempelai wanitanya teman ngeramein grup line waktu pertama kali masuk kuliah, sementara calon mempelai prianya teman kantor pertama kali dan geng konspirasi melawan kebatilan di tempat penuh drama.

Ya, hitung mundur 22 hari lagi, dari jauh hari sebenarnya sudah dipersiapkan untuk beli tiket dsb, tapi teman-teman yang lain belum resmi mendapatkan undangannya jadinya menahan-nahan. Dan sekarang kami mulai berunding. Tapi, dari semua itu ada yang aku takutin.

Entahlah, aku rasanya benar-benar takut, apa bisa aku berangkat sendiri saja tanpa ketergantungan orang lain? Atau bareng perkumpulan yang lain? Bukan teman-teman di Jakarta yang biasa aku temui? Aku rasanya takut, mereka tidak mengerti, atau kalian, atau bahkan kamu, tidak, kalian semua tidak mengerti perasaan menghantui ini.

Rasanya, hati menjadi lesuh, pikiran tak karuan, ah, aku tidak tahu jalan keluarnya. Padahal aku ingin menikmati weekend-ku dengan tenang, tapi ini sungguh menyiksa, bagaimana bisa ketakutan kelak menjadi penyiksaan yang pedih? Mungkin kurangnya ibadah, membuat hati terasa sempit. Astaghfirullah...

Aku tidak tahu akhirnya harus gimana, semoga Allah memberikan ke lapangan hati ini sehingga aku rela dan bisa menghadapi ketakutan itu.

Kamis, 28 Juni 2018

Kenapa?

Kenapa? Kenapa video music japan selalu menampilkan satu wanita yang entah kenapa terlihat unik? Selalu ada wanita seperti itu. Kenapa?

Rabu, 27 Juni 2018

Sapimen: Refleksi Menulis dan Adab

Merefleksikan sebuah pemikiran kedalam tulisan, seperti berusaha mengerti apa yang baru saja pemikiran dapatkan.

Bukankah bukti seorang itu paham adalah jika berhasil menjelaskannya kembali dengan bahasanya?

paham dan menghafal itu berbeda, seperti ujian, belajar hanya semalam, sebagian besar adalah hafalan yang didapat, lantas hilang. Sementara paham, sesuatu hal hingga pemaknaan kurasa.

Terkadang kita baru mendapatkan wawasan, rasanya ingin diceritakan kembali ke orang lain, bukan, bukan maksud mau sombong tahu ini itu, tapi ingin memastikan, apakah saya benar-benar paham? Atau hanya lewat sejenak, lalu kikuk.

Beberapa kali saya berpikir, untuk pelajarap praktikal, rasanya guru yang belom terjun ke industri langsung kurang afdol, karena mungkin dia paham, tapi tidak berpengalaman, wah, ada lagi ternyata, selain paham, ada pengalaman.

Ketika melihat guru yang sudah melalang buana, di dunia yang ia geluti, ia benar-benar bisa bicara lantang dan meyakinkan saat menjelaskan, dia tahu beberapa alur jika dilakukan, misal A bakal begini nanti, kalau B bakal begini dengan yakin.

tapi, untuk pemahaman sejarah memang sulit, karena satu-satunya pengalamannya adalah, membaca buku dan mencari kebenaran setiap yang dia baca, dari situ, mungkin tahu seluk-beluknya.

maka tak sedikit, para guru, dosen, atau orang-orang hebat membuat buku, selain karena keuntungan tambahan, tapi juga membuktikan bahwa pemikirannya, pengalamannya, layak diketahui hal layak. Karena seleksi untuk nerbitin buku tidak semudah nulis tweet ini.

Maka dari itu, Tugas akhir tidak menganjurkan menyadur dari blog, dan mengutamakan dari buku atau jurnal. Karena, keilmiahannya terjaga.

Namun, permasalah lainnya adalah zaman sekarang rasanya ingin mendapatkan langsung pada pointnya, maka itu internet lebih laku ketimbang baca buku yang berhalaman-halaman, dan karena itu pemahaman kita--terutama saya sendiri--sangat terbatas, karena hanya tau pointnya saja.

Membaca adalah bentuk kelapangan, seperti halnya mendengarkan, kita harus bersabar... Harus teliti dan fokus, baru kita dapatkan asal mula, sehingga, dan akibat dari sesuatu itu. Lalu kita dapat menyikapi atau menyimpulkan bahkan menjelaskannya

Dan menulis kembali adalah merefleksikan pemahaman yang baru saja didapatkan, untuk meyakinkan, bahwa sebenarnya kita sudah cukup paham akan sesuatu tersebut.

Mungkin, pembelajaran pertama untuk anak-anak kita nanti adalah bukan bagaimana bisa berbicara yang indah dan tak diduga, tapi harus belajar mendengarkan dan memahami sesuatu dengan lapang. Itu kenapa, adab perlu dikedepankan.

Bahkan, ulama salaf saja meminta untuk muridnya belajar adab dahulu sebelum menimba ilmu. Kenapa? Dengan beradab kita dapat dengan mudah menerima ilmu itu. Karena jika sudah belajar adab, kita bisa memaknai dan menghargai, apapun itu, entah ilmu atau sebuah kehidupan.

Itu jauh dari zaman kita, zaman kita? Di jepang, mereka dari kecil sudah diajarkan adab lebih dahulu, matematika, bahasa, dan lainnya itu belakangan. Karena pelajaran terberat adalah adab.

Wah ternyata dari merefleksikan jadi kepermasalahan adab. Jika berkaca ke diri sendiri, memang diri ini rasanya tidak lapang mendengarkan orang lain, tidak sabar membaca sesuatu hal, sehingga diri sulit paham. Karena adab pun kurang.

Bagaimana diri bisa bermanfaat bagi orang lain? Sementara orang lain benci dengan adab kita? Bukankah itu sebuah paradoks? Bagaimana kita bisa menjadi pintu hidayah orang lain? Kalau mereka melihat adab buruk kita lantas enggan mendengarkan kita?

Ternyata, menjadi manusia seharusnya sulit, lantas untuk apa ilmu? jika semua tidak ingin mendengarkan kita karena adab kita? Mungkin itu, mengapa adab pun penting untuk apapun.

Semoga Allah SWT menjaga lisan, perilaku, pikiran kita dan senantiasa selalu baik dan istiqomah di jalannya, karena InsyaAllah, jika mengikuti pedomannya, adab kita pastilah baik, ilmu pastilah berkah. Karena selain memiliki, keberkahan membuat apa yang kita miliki bermanfaat.

- ditranskrip dari twitter pirbadi

Sapimen: Kenikmatan Demokrasi

Apakah di demokrasi ini ada calon pemimpin yang hidup miskin atau pas-pasan? Atau sederhana, tapi bijaksana dan layak jadi pemimpin?

Belum pernah tahu, mungkin ada yang bisa berbagi. Kalau orang berduit menjadi calon mungkin hampir rata-rata, berduit dari korupsi pun juga ada malah.

Apakah untuk menjadi calon pemimpin di demokrasi ini parameternya harus berduit? Karena jika dilihat, tidak sedikit dana kampanye dikeluarkan. Gimana kalau nyalon tapi uang pas-pasan? Gagal bahaya juga, uangnya habis buat kampanye.

Baru ngeh, pantes banyak calon yang gagal mengalami gangguan jiwa dsb, mungkin karena faktor itu kali ya? Entahlah, saya terlalu awam dengan demokrasi ini.

Aristoteles dan plato pun heran dengan demokrasi...

Suara seorang profesor dan orang idiot sama-sama satu suara... Rasanya tidak adil, padahal dari pemahaman dan keluarannya pasti berbeda. Keadilan itu bukan soal menyamaratakan, tapi menaruh porsi yang sesuai pada tempatnya.

Apakah adil jika jajan anak TK sama dengan jajan anak SMA? Misal, sama-sama 100 ribu. Seharusnya tidak, karena kebutuhan TK dan SMA berbeda.

Saya kalau jadi anak SMA nya pasti keki, masa jajan adek saya bisa sama dengan saya, jelas-jelas di SMA harga jajannya lebih mahal...

Dan demokrasi itu sistem pemerintahan ya, jadi aneh bilang kita menjalankan pancasila, padahal yang dijalankan politiknya demokrasi, ekonominya kapitalis... Hehe mungkin berkemanusiaannya pancasila, aamiin...
Udah ah tidur lagi

- Ditranskrip dari twitter pribadi

Oh Jodoh Oh



Tiba-tiba ummi bilang kepadaku sepulang aku dari kantor. "Hil, kamu harus nonton ini ceramahnya Budi Ashari soal Ayah, sebelum nikah harus paham ginian dulu."

Aku mengiyakan, hingga waktu pagi hari sebelum berangkat kerja ummiku menyetelnya di ruang tengah dan langsunglah ummiku menunjuk-nunjuk. "Tuh... tuh... tuh..."

Sebenarnya, sebelum menonton atau mendengar ceramah ini, dikepalaku bertanya-tanya, dan pertanyaan ini belum tentu terjawab karena bisa saja aku lebih dulu tiada sebelum mendapatkan jawabannya haha.

Pertanyaan ini terlintas setiap aku kepikiran untuk bermain game. "Ketika sudah nikah nanti, kira-kira istriku masih ngebolehin main game nggak ya? Terkhusus dota dan mobil legend (dimana masih rame sama temen-temen)."

Pertanyaan liar itu suka keluar, iseng aja ada pertanyaan seperti itu dibenakku. Dan pas nonton ceramah itu, terjawab rupanya, walau bukan jawaban dari istriku dimasa mendatang, tapi jelas sekali, berbahaya jika menghadiahkan sebuah game kepada anak, dan sudah tidak mengerti lagi kalau ayahnya ternyata seorang pecandu game.

Aku lantas bingung... Terus skeptis sama pernikahan, untung dibolehin nikahnya masih lama... haha, lucu ya, bicara soal nikah tiba-tiba teringat sesuatu yang terngiang di kepala dan selalu menjadi keheranan sendiri bagiku.

Sebelumnya pertanyaan naifku terjawab soal jodoh, sekarang pertanyaan lainnya, ah kenapa sih bahas jodoh mulu? Rasanya aku malu sendiri, tapi ini mengganggu sekali di kepala. Berangkat dari sebuah ayat yang sering didenger, yang intinya adalah wanita keji untuk laki-laki keji, wanita baik untuk laki-laki yang baik. Walau aku tidak tahu tafsir semestinya tapi ini sering kali dikaitkan dengan perjodohan.

Tapi, bukan sebuah rahasia, terkadang ada yang sulit diterima, seburuk-buruknya cowok terhadap cewek, jika menikah, dari sekian banyak pengalaman pasti ingin mendapatkan cewek yang soleha dsb. Itu rasanya, kasihan ceweknya lah, rugi gitu...

Dan aku selalu berpikir, wah, kalau ingin dapet istri yang soleha, berarti kasihan istrinya dong, rugi dapet aku yang begini... Hari itu, aku bertanya ke rekan kerjaku, kebetulan kita berangkat bersama untuk main basket di UI, seperti biasanya aku lakukan.

Saat itu, di mobil tua miliknya, aku lupa, entah aku bertanya atau beliau yang bercerita. Jadi, dia sedikit bercerita atas hal tersebut. Dia bilang, dia itu bukan orang baik-baik, tapi istrinya itu benar-benar orang baik sholeh yang kalau dirasa itu kayak jomplang gitu, tapi mereka berjodoh pada akhirnya?

Tapi aku menyanggahnya, karena beliau--rekan kerjaku--itu orang baik. Dia bilang, dia tuh dulu tidak seperti ini, semenjak menikah, barulah istrinya yang mengajak dia untuk ini itu dalam kebaikan. Hingga akhirnya dia bilang, mungkin bukan baik untuk baik yang sekarang, tapi mungkin kamu baik, tapi dalam perjalanan, yang akhirnya kalian sama-sama baik. Jelasnya...

Aku masih heran, tapi, tetep saja, rasanya rugi, kasihan wanitanya. Seandainya aku mendapatkan wanita yang ilmunya dibawah, mungkin saja aku merasa rugi, kalau bisa dapet yang lebih soleha dan lebih bisa mengingatkan kenapa harus yang dibawah? Tapi, kasihan wanitanya soleha itu, terus begitu saja berputar-putar.

Hingga akhirnya beberapa orang bercerita, bagaimana orang-orang (pria) itu berubah setelah menikah, beberapa ada juga contoh orang di kantorku, dan rasanya, seperti, ah entahlah, mungkin akunya yang menolak setuju soal untung rugi itu. Padahal jika istrinya lebih soleha, istrinya bisa dapat pahala banyak karena sabar mengajarkan suami, yang dimana pria lebih cenderung ingin memimpin dan tidak mau digurui. Begitupun sebaliknya, suami akan mendapatkan pahala besar jika mengajarkan istrinya.

Pada akhirnya memang harus menerima kekurangan dan melengkapinya, bukan masalah untung rugi, tapi menikah itu bekerja sama bukan? Tapi, tetep, masih ingin menjadi orang yang dimana dia berada, sekitarnya selalu merasa beruntung dan bermanfaat :" walau apa daya hayati masih begini perilakunya, haha

Dan memang pria itu fitrahnya menjadi pemimpin ya, kerasa banget pas berkuda, dimana sebuah kepemimpinan itu begitu diperlukan, ketegasan, pengendalian emosi, apresiasi, itu baru sama kuda, apalagi pemimpin negara ya? Aih, tak terbayang hayati dek.

Sudah ah, bicara menikahnya, semoga ini yang terakhir ya... hehe

Waktu Senggang dan Manfaatnya

Memikirkan tidak penting refleks dilakukan, pada dua kondisi terjadi, saat tidak berbuat apa-apa atau saat berusaha khusyu ibadah (ini aku yang payah).

***

Dahulu, sejak zaman produktifnya nulis, aku selalu bilang ke teman-temanku, tempat terbaik mencari ide adalah toilet. Karena memang itu sudah rahasia umum kalau toilet sangat jitu membangkitkan ide-ide. Selain karena proses 'ngeden' tapi juga disebabkan kita tidak berbuat apa-apa selain mikir.

Begitu pula terjadi saat berkendara di motor, apalagi rute jalan yang sudah hapal diluar kepala, itu pikiran entah kemana-mana, dan selalu waktu yang tepat untuk mikirin alur cerita, sialnya, tidak bisa dicatat, jadi terkadang diinget ulang-ulang terus hingga sampai tujuan lalu cepet-cepet buka ponsel untuk menulis alur yang dipikirkan kepala.

Begitu juga terjadi saat menunggu, menunggu apapun, menyesalah kalian yang mengeluhkan menunggu dan mengisinya dengan mendumel. Aku dulu paling jarang bawa ponsel kemana-mana, karena memang punyanya Tab, dan susah sekali mobilitas karena tidak ada tas kecilnya. Jadinya kemana-mana tidak bawa ponsel, saat menunggu bersama teman-teman, rasanya aku menikmati menunggu itu, lebih khidmat, melihat hiruk pikuk sekitar seolah meningkatkan kepekaan, berimajinasi, merangkai kata-kata untuk sebuah pengungkapan keadaan, bahkan menjadi waktu yang tepat untuk berpikir atas apa-apa yang telah dilakukan. Tapi, semenjak punya ponsel, apa-apa buka instagram, apa-apa buka ponsel, ah rasanya tidak nikmat.

Ini keadaan yang parah, terkadang, ah, memang jin bersifat setan itu pandai sekali mencari celah, alih-alih ingin khusyu dalam ibadah, tapi selalu saja terpikirkan hal-hal tidak penting, bahkan kepikiran ceritanya nanti gimana ya, ah kalau ini itu gimana ya, tak jauh beda seperti menunggu, atau di toilet, atau berkendara motor, seperti dalam keadaan idle, tidak berbuat apa-apa, padahal itu lagi ibadah, sungguh menyedihkan, tapi begitulah adanya.

Walau, dulu suka sekali berharap, seperti kehilangan sesuatu benda, semoga pas shalat keinget, eh jadinya pas shalat benar-benar mikirin di segala kemungkinan, itu berarti shalatnya gimana ya? haha

Sebenarnya ini juga bersambung sebuah hal yang terpikirkan selama perjalanan ke kabupaten cianjur, walau sebenanrya puncak sih, tapi jadi kepikiran sekarang tuh menikmati hidup sudah penuh kamuflase, menikmati hidup sekarang seolah bukan untuk diri sendiri, tapi untuk tontonan publik, aku pun terjerembab dalam keadaan itu.

Sepanjang berjalan di gunung kasur (bukit kasur?) rasanya hanya satu, dimana tempat foto yang bagus? Jadilah di sana foto-foto doang, padahal ini, ah, MasyaAllah, sungguh ciptaan Allah yang indah, tapi kita hanya sibuk foto-foto. Apa-apa untuk dilihat orang lain. Dari situ, perlahan aku menyerah dengan sosial media foto-foto itu, karena rasanya sudah aneh, dan balik lagi ke sosial media kata-kata, karena aku ternyata lebih suka menunjukkan kata-kata dari pada foto-foto. (ini memang pendapat pribadi, aku tidak menyalahkan yang sebaliknya)

Ya, kurasa tak sedikit orang, walau bukan semuanya, ke suatu tempat hanya untuk berfoto, jika tak berfoto, malah main gadget, alih-alih menginap di vila, tapi anak-anak bukan kumpul dan bercengkrama, beberapa anak malah main game online di gadget mereka.

Semakin banyak fungsi gadget, rasanya hidup seperti tidak natural, seperti ada yang mengganggu, lagi mau makan, terlalu banyak drama foto-foto, kumpul rasanya tidak sah jika belum foto, dan terkadang, bukber yang dicari foto bersamanya dibanding bercengkrama saling menyapa dan bercerita makanya bukber terkadang datang mepet maghrib, buka, makan, foto, pulang... Aku tidak menyalahkan, tapi begitulah realita di mataku, maaf jika salah.

Terakhir, hal menyedihkan, apapun, sekarang semua ingin menjadi orang terupdate, tercepat, dan paling pertama tahu. Bagus memang, tapi, tidak semuanya mesti dijadikan pertunjukan kurasa, pernah satu waktu, aku berada di sebuah jalan protokol Jakarta, orang-orang ramai menghentikan motor mereka, dan semua mengangkat tangan mereka bersamaan ponsel mereka.

Aku terheran, aku melihat kemana arah kamera ponsel itu tertuju, terlihat jelas api berkobar membungkus mobil yang entah terguling atau bagaimana, terpasti mobil itu terbakar, dan semua asyik menjadikan mobil terbakar itu sebagai update-an mereka. Ya, begitulah...

Rasanya, gadget lama-lama mengganggu sekali, atau aku saja yang mulai kembali jadi manusia? Dimana selalu lihat orang bermain gadget layaknya 'zombie'. Aku tidak berarti membenarkan diriku akan apa yang aku lakukan sepenuhnya, tapi, aku merasa gadget ini seperti menjauhkan yang dekat, dan mendekatkan yang jauh.

Bahkan, proses khidmat pencarian ide di toilet telah hilang, karena orang-orang ke toilet bawa gadget semua, oh my dream... Padahal itu sumber inspirasi... Kalian pasti akan menyesal!!! Hiks...

Senin, 25 Juni 2018

Jalan Kalibata

Rasa lelah dalam perjuangan itu sebuah kenikmatan.
***

Akhir-akhir ini kantor ke rumah nenek, bahkan ke rumah aja selalu ngantuk di jalan. Rasanya berat banget, terlebih ke rumah nenek yang bisa 38 kilo sendiri.

Alih-alih ngantuk, beberapa kali tersadar pas mau nabrak. Karena takut, akhirnya sering melipir, berusaha tidur sesaat lalu terbangun, tapi masih tak kuasa ini tubuh.

Tubuh memang tidak bisa berbohong, oke, aku menyerah, aku yang selalu menahan diri untuk meminum kopi karena perut tidak sanggup, akhirnya terkalahkan.

Aku melipir kesekian pada sebuah supermarket, aku memilih berbagai macam merk kopi, hingga sembarang dengan maksud ingin menanya apakah ada kopi-kopi ini yang tidak dingin(karena kebetulan lagi sakit perut), eh tiba-tiba ditanya mau berapa? Tentu menanyakan barang yang sedang kupegang.

Aku yang kikuk, pasrah, ya sudah, kopi apa saja benakku. Akhirnya diambilkanlah minuman yang tidak dingin, lantas aku membayarnya.

Dengan wajah cemberut akibat ngantuk (pas ngaca dikit serem juga muka kek gini), aku keluar dari supermarket dan duduk di tangga panjang, lantas membuka botol dan menengguk. Rasanya seperti ada sesuatu, ketika aku melihat bungkusnya... Ternyata ini minuman cokelat...

Memang kopi tidak diizinkan untukku tampaknya, akhirnya aku bingung, yasudah aku menulis ini dengan menahan kantuk dan kuharap tertidur sejenak lalu siap bergegas. Dadah...

Jumat, 22 Juni 2018

Me-ong

Terdengar suara meong seusai maghrib, ah, jadi rindu kucing yang biasa meong di kantor. Semenjak pertengahan puasa, dia entah kemana hingga sekarang. Bisa saja dibuang, padahal sayang, dia sudah penurut dan pintar untuk membuang kotorannya di pasir halaman.

Bisa saja, dia melahirkan, dan tak ingin merepotkan dengan anak-anaknya. Semoga saja dia balik datang.

Diam tapi berbicara

Ada beberapa yang tidak bisa aku mengerti maksud dan artinya, tapi aku merasakannya.
Pertama, mendengar lantunan alquran merdu, terkadang buat terhening, lantas sendu.
Kedua, lagu-lagu dengan nada yang seolah bercerita.

***

Belakangan ini sering mendengar lagu yang tak tahu arti dan maknanya, tapi, nadanya, bagaimana pembawaannya, seolah semua bercerita. Seperti kamu, terdiam, tapi seolah bercerita kepadaku. Hehe, selamat menikmati.

Lagu untuk minggu ini.


Ternyata ini ada filmnya, dan aku belom sempat menonton, mungkin yang ingin menonton bisa cari judulnya uchiage hanabi shita kara miru ka yoko kara miru ka

Untuk Kekalahan

Bagiku kekalahan adalah menyerah dalam kegagalan.

***

Selasa, sesekali kamis, atau sekarang jumat. Riak air di permukaan danau adakalanya terjadi, entah dari jatuhnya dedaunan, bijian, atau batu yang dilontarkan. Aku memandang riak itu, dibalik jeruji besi berbentuk diamon, dibawah teduhnya atap, diatas licinnya permukaan.

Saat itu, setiap waktu itu, dentuman bola tiada hentinya mengusik telingaku, aku masih memandang riak itu, alih-alih menolak memandang jembatan merah. Aku tidak tahu apa nama pastinya, bagiku itu jembatan merah, karena warnanya memang merah. Tapi, bagiku paling dalam, itu adalah jembatan kegagalan. 

Aku ingat betul, sore itu aku dan rekan-rekanku bingung harus kemana, setelah presentasi di hadapan beberapa dewan juri, setelah semalam suntuk berupaya mencari jawaban setiap pertanyaan yang mungkin saja akan keluar, tapi pertanyaan yang muncul justru tidak pernah terpikirkan sedikit pun malam itu. Lucu bukan?

Terkadang, kita, manusia, berpikir segala kemungkinan, nyatanya tidak segalanya, tidak benar-benar segalanya. Ya, di jembatan merah itu, sore itu, cuaca mendung selepas hujan, dan hujan belumlah tega menghujam daratan ramai-ramai untuk kedua kalinya . Aku dan rekan-rekanku cukup yakin, ini jembatan yang khas di kampus ini, maka dari itu kami berfoto-foto.

Sesekali melihat para mahasiswa menyeberanginya, dan beberapa pasangan muda-mudi melewatinya dengan mesra. Hingga akhirnya hujan tiba lagi dan kami menyudahinya.

Jembatan itu, sangat teringat jelas, malam penghargaan tiba, sebuah kegagalan telak. Kalian tahu apa pertanyaan yang dilontarkan juri padaku--selaku presenter? Tidak, tidak teknik yang rumit--saat itu aku dan rekan-rekanku mengikuti perlombaan animasi--tidak juga alat-alat yang canggih, tidak. Terkadang kita, ya, aku mungkin, terlalu jauh berpikir, atau terlalu takut dengan hal yang jauh nan besar dan terlihat, tapi suka lupa hal besar yang ada di dekat.

Mungkin beberapa tulisan di blog ini sudah menceritakannya, ya, kesalahan tim ku adalah melupakan tema, sebuah tema dari perlombaan, kurangnya unsur pada tema adalah sebuah kesalahan fatal, oh bukan, bukan kurang, tapi tidak ada. 

Hingga salah seorang juri berkata, "Seandainya, kamu menaruh saja sedikit teknologi, misal di voting, atau pemberitaannya tidak pakai koran tapi sosial media, itu sudah cukup?" saat itu tim ku membuat cerita sebuah audisi layaknya indonesia idol atau pencarian bakat.

Aku, tersenyum, lirih.

Selepas dari ruangan itu, aku tertawa, dalam lelahku. Aku bingung, aku panik, berkali-kali aku berkata. "Ya ampun, salah teman, haha" kataku, ke rekan-rekanku, ke dosen pembimbingku, ke dosen kemahasiswaanku yang benar-benar mereka menaruh harap, menaruh doa, dan sungguh mereka dosen terbaik yang pernah aku kenal--diluar dari perlombaan ini juga diperhitungkan.

Aku tidak mengecewakan diriku sendiri, tapi aku mengecewakan mereka--rekan dan dosenku. Walau sesungguhnya ini bukan salahku saja, tapi, aku yang membuat ceritanya, aku yang meminta ini itu ada, untuk segera selesai, dan saat itu aku bertanya sambil ketawa. "Bagaimana bisa salah tema tapi masuk final?"

Seusai kembali ke Bandung, kampus-ku, itu menjadi pelajaran berharga dan selalu diulang setiap sesi acara lab, terutama mengenalkan lab yang diisi olehku dan rekan-rekanku, bahwa, segalanya tuh penting, aku yang terlalu yakin dengan apa yang kami buat, nyatanya runtuh dengan hal sederhana, tapi benar-benar besar.

Saat malam penghargaan itu, juara kedua dari kategori animasi adalah tim kampus-ku lainnya, beda jurusan, dan aku melihat mereka berbahagia. Sedih? Tentu, itu sepertinya kegagalan pertama-ku dan satu-satunya selama mengikuti final pada perlombaan.

Dan selasa, sesekali kamis, atau sekarang jumat, aku terus memandang riak, alih-alih tidak memandang jembatan merah itu. Bukannya aku takut mengingat kegagalan itu, tapi aku bisa tersenyum sekarang, karena aku tidak kalah. Aku telah mengalahkan kegagalan itu, pada tahun berikutnya, bersama rekan-rekan lebih banyak dan lebih hebat, pada acara yang cukup besar dan pesaing bukan dari kalangan mahasiswa saja, akhirnya kami bisa berdiri diatas panggung memasang wajah bahagia seraya mengangkat piala.

Tapi tahun ini kami tidak ikutan, alias tidak mengirim, karena waktu tidak terkejar. Ya, biasa, terpenting memang adalah tim, tim yang kompak, itu sudah cukup. Tentu saja kemampuan.

Aku mengusap peluh-ku yang keluar lembut dari pori-pori, napas-ku tersengal-sengal, tangan-ku memegang jeruji besi. Menahan napas, lalu menghembuskan lewat mulutku. Riak itu, terlihat seperti sebuah usaha yang indah, ia tak sebesar ombak, tapi semakin besar beban yang dihempaskan ke dalam danau itu, riak itu berbanding lurus.

Aku berbalik, dan aku terus ingin merasakan kegagalan itu, ingin merasakan riak itu, batu yang besar, akan membuat riak itu bergelombang lebih besar dan besar dan besar, hingga kalian tak sadar itu sebuah riak yang sebelumnya kecil.

Kamis, 21 Juni 2018

Selasar Al Fauzien

Semilir angin di selasar masjid seperti tiupan lembut membelai rambut. Hari ini sungguh tentram, walau tak terasa masuk kerja sudah kunjung datang, tapi sungguh hari ini seolah menampikan ketakutan kebosanan dan kesegalanegatifan akan kembali ke rutinitas.

Angin sepoi, awan menutup mentari, seraya berbisik dalam ibadah sehari-hari, memanjatkan doa kepada sang Ilahi. Sungguh, jika bisa kubeli syukur itu, aku akan lebih giat bekerja untuk membelinya.

Dari jendela kumelihat, daun dan rumput tergoyang lembut, dan suara desir itu merayu, menenangkan, dan kuingat akan kematian.



Selasa, 19 Juni 2018

Jodoh oh

Beberapa minggu ini sering diskusi sama ummi soal jodoh, calon, dan mempersiapkan. Ya, wajar, walau ummi masih memberikan lampu merah, tapi treament-treament seperti itu terus dilakukan, katanya sih biar sadar.

Tapi bukan, itu yang ingin dibicarakan. Beberapa akhir ini juga sering diskusi soal ustadz-ustadz, dan yang tidak nyangka ternyata temen basketku ada seorang ustadz yang terkenal. Menariknya adalah, soal pasangan hidup, ya, waktu dateng ke acara yang diisi beliau, aku melihat istri dari ustadz itu, lalu mendadak berpikir. Hmm, kok? Tanyaku heran.

Ya, asal kalian tahu, ustadznya itu ganteng, bagiku cukup ganteng, ya kalau dapet istri yang model selebgram-selebgram cocok bangetlah. Tapi, kok? Ya, pertama emang aku melihat dari luarnya saja, tapi rasanya membingungkan, ya kita memang tidak pernah tahu apa yang dilihat beliau sehingga memilih istrinya.

Terus lihat beberapa ustadz keren dan melihat istrinya, suka menimbulkan tanda tanya. Sebenarnya bukan maksud untuk mengecilkan seseorang, tapi semua itu seolah menjawab pertanyaan naifku dahulu kala yang bernada, "Apa bisa orang kayak dia (maaf, maksudnya yang gak enak dilihat, atau sifatnya keblinger nyebelinnya) ada yang mau ya?"

Ternyata terjawab, jodoh memang sudah ditentukan semuanya, dan tidak ada yang terlewat seorang pun, walau ada saja jodohnya di surga kelak (ketika ajal duluan yang menjemput). Pertanyaan naif itu terjawab sudah, terkadang, atau tepatnya diriku, suka terpaku oleh fisik, ya karena pertama yang dilihat fisik, jadi kalau lihat orang ganteng tapi istrinya kayak kurang pas, rada heran, tapi kalau lihat wanita cantik dan prianya kurang, nggak heran, cuman jadi suudzon, astagfirullah, begitulah ya mindset juga sudah tercemar.

Ya, kalau gini jadi semakin santai, toh kata rekan kerja di kantor yang bercerita tentang nasib jodohnya, jodoh mah asal cocok dan sesuai perjuangan dakwahnya, udah sisanya gak terlalu dipikirkan, toh cuman sementara dan tujuannya ibadah (kurang lebih begitu intinya). Apa mereka-mereka yang membuatku bingung itu berpikir seperti itu?

Semakin kesini, pemikiran dapat calon pasangan yang cantik mulai terkikis, buat apa cantik, tapi nissa sabyan boleh lah, hehe. Ya, balik lagi, asal suka, cocok, dan agamanya oke, mungkin sisanya lillahi ta'ala aja kali ya, jadi tinggal niatin kalau semua itu ibadah, jadinya tenang dan mudah kayaknya.

Sama kayak hidup kaya dan miskin, kalau orang miskin berpikir ini hidup gini banget, tapi nggak berpikir kalau kaya dan miskin itu sama, sama-sama cobaan, pasti rasanya nggak bersyukur terus. Begitupun kaya, kadang lupa diri, padahal itu juga cobaan.

Ya, begitulah, jodoh sudah diatur, tinggal ibadahnya aja harus lebih teratur. hiks, ramadhan pergi, ibadahnya ikutan pergi juga. :(

Senin, 18 Juni 2018

Ramadhan Ditinggalkan

Setelah Ramadhan tahun ini benar-benar terasa sekali bedanya. Biasanya sehabis ashar orang sangat ramai keluar rumah mencari bukaan, setelah isya masih ramai di dalam masjid, kelar tarawih masih ramai orang tadarusan, bahkan hingga subuh disepuluh malam terakhir, masjid masih sangatlah ramai dan seolah itu bukanlah malam.

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, rasanya seperti benar-benar kehilangan, gairahnya jadi menurun setelah sebulan penuh gairah, rasanya selalu nunggu ceramah tarawih yang seru, bahkan rela pergi kesana-sini untuk cari penceramah yang seru. Defini seru sendiri luas, bagiku tentu saja salah satunya berbobot dan pembawaannya menyenangkan--tidak membosankan.

Seolah sehabis shalat wajib, masjid tuh wajib digandrungi lama-lama, ada yang tilawah, ada yang dzikir, ada yang berdoa, adapun yang berkumpul berbicara sebuah kebaikan.

Subuh selalu ramai, dua kali lipat dari biasanya. Bagaimana tidak, setelah sahur, rasanya nanggun jika tidak subuh ke masjid.

Malam yang biasanya hening, kini sungguh khidmat. Berlomba-lomba bertahan. Di sepuluh malam terakhir, aku seolah menjadi sebuah saksi, beberapa masjid aku coba datangi, dan disana terlihat wajah lelah dan perjuangan yang terus melantunkan ayat suci dan meminta ampunan.

Rasanya, benar-benar kayak, satu hari, dinamakan idulfitri, dan semua seolah berubah. Tersisa, namun tidak banyak. Rasanya, setelah shalat wajib langsung sepi. Rasanya ingin cepat-cepat ramadhan lagi, rasanya selalu sibuk dengan yang baik-baik dan waktu benar-benar terasa sangat penting.

Memang terkadang kita jago pas latihan, tapi pas pertandingan sesungguhnya terseok-seok. Semoga hal yang telah dilakukan dan didapatkan selama ramadhan tidak berakhir na'as ya, hiks, semoga istiqomah dan terus berjuang... huuuuhh. Bismillah!!!

Akhir Perjalanan 4 Tahun



Rasanya waktu cepat sekali berlalu, peraasaan baru kemaren pusing-pusing mikirin TA nggak kelar-kelar, sekarang sudah bulan juni, dan satu setengah bulan lagi tepat sidang TA dan membuat semua jadi plong.

Terkadang waktu kosong, merasa keinget kenangan 4 tahun kuliah, 4 tahun seru-seruan, dan sekarang ya beginilah kerja. Patut disyukuri memang, tapi ya begini dan begitu saja tidak se"wah" kuliah dan setidaknormal kuliah.

Jauh, sebelum lulus, bahkan sebelum masuk kuliah, aku pernah bertanya-tanya pada diriku sendiri. Apa aja sih yang ingin aku capai selama kuliah? Aku buatlah 10 keinginan atau mimpiku di kertas lalu aku lipat kecil dan masukin ke dompet, walau dibukanya jarang-jarang, di sana salah satunya aku ingin merasakan pergi keluar negeri tanpa keluar uang sepersenpun. Ya, pas pertama mikir dan nulis itu kayak mustahil, ya tapi namanya juga mimpi, bebas saja di benakku.

Selain itu, ketika aku masuk kuliah, aku melihat ke belakang, aku memiliki teman yang prestasi dan juaranya banyak sekali, piala seolah numpuk di rumahnya, dan jika aku berkaca pada diriku sendiri, hmm, rasanya aku belom pernah memenangkan apapun hingga aku tiba kuliah sekarang, dari situ seolah aku jadi kepikiran, ah kayaknya pengen deh banggain orang tua dengan bawa piala atau semacamnya.

Tak pernah terpikir, bahwa aku yang bermimpi dan berpikir aneh-aneh itu bakal melalui kuliah yang begitu menyenangkan dari organisasi hingga perlombaan. Aku yang modal kemampuan horizontal, alias, nggak jago-jago banget selain bisa semua tapi biasa aja, akhirnya jadi tim support beberapa tim lomba, aku yang sangat ambisius akhirnya membuahkan hasil.

Pertama kali, di UI, juara 2, aneh sih, saat itu juara 1 dan 3 dari UGM, juara 2 seolah mimpi pertama yang terwujud, karena sejatinya itu lomba pertama dan nggak yakin kalau langsung menang, karena aku mikir ini hanya untuk menghabiskan jatah gagal saja.

Setelah itu, aku juga merasakan mimpiku terwujud, dapet juara salah satunya, dan satunya lagi masuk berita kampus.

http://soc.telkomuniversity.ac.id/read/95/tim-heaven-sundaes-alliance-berhasil-meraih-juara-2-ajang-game-and-apps-competition-islamict-fair-2015

Dari situ, masih belom kepikiran kalau bakal sejauh ini, terus-terus lomba, dari yang finalnya gagal karena salah tema, hingga juara 3 terus-terusan, sampai menjelang sidang bertanya-tanya, kok gak pernah juara 1?

Setelah sidang berakhir, alhamdulillah, mimpi yang aku tulis menjadi kenyataan, akhirnya bisa bertarung di Malaysia dengan gratis keseluruhan rame-rame bareng temen-temen, dan rasanya kayak kado spesial saat aku ulang tahun dan setelah sidang. Rasanya hidup komplit sekali waktu itu.

Ketika di Malaysia, sebenarnya udah nggak terlalu berharap juara, karena bisa jalan-jalan gratis-tis-tis ini saja sudah sangat bersyukur dan lebih dari cukup. Namun, Allah seolah memberikan kado manis, tanpa disangka, akhirnya dapet juara 1. Dan semua itu terjadi dipenghujung kuliah.

Ah, rasanya tidak ada penasaran lagi di kepala. Tapi, setelah kuliah seolah kehilangan semua ambisi, walau bersyukur karena cerita dikampus selalu menarik dan selalu saja kebayang-bayang. Dari suara detak jam yang teringat tahun pertama di kosan, sendirian, tidak ada kipas angin, yang terdengar hanya suara detak jam.

Dari riung senyapnya di Masjid Syamsul Ulum, melihat para penggiat dakwah meriung bercerita. Nikmatnya danau galau kalau jogging sore hari, serunya lab kalau main dota dari malam sampai pagi, kalau nobar film sambil makan, atau jalan-jalan ke sekeliling bandung menikmati alam yang telah Allah ciptakan.

Kangen juga kalau mati lampu di kosan, ngumpul main gitar nyanyi bareng sambil HQ time, camping ala-ala, main basket didukung sejurusan, main futsal ramean dengan tim seadanya di kelas terus sampai magrib, terus bikin goal, terus aku nyanyi burung hantu, tapi semua diam, aneh tapi rasanya nikmat.

Ketika di kelas ngobrol, tidur, nyontek, pura-pura ngerti. Belajar giat h-1 ujian, jadi memang nilai didapat dari belajar semalam saja rasanya... :'D Ngerjain Tugas Pendahuluan Praktikum setiap weekend yang selalu dikeluhkan dan rame-rame ngumpulin, nggak jarang cuman ubah variabel, terus manjat-manjat ngumpulinnya karena ditutup. Disini, ujian seorang teman sejati diuji, mau ngasih jawaban TP atau nggak ke temen lainnya, sampai akhirnya ketahuan deh aku cuman ubah variabel dan satu modul praktikum 0. Haha

Jalan-jalan sama anak kosan, sama berenam, sama ana lab, sama anak aksara, berendem, ke gunung, ke pantai, ke air terjun, ngebut disepanjang jalan lembang-subang yang rasanya mau mati, lihat bukit bintang yang remnya blong yang udah mikir aneh-aneh aja pas itu, ke pantai yang 12 jam sendiri, sampai sana nginep di deket pantai seadanya terus nemu tempat tambang yang kayak markas penjahat. Pergi ke boscha yang rasanya sepi tapi tenang, makan kuliner bandung, makrab kelas, makrab aksara, makrab angkatan. Ke Ciwidey dingin-dingin marahin adek-adek kelas, maaf ya dek...

Tidur di Sekre berhari-hari, tidur di lab berhari-hari, tidur di kosan temen, tidur di kamar temen. Sahur masak di lab, buka berburu di MSU. Selalu rame, rasanya keramean itu seperti bagian dari keharusan.

Terlebih dengan orang-orang yang sudah dianggap spesial, willy temen basket yang suka namanya kebolak-balik sama aku, yono yazid berto keju temen dota yang sampe pagi kerjaannya mmr-an terus, dan para cewek-cewek yang suka ngingetin dan mau dititipin kalau lagi beli makan diluar. Bahkan cewek-cewek yang suka meracuni dengan koreanya, dan dance koreanya sampe-sampe aku sedikit bisa dance korea :'D

Rasa dimana dari kos habis mandi buru-buru mau balik ke lab, makan di kantin ramean, upgrading, pelantikan, ah banyak sekali ya kenangan itu. Ah rasanya nggak habis pikir kalau semua sudah berlalu begitu saja.

Mungkin video itu penutup perjalanan panjang selama kuliah di Bandung, dalam sebuah perjalanan memang selalu ada yang ditinggal. Kenangan, entah manis atau buruk. Itu selalu ada dan selalu dirindukan--bagi yang manis.

Untuk semua temen kuliah yang pernah direpotin, aku minta maaf sebesar-besarnya, dan aku rindu kaliaaaaaan. hiks.

Semua Benar Berakhir

Setelah sebulan penuh aku istirahat, akhirnya aku memberanikan diri untuk minta maaf secara general atas dosa-dosa lampau. Ah rasanya jadi aneh, semua yang begitu dekat dan baik saja menjadi secanggung ini. Tapi begitulah cara kerjanya.

Beberapa kali sempet melihat perkembangannya alhamdulillah, sebenarnya kita akan baik-baik saja, tanpa ada atau dengan seseorang yang kita anggap teman atau sahabat terbaik. Tapi, dengan, selalu menjadikannya lebih menarik bukan?

Memang terkadang sebuah hal perlu pengorbanan, bagaimana jalan tol dibangun butuh mengorbankan lahan milik warga. Entah itu pembebasan lahan secara baik-baik, atau agak "terpaksa". Semua memang butuh pengorbanan.

Mungkin, terlalu berpikir, pergi berarti bahagia, kali ini ingin mengungapkan sedikit, bagaimana butuh banyak topeng agar semua terlihat baik-baik saja. Karena semua itu terjadi begitu cepat dan harus bertahan begitu lama.

Ah, namanya memori, terkadang memang tidak bisa dipilah begitu jauh. Seandainya mengingat pelajaran atau ilmu rasanya susa sekali, tapi momen-momen yang hanya memberi luka terus tersimpan dan seolah menghukum, bagaimana masih ingin mengulangi semuanya? Begitulah katanya--memori.

Ah mungkin kita sekarang tidaklah sahabat tidaklah teman jua, hanya beberapa orang bingung dan terus berlari, tak perlu lihat kebelakang memang, kenangan manis itu terlalu luka, kenanangan buruk itu terlalu menyiksa.

Tidak ada kejadian setelah istirahat sebulan penuh, tapi ketika suasana begitu hampa, rasanya hati tercekat, seolah seorang mencekek dan rasanya tidak enak. Walau beribu maaf telah disampaikan, ah, seandainya saja semua begitu mudah, mungkin sudah bertahun yang lalu hal ini terjadi. Setan memang pandai memposisikan.

Berbahagia, saat sedikit sapa gurau terjadi, semoga kita semua baik-baik saja dan terus menjadi orang baik yang bermanfaat. Setidaknya kita punya teman-teman baik yang selalu mengelilingi, selalu mengingatkan, antara ibadah dan berbahagia.

Mungkin, menutup rapat perlu dilakukan. Karena cerita akan berakhir entah itu pershabatan atau pertemanan atau musuhan. Terima kasih atas petualangan bertahun-tahunnya, aku jadi sedikit sedih heuu hiks.

Sabtu, 16 Juni 2018

Ibu Telah Pulang

Terkadang kita tak sanggup melihat keburukan yang memalukan, terlebih teman dekat atau kerabat sendiri. Rasanya ingin menolak tapi itu adanya.
***

Pagi ini sama seperti sebelumnya, sepi, tapi ibu telah pulang, aku harus segera menyusulnya.

Sang Pembuat Takdir

Kau tahu? Semalam aku bermimpi, setelah resahku kuadukan, seolah aku mendapatkan jawaban untuk sebuah kisah.

Aku yang seolah semakin yakin, masih harus menanti lagi, penantian ini tidaklah singkat, bulan? Tahun? Bisa saja lebih dari itu.

Mungkin tidak semudah yang dibayangkan, penantian itu butuh perjuangan. Sekarang aku masih di nol, entah kapan meteran angka itu beranjak.

Banyak yang terjadi diluar sana, membuat hati kadang menjadi keruh. Presepsi suka berpikir seenaknya, dia tak tahu betapa susahnya hati menyaring atas apa yang di dirinya--akal pikiran--lakukan.

Hati ialah, secara harfiah ataupun kiasan, dia tetap penyaring, antara racun tubuh atau racun pikiran. Ah bahkan diriku bukanlah seorang filsuf atau profesor yang pantas mendefinisikan.

Begitulah penantian dan hati kerap berjuang. Sampai suatu hari tiba, tak ada keraguan dan kepastian itu memberikan kado terbaik yang telah dinanti.

Nikmatnya hasil, perjuangan yang hampir gagal bukan? Seperti nikmatnya makan, ketika diri rasanya akan mati kelaparan.

Biarkan aku bergumam dan bergumam sejenak, bicara soal nanti, walau dalam bisik kepada sang ilahi, berharap tak menggurui, sebaiknya pembuat takdir ialah Rabb-ku.

Sabtu, 02 Juni 2018

Tersungkur

Aku ingin tertawa terbahak-bahak rasanya.

Hari ini sungguh mengejutkan, pertama, tanpa sadar aku meninggalkan motor beserta kunci yang tercantol di pinggir jalan, sedang aku masuk ke dalam ruangan. Beruntung Allah masih kasihan sama diriku ini, motornya aman, mungkin males juga orang ambil motor yang terlihat butut ini hehe

Kedua, akhirnya, pada akhirnya terjadi, setelah sekian lama naik motor sambil tertidur, sekian lama hampir nabrak, kali ini akhirnya terjadi. Beruntung lagi, Allah masih kasihan sama diriku ini. Aku yang sudah terkantuk, berjalan di tengah pekatnya malam, akhirnya harus nyungsep ke semak-semak agar aku kembali tersadar dari kantukku. Efeknya pun kaki kiri ku terkilir, setelah hari kemarin motornya mogok karena hujan dan aku harus mati-matian menyela motor dan membuat kaki kananku terkilir, sekarang lengkaplah sudah. Alhamdulillah.

Ah, rasanya lucu sekali tegur-teguran ini, seandainya Allah sudah tidak lagi sayang, mungkin motor bisa saja hilang, atau bisa aja aku menabrak mobil dan lainnya yang sebelumnya hampir terjadi. Setelah kejadian-kejadian pahit, pasti timbulah hikmah dan mengerti untuk lebih dan lebih berhati-hati.

Sama kayak beberapa jam sebelum aku pulang, aku bercerita ke teman-temanku, beruntung aku magang kerja waktu SMK di tempat dan momen yang menyedihkan, aku merasa hidup berat banget. Tapi, setelah itu aku jadi harus pintar mencari duit, harus bekerja sesuai passion agar masa-masa kelam itu tak lagi hadir.

Mungkin, ini yang aku rasakan, tidak akan merasakan sebuah kemanisan jika belum merasakan pahit. Walau eksistensi pahit adalah ketiadaan manis.(ini dapet dari sebuah dialog orang atheis ke muslim yang mempertanyakan apakah Allah juga menciptakan kejahatan?)

Menyambung soal eksistensi, ini menarik sih, tidaklah ada gelap sesungguhnya, yang ada adalah ketiadaan cahaya. Karena kita belajar menghitung cahaya, tidaklah gelap. Tidaklah ada kejahatan sesungguhnya, yang ada ketiadaan Allah di diri kita sehingga tidak ada kebaikan. Begitulah intinya dan aku merasa mesem-mesem sendiri membacanya.

Jadi kaki-kakiku terkilir, dan sekarang di jam yang nanggung buat tidur, lusa adek-adekku pulang, akhirnya ramai, semoga ini momentum yang tepat untuk bermain bersama mereka dengan ikhlas hehe.