Sabtu, 25 Desember 2021

Halo Blog, Lama Tak Bersua :)

Halo blog, sudah lama aku tidak bercerita. Hari ini dirimu terbuka kembali, karena obrolan santai bersama para mentee. Bukan maksud melupakanmu, tapi, entahlah rasanya semua banyak sekali yang sudah berlalu.

Seperti beberapa hari ini, perasaan rasanya kalut, didukung cuaca yang mendung, hingga aku selalu termenung. Rasanya, benar-benar bingung.

Coba tebak apa yang aku bingungkan? Apa yang aku renungkan? Jawabannya tidak ada, aku benar-benar tidak tahu apa yang ada dipikiran dan perasaanku. Rasanya aku ingin terdiam, menatap sesuatu yang tak kupedulikan. Rasanya seperti sedih tak berkesudahan.

Halo blog, terima kasih sudah menemaniku hingga hari ini. Dari aku memulai bangku SMK hingga sekarang aku punya anak. Dari semua perjalananku, satu yang tidak pernah berubah, ketersediaanmu mendengar keluh kesah gelisahku.

Rasanya kesedihan ini tercampur rindu, aku rindu sekali menulis disini. Dulu aku pernah bercita-cita menjadi penulis hebat, tapi entah kenapa sekarang aku tutup semua kans itu. Aku tidak menulis cerita lagi blog.

Blog, aku tidak tahu kalau ternyata menjadi orang yang semakin tua ini begitu melelahkan. Aku tidak tahu menjadi kakak itu melelahkan. Aku tidak tahu menjadi ayah itu melelahkan. Rasanya lelah sekali, tidak ingin aku memikirkan semuanya. Tapi tidak mungkin kuabaikan semua.

Rasanya, tidak ada hari libur untuk pikiran-pikiran ini. Semua begitu saja dihadapanku, mereka menangis, mereka bersedih, mereka mengeluh, mereka bercerita. Tapi aku seolah tak tahu harus bicara dengan siapa. Bahkan dengan istriku sendiri aku bingung ingin bercerita apa.

Rasa yang kesekian kali, aku ingin sendiri tanpa siapa-siapa, termasuk para binatang dan bintang. Biarkan detak jam menghantui kepalaku. Biarkan kesunyian itu menyelemutiku, dan aku tenggelam kedalamnya.

Halo blog, mungkin itu saja ceritaku di akhir tahun. Aku tahu kita tidak boleh menyerah, tapi sesekali lelah tak masalah bukan?

Senin, 11 Oktober 2021

Membersamai

Awalnya aku kira menjadi ayah adalah tentang mendidik dan menafkahi, tapi rupanya ayah adalah sesosok yang membersamai anaknya hingga dewasa, menyaksikan dan menjadi tempat khusus dalam setiap perjalanan sang anak.

Kamis, 22 Juli 2021

Postingan 1000

Sebenarnya tidak 1000 banget, karena ada beberapa yang mungkin sudah menjadi draft atau semacamnya, tapi tidak apa, mari kita rayakan ini dengan rasa syukur. Sebuah rasa yang aku rasa sangat-sangat penting untuk sekarang ini.

Dahulu kehidupan kita dengan orang lain terjarakan oleh dinding rumah, atau jalan yang jauh, bahkan berbeda pulau. Kehidupan kita hanya mencakupi tetangga-tetangga terdekat, dan yang kita lihat dari mereka hanya sedikit saja dalam hidup mereka.

Tapi sekarang, kita bisa melihat orang dari negara manapun, kita melihat seluruh cerita, benda, dan perasaan mereka dengan hal yang bernamakan sosial media. Sejak saat itu hidup berubah, dari yang kita sulit untuk mencari tahu orang lain, sulit tahu tentang cerita, benda, atau lainnya tentang orang lain, sekarang menjadi mudah.

Bahkan, sekarang orang berlomba-lomba mengumbar hal yang dimiliki, dengan dalih berbagi, atau mungkin ingin terkenal? Menjadi terkenal memang enak sekali, sama halnya memiliki banyak uang, dan jika mendapati keduanya, kenapa tidak? Cara dunia bekerja perlahan bergeser.

Sebelumnya, orang terkenal identik dengan artist yang tampil di televisi atau bioskop. Sesekali banyak orang mengenal pemain musik, olahragawan, dan pejabat. Sekarang, semua orang punya peluang untuk dikenal atau menjadi terkenal.

Saat dunia semakin bergeser, di sisi orang yang bersebrangan dengan orang yang terkenal, terkadang lebih sering meratapi kehidupan yang jauh sekali rasanya. Timbulah rasa iri dan benci, tapi tidak semuanya, ada juga orang-orang yang menikmati semua konten orang-orang terkenal, karena tak semuanya buruk, tentu saja, semuanya baik.

Semakin hari, rasanya semakin mudah sekali terpapar kehidupan orang lain. Dari situ, rasa syukur perlahan terkikis. Melihat orang lain, membuat hati perlahan ingin hidup seperti orang lain itu. Sehingga sulit sekali melihat apa yang dimiliki, apa yang telah dilakukan, dan banyak hal.

Menurutku, beruntunglah orang-orang yang tidak tertarik dengan sosial media. Hidup mereka mungkin lebih mindful.

Dari situ, aku meminta terus kepada Allah untuk diberikan rasa syukur yang sering terkikis. Mensyukuri semua yang pernah dilalui, pernah dimiliki, atau bahkan yang sedang dilalui, sedang dimiliki. Sangat tidak mudah memang, perlahan harus mengurangi paparan sosial media yang membuat hati dilema.

Untuk postingan 1000 ini, aku bersyukur sekali menikahi Fitri dengan segala keunikannya, cerianya, hal-hal tak terduga nan lucunya itu, serta pengingat ketat dalam setiap aktivitasku. Tidak hanya Fitri, keluarga Fitri pun menjadi sebuah rezekiku, dengan segala kebaikan mereka. 

Bersyukur pun akan kehadiran Kaisa. Kaisa yang membuat diriku dan Fitri mengalami percepatan dalam hal kesabaran dan kedewasaaan. Sesuatu periode yang sangat-sangat tidak mudah, hidup bukan lagi seutuhnya milik sendiri. Ada banyak hak Fitri dan Kaisa dalam hidupku sekarang, mungkin inilah kenapa orang barat tidak mau menikah bahkan mempunyai anak, karena sungguh sangat tidak mudah.

Bersyukur juga pada keadaan ekonomi yang tetap stabil di masa pandemi, memiliki orang-orang baik dan enak di kantor, pekerjaan yang membuat diri terus berkembang. Alhamdulillah.

Hal-hal tersebut yang sering kali ku luput akan syukur, banyak sekali terpaan diluar sana--sosial media--yang membuat hidupku tidaklah menarik, membosankan, bahkan selalu kurang.

Begitulah, perjalananku, terima kasih juga untuk semua teman-temanku selama ini. Postingan 1000 ini menjadi salah satu bukti aku pernah hidup di muka bumi ini. Ya walau tidak begitu signifikan, semoga Allah berikan kemampuanku dalam memberi dampak atau berguna yang lebih signifikan dan disaat itu aku mampu amanah.

Aamiin.

Jumat, 11 Juni 2021

Langit Tetap Sama

 Langitnya tetap itu saja, tidak pernah berubah. 

Tapi tidak dengan cuaca di masing-masing kita.

***

Setiap waktu, terkadang kita tak luput dari memimpikan kehidupan orang lain. Ah benar, mungkin itu aku saja. Tapi tak apalah. Terkadang kita terdiam, menatap orang-orang berseliweran, entah di dunia riil atau maya. Semua berlalu dan kita melihat sekejap dan sesekali berandai-andai.

Kehidupan memang terasa sangat membosankan, sekalipun itu adalah kehidupan yang kita impikan. Jenuh itu seperti susunan kehidupan yang tak terelakan. Saat jenuh itu tiba, kita pun mudah sekali terguncang. Melihat sedikit, langsung berandai, membayangkan, walau pada akhirnya kita tahu, semua akan sama.

Tiba pada kejenuhan yang lain.

Seolah kehidupan itu adalah pelarian dari satu jenuh ke jenuh lainnya. Tapi, apa boleh buat, tak sedikit orang melakukan seperti itu, mencari sesuatu yang baru karena jenuh. Mencari keadaan baru karena jenuh. Mencari kedamaian yang baru karena jenuh.

Ketika menginjak SMA, rasanya jenuh sekali, semua begitu saja, kurang menantang, tidak ada kebebasan. Sementara itu dunia perkuliahan sangat luar biasa, indah dan menawan rasanya. Kebebasan, tantangan, relasi, harapan, seolah disana adalah sumber kehidupan yang tak menjenuhkan.

Tapi, seandainya anak SMA itu tahu betapa membosankannya mengerjakan tugas yang tak kunjung berhenti, mengerjakan tugas akhir yang pada akhirnya terbuang begitu saja lembarannya di tong sampah. Mungkin anak SMA itu akan mengurungkan impiannya atau setidaknya tidak ingin terburu-buru.

Menginginkan sesuatu yang tidak kita miliki itu memang wajar, sepertinya naluri manusia seperti itu. Mencari dan mencari yang belum dimiliki, dan akhirnya lupa merasa cukup akan yang dimiliki. Semoga kita tidak.

Berpindah dari suatu keadaan ke keadaan lain, mencari peruntungan, kedamaian, kebahagiaan, dan banyak hal. Walau pada akhirnya jenuh tetaplah jenuh. Semua itu tak terbendungkan lagi.

Satu-satunya yang penting dalam hidup ini adalah sesuatu yang sederhana namun susah sekali. Menikmati segala keadaan. Ya, itu tidak mudah, sementara nafsu menggebu-gebu ingin ini itu, berandai menjadi ini itu. 

Menikmati keadaan sungguh terdengar menjenuhkan, bukan?

Tapi terkadang kita memang lupa, untuk merasa sadar, hadir, dan serius dalam menjalani waktu kita sekarang ini. Karena otak kita sudah berlari jauh ke dunia yang selalu kita andai-andai. Sehingga yang ada adalah kegelisahaan.

Jadi, mungkin ini nasihat untuk aku sendiri, nikmatilah yang ada. Apapun yang aku inginkan, ketika aku dapatkan tidaklah berbeda dari keadaanku sekarang atau sebelum-sebelumnya, merasa jenuh dan berandai ke lain tempat lagi.

Rabu, 09 Juni 2021

Manajemen Orang Lain

Kita tidak bisa mengendalikan sepenuhnya apa yang orang lain pikirkan, ekspetasikan, dan akan lakukan. Tapi sayangnya, kita harus berkecimpung terhadap itu seumur hidup. Salah satu fakta yang aku masih tak terima, bagaimana bisa seumur hidup harus berhadapan dengan ketidakpastian itu?

Dahulu aku mengira menjadi seorang desainer adalah pekerjaan yang menyenangkan, berkarya lewat visual dengan segala rasa, cerita, dan pesan di baliknya. Menjadi desainer sangat menyenangkan karena bisa memperlihatkan pada dunia sesuatu yang sarat makna dengan prespektif dan penyampaian yang berbeda.

Itulah pikiranku ketika pertama kali belajar menggambar di buku tulis bagian belakang, yang biasanya ku corat-coret ketika guru sedang menyampaikan materinya. Menggambar adalah yang ku tahu dari bagian desain. Saat itu yang ku tahu dari definisi desain adalah membuat sesuatu dengan visual, singkatnya, menggambar adalah sebuah desain.

Beranjak menjadi profesional desainer, ternyata pengertian kecilku masih kurang. Desain bukan sesuatu yang eksklusif hanya mengenai visual. Desain sebagaimana sinonimnya, rancang. Ya, mendesain berarti merancang, merancang apa? Banyak hal, termasuknya adalah hal-hal visual seperti komik, poster, pakaian dan banyak lagi.

Selain mengetahui definisi desain itu luas sekali, aku juga baru tahu desain itu erat sekali dengan berbicara, diskusi, dan mengatur ekspetasi orang lain. Itu adalah kenyataan yang ku rasa sangat pahit. Pekerjaanku tidak hanya membuat rancangan visual atau semacamnya, tapi harus berkordinasi banyak hal dengan orang lain agar rancanganku sesuai, entah sesuai dengan kemauan orang lain, atau pengguna, atau penikmat.

Kenapa aku bilang ini adalah hal yang pahit? Sederhananya, aku memiliki trauma yang tanpa ku sadari bersemayam dalam diri ini. Sesuatu yang lahir dari ketidaksukaan, dari hal yang benar-benar aku tidak bisa kontrol saat itu, karena aku benar-benar tidak tahu.

Sewaktu kecil, aku terhitung jarang berbicara. Di rumah aku tinggal bersama nenek dan kakekku, gap kami sangat jauh, kami tidak terlalu banyak berbincang, kerjaanku juga kebanyakan bermain dengan teman, memainkan permainan yang tidak perlu banyak bicara, selain itu aku menghabiskan waktu hanya menonton televisi.

Aku perlahan menjadi malas untuk berbicara, tapi mau tidak mau aku harus bicara, banyak hal yang tidak bisa aku lakukan sendiri. Rupanya, cara bicaraku sangat tidak bagus. Intonasi yang tidak ada, kecepatan yang sangat cepat, dan banyak temanku berkomentar kalau aku bicara sangat tidak jelas, atau tidak becus. Mereka mulai memanggilku bicos, karena tidak becus dalam berbicara.

Rasanya di kepalaku semua kata berjalan bergitu cepat, hingga mulutku tidak mampu mengejarnya.

Tanpa sadar trauma ledekan itu melekat ke barbagi segmen kehidupanku, termasuk dalam pekerjaanku yang nyatanya harus sering berkomunikasi dengan orang lain. Aku yang tidak suka berbicara banyak, terpaksa harus berkomunikasi dengan banyak orang, terlebih harus memastikan, mengatur, dan meyakinkan orang lain.

Itu bukan level komunikasi sederhana. Hah...

Bagiku, komunikasi adalah salah satu permasalah umat manusia. Banyak sekali masalah terjadi dari kesalahpahaman komunikasi, sederhananya dalam rumah tangga pasti salah komunikasi, salah memahami, akan ada percikan-percikan keributan yang seharusnya tidak perlu jika hidup dalam kesendirian.

Ya, begitulah.

Sunahtullah-nya manusia tidak bisa hidup sendiri, bersosialisasi memang sesuatu yang melancarkan rezeki, asal dalam koridor positif, tidak banyak orang bisa terbantu oleh relasinya, entah terkait kerjaan atau pinjaman. Aku pun setuju, relasi atau jaring pertemanan sangatlah penting, tapi komunikasi itu terlalu rumit, hingga-hingga aku tidak ingin melakukannya.

Kamis, 06 Mei 2021

Ekspetasi

“Kegagalan tidak membuatmu kecewa, tapi eksepatasi membuatnya.”⁣
Banyak sekali hal yang membuat kita berekspetasi. Dalam belajar, dalam mengenal seseorang, dalam berjuang, dan banyak hal.⁣
Berekspetasi tampaknya menjadi naluri bagi manusia. Setiap yang ada disekitar kita, kita selalu berekspetasi. Seperti melihat gunting, kita lantas berekspetasi gunting itu tajam dan dapat memotong sesuatu.⁣
Ekspetasi keluar dari pikiran kita untuk mengharapkan sesuatu terhadap sesuatu yang lain, diluar dari diri kita atau bahkan pada diri kita.⁣
Saya pernah berekspetasi bisa untuk berbicara di depan banyak orang, tapi ketika saya sedang berhadapan dengan banyak orang ternyata saya orang yang kikuk. Ekspetasi awal saya keliru rupanya, dan tak jarang saya kecewa berat.⁣
Kekecewaan-kekecawaan yang terjadi karena kekeliruan ekspetasi sebelum kejadian dan realitanya menjadikan diri saya tanpa sadar terkendali oleh ekspetasi.⁣
Ekspetasi membuat saya jadi kacau. Kekeliruan itu membuat saya sangat-sangat tidak nyaman. Ekspetasi seperti membunuh saya perlahan.⁣
Pada akhirnya saya sering menetapkan ekspetasi terburuk saya, jika mengikuti lomba saya selalu berkspetasi saya tidak akan menang, tapi saya harus berusaha semaksimal mungkin agar tidak kecewa dikemudian hari.⁣
Lantas ketika saya gagal, saya merasa itu sesuai ekspetasi saya. Tapi kalau berhasil, saya merasa itu diluar ekspetasi saya dan sangat luar biasa. Rasa bahagianya berkali lipat.⁣
Namun tentu saja tidak semua kondisi bisa semudah itu saya atur ekspetasi saya. Ekspetasi saya terkadang timbul dari alam bawah sadar, terkadang saya berusaha untuk biasa saja, tidak neko-neko, tapi alam bawah sadar saya meminta lebih, akhirnya berujung ekspetasi yang melambung tinggi dan ketika keliru, saya jatuh berkeping.⁣
Ekspetasi, saya rasa sangat perlu sekali diajarkan kepada anak-anak sedini mungkin, ini salah satu skill untuk bertahan hidup apalagi dalam dunia serba cepat, dunia yang mudah menilai orang lain.⁣
Mengajarkan bagaimana mengatur ekspetasi, bagaimana kita selalu berpikir apapun yang terjadi, itu semua adalah fakta yang harus direspon dengan baik. Walau terkadang tetap mengecewakan, tapi kita harus dengan bijak meresponnya.⁣
Terpasti, selalu ingat bahwa Allah Maha Sempurna, ekspetasi kita tidak. Jadi apapun yang terlihat entah di dalam atau di luar ekspetasi kita, itu adalah kenyataan yang harus kita syukuri dan hadapi dengan baik.

Minggu, 07 Februari 2021

Anak-Anak dan Bergerak

Dahulu saya sangat suka sekali bergelayutan pada mainan-mainan yang berada di taman. Ada yang bentuknya kubus, ada juga yang bentuknya seperti jaring laba-laba atau paling umum main di perosotan dan ayunan.

Semua itu menyenangkan, tapi rasanya ya biasa saja. Tidak begitu spesial, tidak seperti memiliki playstasion yang bisa bermain di rumah dengan banyak pilihan permainan.


Namun belakangan ini mainan-mainan untuk tempat panjat-panjatan atau perosotan dan semacamnya itu banyak sekali di perjual belikan untuk kebutuhan pribadi, bukan untuk di taman-taman.


Saya heran, itu kan nggak murah, terlebih tempatnya juga butuh tempat luas.


Hal yang saya dulu kira tidak spesial itu ternyata sekarang sangat spesial. Banyak sekali orang tua bermasalah dengan anak yang tidak bisa diam. Orang tua banyak berpikir—termasuk saya—kalau anak tidak bisa diam, maka anak itu tidak fokus.


Tapi anggapan itu salah, rupanya anak itu butuh banyak bergerak. Mereka punya jatah bergerak yang dibutuhkan agar bisa fokus. Lalu sekarang dengan jarangnya taman, atau kebutuhan anak semakin meningkat karena sering kali teralihkan oleh gawai membuat orang tua membeli peralatan yang dulu berada di taman-taman, sekarang berada di rumah mereka.


Untuk apa? Untuk memenuhi kebutuhan gerak sang anak.


Terlebih masa pandemi ini, anak jadi kesulitan main di luar, peralatan seperti ini—pikler, trampolin, papan titian, dll—menjadi solusi tepat bagi para orang tua untuk memenuhi kebutuhan gerak anak.


Fokus memang semakin sulit pada zaman distrupsi ini. Jangankan anak-anak, orang tua saja susah sekali untuk fokus. Tapi saya juga baru sadar, ternyata tidak anak-anak saja yang butuh gerak, orang seusia saya juga butuh gerak.


Sederhananya, kalau saya kurang bergerak, badan saya rasanya tidak enak sekali, duduk saja tidak betah, apalagi menjelang tidur, rasanya badan saya nggak nyaman.


Adanya pandemi membuat saya semakin jarang berolahraga, yang berarti juga jarang bergerak. Lalu saya tertawa sendiri.


Dahulu, perkara bergerak ini adalah hal yang biasa, seperti anak bermain di taman, bermain bersama teman-temannya, kejar-kejaran, petak umpet, petak jongkok, sekarang rasanya sungguh spesial. Apalagi untuk memenuhi kebutuhan gerak ini.


Pun begitu orang tua. Zaman dahulu semua tidak instan, kalau ingin membeli barang tidak bisa cek e-commerce, semua ke pasar. Mereka bergerak disana. Mau cari bacaan, mereka pergi ke perpustakaan untuk meminjamnya. Serta banyak lagi kegiatan yang memaksa orang dahulu terbiasa bergerak.


Sekarang, bergerak untuk fokus saja susah, di tambah pas fokus banyak sekali distrupsi oleh sistem rekomendasi dari teknologi yang ada.

Ya, setiap zaman punya tantangannya masing-masing. Pun anak kita, di zamannya kelak, mereka punya tantangan yang kita tidak pernah tahu apa. Tapi yang perlu mereka tahu adalah prinsip dalam berkehidupan.

Selasa, 19 Januari 2021

Antara Lutut, Punggung, Pinggang, dan Saya

Belum mulai pengobatan untuk lutut yang cidera bertahun-tahun, ternyata datang lagi cerita tentang pertubuhan ini. Saat itu saya terheran, ini kenapa punggung rasanya ngilu, belum kelar juga punggung, pinggang juga.

Saya merasa sudah di usia senja rasanya.


Akhirnya saya memberanikan diri untuk periksa. Berobat adalah fakta unik sendiri bagi saya, tak jarang saya menyuruh orang untuk berobat jika ada keluhan, tapi ketika saya yang mengalami rasanya enggan sekali. Salah satunya mungkin karena saya takut akan kenyataan kalau ternyata tubuh saya tidak baik-baik saja.


Tentu saja, biaya berobat yang tidak murah. Itu momok yang mengerikan dari berobat.


Akhirnya saya mulai pergi ke rumah sakit. Saya pun mendapati tulang saya agak sedikit skoliosis, ditambah adanya tulang punggung yang menyempit dan membuat syarafnya terhimpit. Umumnya saya menderita syaraf kejepit atau HNP.


Saya dipinta untuk terapi, saya semakin sering ke rumah sakit. Rumah sakit seperti rumah kedua saya saat ini. Beberapi kali terapi, terapisnya menanyakan umur saya. Saya jawab semestinya. Lalu si terapis menyayangkan usia saya yang muda tapi sudah mengalami hal seperti ini.


Sejak itu saya menyadari, ternyata dari sekian banyak orang yang pergi terapi bisa dikatakan saya paling muda. Kebanyakan sudah ibu-ibu atau bapak-bapak yang cukup berumur.


Saya jadi sering bermuhasabah, mengingat saya sudah berkeluarga, sakit itu jadi hal yang serius. Ketakutan akan keluarga yang masih harus dinafkahi terus mencuat, jika saya tidak bisa bekerja secara reguler, banyak yang akan berubah.


Saya jadi sering termenung kalau lagi mengendarai motor, sampai tak sengaja saya melihat penjual jamu yang sudah paruh baya, ibu-ibu, menggendong jamu yang tak sedikit, dan dalam perjalanan menanjak.


Saya jadi membandingkan penjual jamu itu dengan diri saya. Ibu itu dengan dengan segala atributnya entah usia, gender, atau keadaannya masih sangat kuat untuk menggendong jamu kemana-mana, termasuk tanjakan.


Lalu kesimpulan liar tercetus, apa saya kurang minum jamu ya? Apa ibu-ibu kuat karena minum jamu? Haha.


Saya tidak tahu apakah ibu penjual jamu itu memang tidak memliki masalah pada tubuhnya yang terus menggendong jamu kemana-mana. Tapi yang saya dapati, semua memang harus dikelola dengan baik, termasuk kesehatan.


Selama pandemi ini, aktivitas gerak semakin berkurang, duduk sepanjang hari didapati. Tampaknya, Allah memberikan sinyal lewat tubuh yang tidak enak agar kita berolahraga, minimal stretching.


Yuk, hidup sehat, dan jangan lupa minum jamu. Eh…

Menulis Diam-Diam

Saya pernah menulis tentang betapa banyaknya manfaat yang saya dapatkan ketika menulis. Hal itu membuat saya terus menulis walau tidak selalu tahu untuk apa, rasanya senang saja, seperti merunutkan dan mengeluarkan yang ada di kepala. Terlebih, menulis menambah kepekaan saya akan sesuatu yang kecil.

Selain itu juga saya merasa senang karena bisa mengenang hal-hal penting yang mungkin suatu hari saya dapat membacanya dan mengenangnya lagi.


Tapi, semenjak menikah saya kesulitan menulis. Entah kenapa ketika menulis saya sangat tidak suka jika dilihat orang yang saya kenal, termasuk pasangan. Rasanya kalau ada Fitri lewat saya langsung pindah aplikasi agar tidak terlihat sedang menulis.


Karena sekarang kehidupan saya hampir 24 jam di rumah saja, dan Fitri duduknya di sebelah saya kalau bekerja, rasanya saya seperti tidak ada celah untuk menulis tanpa dilihat atau disadari oleh Fitri.


Terkadang saya memanfaatkan malam, tapi terkadang mood menulisnya tidak saat itu, ah saya tidak menyangka ternyata saya serumit ini dalam perkara menulis. Padahal saya hanya menulis hal-hal receh, kenapa jadi sulit begini.


Ya, saya sudah memberi pengertian ke Fitri kalau saya tidak suka saat menulis dilihat dan semacamnya, tapi tetap saja, merasakan hawa keberadaan Fitri di sekitar saya membuat saya tertahan dalam menulis, pikiran saya sudah siap-siap pindah aplikasi saja.


Akhirnya banyak pikiran yang belum sempat diejawantahkan dalam tulisan. Ah, dasar saya. Semoga perlahan mampu beradaptasi dengan semua ini.


Kalau kalian, apa ritual unik kalian?


Untuk lebih banyak tulisan receh saya bisa kunjungi sapimen.blogspot.com

Harus Sempurna

Melihat kehidupan di sosial media, rasanya semua itu terasa begitu indah nan sempurna. Hal tersebut perlahan membuat pikiran saya menjadi terpatri akan sesuatu langkah itu harus indah, besar, dan sempurna. 

Padahal dalam melangkah bukan kesempuranaan yang terpenting, tapi bagi saya menyelesaikan langkah itu yang terpenting. Agar tidak terpelatuk, agar berhasil ke suatu tempat, ah tentu saja.


Hal ini saya dapati ketika belakangan saya sering melihat musisi pada bikin konten di youtube. Jujur kesan awal saya “kok jadi alay gini ya” entah dari judul atau thumbnail mereka serta dari segi pakaian mereka sangat berbeda jauh dibandingkan ketika konser. 


Mereka benar-benar tampil dengan pakaian seadanya, lalu rekaman di kamar dengan kualitas gambarnya yang benar-benar tidak proper untuk musisi sekelas mereka.


Namun jika mendengar musiknya, pasti akan terlihat seperti paradoks. Bagus sekali, sungguh, tidak mengecewakan. Namun hal yang membuat saya bertanya-tanya adalah “Kok mereka buatnya dengan visual yang gini banget sih?”


Ya, walau dengan kualitas video dan desain seadanya, tapi itu semua berjalan dengan baik. Mereka benar-benar melangkah dengan mantap, tanpa harus sempurna. Terpenting mulai saja dahulu.


Jika di dunia produk mungkin ini disebut minimum vaiable product, ya produk yang sederhana dengan banyak kekurangan tapi tujuan utamanya tercapai.


Sekarang-sekarang mereka sudah meningkatkan kualitas lainnya. Mulai rekaman di studio, desain thumbnail yang cukup enak dilihat mata, sampai isi konten yang lebih dipersiapkan.


Memang terkadang masalah utama kita adalah memulainya, lantas semakin dipusingkan dengan kesempurnaan, dan pada akhirnya hanya menjadi impian belaka.


Ya, saya seperti itu. Semoga kalian tidak.

Bergerak Mundur

Saya tidak tahu apakah semua anak mengalami yang Kaisa alami ketika belajar merangkak, tapi ini sangat menarik.


Saya dan Fitri lagi terus menerus menstimulasi Kaisa agar bisa bergerak dari telentang menjadi tengkurap atau sebaliknya. Tak jarang juga kita stimulasi kaisa untuk duduk dan merangkak.


Pada fase ini saya bertanya-tanya, kok bisa ya ada orang yang sombong? Padahal dahulunya mereka untuk tengkurap saja kesulitan dan perlu dibantu. Setiap membayangkan itu saya rasanya mau tertawa.


Jalan sudah 4 bulan Kaisa di bumi, kami pun benchmark ke anak-anak yang lain, katanya sih usia segini udah bisa bolak-balik badan. Kami memang agak cemas, tapi mendengar ada juga yang 6 bulan baru bisa bolak-balik badan kami kembali merasa tenang.


Memang ya, ngelihat rumput tetangga selalu bikin jiwa terguncang.


Saya dan Fitri pun masih terus menstimulus Kaisa, Kaisa sekarang sudah bisa tengkurap dengan kepala tegak nan kokoh, bahkan bisa lebih tinggi hampir badannya ke angkat.


Di saat Kaisa tengkurap itu, saya menstimulus dia untuk jalan ke depan. Banyak sekali benda warna-warni dan bunyi yang saya bawa, saya mainkan di depan Kaisa. Dia tertawa dan berteriak-teriak histeris seperti orang ingin memperjuangkan sesuatu yang diimpikannya.


Saya stimulus terus, iringi terus, perlahan terheran. Kok jarak saya dengan Kaisa tidak semakin dekat? Rupanya Kaisa malah merangkak mundur. Mungkin belum merangkak sempurna, tapi dia mengesot hingga jauh dari saya bahkan sampai ujung kasur sana.


Mungkin memang namanya belajar tidak selalu maju ke depan kali ya, ada kalanya memulai dengan memundur agar paham caranya maju. Seperti baru sadar betapa dangkalnya ilmu kita, lantas memantaskan lebih dan lebih.


Sekarang Kaisa benar-benar aktif sekali. Menemani dia agar tertidur, malah ayahnya yang tidur.

Hal Biasa Yang Aneh

Belakangan ini jika keluar rumah saya selalu merasa ada yang aneh, kayak ada yang sesuatu mengganggu pikiran dan pengelihatan saya. Saya pun bertanya-tanya, kok ada yang beda keluar rumah kali ini, apa ya?


Perlu waktu untuk saya menyadari sesuatu, ya, sesuatu itu adalah langit dan awan yang membentang luas nan indah. Kali ini saya heran, kok bisa langit dan awan ini menganggu pikiran dan pengelihatan saya selama keluar rumah? saya pun terasadar kalau saya hampir 24 jam dirumah selama pandemi, pikirku mungkin karena kelamaan liat langit rumah, jadinya langit dan awan terasa beda.


Tapi saya masih terbingung, kok bisa ngerasa beda ya saat melihat langit dan awan ini? Padahal sebelum pandemi biasa aja. Apakah ini karena ada jeda panjang tak melihat awan? Apakah kali ini saya lebih menyadari adanya langit dan awan?


Saya jadi ingat banyak cerita tentang kehadiran, dimana ketika sosok itu tidak ada barulah tersadar akan kehadiran sosok itu. Seperti kakak yang menjahili adiknya, adiknya sangat merasa terganggu sekali, tapi ketika sang kakak yang jahil itu pergi, sang adik merasa kesepian dan tibalah rindu kepada sang kakak yang suka menjahilinya


Saya kembali pada sebuah pertanyaan, apakah manusia seperti itu? Merasakan pentingnya sebuah kehadiran ketika kehadiran itu sudah tidak ada? Atau mungkin kita saja yang tidak membangun kesadaran akan kehadiran itu? Tidak menerima dengan bijak fakta itu? Dan tidak menghadapinya dengan segala rasa yang ada?


Rasa bosan itu adalah fakta, kehadiran terkadang membosankan, bukankah itu wajar? Menghadapinya mungkin adalah keputusan yang bijak, tidak kah kita lelah dengan rindu? Eh tapi rindu pun rasa yang perlu dialami, agar semakin tahu pentingnya kehadiran itu.


Ah, setelah kupikir-pikir mereka seperti saling menguatkan. Ketika ada merasa bosan, ketika tidak ada merasa rindu. Mereka itu saling melengkapi dan memberi makna pada setiap momen yang ada.


Ngomong-ngomong saya senang dengan kesadaran akan langit dan awan yang membentang ini, rasanya hidup tuh luas sekali dan sangat lapang. Semoga Allah berikan kelapangan yang serupa pada hati dan pikiran ini. 

Hingar Bingar

Selain menulis perkara kematian, hingar bingar kehidupan mungkin menjadi tulisan yang paling banyak saya buat di catatan sehari-hari, betapa akutnya saya terpapar hingar bingar ini.

Dahulu, mungkin hingar bingar itu hanya terdengar melalui saluran-saluran radio, lalu dari media pendengaran itu ditambahlah pengelihatan, televisi pun menjadi peran utama memperlihatkan gemerlap dan mewahnya kehidupan, entah dalam drama atau berita-berita artis terkini.


Sekarang rupanya ditambah lagi, ya, ibu jari menjadi pelengkap. Sekarang hingar bingar kehidupan mudah sekali didapatkan, dengan ibu jari, kita bisa melihat sekaligus mendengar gemerlap dan kemewahan kehidupan.


Dahulu yang saya pikir hanya artis aja yang haus akan ketenaran, sekarang hampir semua remaja merasakan itu, berbagai hal dilakukan untuk mendapat perhatian dunia, pun saya termasuk salah satunya.


Pada bagian cerita Totto-Chan, saya mendapati bahwa betapa lelahnya kita dihadapkan dengan kesibukan, kemewahan, ketenaran, dan segala hal yang mengasyikan sampai kita lupa merasakan dan menikmati hal yang sederhana, seperti kesunyian, ketenangan, dan daun yang jatuh dari pohonnya.


Kita mungkin sudah lupa rasanya bosan, karena saat hal itu terjadi kita tinggal memainkan ibu jari lantas masuk kedunia yang begitu sempurnya, tampaknya.


Di dunia yang sempurna itu, semua terlihat tidak bercelah, perlahan diri kita yang menatapnya menjadi menciut, ah mungkin itu saya saja. Lalu kita terpacu untuk menampilkan hal yang sempurna juga, lantas semua menjadi begini adanya.


Tidak bercelah, kehidupan sempurna, keindahan, kemewahan, mengasyikan, tidak ada kebosanan, selalu menjadi hebat, setiap momen selalu diabadikan, bahkan semua bisa menjadi konten untuk meraup pundi-pundi uang. Sampai kita lupa caranya menjadi manusia biasa saja.


Manusia yang menghadapi waktu demi waktunya dengan kesadaran, tanpa rekomendasi mesin canggih milik perusahaan teknologi sana.


Tidak, tidak ada yang salah, kita semua bisa memilih untuk menjalani hidup seperti apa, dan itu yang akan kita pertanggung jawabkan kelak.


Ini hanya catatan manusia yang iri dengan kehidupan orang lain di sosial media sana.