Rabu, 27 November 2013

Begini Aku Tidur

"Pejamkan mata saja, maka kau akan terlelap dengan sendirinya."

  Percayalah tak semudah yang dikira. Tidur juga terkadang membuatku menjadi gila. Bagiaman tidak? Sering kalu aku frustasi hanya karena aku kesulitan untuk tidur. Walau sudah beribu kali aku memejamkan mata. Tapi, hasilnya masihlah sama.

  Aku sering kali terjaga hingga larut malam, bahkan tak jarang aku terjaga hingga pagi menjemput. Aku sudah melakukan banyak cara, hanya untuk terlelap. Terkadang aku mencoba seraya mendengarkan musik. Aku hanya semakin asyik dan terus terjaga.

  Aku pikir cara itu tak terlalu ampuh, aku mencoba dengan cara lain. Seperti membuat tubuhku rileks. Aku sering kali melakukan beberapa gerakan untuk merilekskan tubuhku. Hasilnya tubuhku rileks tapi aku tak pula terlelap.

  Orang bilang jika kamu lelah, maka kamu dengan mudah akan terlelap. Aku sering kali lelah, tapi aku masih dapat terjaga. Satu musuh beratku sebenarnya kala aku mau terlelap tidur adalah Gadget, ya, percaya atau tidak gadget sering kali menyita waktu tidurku.

  Terkadang aku berpikir, aku menghabiskan waktu dengan gadgetku hanya melakukan hal yang padahal sudah kupikir tidak terlalu berguna. Bahkan bisa dibilang membuang waktu. Sosial media telah meracuni otakku. Aku bermain gadget, terkadang mencoba agar aku lelah dan terlelap tidur.

  Tapi itu kesalahan besar. Aku semakin keasyikan bahkan lupa untuk terlelap tidur. Pernah aku meletakan jauh gadgetku dan mencoba terlelap. Hasilnya tak memuaskan. Aku bahkan hanya menggeliat di kasur berjam-jam.

  Insomnia, penyakit ini terkadang membantumu--saat kamu banyak pekerjaan dan memaksamu lembur. Tapi, satu sisi lainnya. Insomnia bisa membuatmu menjadi gila. Apalagi saat kamu berpikir kamu perlu istirahat dan kamu ingin memaksimalkan waktu istirahatmu dengan tidur.

  Tak jarang pula mata ini menjadi mata 'panda' begitulah orang-orang bilang pada seseorang yang kekurangan tidur dan kantung matanya begitu tebal serta gelap. Jika aku melihat bapak presiden, aku pikir dia sering kali insomnia.

  Hey, bukan maksudku menyindirnya. Lihatlah mata serta kantung matanya. Bapak presiden kita terlalu lelah, entah memikirkan apa. Kupikir tak mungkin ia jarang tidur karena keasyikan bermain dengan gadget hingga pagi menjemput.

  Sampai suatu saat aku benar-benar mengerti cara terlelap. Bagaimana? Cobalah kalian membaca. Aku sering sekali mempraktikannya. Aku membaca ketika aku kesulitan tidur. Hasilnya memuaskan. Aku terlelap! Sebuah keajaiban bukan?

  Kata-kata yang panjang dan membosankan itu dapat membuatku tertidur. Bahkan tidur siang sekali pun. Aku memang bukan pria yang dengan mudah untuk terlelap. Tapi, aku pikir aku sudah dapat menyudahi permasalahan ini.

  Jika kalian kesulitan tertidur, maka bacalah sesuatu. Semoga cara ini ampuh. Atau mungkin semakin terpacu dalam membaca dan keasyikan sehingga lupa tidur? Tapi, jika kamu merasa lelah sedikit saja. Cara ini pasti manjur. Jika tidak, berarti kamu harus menjadi satpam. Percayalah, kamu terjaga hingga pagi pun tak rugi. Kamu mendapatkan bayaran bukan?

  Aku hanya membual. Cara paling ekstrim menurutku adalah meminum obat tidur. Pernah aku mencobanya, dan kalian tahu? Tubuhku seperti terkulai terus sepanjang hari. Tak bisa diajak untuk bangkit. Mungkin aku bisa dibilang telah melakukan hibernasi saat itu.

Selasa, 26 November 2013

Pria Mungil

 "Saat hidup dengan kenikmatan yang ada. Merasa diri paling tak berguna dan tidak ada apa-apanya. Kucoba tengok sebelah."

  Ketika senja telah pudar dipaksa oleh waktu. Saat semua sudah mulai sibuk untuk pergi keluar rumah dengan megahnya. Disaat semua sedang duduk manis di samping keluarga. Menikmati segala hidangan yang ada.

  Ketahuilah, ada seorang mungil sibuk dengan pekerjaannya. Mencoba merogoh tong sampah berselimutkan warna hijau. Dengan tergesah-gesah ia melakukannya. Mengambil segala plastik yang ada, berupaya untuk memenuhi perutnya malam ini. Pria mungil itu terus dengan gigih.

  Tidak dengan pakaian mewahnya, tidak dengan segala gadgetnya. Pria mungil dengan rambut berponi, berkulit kecoklatan dan tidak terawat, berbadan kurus, berpakaian polo dengan garis-garis yang kumal. Pria mungil itu tak peduli orang sekitar, ia terus merogoh tong sampah itu.

  Walau begitu ia terus menatap sekitar, rasa cemas terpancar dari mimiknya. Tangan mungilnya terus merogoh tong sampah yang bahkan tingginya sedadanya. Pria mungil itu terus memasukan plastik ke dalam plastik besarnya.

  Pria mungil itu dihampiri oleh seorang wanita. Mungkin ini malam yang baik untuknya. Entahlah, aku tak tahu apa yang dilakukan wanita itu? Memberinay secercah harapan atau hanya membuang sampah? Aku tak bisa memastikan.

  Pria mungil itu enggan peduli. Dengan segenap tenaga, bahkan ia bersusah payah memiringkan tong sampah yang bertujuannya cuman satu. Agar sisi dalam tong sampah tercapai oleh tangan mungilnya yang tak benar-benar terawat.

  Tak lama, pria mungil itu merasa puas berjalan entah kemana. Menelusuri malam dengan apa adanya. Kuyakin ia lebih baik dibanding Dia. Pria mungil itu terlihat lelah, sangat lelah. Aku harap kebaikan selalu menyertainya.

  Hidup ini adil, suatu saat kuyakin anak kecil itu menemukan segala mimpinya. Tentu saja, jika ia terus berjerih payah. Pasti itu terjadi.
 

Jumat, 22 November 2013

Flowers Day

   Siang itu begitu terik. Semua orang mungkin enggan untuk berkelut di luar rumah. Menatap manis layar kotak bersuara, dibawah hembusan angin, atau mungkin terlelap tidur. Terkecuali aku dan semua teman-temanku.

  Lari terburu-buru memasuki ruang kelas yang dikira ada pendingin ruangannya, ternyata lagi-lagi hanya hembusan angin semata. Aku tak mendapat seorang dosen saat itu. Kami semua masuk dan bercanda-canda sampai keheningan tiba.

  Pintu kelas yang tertutup tiba-tiba terbuka. Aku yang sedang memakai kain batik di kepala menatap pintu, yang kebetulan saat itu aku dekat dengan pintu. Kalian tahu aku sedang membuat ulah. Tak hanya aku yang menoleh ternyata mereka--teman-temanku--semua menoleh ke arah pintu setelah pintu dibuka secara tiba-tiba.

  Kami kira seorang dosen yang sudah menempatkan tasnya di kursinya. Ternyata dugaan kami salah. Seorang wanita, sepertinya kakak kelas, berjalan masuk membawa bunga dan bertanya. "Ada Hilmy?"

  Aku tersentak berdiri. Berjalan menghampiri dan menggapai genggaman bunga yang diberi kakak itu. Belum sempat aku bertanya dari siapa itu, kakak itu pergi begitu saja. Pintu tertutup. Semua anak-anak menatapku dan menyorakiku 'cie'.

  Aku tersipu malu, ada sepucuk surat pada bunga itu, sebuah kata-kata yang... entahlah, aku tak bisa memahaminya. Tak beruntungnya tak ada nama yang dicantumkan disana. Semua anak-anak berebutan mencoba membaca surat itu. Dan kembali 'cie' terdengar.

  Sampai akhirnya seorang dosen masuk ke kelas kami. Dan kami terdiam lalu mengikuti kelasnya. Sempat juga dosen itu menyindir bunga yang ada di mejaku. "Apakah cuman Hilmy doang disini yang laku?" begitulah katanya.

  Saat itu aku tergelak, tak habis percaya. Bunga? Haha, entahlah. Siapa peduli dengan kehadiranku? Ternyata ada. Semoga saja bunga itu bukan dari pria di luar sana. Menyeramkan bukan? Hehe.

  Satu yang ada dipikiranku. Atau mungkin bunga itu tertuju untuk Hilmy yang lain? Kalian harus tahu, di kelasku ada dua orang namanya Hilmy. Bisa saja, bukan?

Selasa, 19 November 2013

Topeng Malaikat

"Bahkan iblis pun bisa memakai topeng malaikat."

  Aku tak tahu mana wajah asli orang itu. Dia tak bermuka dua. Hanya saja samar. Samar bagaikan angin-angin yang bertiupan. Aku tak paham, apakah itu dia? Atau hanya tampilan semata. Wajahnya bak fatamorgana. Sampai akhirnya aku mencoba tak peduli.

  Orang-orang sering berkata. Bukan sembarang kata biasa, heboh! Kalian tahu, bagaimana seseorang mencari sensasi dan berhasil!? Yak! Hebohnya bukan main. Aku pikir ini hanya pandanganku setelah mendengar cerita dari angin-angin disisiku.

  Pada awalnya aku hanya terdiam. Heran serta bertanya-tanya. Dia berdiri di sisi kami--aku bersama teman-temanku--dia menatap dengan iba. Lalu bertanya dengan nada yang pelan dan jika ditilik baik-baik seperti orang tersedu.

  Kami semua serentak menatap dia, dengan heran serta bertanya-tanya tentunya. Lalu suasana lenggang. Salah satu dari kami mengangguk dengan takzim. Dia masih terdiam, kami melanjutkan tugas kami. Ya, saat itu kami sedang mengerjakan tugas.

  Di sebuah bagian dari sisi kampus. Orang bilang English Cafe, ah siapa peduli? Menurutku hanya harganya saja seperti di Inggris. Atau mungkin aku gak pernah tahu rasa khas inggris? Entahlah, saat itu aku sedang menahan dahaga serta nafsu dari terbit fajar hingga senja selesai.

  Baiklah, lalu dia berdiri dengan--masih--wajah ibanya. Aku tak peduli saat itu, aku sedang sibuk dengan tugas yang menurutku paling mengasyikan. Dia akhirnya membuka suara lagi dan memecahkan keheningan diantara kami--aku dan para temanku.

  Sebelumnya, percayalah dia mahasiswa kampus ini juga. Pada awalnya aku tak peduli. Tapi, ketika ia berbicara dengan wajah ibanya untuk kesekian kali. Aku mulai bertanya-tanya. Dengan seragam kampusnya, kalian tahu apa yang dia ucapkan?

  "Boleh minta uang seikhlasnya gak? Untuk bayar hutang." Kurang lebih begitu katanya.

  Aku menatapnya seraya menyipitkan mata. Segitukah? Lalu temanku menegaskan kalau kami tak punya uang. Aku tak mendengar apa yang temanku bilang, saat itu orang itu berpaling dari hadapan kami menuju meja berikutnya dengan wajah yang masih terlihat iba.

  Lalu salah seorang dari kami bercerita. Tentunya dengan suara yang pelan, karena saat itu dia belum beranjak jauh dari tempat kami. "Itu orang yang foto bareng artis itu." ucapan pertama teman di depanku.

  "Yang di share sama si Ikhsan? Yang editan itu?" tanyaku semakin penasaran.

  Temanku mengangguk dengan takzim. Aku pun mengangguk. Perlahan aku menilik wajah dia lagi, benar juga. Dia seperti tak asing bagiku. Entahlah. Atau hanya perasaan aku saja. "Terus, jadi bagaimana ceritanya tadi?" tanyaku meminta temanku mengulangi ceritanya.

  Pada saat itu aku benar-benar fokus dengan layar laptop yang memedihkan mata. Temanku akhirnya angkat bicara. "Jadi, waktu itu aku dengan Yozan juga dihampiri dia. Lalu bilang dia belum makan, parasnya sama. Bikin kasihan."

  Aku mengangguk. "Lalu?"

  "Ya dikasih sepuluh ribu. Gak tahu deh buat apa tuh uang. Mencurigakan begitu." sambungnya.

  Lalu sebelum aku menyahuti cerita teman di depanku. Teman disampingku angkat bicara. "Kalau mau nyumbang mending ke yang bener aja deh. Kayak begitu mah gak tahu dipakai buat apa."

  Aku lalu mengangguk lagi dengan takzim. Aku sebenarnya tak berani menyimpulkan semacam apa dia itu. Entah kenapa wajahnya bak malaikat, terlihat begitu baik dan hati merasa iba. Tapi, dibalik itu semua entah kenapa aku berpikir negatif. Ibliskah?

  Entah sekali lagi entah. Kalau aku berpikir negatif maka itulah yang aku pikirkan. Namun, itu hanya perumpamaan. Aku tak sepenuhnya menduga seperti itu. Walau dengan alasan apa dia mencoba merendahkan dirinya. Tapi, sekali lagi berpikir positif.

  Masalahnya, jika benar-benar dia dalam kondisi seperti itu. Bukannya menakjubkan bisa kuliah disini? Walau disini bukan kampus yang elit, yang bayar bisa ditukar dengan satu mobil. Tapi, tetap saja bagiku kuliah disini tak semudah membeli ayam kampung.

  Aku tidak bisa menyimpulkan. Tapi, aku berani berkata itu. Kenapa? Karena aku benci topeng itu. Mengerikan bukan? Sahabat yang ternyata musuh? Pahlawan yang ternyata pengkhianat paling besar? Bukankah ini sudah biasa di dunia fana yang melelahkan ini?

  Serendahnya hidup ini, setidaknya jangan merendahkannya. Ya, biarlah rendah. Tapi, jangan dibuat rendah. Maksudku harga diri. Kalian tahu? Harga diri begitu mahal, apa kalian rela menjualnya dengan begitu murah? Entahlah.

Jumat, 15 November 2013

Saat Dunia Berakhir

  Ketika kamu benci akan sesuatu tapi kamu tak mampu mengungkapkannya. Ketika kamu benci sesuatu kamu tidak tahu harus berbuat apa. Ketika kamu benci sesuatu kamu hanya terdiam dan dicabik olehnya. Ketika kamu benci sesuatu kamu terlihat begitu bodoh.

  Aku rasa, entah hanya perasaanku yang payah. Tapi, dunia mungkin mau berakhir. Oke ini sembarang kata. Jangan pernah dianggap sebuah pedoman. Ketahuilah, begitu banyak masalah akhir-akhir ini. Terutama berbicara dengan perasaan yang terombang-ambing oleh angin malam.

  Bagaimana tidak? Diam saja membuatku kesal. Apapun yang kulakukan seolah salah dan menyebalkan. Baiklah, ini sudah larut malam. Aku terjebak di sebuah gedung oleh segala perasaan berkecamuk. Malam jum'at ini tidaklah lebih dari omong kosong.

  Bahkan ketika aku kangen mereka, entah bagaimana mungkin, mereka tidak menanggapiku. Oke, mulai terlihat bodoh bukan? Jelas-jelas sudah malam, siapa juga yang mau menanggapi pria bodoh ini? Haha. Ketawaku terasa hambar, ceritaku seperti benang kusut.

  Ini malam jumat kelabu, abu-abu warna seperti debu. Aku terus menatap mereka dengan segala hal ambigu. Aku pikir aku terbelenggu. Oleh waktu yang kian membeku atau mungkin terbang semu. Ah, sudah-sudah.

  Bagaimana kata orang bijak bilang? Tenangkan pikiranmu. Tatap esok, hidup ini tidak untuk detik ini. Tapi, detik selanjutnya. Entah siapa yang bilang seperti itu, aku pikir aku hanya mengarang. Apa aku orang bijak? Haha, siapa peduli?

  Hmm... Aku ragu menyudahi postingan ini. Aku terlanjur sakit, sakit yang tak berujung. Bagaimana bisa? Hidup hanya sekali, tapi rasa sakit terus menghantui. Bedebah bukan? Mereka tak pernah peduli, karena ini tak lebih dari rasa tak kasat mata.

  Aku terjebak di gedung ini hingga tengah malam mencoba mengusirku. Aku benci, aku benci sesuatu yang membuat semua merasa terjebak. Terkadang kita dapat memilih, namun terkadang kamu terdapat pada pilihan yang menjebak.

  Aku selalu percaya kalau semua akan menjadi baik. Tapi, mata sipit ini sudah tak kuat menahan kantuknya. Aku rindu sesuatu. Sesuatu yang bisa memberiku petuah, mengingatkanku kepada-Nya. Membuat aku tertegun dan merenung akan segala yang aku perbuat.

  Ada yang salah, ada yang salah pada malam ini. Suara teriak hewan itu jelas terdengar. Cicitnya, gonggongnya, dengungnya, apapun itu. Mereka tetap tidak merubah keluh kesah malam kelabu ini. Ayolah, secercah harapan harus kuraih. Karena, kutakut hari esok tak kunjung datang.

Rabu, 13 November 2013

Penasaran Dari Sekian Rasa Penasaran

  Entah kenapa dan mengapa. Dari sekian banyak rasa penasaran di otak ini. Ada satu rasa penasaran yang amat besar. Dan ini benar-benar rasanya ingin tahu reaksi dari segalanya.

  Sebuah pertanyaan yang sederhana namun berjuta rasa tertahan yang dirasa. Begini pertanyaannya.

  "Jika aku mati, apa perasaanmu sejujurnya?"

Coretan Di Atas Kertas

  Beberapa ceritaku sebelumnya, sedikit menjelaskan tentang kebencian terhadap nilai. Sekarang aku mulai paham, siapa peduli hitung-hitungan kertas itu? Mungkin untuk sekarang hingga kelak lulus nanti nilai merupakan hal prioritas, tapi sekali lagi kutanya, siapa peduli?

  Pernah kudengar sebuah cerita, saat itu minggu yang tenang. Aku terpaksa bangun untuk sebuah kegiatan. Oh, betapa sial bukan? Seharusnya aku bisa tidur lebih panjang. Walau pada akhirnya aku bangun kesiangan. Setelah melewati bangun siang itu aku buru-buru pergi menuju lokasi kegiatan.

  Ketika itu aku merasa beruntung. Sangatlah beruntung mengikuti kegiatan itu. Pengisi acaranya seorang yang memiliki pengalaman buruk dengan nilai. Hei, bayangkan saja, IP cuman dua, lalu semester berikutnya dua pun tak sampai.

  Lalu apa yang dia lakukan? Dengan ketangguhannya, dia memilih untuk keluar dari semua itu. Bayangkan saja, dia dahulunya merupakan orang terpandai nomor satu di sekolahnya. Semenjak tiba di kota baru itu, seolah-olah dia bukanlah siapa-siapa. Bahkan debu malas untuk mengakuinya.

  Setelah keluar dari kuliahnya, dia memilih untuk menikah. Kamu pikir ini lucu? Tentu saja, tapi hebatnya dengan ta'aruf dia mendapatka seorang istri--walau IP-nya tak sampai dua. Saat itu umurnya dua puluh tahunan, lalu ia lebih memilih mencari pekerjaan.

  Kenyataannya, dengan bermodalkan ijazah SMA, dia bisa menjadi sukses seperti sekarang. Kalian tahu apa yang ia kerjakan? Ya, dia tumbuh menjadi seorang enterpreneur muda. Dengan segala kesabaran dan usahanya, dia toh bisa sukses.

  Lalu, siapa yang peduli dengan nilai-nilai di atas kertas itu? Saat aku berkata seperti itu, temanku menyahuti. "Bagaimana dengan masuk kerja dengan bermodalkan IPK?"

  Aku terdiam, lalu tertawa menanggapinya. "Kamu pikir, pekerjaan hanya milik orang lain?" percaya atau tidak, hidup ini begitu luas atau sempit. Entahlah, mungkin hidup bisa menjadi sefleksibel mungkin atau serumit mungkin.

  Tergantung bagaimana kamu menyikapi dan memandangnya, bukan? Sejatinya kamu sama dengan mereka. Berpeluang, hanya saja ada satu yang mungkin berbeda. Bidang. Ya, tidak semua orang berpeluang dengan bidang sama.

  Entahlah, aku mungkin tak sehebat sebagaimana penjahat menyimpan curiannya. Tapi, aku sehebat polisi yang terus mengejar curian itu. Walau nilai itu sulit kuraih, entah mengumpat dimana. Aku pikir, ini tak pernah berujung sampai aku akhirnya merasa bisa mengikhlaskan nilai itu.

  Walau nilai tak terlalu berarti kelak, tapi ada kata yang terus aku ingat. "Tak ada yang sia-sia di muka bumi ini." Sejatinya mencari kesempurnaan adalah manusiawi. Menurutku walau nilai hanya sebatas coretan di atas kertas. Setidaknya kamu bisa menghargai itu, mengejarnya bak polisi mencari barang curian.

  Hidup ini terkadang membuatmu tidak pernah memahami suatu hal. Sehingga kamu harus memahami banyak hal. Tak ada salahnya mencoba, walau nilainya jelek sekalipun bukan? Sekarang yang harus dilakukan adalah untuk ke depan.

  Ikhlaskan nilai itu, siapa peduli? Tapi, suatu saat kamu mengerti. Semua ini berarti. Terkadang pembahasan ini membawamu keujung sana, terkadang pula membawa keujung sebaliknya. Aku pikir, aku juga tengah bimbang. Lalu harus apa aku dengan nilai?

  Ayolah, hidup ini bisa dipandang dari berbagai sisi. Dari mana kamu ingin melihatnya? Kupikir sama saja, semua penting. Sangatlah penting. Mencoba mengabaikannya, hanya membuat semakin payah. Entahlah, mungkin itu aku.

  Aku hanya bisa tertawa, dan berharap besok serta lusa. Aku bisa mendapatkan lebih baik. Entah nilai atau apapun. Ya, itu motivasinya. Haha. Sebenarnya baru saja aku mendapatkan nilai jelek. Kuharap ini cukup menghiburku. Terima kasih nilai, kamu akan memabawaku ke sebuah tempat yang mungkin lebih baik.

  Karena, hidup ada sebab-akibat. Nilai jelek mungkin karena usahaku kurang. Setidaknya, aku telah berusaha. Masalah ke depan, akan kurancang detik ini pula. Semua bisa, sugesti terkadang dapat membantumu melangkah.

Minggu, 10 November 2013

Waktu Senja Di Sini

  Bagaimana orang mendeskripsikan senja? Oranye? Burung-burung berterbangan? Angin berdesir kencang? Indah? Tentu saja, tak ada yang bisa menyangkal itu semua. Senja selalu indah. Di mana pun berada. Senja tetaplah senja, indahnya tak pernah padam walau terkadang hujan menghadang.

  Namun, ada yang berbeda pada senja di sini. Jika berbicara indah, tentu saja, sekali lagi kubilang senja selalu indah. Di mana pun, kapan pun. Jika kamu tidak percaya, tentu saja itu pandanganmu. Terkadang kita tidak bisa memaksa keindahan masuk kedalam setiap insan. Tidak harus.

  Ya, kubilang senja disini berbeda, kenapa? Pada senja yang selalu indah ini, di sekitar kampus terdapat aroma yang pasti kalian saja tak tahan menciumnya. Begitu nikmat. Membuat tenang. Lalu bertanya, dari mana aroma ini berasal? Terakhir, kalian pasti ingin menikmati hal sebenarnya dari aroma itu.

  Pada senja sekitar kampus pasti tercium aroma coklat. Setiap hari, aroma itu selalu menggoda setiap insan. Ketika aku jogging atau berjalan di kampus. Aku selalu mencari di mana sumber aroma itu berada. Aku pikir, itu aroma seseorang yang berjualan pisang coklat.

  Ternyata, itu tidak benar maupun tidak salah. Sejatinya aroma ini begitu hebatnya meyelimuti seluruh kampus. Dari ujung ke ujung. Entahlah, kata orang-orang, di dekat kampus terdapat pabrik coklat. Jika itu benar, aku pikir sebuah kewajiban pergi kesana dan melihat, tentu saja mencicipinya.

  Siapa yang tidak suka coklat? Oh, aku tak sedang menyindir wanita yang sedang diet. Tapi, sejatinya coklat begitu nikmat. Terdapat ketenangan dan kenyamanan setiap balutannya. Jujur saja, aku rajin mengkonsumsi coklat.

  Namun, tidak coklat batangan. Coklat serta karamel yang menyelimuti permukaan wafer coklat yang begitu nikmat. Jika kalian tahu itu apa, tentu saja aku selalu sedia dengan hal itu. Terkadang aku gunakan untuk mengganjal perut lapar, menghilangkan stres, ataupun dinikmati ketika santai.

  Entahlah, sekarang aku tak memilikinya lagi. Pada waktu itu, benar-benar kacau. Otak dan hati begitu lemah, bahkan kamu tiup saja, otak dan hati itu bisa rapuh berkeping. Saat itu pula dengan khilaf entah lima atau lebih wafer yang berbalut coklat dan karamel itu enyah.

  Kupikir itu kesalahan, sekarang aku merana. Kamu tahu? Terkadang aku harus berpikir dua kali untuk membelinya. Uang ini begitu mengekangku. Tapi, siapa peduli? Aroma coklat di senja itu sebuah bumbu legit yang tak setiap tempat aku temui terdapat itu.

  Di bawah pohon kelapa dengan dedaunan tertiup semilir anging, semburat oranye bercampur biru langit, kicauan burung berterbangan laksana bernyanyi, lalu aroma coklat yang menyelimuti. Lengkap sudah, malam siap menjemput. Senja telah tiba. Ini indah dan sederhana bukan?

Sabtu, 09 November 2013

Saya Bertanya Kepada Seseorang Pendiam

  "Jadi, kenapa kamu diam mulu? Memangnya kamu tidak ingin ngumpul atau ngobrol-ngobrol bareng kami?" tanyaku padanya, seraya berjalan di trotoar menuju gerbang utama kampus.

  "Kenapa kamu ngumpul-ngumpul?"

  "Karena, itu seru, enak, pokoknya gak ngebosenin."

  "Ya, itulah rasanya."

  Tersentak aku terdiam, berhenti bertanya. Menggaruk kepala yang tak gatal, membiarkannya jalan terlebih dahulu dibanding aku. Lalu, aku mengejarnya kembali. Kembali bertanya.

  "Jadi, kenapa bisa pintar begitu? Sebelum materi dijelasin, udah belajar atau apa? Kan kerjaannya di asrama mulu nih."

  Pria itu mengusap-usap dagunya seraya tersenyum kecil. "Tidur pekerjaan bukan? Itu yang aku lakukan di asrama."

  Entah ia berbohong atau tidak, pria ini mengundang sejuta tanya. Siapa sangka pria yang kehadirannya seperti 'tiada' begitu banyak menyimpan ambisi. Apa yang ia bilang, eh? Ya, begini ia bilang.

  "Baiklah, sebenarnya aku ingin mengangkat standard kualitas. Bagaimana orang bilang? Plagiat? Entahlah, bagaimana mungkin kita plagiat. Misalkan kita mengambil sebuah sumber dasar, sebut saja mengambil dari wikipedia. Bagaimana mungkin bisa?" tanyanya setelah dihujam banyak pertanyaan olehku.

  Lalu dia tersenyum kecil dan terlihat ragu. "Entahlah, aku sendiri juga tidak begitu paham tentang pembahasan." Ia tertawa kecil lalu menatap sekitar.

  Siang itu terdengar desiran angin setelah shalat jum'at terjadi. Aku dengannya bagaikan air dan api. Dia air yang tenang dan terus tergenang. Sementara aku, adalah api yang melahap segalanya, atau perusak? Entah. Aku terus bertanya layaknya wartawan, berbagi kisah dengannya. Kalian tahu, eh? Dia telah membuat game sendiri.

  Saat kutanya dasar membuat game, apa dia bilang? Jawabnya adalah keinginan dan penasaran. Ya, entahlah. Dia belajar bahasa pemograman dan dalam tiga bulan terciptalah game miliknya. Walau belumlah sempurna. Untuk anak lulusan SMA itu terbilang, pandai.

  Masalahnya, game itu bukan hanya game klik, itu game RPG. Sampai akhirnya ia mengajukan permintaan. "Ajarin saya ilmu sastra dong." ucapnya kepadaku.

  "Eh?" aku terdiam walau dalam hati tertawa lebar. Bagaimana mungkin aku bisa mengajarinya sastra? Sementara aku saja lagi hilir mudik belajar. Apalagi mata kuliah bahasaku sering mendapat nilai jelek. Ayolah, formalitas terkadang membuatku begitu muak.

  Lalu perbincangan panjang kami yang hanya berdua itu harus disudahi oleh waktu. Lagi-lagi, kenapa ia selalu mengusik kehidupanku, eh? Seandainya waktu itu hanyalah formalitas. Mungkin aku akan lebih muak. Entahlah, pikiran ini selalu menjelaskan seperti itu. Pikiran payah tentunya.

Selasa, 05 November 2013

Kesal Tak Beralasan

  Akhir-akhir ini aku bingung
  Ubun-ubun memuncak
  Panas segala rasa melingkup tubuh
  Aku kesal, tak beralasan.

  Mereka bilang ini rasa
  Aku pikir ini hanya korban
  Sejenis bir pahit
  Rasanya panas tak jelas
  Bahkan aku tak pernah menenggaknya.

  Akhir-akhir ini aku bingung
  Lalu lalang mencari teman seperjuangan
  Kutemui hanya kendala tanpa harapan
  Bisikan angin malam masih seperti dulu
  Tak banyak membantu, tak peduli.

  Akhir-akhir ini aku lelah
  Memikirkan hal tak kunjung tiba
  Sesuatu terkadang membuatku bahagia
  Lalu begitu saja membuatku amarah.

  Kesal tak beralasan
  Mereka bilang aku meradang
  Pedulikah mereka?
  Tentu tidak, hanya sebatas menyindir
  Tak ingin tahu perasaan lebih lanjut

  Gundah gulana hati
  Bersedekap janji-janji
  Aku terdiam dibalik sunyi
  Menilik semua yang tak pernah abadi
  Lalu baru kusadari
  Semua ini tak beralasan.

  Bahkan, saat aku marah
  Saat aku bertanya
  Saat aku bingung
  Saat aku lelah
  Semua itu tak memiliki alasan.

Senin, 04 November 2013

Jika Aku Mati Sekarang

"Jika aku mati sekarang, ketahuilah, semua gara-gara nilai."

  Bagaimana orang bijak bilang, hah? 'Nilai kecil berkat kerja kerasmu sendiri lebih berarti, dibandingkan nilai besar berkat kerja sama' entah, benar-benar entahlah aku tidak bisa memahami hal itu. Tapi, siapa peduli itu kerjamu sendiri atau tidak? Jika lulus syaratnya adalah nilai terbaik. Tidak kurang dari standar. Bukan semua karena usahamu sendiri. Bukan.

  Apakah ketika kenaikan tingkat seseorang menanyakanmu dengan penuh penghukuman, jika kamu melakukan kecurangan saat mengerjakan sebuah ujian lantas kamu dipastikan tidak lulus? Aku tak pernah melihat sebelumnya. Hidup ini terlalu naif untuk berbuat kejujuran. Begitulah sekarang, kenyatannya kecurangan terjadi dimana-mana.

  Jika seseorang bilang seperti kata bijak diatas, lalu apa gunanya nilai minimal kelulusan, eh? Pada kenyataannya, nilaiku jelek, aku bekerja sendiri, siapa peduli? Hei, siapa peduli? Tetap saja jika itu terus terjadi, jangan harap lulus. Dapat senyuman dari kedua orang tua pun tidak.

  Tidak, tidak berarti aku mengharuskan kecurangan. Membuang karakter kejujuran dalam menghadapi ujian. Tidak, aku tidak berniat seperti itu. Tapi, sekema sekarang sungguh membuatku terus berpikir. Lalu, untuk apa aku usaha mati-matian sendiri, dan hasilnya buruk. Sementara yang lain, dengan santai dan berbagai trik bisa lulus dengan mudah?

  Ayolah, semua sudah berusaha keras. Walau usaha dan hasil tak pernah berbohong. Tapi, jalan pintas terkadang dapat mengelabuhi musang-musang bermata elang itu. Jika seseorang berbicara tentang moral dan karakter. Aku pikir semua paham, kejujuran selalu menghasilkan kebaikan. Sebaliknya, kebohongan bisa membawakan petaka.

  Tapi, kehidupan akademis ini tak memaafkan kekuranganmu. Tak ada perbaikan dalam ujian-ujian itu, bahkan sekalipun nilaimu kurang setengah untuk mencapai standar minimal. Aku pikir semua begitu rumit, sangat rumit. Dan tak bisa diubah.

  Jadi, kamu ingin lulus atau ingin semua dengan usahamu? Ya, tentu saja keduanya kalian ingin. Begitupun aku. Bedebah, terkadang aku menyesal mendapatkan nilai kecil walau susah payah belajar. Terkadang aku menyesal kenapa tidak berbuat curang agar dapat nilai bagus? Terkadang aku paham, semua ini berliku seperti jalanan menuju puncak.

  Terkadang, kamu tersesat di tengah hutan lalu tak bisa kembali. Tapi, sebenarnya kamu menggunakan jalan yang lebih cepat menuju puncak. Syukuri mungkin kata yang tepat, jalani terus dengan segala kebaikan. Aku pikir jalan pintas itu tidak bertahan lama, pemahaman materi segalanya. Walau ujianlah seolah penentunya. Tapi, siapa peduli? Ketika di dunia kerja kamu butuh pemahaman materi.

  Satu lagi permasalahannya, jika memang ketika kerja pemahaman materi sangatlah berarti dibandingkan nilai-nilai ujianmu yang ternyata berbanding terbalik. Lalu bagaimana kamu bisa masuk menuju dunia kerja itu? Ketika kamu dituntut standar nilai saat melamar pekerjaan itu.

  Kesempurnaan memang tak pernah terjadi, tapi mengejarnya selalu menjadi ambisi yang penting. Untuk segala nilai jelekku, aku harap kedepan kamu lebih berarti. Kerja sendiri itu kewajiban bukan? Nilai bagus? Itu adalah hakmu, jika usahamu sebanding dengannya. Aku pikir begitu.