Minggu, 08 Desember 2013

Propaganda Penguasa


Lencana, berjuntai di dada
Orang bijak bercerita
Belajarlah hingga negeri Cina
Seharusnya kau begitu, wahai penguasa.

Ini hidup bukan sekadar mimpi
Kau bahkan tak pernah bermimpi
Memainkan manipulasi
Kamuflase ternodai

Inflasi uang
Menghancurkan banyak kehidupan, sayang
Kau tak pernah tahu cinta?
Rakyat jelata yang kau sebut malang

Seharusnya Tuhan tahu
Apa itu pecundang dan pengkhianatan?
Beda! Tapi kaulah keduanya
Senyum getirmu itu adalah muslihat terselubung

Apa kau sebut?
Kesenjangan!? Ini hidup bukan dongeng dari Cina
Seenaknya memakan tak berkuasa
Padahal kau adalah asa
Bagi mereka, para rakyat jelata.

Negeri ini tumbuh
Dari segala rasa
Kerusakan yang timbul
Pembelajaran yang berharga.

Bukankah begitu?
Tak hanya gembar-gembor omong kosong belaka
Lalu menghilang dan terkenang
Sebagai penghancur negeri yang tak kepalang.

Titik nadi pahlawan
Demi Tuhan, mereka adalah seorang sukarelawan membanggakan
Untuk memperjuangkan cinta serta kasih sayang
Keabadian dan uang bukanlah sebuah cerita terkenang.

Melainkan, darah kotor yang terkontaminasi
Hina? Tentu saja
Peduli? Tentu tidak
Itulah kau, penguasa.

Percuma! Lencana itu tak berguna
Pelajaran hidup tak membuatmu jera
Pencucian uang terus berjalan
Satu-satu lawan kau gancang.

Peduli setan dengan mereka—rakyat jelata
Di otakmu hanya uang semata
Tak peduli apa itu nada
Kau pemilik segala

Bermainkan media
Kau pimpin negara dengan segala nista
Uang adalah patokanmu
Lencana adalah topengmu

Seolah baik, sejatinya kau mati
Kalbumu tertutup
Aku harap kau mengerti
Kisah ini bukan soal bagaimana angin tertiup?

Angin semenanjung dari ufuk timur terbit
Kau, setitik harapan sirna
Doa kami selalu menyelubungimu
Menyelimuti hingga ajalmu

Negeri ini mereka cintai
Tapi, ia—penguasa—masih tak mengerti
Rasa hati seorang manusiawi
Bukan boneka sejati

Wahai penguasa
Aku tak menyumpah serapahmu
Bukan berdoa untukmu dijemput illahi
Tapi, hanya satu yang kunanti
Semoga kau tahu getir kehidupan
Bangkit dari segala belati omong kosong yang kau pahat seindah diorama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komentar bagi yang perlu