Selasa, 24 Desember 2013

Bahagia dan Duka

"Bahagia dan duka selalu bersinggung kasih"


  Selalu terasa lelah saat rasa duka menghampiri lantas menyelimuti hari-hari. Menjadikan depresi setiap aksi dan kondisi. Terkekang penyesalan yang tak berujung. Begitulah aku beberapa hari yang lalu. Menanti kepulangan di saat sang surya enggan terlihat. Aku menatap panggung penuh penyesalan.

  Saat itu pengumuman telah dikumandangkan, hal yang diharapkan masih sekadar harapan belaka. Aku tak benar-benar mendapat kebahagiaan saat itu. Rasanya sedih, apalagi saat kamu tahu temanmu mendapatkannya--kemenangan.

  Aku tahu, aku tahu kesalahanku. Dan aku pun tahu semua telah berlalu. Kini tersisa hanya rasa kecewa serta penyesalan. Aku terjebak di antara dua rasa itu. Tak satu pun terbilang baik. Aku pulang dengan segenap malu atas tindakanku yang bodoh itu. Sampai akhirnya aku masihlah pecundang.

  Sepanjang jalan, ku termengu. Menonton film menjadi bosan. Pada akhirnya lelah lantas terlelap tidur. Setiba di rumah, rasa bahagia sedikit tercurah. Bertemu keluarga yang lama tak berjumpa. Sekilas rasa duka itu melepas dari pikiranku. Tapi, itu semua semu.

  Duka dan bahagia sejatinya selalu ada, merubah sepersekian detik menjadi lebih baik atau lebih buruk. Aku merasakannya. Setelah tiba di rumah aku merasa bahagia. Saat di tanya tentang lomba itu, ah sial. Aku merasa kembali berduka--sedih.

  Semalam aku di rumah, tak tahu harus berbuat apa. Sampai akhirnya besok aku benar-benar merasa bahagia. Berkumpul bersama keluarga kakek. Pergi ke sebuah rumah makan dan entah ada apa dengan omku yang benar-benar sedang baik hati.

  Selepas meneraktrir kami sekeluarga. Saat perjalanan pulang, aku tak sengaja melihat sepatu yang terpampang di tengah jalan sebuah mal di Ibukota. Aku menilik satu persatu lantas omku bertanya. "Emang suka main futsal?"

  Aku mengangguk, sejatinya aku hanya ingin melihat-lihat. Tiba-tiba paras omku berubah, dia seolah mendesakku untuk memilih salah satu di antara sepatu itu. Sampai akhirnya benar, omku membelikannya untukku. Oh, sungguh terima kasih banyak om. Tentu saja terima kasih banyak ya Allah.

  Aku lantas bahagia saat itu, pulang dengan wajah berseri-seri. Pertama kalinya omku membelikan sesuatu langsung dihadapanku. Ini hari yang indah bukan? Lantas semua kebahagiaan itu tak bertahan lama, semua itu semu. Tak ada yang mampu bertahan hingga bertahun-tahun atau seumur hidup--kebahagiaan atau kesedihan.

  Besoknya, saat aku melihat hasil ujian ulang bahasa inggrisku. Hah, aku hanya berusaha bersyukur. Nilainya tak ada bedanya dengan nilai pertama kali aku ujian. Aku pasrah, perasaan duka berkecamuk di dalam dada serta pikiran. Sungguh sedih.

  Bahkan yang tadi aku berniat untuk beli laptop baru, aku urungkan. Sungguh tak pantas orang ini mendapatkan hadiah. Apalagi atas segala kebodohannya serta kesalahannya sehingga menuai banyak kegagalan. Sungguh tak pantas.

  Lalu, tak lama aku melihat sebuah media sosial. Terlihat salah seorang saudara jauhku berhasil menuai prestasi. Oh, bedebah. Bunuh saja aku, pecundang ini begitu lemah. Aku pun gelisah sepanjang malam. Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku seperti sepotong kue yang jatuh ke permukaan tanah. Terinjak-injak kesalahan serta kebodohan.

  Sejatinya kebehagiaan dan kesedihan itu sama. Semu, sementara, tak ada yang abadi. Tapi, aku tahu, rasa syukur dapat memberi kebahagiaan yang sejati. Saat kamu merasa bodoh, bersyukurlah, karena kamu kelak akan tahu kehebatanmu.

  Tapi, yang sulit dari semua itu adalah. Benar-benar memahami dan dengan khidmat menjalankan rasa syukur. Sebuah rasa ajaib itu memang sulit dilakoni. Tapi, hasilnya. Subhanallah. Hari ini aku masih menunggu. Sebuah pesan singkat darinya. Entah siapa, aku tetap menunggu takdir yang aku gantungkan disana.

Sabtu, 14 Desember 2013

Krisis Dari Segala Krisis

"Krisis dari segala krisis adalah krisis percaya diri."

  Seperti yang tertera pada postingan sebelumnya. Sudah hilang rasa percaya diri ini. Kini percaya diri itu dengan tega menggrogoti mental hingga ke ujung-ujung. Memberikan rasa takut serta tekanan yang dahsyat. Apalagi saat kamu tidak tahu untuk bertindak apa?

  Uang masih bisa dicari dengan cukup 'mudah'. Tapi, hal ini. Ah, bahkan kau tidak berani berkata setitik pun saat krisis ini menimpa diri. Saat perkataanmu terdengar seperti polusi udara. Kehadiranmu seperti tak kasat mata.

  Mereka tak pernah peduli, hanya ingin tahu. Tapi tak pernah mengerti. Gundukan di dada yang terus menghampiri, rasanya ingin kuluapkan bak api-api menyapu segalanya. Namun, sekali lagi rasa percaya diri tertimbun tak peduli.

  Aku lebih memilih dicaci maki atau ditertawai dari pada sepasang kata 'tak peduli'. Begitulah menurutku. Jika aku jujur pada diriku sendiri, mungkin itulah aku, aku yang berusaha tak peduli terhadap orang yang telah mengecewakan. Tapi, sesungguhnya itu bikin sakit hati.

  Dan kini, aku berada di posisi mereka--orang yang dengan tega aku tak acuhkan. Aku benar-benar berada di posisi mereka. Dan rasanya sungguh luar biasa. Membuat otak tak bisa mencerna segala aksara, membuat langkah tertahan oleh udara, membuat sejentik pun harapan tersisih begitu saja.

  Maksudku, benar-benar runyam dan tidak sama sekali enak. Begitu banyak rasa yang tercipta, sesungguhnya adalah rasa kecewa dan jelas ke arah negatif semua. Dilema? Entahlah, aku pikir semua sudah semestinya. Berantakan. Bagaimana aku membuatnya seperti itu.

  Itu semua yang membuat kini kumerasa krisis kepercayaan diri telah melanda. Semenjak seminggu lebih setelah entah apa yang kuperbuat. Semua kurasa semakin berantakan, entah apa aku akhir-akhir ini menjadi orang yang berperasaan--sensitif--atau memang ini kenyataannya.
 
  Aku tak tahu bagaimana keluar dari zona ini--krisis kepercayaan diri--aku butuh hiburan. Mungkin pulang ke kampung halaman sedikit bisa melepas penat yang ada. Walau ujian besar telah menanti di ujung sana. Payah. Terkadang aku pikir kehidupanku begitu.
 
  Lantas berpikir kehidupan orang lain begitu sempurna. Aku semakin terpuruk, dan tak pernah merasa percaya diri. Bahwa hidupku layak untuk mereka iri. Peduli apa? Semua berjalan begitu cepat.
   

Rabu, 11 Desember 2013

Ada Yang Hilang

  Ini bukan lagu Ipang yang galau banget. Ini sesuatu dalam diri yang sepertinya telah hilang akhir-akhir ini. Diri yang mulai terombang-ambing hawa nafsu. Terlalu banyak hal yang perlu dipertimbangkan dan dilakukan. Payahnya, terlalu banyak yang menguras mental.

  Entah, apa yang terjadi pada diri payah ini. Seperti ada yang hilang, yang kumaksud disini bukanlah sepotong hati anak muda. Ya! Rasa percaya diri semakin hari semakin tersisih. Lebur bersama angin kemarau, enyah bersama rintik di musim hujan.

  Benar-benar payah. Beberapa luka sulit diobati, ini benar-benar berita duka yang tak kumengerti. Seolah terjadi begitu saja, kehilangan ini sangatlah berarti. Ada yang salah, ada yang salah. Tentu saja ada yang salah! Oh Tuhan, tapi apa itu? Aku terus bertanya itu sepanjang hari. Otakku nyaris gila, aku pun otomatis kebelet pipis. Sial.

  Buruknya, tak ada yang bisa membantu. Orang disisiku tak pernah tahu, apalagi mencoba peduli. Bahkan mereka lebih baik terdiam di saat aku terheran menatap sekitar. Kenapa begini? Apa yang terjadi? Ada yang salah! Ada yang salah! Tapi, apa? Sampai sekarang aku belum tahu pasti jawabannya.

  Walau orang bilang jujurlah pada diri sendiri, maka kau akan tahu apa masalahmu? Kini aku tak sepenuhnya yakin bahkan sama diriku sendiri. Kau tahu? Rasa percaya dengan diri sendiri saja sudah menjadi omong kosong. Payah.

Selasa, 10 Desember 2013

Menyebalkan

  Suatu hari, aku terpaksa menjadi seorang sampah oleh karena tugas. Ya, sampah jejaring sosial. Dengan seenaknya aku mengirim dan meminta like ke seluruh penjuru media sosial. Saat itu pula, aku teringat. Selalu ada hukum di segala penjuru.

  Pada akhirya, fitur chat-ku di blokir. Hingga kini. Dan kau tahu apa yang kusesali? Aku tak bisa membalas chat seseorang. Penting.

  Menyebalkan.

Minggu, 08 Desember 2013

Sebut Saja Senja

Sebut saja senja
Dia tiba di kala ke putus asa
Rasa yang dibagi adalah iba
Membawa sejuta makna

Sebut saja senja
Semburat oranyenya indah tak semata
Tak pelak menyibak relung jiwa
Bahagia pasti tak terkira

Sebut saja senja
Burung beterbangan di tengah pemakaman
Bukan duka yang diperlihatkan
Justru kebersamaan di tengah ketakutan

Sebut saja senja
Jikalau kau tak bahagia
Pergilah ke dirinya
Hirup udara larik bersemayam tiada tara

Sebut saja senja
Walau hanya sementara
Kupikir akan selalu bersama
Tenggelam bukanlah duka, melainkan awal cerita

Sebut saja senja
Dia tak pernah mengeluh kesah
Mencemooh pun tidaklah
Dia selalu ada, dikala gelisah

Sebut saja senja
Aku pikir cerita kita telah tiba
Di penghujung yang ada
Aku tersenyum kepadanya, senja.

Semakin Tinggi Pohon, Semakin Diterpa Angin

  Bagaimana temanku bilang? Ah, iya. "Semakin tinggi pohon, semakin diterpa angin."

  Terkadang semakin hebat dirimu tak menjamin hidupmu kelak bahagia. Tak menjamin kamu disukai banyak orang. Terlalu banyak sisi yang dapat dipandang. Peduli setan dengan orang yang dikenal, mereka bisa saja berubah bak serigala menyibak hutan. Liar.

  Aku tak sepenuhnya membenci orang yang tak suka padaku. Aku justru bersyukur. Berarti ada suatu hal yang mereka inginkan dariku. Terkadang aku merasa ingin membaur dengan orang seperti itu. Dan berkata. "Jangan melukai hidupmu, mari kita coba bersama. Kenapa tidak?"

  Sayangnya, aku taklah sehebat yang diimpikan. Aku pula tak sebijak di atas. Semua itu khalayan semata. Aku tak tahu siapa yang membenciku atau pun sebaliknya. Hidup ini memang teka-teki. Semakin kau mencoba menebak, semakin kau penasaran. Semakin kau merasa selalu salah dan kurang.

  Terkadang, aku pun sempat iri bahkan dengki--semoga sifat ini berakhir dikala menulis hal ini--pada orang yang lebih hebat dariku. Sering, setiap menatap mereka. Apalagi pria lebih ganteng dariku. Ah rasanya ingin kucopot saja wajahnya dan kupasang di wajahku. Tentu saja aku bercanda.

  Tapi, akhirnya aku paham. Rasa syukur bisa melenyapkan itu semua. Bagaimana aku berusaha bijak, dan mulai berpikir. "Kenapa aku tidak mencoba untuk belajar darinya? Tahu rahasia kehebatannya? Lalu mendulang kesuksesan yang bahkan bermimpi lebih darinya?"

  Tentu saja kenapa tidak? Bukankah kita selalu punya peluang yang sama? Walau terkadang yang menghadangmu karang yang pekat nan tak berlubang. Tapi, percayalah selalu ada celah disetiap rintangan yang ada.

  Jadi, apa topik kita? Tentu saja itu, bagaimana kehebatan bisa mengundang orang membencimu. Ataupun sebaliknya. Hidup ini selalu adil. Selalu ada sisi buruk dan baik. Pandai-pandai bersyukur, kurasa sudah cukup bijak untuk mengakhiri kerisauan semata itu.

Propaganda Penguasa


Lencana, berjuntai di dada
Orang bijak bercerita
Belajarlah hingga negeri Cina
Seharusnya kau begitu, wahai penguasa.

Ini hidup bukan sekadar mimpi
Kau bahkan tak pernah bermimpi
Memainkan manipulasi
Kamuflase ternodai

Inflasi uang
Menghancurkan banyak kehidupan, sayang
Kau tak pernah tahu cinta?
Rakyat jelata yang kau sebut malang

Seharusnya Tuhan tahu
Apa itu pecundang dan pengkhianatan?
Beda! Tapi kaulah keduanya
Senyum getirmu itu adalah muslihat terselubung

Apa kau sebut?
Kesenjangan!? Ini hidup bukan dongeng dari Cina
Seenaknya memakan tak berkuasa
Padahal kau adalah asa
Bagi mereka, para rakyat jelata.

Negeri ini tumbuh
Dari segala rasa
Kerusakan yang timbul
Pembelajaran yang berharga.

Bukankah begitu?
Tak hanya gembar-gembor omong kosong belaka
Lalu menghilang dan terkenang
Sebagai penghancur negeri yang tak kepalang.

Titik nadi pahlawan
Demi Tuhan, mereka adalah seorang sukarelawan membanggakan
Untuk memperjuangkan cinta serta kasih sayang
Keabadian dan uang bukanlah sebuah cerita terkenang.

Melainkan, darah kotor yang terkontaminasi
Hina? Tentu saja
Peduli? Tentu tidak
Itulah kau, penguasa.

Percuma! Lencana itu tak berguna
Pelajaran hidup tak membuatmu jera
Pencucian uang terus berjalan
Satu-satu lawan kau gancang.

Peduli setan dengan mereka—rakyat jelata
Di otakmu hanya uang semata
Tak peduli apa itu nada
Kau pemilik segala

Bermainkan media
Kau pimpin negara dengan segala nista
Uang adalah patokanmu
Lencana adalah topengmu

Seolah baik, sejatinya kau mati
Kalbumu tertutup
Aku harap kau mengerti
Kisah ini bukan soal bagaimana angin tertiup?

Angin semenanjung dari ufuk timur terbit
Kau, setitik harapan sirna
Doa kami selalu menyelubungimu
Menyelimuti hingga ajalmu

Negeri ini mereka cintai
Tapi, ia—penguasa—masih tak mengerti
Rasa hati seorang manusiawi
Bukan boneka sejati

Wahai penguasa
Aku tak menyumpah serapahmu
Bukan berdoa untukmu dijemput illahi
Tapi, hanya satu yang kunanti
Semoga kau tahu getir kehidupan
Bangkit dari segala belati omong kosong yang kau pahat seindah diorama.

Aksara Tertutup Gabut Awan

Ada kalanya aku selalu tertawa
Melihat mereka asyik berbicara
Di bawah pohon cemara nan rindang
Berbagi cerita tak pernah dahaga

Aksara tertutup gabut awan
Sebuah suara tak terdengar kawan
Butuh mata yang lebih tajam untuk menerawang
Hendusan aroma menusuk tulang

Aksara tertutup gabut awan
Pohon cemara nan rindang kini telah menghilang
Tak ada cerita yang dapat dibagi
Apalagi dijumpai suatu hari nanti

Bagaimana aku selalu tertawa?
Melihat mereka saling menghujam
Ribut sana-sini demi sebuah visi
Mencari dalih untuk tak saling berbagi

Hidup ini telah melukai dirinya sendiri
Aksara tertutup gabut awan
Pantas saja kita semua lupa
Arti kehidupan dalam keseharian

Tak punya lawan
Selalu mendambakan kawan
Hidup memang pilihan
Lalu untuk apa kau mengerang?

Sabtu, 07 Desember 2013

Aku Cenayang

Aku tak bisa terbang
Tak melintang di negeri sebrang
Tak bisa mengundang rasa senang
Tak pelak dari berang

Tak tahu akan rasi bintang
Sebatas tertancap kenang
Secarik tak lebih
Tak mantra tak batin terus tersuguhi

Tapi, aku tahu
Dimana kau
Siapa kau
Bagaimana kau

Aku cenayang
Bak kelam malam
Itulah aku
Tak terlihat namun terdapat

Seutas kenang
Bak rasa sayang
Ingin melupa
Atau mengingat

Tapi, aku cenayang
Tap peduli rasa senang
Aku tahu masa depan
Tak lebih buruk dari belakang

Aku cenayang
Peduli setan dengan gelang
Berbalut emas yang kau arogankan
Tak peduli

Aku cenayang
Hanya sebutir batu rapuh
Aku bisa merajut sebuah kenang
Tak peduli sayang, kita selalu bisa menang.

Karena, aku cenayang.

Di Bawah Selasar Cerita

  Ketika hujan menerpa atap selasar. Lampu temaram menemani malam tanpa bintang. Dua pria sedang asyik bermain laptopnya. Pria pertama menyentuh mouse pad-nya dengan ambisius, tertawa, dan menawarkan tontonannya kepada pria kedua.

  Pria kedua tak tertarik lantas ia bilang. "Ketika kamu sedang berasyik ria, kamu tahu orang di luar sana sedang berjuang dan tiba di penghujung kesuksesannya!?"

  Pria pertama itu seolah tersindir. Melepas headphonenya dan menyahutinya. "Ketika kamu sedang menceramahiku, percayalah, orang di luar sana sudah tiba di bulan dengan berbusung dada."

  Pria kedua terdiam. Rintikan hujan terdengar jelas. Suara guntur membuncah suasana tenang, petir terus menyambar-nyambar. Malam minggu yang menjengkelkan bagi mereka. Duduk di depan laptop di bawah atap selasar.

Minggu, 01 Desember 2013

Aku dan Diam

Diam
Terkadang itulah aku
Membuat tanya seribu mata memandang
Tak ingin terusik

Paradoks adalah kemauanku
Aku hanya ingin tahu
Seberapa mereka peduli padaku?
Terdiam.

Menelisik paras mereka
Canda tawa saat aku hanya diam
Tak pernah peduli
Atau aku yang tak pernah tahu?
Dibalik isi kepala mereka semua.

Terkadang aku merasa bersalah
Diam ini bukanlah sebuah rasa
Hanya penyampaian rasa kecewa
Dari dasar terdalam
Ingin aku tahu
Seberapa berharga aku bagi mereka?

Aku dan Diam
Selalu menyatu
Saat rasa gelisah tak pelak dari pikiranku
Buncah menempati sejuta tanya
Diam itulah jawaban atas segalanya

Bukannya aku tak butuh jawaban?
Aku hanya butuh peduli
Dari segala diam yang kuperbuat
Sedikit simpati yang ingin kudapat.

Walau pada akhirnya terbilang percuma
Aku dan Diam tak pernah bersinggung kasih
Kami terus menjalin hubungan itu
Sampai dunia merasa
Aku berbeda.

Rabu, 27 November 2013

Begini Aku Tidur

"Pejamkan mata saja, maka kau akan terlelap dengan sendirinya."

  Percayalah tak semudah yang dikira. Tidur juga terkadang membuatku menjadi gila. Bagiaman tidak? Sering kalu aku frustasi hanya karena aku kesulitan untuk tidur. Walau sudah beribu kali aku memejamkan mata. Tapi, hasilnya masihlah sama.

  Aku sering kali terjaga hingga larut malam, bahkan tak jarang aku terjaga hingga pagi menjemput. Aku sudah melakukan banyak cara, hanya untuk terlelap. Terkadang aku mencoba seraya mendengarkan musik. Aku hanya semakin asyik dan terus terjaga.

  Aku pikir cara itu tak terlalu ampuh, aku mencoba dengan cara lain. Seperti membuat tubuhku rileks. Aku sering kali melakukan beberapa gerakan untuk merilekskan tubuhku. Hasilnya tubuhku rileks tapi aku tak pula terlelap.

  Orang bilang jika kamu lelah, maka kamu dengan mudah akan terlelap. Aku sering kali lelah, tapi aku masih dapat terjaga. Satu musuh beratku sebenarnya kala aku mau terlelap tidur adalah Gadget, ya, percaya atau tidak gadget sering kali menyita waktu tidurku.

  Terkadang aku berpikir, aku menghabiskan waktu dengan gadgetku hanya melakukan hal yang padahal sudah kupikir tidak terlalu berguna. Bahkan bisa dibilang membuang waktu. Sosial media telah meracuni otakku. Aku bermain gadget, terkadang mencoba agar aku lelah dan terlelap tidur.

  Tapi itu kesalahan besar. Aku semakin keasyikan bahkan lupa untuk terlelap tidur. Pernah aku meletakan jauh gadgetku dan mencoba terlelap. Hasilnya tak memuaskan. Aku bahkan hanya menggeliat di kasur berjam-jam.

  Insomnia, penyakit ini terkadang membantumu--saat kamu banyak pekerjaan dan memaksamu lembur. Tapi, satu sisi lainnya. Insomnia bisa membuatmu menjadi gila. Apalagi saat kamu berpikir kamu perlu istirahat dan kamu ingin memaksimalkan waktu istirahatmu dengan tidur.

  Tak jarang pula mata ini menjadi mata 'panda' begitulah orang-orang bilang pada seseorang yang kekurangan tidur dan kantung matanya begitu tebal serta gelap. Jika aku melihat bapak presiden, aku pikir dia sering kali insomnia.

  Hey, bukan maksudku menyindirnya. Lihatlah mata serta kantung matanya. Bapak presiden kita terlalu lelah, entah memikirkan apa. Kupikir tak mungkin ia jarang tidur karena keasyikan bermain dengan gadget hingga pagi menjemput.

  Sampai suatu saat aku benar-benar mengerti cara terlelap. Bagaimana? Cobalah kalian membaca. Aku sering sekali mempraktikannya. Aku membaca ketika aku kesulitan tidur. Hasilnya memuaskan. Aku terlelap! Sebuah keajaiban bukan?

  Kata-kata yang panjang dan membosankan itu dapat membuatku tertidur. Bahkan tidur siang sekali pun. Aku memang bukan pria yang dengan mudah untuk terlelap. Tapi, aku pikir aku sudah dapat menyudahi permasalahan ini.

  Jika kalian kesulitan tertidur, maka bacalah sesuatu. Semoga cara ini ampuh. Atau mungkin semakin terpacu dalam membaca dan keasyikan sehingga lupa tidur? Tapi, jika kamu merasa lelah sedikit saja. Cara ini pasti manjur. Jika tidak, berarti kamu harus menjadi satpam. Percayalah, kamu terjaga hingga pagi pun tak rugi. Kamu mendapatkan bayaran bukan?

  Aku hanya membual. Cara paling ekstrim menurutku adalah meminum obat tidur. Pernah aku mencobanya, dan kalian tahu? Tubuhku seperti terkulai terus sepanjang hari. Tak bisa diajak untuk bangkit. Mungkin aku bisa dibilang telah melakukan hibernasi saat itu.

Selasa, 26 November 2013

Pria Mungil

 "Saat hidup dengan kenikmatan yang ada. Merasa diri paling tak berguna dan tidak ada apa-apanya. Kucoba tengok sebelah."

  Ketika senja telah pudar dipaksa oleh waktu. Saat semua sudah mulai sibuk untuk pergi keluar rumah dengan megahnya. Disaat semua sedang duduk manis di samping keluarga. Menikmati segala hidangan yang ada.

  Ketahuilah, ada seorang mungil sibuk dengan pekerjaannya. Mencoba merogoh tong sampah berselimutkan warna hijau. Dengan tergesah-gesah ia melakukannya. Mengambil segala plastik yang ada, berupaya untuk memenuhi perutnya malam ini. Pria mungil itu terus dengan gigih.

  Tidak dengan pakaian mewahnya, tidak dengan segala gadgetnya. Pria mungil dengan rambut berponi, berkulit kecoklatan dan tidak terawat, berbadan kurus, berpakaian polo dengan garis-garis yang kumal. Pria mungil itu tak peduli orang sekitar, ia terus merogoh tong sampah itu.

  Walau begitu ia terus menatap sekitar, rasa cemas terpancar dari mimiknya. Tangan mungilnya terus merogoh tong sampah yang bahkan tingginya sedadanya. Pria mungil itu terus memasukan plastik ke dalam plastik besarnya.

  Pria mungil itu dihampiri oleh seorang wanita. Mungkin ini malam yang baik untuknya. Entahlah, aku tak tahu apa yang dilakukan wanita itu? Memberinay secercah harapan atau hanya membuang sampah? Aku tak bisa memastikan.

  Pria mungil itu enggan peduli. Dengan segenap tenaga, bahkan ia bersusah payah memiringkan tong sampah yang bertujuannya cuman satu. Agar sisi dalam tong sampah tercapai oleh tangan mungilnya yang tak benar-benar terawat.

  Tak lama, pria mungil itu merasa puas berjalan entah kemana. Menelusuri malam dengan apa adanya. Kuyakin ia lebih baik dibanding Dia. Pria mungil itu terlihat lelah, sangat lelah. Aku harap kebaikan selalu menyertainya.

  Hidup ini adil, suatu saat kuyakin anak kecil itu menemukan segala mimpinya. Tentu saja, jika ia terus berjerih payah. Pasti itu terjadi.
 

Jumat, 22 November 2013

Flowers Day

   Siang itu begitu terik. Semua orang mungkin enggan untuk berkelut di luar rumah. Menatap manis layar kotak bersuara, dibawah hembusan angin, atau mungkin terlelap tidur. Terkecuali aku dan semua teman-temanku.

  Lari terburu-buru memasuki ruang kelas yang dikira ada pendingin ruangannya, ternyata lagi-lagi hanya hembusan angin semata. Aku tak mendapat seorang dosen saat itu. Kami semua masuk dan bercanda-canda sampai keheningan tiba.

  Pintu kelas yang tertutup tiba-tiba terbuka. Aku yang sedang memakai kain batik di kepala menatap pintu, yang kebetulan saat itu aku dekat dengan pintu. Kalian tahu aku sedang membuat ulah. Tak hanya aku yang menoleh ternyata mereka--teman-temanku--semua menoleh ke arah pintu setelah pintu dibuka secara tiba-tiba.

  Kami kira seorang dosen yang sudah menempatkan tasnya di kursinya. Ternyata dugaan kami salah. Seorang wanita, sepertinya kakak kelas, berjalan masuk membawa bunga dan bertanya. "Ada Hilmy?"

  Aku tersentak berdiri. Berjalan menghampiri dan menggapai genggaman bunga yang diberi kakak itu. Belum sempat aku bertanya dari siapa itu, kakak itu pergi begitu saja. Pintu tertutup. Semua anak-anak menatapku dan menyorakiku 'cie'.

  Aku tersipu malu, ada sepucuk surat pada bunga itu, sebuah kata-kata yang... entahlah, aku tak bisa memahaminya. Tak beruntungnya tak ada nama yang dicantumkan disana. Semua anak-anak berebutan mencoba membaca surat itu. Dan kembali 'cie' terdengar.

  Sampai akhirnya seorang dosen masuk ke kelas kami. Dan kami terdiam lalu mengikuti kelasnya. Sempat juga dosen itu menyindir bunga yang ada di mejaku. "Apakah cuman Hilmy doang disini yang laku?" begitulah katanya.

  Saat itu aku tergelak, tak habis percaya. Bunga? Haha, entahlah. Siapa peduli dengan kehadiranku? Ternyata ada. Semoga saja bunga itu bukan dari pria di luar sana. Menyeramkan bukan? Hehe.

  Satu yang ada dipikiranku. Atau mungkin bunga itu tertuju untuk Hilmy yang lain? Kalian harus tahu, di kelasku ada dua orang namanya Hilmy. Bisa saja, bukan?

Selasa, 19 November 2013

Topeng Malaikat

"Bahkan iblis pun bisa memakai topeng malaikat."

  Aku tak tahu mana wajah asli orang itu. Dia tak bermuka dua. Hanya saja samar. Samar bagaikan angin-angin yang bertiupan. Aku tak paham, apakah itu dia? Atau hanya tampilan semata. Wajahnya bak fatamorgana. Sampai akhirnya aku mencoba tak peduli.

  Orang-orang sering berkata. Bukan sembarang kata biasa, heboh! Kalian tahu, bagaimana seseorang mencari sensasi dan berhasil!? Yak! Hebohnya bukan main. Aku pikir ini hanya pandanganku setelah mendengar cerita dari angin-angin disisiku.

  Pada awalnya aku hanya terdiam. Heran serta bertanya-tanya. Dia berdiri di sisi kami--aku bersama teman-temanku--dia menatap dengan iba. Lalu bertanya dengan nada yang pelan dan jika ditilik baik-baik seperti orang tersedu.

  Kami semua serentak menatap dia, dengan heran serta bertanya-tanya tentunya. Lalu suasana lenggang. Salah satu dari kami mengangguk dengan takzim. Dia masih terdiam, kami melanjutkan tugas kami. Ya, saat itu kami sedang mengerjakan tugas.

  Di sebuah bagian dari sisi kampus. Orang bilang English Cafe, ah siapa peduli? Menurutku hanya harganya saja seperti di Inggris. Atau mungkin aku gak pernah tahu rasa khas inggris? Entahlah, saat itu aku sedang menahan dahaga serta nafsu dari terbit fajar hingga senja selesai.

  Baiklah, lalu dia berdiri dengan--masih--wajah ibanya. Aku tak peduli saat itu, aku sedang sibuk dengan tugas yang menurutku paling mengasyikan. Dia akhirnya membuka suara lagi dan memecahkan keheningan diantara kami--aku dan para temanku.

  Sebelumnya, percayalah dia mahasiswa kampus ini juga. Pada awalnya aku tak peduli. Tapi, ketika ia berbicara dengan wajah ibanya untuk kesekian kali. Aku mulai bertanya-tanya. Dengan seragam kampusnya, kalian tahu apa yang dia ucapkan?

  "Boleh minta uang seikhlasnya gak? Untuk bayar hutang." Kurang lebih begitu katanya.

  Aku menatapnya seraya menyipitkan mata. Segitukah? Lalu temanku menegaskan kalau kami tak punya uang. Aku tak mendengar apa yang temanku bilang, saat itu orang itu berpaling dari hadapan kami menuju meja berikutnya dengan wajah yang masih terlihat iba.

  Lalu salah seorang dari kami bercerita. Tentunya dengan suara yang pelan, karena saat itu dia belum beranjak jauh dari tempat kami. "Itu orang yang foto bareng artis itu." ucapan pertama teman di depanku.

  "Yang di share sama si Ikhsan? Yang editan itu?" tanyaku semakin penasaran.

  Temanku mengangguk dengan takzim. Aku pun mengangguk. Perlahan aku menilik wajah dia lagi, benar juga. Dia seperti tak asing bagiku. Entahlah. Atau hanya perasaan aku saja. "Terus, jadi bagaimana ceritanya tadi?" tanyaku meminta temanku mengulangi ceritanya.

  Pada saat itu aku benar-benar fokus dengan layar laptop yang memedihkan mata. Temanku akhirnya angkat bicara. "Jadi, waktu itu aku dengan Yozan juga dihampiri dia. Lalu bilang dia belum makan, parasnya sama. Bikin kasihan."

  Aku mengangguk. "Lalu?"

  "Ya dikasih sepuluh ribu. Gak tahu deh buat apa tuh uang. Mencurigakan begitu." sambungnya.

  Lalu sebelum aku menyahuti cerita teman di depanku. Teman disampingku angkat bicara. "Kalau mau nyumbang mending ke yang bener aja deh. Kayak begitu mah gak tahu dipakai buat apa."

  Aku lalu mengangguk lagi dengan takzim. Aku sebenarnya tak berani menyimpulkan semacam apa dia itu. Entah kenapa wajahnya bak malaikat, terlihat begitu baik dan hati merasa iba. Tapi, dibalik itu semua entah kenapa aku berpikir negatif. Ibliskah?

  Entah sekali lagi entah. Kalau aku berpikir negatif maka itulah yang aku pikirkan. Namun, itu hanya perumpamaan. Aku tak sepenuhnya menduga seperti itu. Walau dengan alasan apa dia mencoba merendahkan dirinya. Tapi, sekali lagi berpikir positif.

  Masalahnya, jika benar-benar dia dalam kondisi seperti itu. Bukannya menakjubkan bisa kuliah disini? Walau disini bukan kampus yang elit, yang bayar bisa ditukar dengan satu mobil. Tapi, tetap saja bagiku kuliah disini tak semudah membeli ayam kampung.

  Aku tidak bisa menyimpulkan. Tapi, aku berani berkata itu. Kenapa? Karena aku benci topeng itu. Mengerikan bukan? Sahabat yang ternyata musuh? Pahlawan yang ternyata pengkhianat paling besar? Bukankah ini sudah biasa di dunia fana yang melelahkan ini?

  Serendahnya hidup ini, setidaknya jangan merendahkannya. Ya, biarlah rendah. Tapi, jangan dibuat rendah. Maksudku harga diri. Kalian tahu? Harga diri begitu mahal, apa kalian rela menjualnya dengan begitu murah? Entahlah.

Jumat, 15 November 2013

Saat Dunia Berakhir

  Ketika kamu benci akan sesuatu tapi kamu tak mampu mengungkapkannya. Ketika kamu benci sesuatu kamu tidak tahu harus berbuat apa. Ketika kamu benci sesuatu kamu hanya terdiam dan dicabik olehnya. Ketika kamu benci sesuatu kamu terlihat begitu bodoh.

  Aku rasa, entah hanya perasaanku yang payah. Tapi, dunia mungkin mau berakhir. Oke ini sembarang kata. Jangan pernah dianggap sebuah pedoman. Ketahuilah, begitu banyak masalah akhir-akhir ini. Terutama berbicara dengan perasaan yang terombang-ambing oleh angin malam.

  Bagaimana tidak? Diam saja membuatku kesal. Apapun yang kulakukan seolah salah dan menyebalkan. Baiklah, ini sudah larut malam. Aku terjebak di sebuah gedung oleh segala perasaan berkecamuk. Malam jum'at ini tidaklah lebih dari omong kosong.

  Bahkan ketika aku kangen mereka, entah bagaimana mungkin, mereka tidak menanggapiku. Oke, mulai terlihat bodoh bukan? Jelas-jelas sudah malam, siapa juga yang mau menanggapi pria bodoh ini? Haha. Ketawaku terasa hambar, ceritaku seperti benang kusut.

  Ini malam jumat kelabu, abu-abu warna seperti debu. Aku terus menatap mereka dengan segala hal ambigu. Aku pikir aku terbelenggu. Oleh waktu yang kian membeku atau mungkin terbang semu. Ah, sudah-sudah.

  Bagaimana kata orang bijak bilang? Tenangkan pikiranmu. Tatap esok, hidup ini tidak untuk detik ini. Tapi, detik selanjutnya. Entah siapa yang bilang seperti itu, aku pikir aku hanya mengarang. Apa aku orang bijak? Haha, siapa peduli?

  Hmm... Aku ragu menyudahi postingan ini. Aku terlanjur sakit, sakit yang tak berujung. Bagaimana bisa? Hidup hanya sekali, tapi rasa sakit terus menghantui. Bedebah bukan? Mereka tak pernah peduli, karena ini tak lebih dari rasa tak kasat mata.

  Aku terjebak di gedung ini hingga tengah malam mencoba mengusirku. Aku benci, aku benci sesuatu yang membuat semua merasa terjebak. Terkadang kita dapat memilih, namun terkadang kamu terdapat pada pilihan yang menjebak.

  Aku selalu percaya kalau semua akan menjadi baik. Tapi, mata sipit ini sudah tak kuat menahan kantuknya. Aku rindu sesuatu. Sesuatu yang bisa memberiku petuah, mengingatkanku kepada-Nya. Membuat aku tertegun dan merenung akan segala yang aku perbuat.

  Ada yang salah, ada yang salah pada malam ini. Suara teriak hewan itu jelas terdengar. Cicitnya, gonggongnya, dengungnya, apapun itu. Mereka tetap tidak merubah keluh kesah malam kelabu ini. Ayolah, secercah harapan harus kuraih. Karena, kutakut hari esok tak kunjung datang.

Rabu, 13 November 2013

Penasaran Dari Sekian Rasa Penasaran

  Entah kenapa dan mengapa. Dari sekian banyak rasa penasaran di otak ini. Ada satu rasa penasaran yang amat besar. Dan ini benar-benar rasanya ingin tahu reaksi dari segalanya.

  Sebuah pertanyaan yang sederhana namun berjuta rasa tertahan yang dirasa. Begini pertanyaannya.

  "Jika aku mati, apa perasaanmu sejujurnya?"

Coretan Di Atas Kertas

  Beberapa ceritaku sebelumnya, sedikit menjelaskan tentang kebencian terhadap nilai. Sekarang aku mulai paham, siapa peduli hitung-hitungan kertas itu? Mungkin untuk sekarang hingga kelak lulus nanti nilai merupakan hal prioritas, tapi sekali lagi kutanya, siapa peduli?

  Pernah kudengar sebuah cerita, saat itu minggu yang tenang. Aku terpaksa bangun untuk sebuah kegiatan. Oh, betapa sial bukan? Seharusnya aku bisa tidur lebih panjang. Walau pada akhirnya aku bangun kesiangan. Setelah melewati bangun siang itu aku buru-buru pergi menuju lokasi kegiatan.

  Ketika itu aku merasa beruntung. Sangatlah beruntung mengikuti kegiatan itu. Pengisi acaranya seorang yang memiliki pengalaman buruk dengan nilai. Hei, bayangkan saja, IP cuman dua, lalu semester berikutnya dua pun tak sampai.

  Lalu apa yang dia lakukan? Dengan ketangguhannya, dia memilih untuk keluar dari semua itu. Bayangkan saja, dia dahulunya merupakan orang terpandai nomor satu di sekolahnya. Semenjak tiba di kota baru itu, seolah-olah dia bukanlah siapa-siapa. Bahkan debu malas untuk mengakuinya.

  Setelah keluar dari kuliahnya, dia memilih untuk menikah. Kamu pikir ini lucu? Tentu saja, tapi hebatnya dengan ta'aruf dia mendapatka seorang istri--walau IP-nya tak sampai dua. Saat itu umurnya dua puluh tahunan, lalu ia lebih memilih mencari pekerjaan.

  Kenyataannya, dengan bermodalkan ijazah SMA, dia bisa menjadi sukses seperti sekarang. Kalian tahu apa yang ia kerjakan? Ya, dia tumbuh menjadi seorang enterpreneur muda. Dengan segala kesabaran dan usahanya, dia toh bisa sukses.

  Lalu, siapa yang peduli dengan nilai-nilai di atas kertas itu? Saat aku berkata seperti itu, temanku menyahuti. "Bagaimana dengan masuk kerja dengan bermodalkan IPK?"

  Aku terdiam, lalu tertawa menanggapinya. "Kamu pikir, pekerjaan hanya milik orang lain?" percaya atau tidak, hidup ini begitu luas atau sempit. Entahlah, mungkin hidup bisa menjadi sefleksibel mungkin atau serumit mungkin.

  Tergantung bagaimana kamu menyikapi dan memandangnya, bukan? Sejatinya kamu sama dengan mereka. Berpeluang, hanya saja ada satu yang mungkin berbeda. Bidang. Ya, tidak semua orang berpeluang dengan bidang sama.

  Entahlah, aku mungkin tak sehebat sebagaimana penjahat menyimpan curiannya. Tapi, aku sehebat polisi yang terus mengejar curian itu. Walau nilai itu sulit kuraih, entah mengumpat dimana. Aku pikir, ini tak pernah berujung sampai aku akhirnya merasa bisa mengikhlaskan nilai itu.

  Walau nilai tak terlalu berarti kelak, tapi ada kata yang terus aku ingat. "Tak ada yang sia-sia di muka bumi ini." Sejatinya mencari kesempurnaan adalah manusiawi. Menurutku walau nilai hanya sebatas coretan di atas kertas. Setidaknya kamu bisa menghargai itu, mengejarnya bak polisi mencari barang curian.

  Hidup ini terkadang membuatmu tidak pernah memahami suatu hal. Sehingga kamu harus memahami banyak hal. Tak ada salahnya mencoba, walau nilainya jelek sekalipun bukan? Sekarang yang harus dilakukan adalah untuk ke depan.

  Ikhlaskan nilai itu, siapa peduli? Tapi, suatu saat kamu mengerti. Semua ini berarti. Terkadang pembahasan ini membawamu keujung sana, terkadang pula membawa keujung sebaliknya. Aku pikir, aku juga tengah bimbang. Lalu harus apa aku dengan nilai?

  Ayolah, hidup ini bisa dipandang dari berbagai sisi. Dari mana kamu ingin melihatnya? Kupikir sama saja, semua penting. Sangatlah penting. Mencoba mengabaikannya, hanya membuat semakin payah. Entahlah, mungkin itu aku.

  Aku hanya bisa tertawa, dan berharap besok serta lusa. Aku bisa mendapatkan lebih baik. Entah nilai atau apapun. Ya, itu motivasinya. Haha. Sebenarnya baru saja aku mendapatkan nilai jelek. Kuharap ini cukup menghiburku. Terima kasih nilai, kamu akan memabawaku ke sebuah tempat yang mungkin lebih baik.

  Karena, hidup ada sebab-akibat. Nilai jelek mungkin karena usahaku kurang. Setidaknya, aku telah berusaha. Masalah ke depan, akan kurancang detik ini pula. Semua bisa, sugesti terkadang dapat membantumu melangkah.

Minggu, 10 November 2013

Waktu Senja Di Sini

  Bagaimana orang mendeskripsikan senja? Oranye? Burung-burung berterbangan? Angin berdesir kencang? Indah? Tentu saja, tak ada yang bisa menyangkal itu semua. Senja selalu indah. Di mana pun berada. Senja tetaplah senja, indahnya tak pernah padam walau terkadang hujan menghadang.

  Namun, ada yang berbeda pada senja di sini. Jika berbicara indah, tentu saja, sekali lagi kubilang senja selalu indah. Di mana pun, kapan pun. Jika kamu tidak percaya, tentu saja itu pandanganmu. Terkadang kita tidak bisa memaksa keindahan masuk kedalam setiap insan. Tidak harus.

  Ya, kubilang senja disini berbeda, kenapa? Pada senja yang selalu indah ini, di sekitar kampus terdapat aroma yang pasti kalian saja tak tahan menciumnya. Begitu nikmat. Membuat tenang. Lalu bertanya, dari mana aroma ini berasal? Terakhir, kalian pasti ingin menikmati hal sebenarnya dari aroma itu.

  Pada senja sekitar kampus pasti tercium aroma coklat. Setiap hari, aroma itu selalu menggoda setiap insan. Ketika aku jogging atau berjalan di kampus. Aku selalu mencari di mana sumber aroma itu berada. Aku pikir, itu aroma seseorang yang berjualan pisang coklat.

  Ternyata, itu tidak benar maupun tidak salah. Sejatinya aroma ini begitu hebatnya meyelimuti seluruh kampus. Dari ujung ke ujung. Entahlah, kata orang-orang, di dekat kampus terdapat pabrik coklat. Jika itu benar, aku pikir sebuah kewajiban pergi kesana dan melihat, tentu saja mencicipinya.

  Siapa yang tidak suka coklat? Oh, aku tak sedang menyindir wanita yang sedang diet. Tapi, sejatinya coklat begitu nikmat. Terdapat ketenangan dan kenyamanan setiap balutannya. Jujur saja, aku rajin mengkonsumsi coklat.

  Namun, tidak coklat batangan. Coklat serta karamel yang menyelimuti permukaan wafer coklat yang begitu nikmat. Jika kalian tahu itu apa, tentu saja aku selalu sedia dengan hal itu. Terkadang aku gunakan untuk mengganjal perut lapar, menghilangkan stres, ataupun dinikmati ketika santai.

  Entahlah, sekarang aku tak memilikinya lagi. Pada waktu itu, benar-benar kacau. Otak dan hati begitu lemah, bahkan kamu tiup saja, otak dan hati itu bisa rapuh berkeping. Saat itu pula dengan khilaf entah lima atau lebih wafer yang berbalut coklat dan karamel itu enyah.

  Kupikir itu kesalahan, sekarang aku merana. Kamu tahu? Terkadang aku harus berpikir dua kali untuk membelinya. Uang ini begitu mengekangku. Tapi, siapa peduli? Aroma coklat di senja itu sebuah bumbu legit yang tak setiap tempat aku temui terdapat itu.

  Di bawah pohon kelapa dengan dedaunan tertiup semilir anging, semburat oranye bercampur biru langit, kicauan burung berterbangan laksana bernyanyi, lalu aroma coklat yang menyelimuti. Lengkap sudah, malam siap menjemput. Senja telah tiba. Ini indah dan sederhana bukan?