Sabtu, 28 Juli 2018

Bulan Terang

Ternyata aku salah
Akulah yang picik

Bulan menampakan wujudnya
Terang, benar-benar terang

Dan membiarkan mata membelalak terkagum
Rindu pun perlahan tertelan

Bulan Penuh

Petang ini ku menengadah
Bulan tak ada

Picik sekali dia

Setelah membiarkan sejagat memperhatikannya
Lalu dia menghilang

Membiarkan rindu itu ada.

Jumat, 27 Juli 2018

Kelanjutan Perjalanan

Dhieka dan Yono, 2 orang lagi yang akan pergi dari Jakarta.

Kalau Dhieka temen SMP yang membuat aku berubah dari pendiem jadi gak bisa diem gini. Dia harus melanjutkan masa belajarnya, memang belum takdirnya dia untuk bekerja, dia ikut PPG untuk melanjutkan perikanannya. Dhieka melanjutkan sekolahnya di UNILA (lampung) dan untuk kesekian kalinya kita LDR lagi ya, dulu masih inget sekali pas aku pindah ke bogor, Dhieka nangis. Itu pertama kalinya aku ditangisin seorang temen, sekarang beruntung lampung masih bisalah ku berkunjung, jadi aku gak nangis, aku tegar kok dik :')

Sementara itu Yono, temen main dota, temen kuliah, temen lomba, temen proyekan. Sayang aku harus pergi dari kantor duluan, ya kami sekantor dulu, tapi karena aku sudah jenuh aku pergi duluan. Dan sekarang dia yang akan meninggalkan Jakarta. Akhirnya dia menerima tawaran untuk kerja di Malaysia, keren ya? Iya keren banget, gak takutnya membuat sekarang Yono jauh di depanku, Yono lebih berkembang, dia memang pembelajar yang hebat. Sementara itu aku masih gini-gini aja, galauin hal gak penting... Tapi, Yono hanya sebulan di Malaysia, sisanya dia remote.

Melihat kelanjutan kisah teman-teman, dari nikah hingga kerja di Malaysia dan memiliki rencana-rencana hebat di masa depan, aku merasa sangat kecil dan tak ada apa-apanya. Mereka sudah menyusun satu demi satu rantai untuk mencapai rencana-rencana besar mereka, ada yang ingin bangun perusahaan sendiri di kampungnya, ada juga yang proyekan dari luar, ada banyak lagi yang kadang aku mikir, aku kok gak ngerencanain apa-apa ya? Masa gini-gini aja?

Tapi, balik lagi, semoga Dhieka dan Yono sukses terus dimana kalian berada ya, jangan lupa ibadahnya dan inget teman-temannya ya, kalau kalian pulang atau main ke Jakarta, aku pasti tak akan melewatkannya!!!

Dan parahnya lagi, mereka sama-sama langsung pergi meninggalkan Jakarta minggu depan, cepet banget ya, belum ada perpisahan gitulah nongki-nongki. Semakin sedikit deh temen-temen deket di Jakarta, sepertinya aku memang harus main di rumah saja...

Kamis, 26 Juli 2018

Menunggu Sabit

Bulan merah
Aku lelah

Bisa sedikit jeda atau rehat?
Tidak?
Sudah kuduga

Baiklah baiklah baiklah

Tunggu hingga bulan itu sabit lagi
Dan aku akan rehat setelahnya

Rabu, 25 Juli 2018

Fokus

Fokus My, kamu punya kehidupan yang tengah kamu perjuangkan. Jangan tergiur atau iri atau penyakit hati lainnya dengan perjalanan orang lain. Bukankah selama ini perjalananmu begitu menyenangkan bagi orang lain juga? Semua perjalanan menyenangkan bukan? Nah, fokus Hilmy, balik lagi ke perjuanganmu...

*

Seketika ingin bilang semua itu berulang-ulang kali di kepala dan juga bilang sabar, syukuri, ikhlas...

Selasa, 24 Juli 2018

Belajar dari Cermin Rumah & Keabsrudan Lainnya

Setiap pulang aku ngaca, setiap berangkat kerja aku pasti ngaca. Centil banget sih? Ya, habis kacanya baik sih, wajah yang jerawatan dan mulai keriput ini selalu terlihat bersih dan muda dibuatnya (kaca). Makanya jadi makin suka ngaca deh.

***

Mungkin begitu kali ya, jika ada orang yang benar-benar baik, pasti betah deh dekat-deket dengan dia. Bahkan rasanya ingin bersamanya terus *eh... Bukan, maksudnya kehadirannya selalu dirindukan dan membahagiakan atau pun menenangkan.

***

Jadi, cermin dirumah itu telah disepakati sekeluarga merupakan cermin yang baik. Orang yang berkaca pasti terlihat tampan, cantik, dan muda kembali. Makanya jadi doyan ngaca. Tapi dari situ aku mikir, coba aku jadi cermin itu, betapa pun inputan jelek yang dia dapat, dia selalu mengeluarkan hal terbaiknya sehingga orang yang memberi inputan jelek itu malu sendiri dan rasanya senang dengan si cermin. Karena si cermin selalu, always, membalas kejelekan itu dengan kebaikannya. Ini agak maksa gak sih? Ya begitu yang terpikir olehku.

***

Tapi, apa mungkin karena aku ngacanya pagi dan malam hari? Aku merasa ada perubahan tekstur kulit dan kebesaran hidung pada waktu pagi dan malam, karena siang hari rasanya kering sekali dan hidung membesar. Ok, fix, Hilmy centil sekali.

***

Dan aku selalu memperhatikan hal tidak penting. Tanpa sadar banyak aku berbicara mengenai hal yang tidak benar-benar penting. Minggu lalu aku kena tegur, tegur biasa, tapi rasanya membuat aku berpikir kalau aku suka bicarain hal gak penting. Saat itu aku bilang ke mas Latif sebelum buru-buru makan malam.

"Mas, tadi saya mau shalat badiah Isya, tapi nggak jadi."
"Kenapa?"
"Saya kentut, Mas."

Lalu mas Latif bilang pembahasan itu tidak penting sekali. Oke, baiklah, memang aku suka membahas yang tidak penting. Terkadang pembahasan penting tuh susah aku ceritakan kembali, dan sadar aku bukan pencerita yang baik juga. Ah, ternyata aku butuh cari keahlian lain nih...

***

Ketika mas Salingga serius sekali dengan temenku yang bunuh diri bahwa dia harus bertindak sebagai seorang ayah, dia berpikir keras kemungkinan itu (bunuh diri) terjadi. Saat itu aku cerita, kayaknya nggak semua pria kayak mas Salingga yang bisa menyimpan dan menyelesaikan masalahnya sesndiri. Lalu aku cerita, aku bukan orang yang bisa menyimpan masalahku, bahkan terkadang jika perlu seantero bisa kuceritakan kegelisahanku agar aku tenang... Lalu mas Salingga memaksaku untuk bercerita kepadanya kalau ada kegelisahan... Terima kasih Mas, aku terharu...

dan aku mempertanyakan sifat laki-laki ku... Haha

Belakangan ini mas Salingga lagi sibuk, tapi selalu ngeledekku terus. Sempet-sempetnya mas.

***

Kopi, ah tidak, malam ini aku minum kopi. Lihat? Aku masih terjaga, dan perutku sakit. Karena disediakannya kopi, terpaksa aku minum. Tapi saat itu aku terkantuk juga sih. Ya sudahlah. Syukuri saja, toh salah sendiri tetep diminumkan? hiks...

Belajar Dari Tukang Parkir

Belajar dari tukang parkir

Mereka tidak pernah sombong memiliki mobil banyak, tak jua merasa kehilangan ketika mobilnya tak ada sama sekali.

Belajar dari tukang parkir.

Bagaimana dunia ini merupakan sebuah titipan bukan suatu kepemilikan, maka tidak akan merasa kehilangan di dalamnya. Karena kehilangan itu menyakitkan.

***

Aku dengar potongan ceramah itu (telah aku ubah penuturannya) dari Almarhum KH. Zainuddin MZ selepas ummi dan abi pergi dari rumah. Bibirku tersimpul sebuah senyuman, dan ah ini setuju banget. Kenapa, kenapa sering merasa kehilangan, kecewa, dan sakit banget? Mungkin kurang belajar dari tukang parkir.

Tidaklah sombong, tidaklah sedih, karena dunia hanya mempersiapkan di kehidupan yang kekal bukan?

***

Kayaknya link postingan ini harus disimpan baik-baik, biar Hilmy sadar kalau lagi terjebak hehe


Tergerus Waktu

Menikah dengan orang yang belum disukai.

Jadi inget, waktu itu ke Bandung. Ngobrol-ngobrol soal nikah sama adek kelas, ah, menikah lagi menikah lagi. Tapi yasudahlah. Kali ini adek kelasku yang bercerita tentang temannya.

Temannya masih kuliah, seangkatan dengan adek kelasku. Tapi, ternyata orang tuanya sudah menerima tamu spesial untuk Lia (sebut saja temen adek kelasku itu Lia). Lia belum diberitahu, ternyata ayahnya setuju dan begitulah Lia dan pasangannya menikah.

Ternyata, pasangannya Lia itu sangat pendiem. Sementara Lia-nya yang agak syok dengan kenyataan dia menikah dengan orang yang benar-benar tidak dikenal dan harus LDR karena Lia masih kuliah sendiri membuat Lia semakin bingung.

Lia ke tempat suaminya terbilang jarang, sementara itu di ponsel Lia jarang sekali dikontak oleh suaminya. Perasaan Lia semakin bingung, ini gimana ya? Aku saja yang mendengernya gemes, lah ini kan si prianya yang mau nikahin Lia, tapi masa gak suka? Masa cuek gitu? Masa gak nanya kabar atau apa?

Lia pun berinisiatif yang memulai semuanya, dari sering mengontak, hingga setiap pulang berusaha ajak ngobrol. Biasanya setiap pulang Lia hanya menyiapkan makan dsb, tapi sedikit sekali interaksi. Dari hari ke hari dan ke hari. Segala upaya dicoba oleh Lia, Lia pun sendiri terus berusaha untuk menyukai suaminya, yang saat itu dia benar-benar belum menyukainya walau sudah menikah.

Hingga akhirnya, sang suami pun luluh, perlahan interaksi terjaga, lalu perhatian-perhatian mulai muncul. Tak jarang mereka pergi berdua. Perlahan-perlahan itu juga Lia mulai menyukai suaminya. Lia dan suaminya pun mulai sebagaimana khalayak umumnya pasangan suam istri. Mereka udah sering romantis dan bercerita ke adek kelasku dengan malu-malu tapi lucu gitu.

Pada akhirnya, rasa suka itu ada, hanya butuh waktu dan pembiasaan.

Rasanya memang unik, menikahi orang yang belum disukai, jika dilihat realita zaman sekarang rasanya aneh saja, seperti perjodohan. Tapi, begitulah mencintai karena Allah kali ya? Karena mereka pasangan suami istri, mau tidak mau mereka harus saling menyukai, mencintai, dan menyayangi dan semua itu karena Allah?

Aku aku tidak paham aaaaa, tapi cerita itu membuatku juga paham, kenapa ummi mau sama abi walau terkejut tenryata abi itu gini gitu toh haha. Gini gitu tohnya itu bukan buruk, tapi ummi belom suka saat itu, hingga akhirnya waktu yang menggerus keraguan itu.

Terus tadi baca twitter temen perihal menyukai atau mencintai. Isinya tuh kurang lebih ada seseorang berkata kepada temenku dia tidak bisa mencintai seseorang sepenuhnya, karena di hatinya cinta kepada Rabb-nya selalu lebih besar dari cinta kepada mahluk-Nya.

Rasanya aku sering denger, tapi tetep aja bisa ngomong langsung begitu keren, gak kebayang godaan syetan gimana yekan~

Ya, jangan salahkan diriku ngomong cinta-cintaan ya, karena akhir-akhir ini obrolan ini benar-benar memenuhi kepalaku. Benar-benar memenuhi... Hiks

Rentetan Hari

Aku bingung mulai dari mana, ingin cerita panjang, tapi tiba-tiba males entah kenapa... Tapi, baiklah kita buka dengan yang baik-baik. Jadi beberapa hari ini tersiar 2 kabar gembira tapi sayangnya harus di tambah 2 kabar kurang baik.

Mari kita mulai dengan kabar gembira. Kabar gembira pertama Willi dan Rika akhirnya Sah menjadi pasangan suami istri. Tanpa disangka perjalanan ke nikahannya menjadi kesan sendiri dan perlahan aku mulai menyukai jogja dan sekitarnya, ternyata bagus juga ya, ada lautan... Bandung mah nggak ada hiks...

Perjalanan ke pernikahan Willi dan Rika pun menjadi pertama kalinya setelah beberapa tahun tidak berpergian keluar kota naik kereta, terakhir pas kuliah itu pun Bandung-Jakarta. Ternyata naik kereta seru juga, ya, ya harganya juga seru sih hiks... Uang mendadak habis sebelum waktunya.

Tapi, di sana, Jogja dan sekitarnya aku benar-benar bahagia. Bisa lihat lautan yang masih bersih, bisa lihat makanan yang masih murah-murah (walaupun di tempat wisata). Bisa lihat gunung-gunung. Ini kayak lagunya Payung Teduh ya, gunung dan laut hehe.

Setelah di awal menikmati lautan, setelahnya gunung. Paket komplit, terlebih melihat nikahannya Willi dan Rika yang, hmm, ya ini sebenarnya semacam referensi yang bagus dari dekoran hingga menunya. Tapi tidak dengan harganya...

Bayangkan, akadnya itu berlatarkan sebuah gunung menjulang tinggi dengan awan-awan disampingnya, Masya Allah, indah sekali, di hadapan gunung dan awan-awan itu ada seorang pria yang gagah mengucapkan ikrar sehidup sematinya, kyaakyaakyaaaa... Kepengen yaa? Hehe

Oke, kembali jadi pria Hilmy. Kami pulang dari resepsi Willi dan Rika, setelah itu kami ke ketep pass, dan ini kedua kalinya untukku, terakhir itu ketika perpisahan SMP. Akhirnya kami pun pulang, sepanjang perjalanan pulang ada pesantren yang memasang banner kecil-kecil selama turunan dari ketep pass. Itu sungguh keren, bacaannya itu bener-bener bermanfaat (bacaan Isalmi) dan bikin penasaran setiap lihat. "Itu bacaannya apa tuh?" Ya begitu kita histeris.

Selama perjalanan terus bicara-bicara soal nikah-nikah, eh eh ternyata ya ternyata, sebelum pulang ke Jakarta, Hannan (salah satu temen lab) ngasih kabar gembira kedua, kalau bulan depan dia nikah sama temennya yang merupakan temenku juga. Wah, aku ikut seneng akhirnya ada temen yang nikahan, temen yang terbilang cukup akrab walau dia pendiam aku berisik.

Hannan nikah bulan depan, dan ternyata dari semua teman-teman seangkatan di lab yang lumayan akrab, aku terbilang yang terakhir dikasih tahu, cukup tau lah ya nan!!! fuuuu. Jadi bulan depan ke Purwokerto nih? Duh, niat mau nabung tampaknya harus ditunda lagi, jadilah harus buat trip lagi sama anak-anak untuk ke pernikahan Hannan, semoga Purwokerto sebagus Jogja ya, kalau nggak mah awas aja...

Pernikahan Hannan nanti menjadi jawaban sendiri untuk Hannan, dulu sering bertanya-tanya, kapan ya nikah? Siapa duluan ya diantar anak-anak lab? Eh tahunya dia duluan, bulan depan akan nikah, prosesnya dari awal ke pernikahannya pun tidak lama. Wah, senangnya ya menanti-nanti hari H. Semoga dilancarkan ya Nan dan calonnya hingga hari H bahkan hingga di akherat kelak. Hehe doakan juga temenmu ini menyusul yak! Hiks...

Dan pernikahan Hannan pun menjadi tabir perpisahan sendiri antar anak lab yang kerja di Jakarta. Setelah sebelumnya keju (Rinaldy) yang akan balik ke Bali untuk menemani ayahnya. Kini Hannan harus pulang ke Purbalingga tempat calon suaminya. Wah semakin sepi ya anak-anak lab angkatan di Jakarta (walau aku sendiri jarang kumpul sih hehe).

Tapi, semoga itu menjadi jalan terbaik buat Hannan dan Keju ya, dan semoga sama-sama sukses dunia serta terpenting Akhirat yaaa!!! Tahan-tahan, tahan air mata... hiks... Oh ya, Hannan dan Keju juga termasuk orang yang jika udah bilang iya, pasti beneran iya, jadi kalau main, kalau mereka bilang iya, pasti harus aku usahain untuk jadi hehe. Tapi, sekarang kalian berdua sudah punya jalan masing-masing. Baiklah! Terima kasih selama di lab dan di Jakarta gais! Mungkin trip ke Purwokerto nanti pertemuan terakhir kita untuk pertemuan panjang berikutnya...

Baik, kita lepas berita baik itu... Perlahan kita beranjak untuk sebuah perenung, apa yang terjadi? Apa yang harus dilakukan? Mungkin kepalaku terus berpikir seperti itu.

Sebelum, sebelum perjalanan ke nikahan Willi dan Rika, ada kabar tak baik, sangat tak baik. Ada seorang temanku, adik kelas di lab, yang terdapati gantung diri di depan kosannya. Awal melihat fotonya dari kak Wahyu, sebelumnya aku tidak tahu itu adik kelasku, tapi aku sempat bilang kalau mirip temenku tapi rasanya tak mungkin, tapi pas buka grup chat lab, ternyata benar.

Aku rasanya serem melihatnya, ada note yang dia tinggalkan. Aku tidak ingin membahasnya lebih jauh, dari sini, aku merasa harus banyak belajar lagi menjadi ayah atau tepatnya orang tua yang baik atau mungkin teman yang baik. Bagaimana menjadi rumah kepada anak-anak yang tengah dipeluk kesedihan dan kegelisahan. Menjadi tempat yang harus mereka kembali ketika sudah begitu lelah menelusuri fana ini.

Aku tak menyalahkan kedua orang tua mereka, tapi melihat hal ini aku merasa betapa pentingnya peran orang tua untuk membuat anak selalu ingat, dia tidak sendirian, ada Allah, ada keluarganya, ada orang disekitarnya yang akan mendengar dan membantu beban-beban sang anak. Hei, ceritalah sedikit (padahal sebelumnya aku ingin bercerita tentang pertemananku bersama orang introvert) tapi melihat ini, kita sebagai teman pun tampaknya harus lebih peka, lebih terbuka terhadap orang-orang yang mungkin butuh tempat cerita.

Semoga kita selalu mengingat Allah ya, dan tetap bertahan, kalau kata Mas Salingga, kurang lebih begini (Hilmy selalu lupa). Hal terberat kita tuh ada di saat titik terakhir malam, disaat benar-benar sebentar lagi fajar. Makanya kita harus bertahan, hingga fajar tiba-tiba datang dan melenyapkan semua kegelisahan itu (oke tampaknya ini agak dilebih-lebihkan). Intinya setelah titik terkritis kita, yang kita rasakan, setelah itu akan terbit sebuah harapan untuk mengikis semua rasa kritis itu. Jadi, bertahan!!!

Kabar buruk kedua, aku masih ingat betul dosen yang negur aku ketika tidur, hingga akhirnya aku dikenal. Aku masih ingat betul dosen yang selalu berusaha mengenal mahasiswanya, bahkan mengajak salaman dan tanpa malu bertanya "Ini siapa namanya? Saya lupa". Dan begitulah akhirnya beliau benar-benar mengenalku hingga sekarang.

Aku masih ingat betul, ketika ke Bandung atau bahkan pas masa-masa Tugas Akhir, beliau selalu bertanya kapan nikah, bahkan mau bantuin nyariin katanya. Haha. Entah itu gurau atau tidak, tapi hanya beliau tampaknya dosen yang sering nginep di kampus. Dan karena beliau juga nilai AI-ku bagus, karena betapa baiknya dan mengertinya dia dengan role model seorang Dosen yang hebat.

Tapi, kemarin aku baru tahu beliau terkena kanker hati stadium 3. Membacanya, membuat aku sedikit terpukul, bicara kanker aku punya kesan buruk ketika kakekku terkena kanker otak stadium 4. Dan aku serta teman-teman kelasku yang selalu sayang dengan beliau mengirim doa terbaik, dan beliau membalasnya melelaui salah temanku. Rasanya sedih, entah kenapa. Semoga Pak Syahrul (Ya itu namanya) lekas sembuh Pak! Bisa dateng ke nikahanku nanti ya pak! Kan bapak yang nanya terus, biar ada jawabannya gitu pak... Biar Bapak juga bisa berusaha mengenal semua anak-anak di kelas bapak lagi, dan berdisuksi abstrak lagi di lorong lab-lab ya pak! Aamiin.

Oh ya, aturan Pak Syahrul juga datang ke nikahan Willi dan Rika karena diundang, tapi setelah tahu kondisinya, pantas beliau tidak bisa hadir dan hanya menitipkan sesuatu untuk Willi dan Rika. Bisa-bisanya sih pak baik begitu pak!? Semoga penyakit yang bapak alami cepat terangkat ya pak, serta menjadi waktu penggugugran dosa ya pak!

Bulan depan mungkin perjalanan ke Purwokerto bakal mampir ke Bandung, semoga kita bisa ketemu Pak.

Ah, Bandung. Rasanya aku tak tahu harus menampakkan apa. Sedih atau gembira? Atau apa? Entahlah. Sebentar saja ya ke Bandungnya...

Lupa Mi

Lalu ummi bete karena nggak dibawain oleh-oleh. Ya ampun mi, maafkan anakmu, aseli bener-bener lupa ini mah. Hiks...

Senin, 23 Juli 2018

Hehe

hehe hehe... Semua terjadi begitu banyak dan begitu saja dalam sekejap bagai angin kencang menerjang, tak tahu apa, lantas membingungkan, kenapa semua bisa terjadi. Eh ternyata angin penyebabnya. Lalu bingung, bener itu angin? hehe hehe

Stasiun

Suara kereta datang berbunyi seperti yang sering aku nikmati, saat itu setengah hari kulalui di kereta. Hingga sang fajar menyembul dan memancarkan cahayanya, kita semua melambaikan tangan dan berpisah.

Terima kasih atas perjalanannya, dari awal hingga akhir. Alhamdulillah kita tiba ditujuan kita semua. Lalu lupakan sejenak obrolan tadi-tadi dan kenang-kenangan lainnya, karena kita punya banyak hal yang harus dikerjakan masing-masing bukan?

Sabtu, 21 Juli 2018

Kemungkinan Terburuk

Suatu hari, berpikirlah kemungkinan terburuk dan sudahlah. Kamu bisa melewatinya atau menghindarinya. Terpenting jangan cari-cari masalah. Tapi aku mencari masalah itu. Sudahlah.

Kamis, 19 Juli 2018

Umi dan Tawanya

Tampaknya suka sekali topik di kantor nyambung dengan obrolan di rumah. Pas di kantor kak Wahyu bilang tentang tabiat wanita yang multitasking bisa ngurus ini itu. Terus pas di rumah umi cerita tentang wanita yang multitasking. Umi cerita dengan antusias dan pembawaan ceria, umi memulainya dengan membicarakan tabiat wanita itu.

"Jadi memang wanita tuh bisa multitasking, bisa masuk, terus nyuci, terus momong anak." Kata Umi yang pembawaannya sambil cengar-cengir. Aku dan abiku masih menunggu kisah selanjutnya.

"Nah, terus, murid umi pernah cerita, jadi tuh ada ya, wanitanya kan mau masak lalu suaminya disuruh momong anaknya tuh. Terus pas dicariin ke sekeliling rumah gak ketemu, eh pas ke kamar mandi, tau taunya yaaa...." Kata umiku yang masih bersemangat, aku menantikan lucu dari cerita ini, karena umiku benar-benar bersemangat sambil ketawa-tawa.

"Tau-taunya..." Lanjut umiku. "Anaknya di ember itu, mati."

Hmm... aku dan abi aku mendadak protes. "Umi mah, ini cerita serem banget, kirain anaknya gimana gimana gitu karena diurus ayahnya, ternyata mati."

Umi aku ketawa saja, memang karakter umi tukang ketawa. "Ya, abis begitu ceritanya, ayahnya malah main hp, gak mau ngomong anaknya."

Aku gemes rasanya. Ah untung umi orang yang selalu ketawa dengan kegaringan anaknya ini.

Tapi tetep, abi aku dan aku tidak terima dengan cara umi bercerita. Lalu abi aku bilang, "Tau gak hil apa hikmahnya dari cerita umi?"

"Apa?"

"Kalau sama umi, cerita serem apapun bisa dibuat ketawa sama umi."

Ya, begitulah umi.

Rumah, Tempat Pulang

Sore itu, entah kenapa aku pulang cepat tidak seperti biasanya, lalu berpapasan dengan Abidah sebelum aku keluar kantor lantas dia bertanya yang kurang lebih intinya begini (ah pelupa sekali diri ini).

"Pulang mi? Emang punya rumah?" tanya Abidah dengan maksud bercanda sambil menyengir.

Aku yang sudah berada di ambang pintu kantor menoleh dan terdiam... Entah kenapa rasanya gak tahu mau jawab apa.

Tiba-tiba di jalanan yang ternyata kosong sekali sore ini kepikiran sebuah jawaban, rasanya pengen jawab begini.

"Selama masih ada orang tua, selalu ada rumah. Dan selama itu juga selalu ada alasan untuk pulang."

Lalu aku mesem-mesem sendiri kalau aku ngomong begitu, percaya atau tidak, otak dan mulutku tidak pernah singkron, aku bukan pencerita yang baik melalui oral. Aku menyadarinya setelah mendengar bagaimana orang-orang di ruangan timku bercerita.

Oh ya, dan kelak kita menjadi rumah bagi anak-anak kita, semoga menjadi rumah yang menentramkan, menyenangkan, menambah kadar iman, selalu dirindukan, dan-dan-dan lainnya untuk anak-anak kita ya. :D

Senin, 16 Juli 2018

Sebuah alasan, Pikiran, Kegelisahan

Semenjak ramadhan aku sering pulang, biasa nginep di kantor atau di lab, kali ini aku memutuskan untuk sering pulang. Jika ditanya kenapa aku ingin pulang? Aku lantas menjawab, ya ingin saja. Lalu pembicaraan terhenti.

Tapi, ketika aku bertanya ke temanku, kenapa nggak mau kerja di perusahaan besar? Lalu dia menjawab, ya karena tidak ingin saja.

Lalu aku menolak, aku yang terlalu ingin tahu lantas menanyakan lagi. "Masa ingin aja, pasti ada alasan."

Dia pun menjawab panjang kali lebar. "Kenapa sih setiap orang nanya ke saya, lalu saya jawab pengen aja, males aja, selalu harus ada alasannya lagi? Padahal itukan sudah menjadi alasan?" Katanya disambung dengan penjelasan tidak inginnya kenapa.

Pada akhirnya ada sebuah alasan bukan?

Belakangan ini, aku meyakini, malas bukanlah kelemahan seseorang. Kata rekan kerjaku, ah aku lupa, setidaknya itu bukanlah kelemahan. Karena ya, itu kondisi pasti yang ada di setiap orang.

Bahkan ada memanfaat malasnya dengan bekerja lebih sistematis dan efisien. Terkadang aku juga berpikir begitu, saking malasnya, bagaimana dengan mengubah A, semua keubah. Sistematis dan efisien.

Terkadang aku juga berpikir, ketika aku seorang pengacau hadir dengan sifat pengacau ditengah-tengah orang-orang pendiam, apakah sifat yang sudah menghinggap lama itu harus berubah mengikuti apa kata pendiam? Aku lalu bingung, aku harus berubah setiap dimana aku berada? Masalahnya sifat seperti itu seolah seperti "bawaan dari lahir" bagaimana manusia terlahir dengan berbagai sifat, jika disederhanakan ada yang ekstrover ada yang introvert, ataupun ambivert. Dan segala detilnya.

Bagaimana? Tentu saja, terkadang, mengacau itu sangat tidak menyenangkan bagi introvert, terlalu berisik, lalu bagaimana nasib ekstrovert yang bisa mati rasa jika dia diam saja? Tapi, bagaimana juga introvert yang bisa mati rasa dengan kebisingan? Lalu suasana hening.

Suatu saat, aku pasti punya ambisi setelah melalui hari-hari tanpa ambisi, tampaknya aku mulai punya ambisi, ambisiku adalah berkeluarga, belakangan ini sering membayangkan jika berkeluarga, jika punya anak nanti pengen tahu anaknya suka apa, mau jadi apa, potensinya dimana? Dikembanginnya gimana? Rasanya tidak semua ingin dimasukan ke pesantren seperti ibu ayahku lakukan, rasanya menjadi seorang pemeras sapi profesional juga bagus, atau peneliti sampah, ah apapun jika ditekuni pasti bagus, enyah dengan orientasi uang.

Dari dulu, aku selalu dengar, ngelakuin tuh yang menghasilkan uang, biar gak sia-sia. Padahal apa-apa yang aku lakukan sekarang adalah apa-apa yang mereka bilang buang-buang dan sia-sia. Tapi, sekarang nyatanya, Alhamdulillah, ada uang yang didapat. Lalu siapa yang salah?

Sekelebat berpikir, apa jika lamaran pertama ditolak aku masih punya malu untuk melamar kedua kali atau tiga, atau empat? Bagaimana pria perasa melewati itu? Tidak harus dipikir tampaknya, lebih baik tidak melamarnya.

Terkadang merasa, selain Allah, kesiapa aku harus bercerita sekarang? Tidak, apa peduli mereka-mereka? Bahkan untuk cerita ke teman yang berpuluh tahun sudah kita klaim sebagai sahabat, tetap saja selalu ada keraguan setiap ingin cerita, apakah mereka peduli? Apakah aku merasakan sebuah kelegaan? Apakah aku mulai ragu kalau kita-kita adalah manusia yang saling peduli?

Dan renungan terakhir waktu itu, jika aku punya ambisi lain, salah satu ambisiku adalah mewujudkan ambisi istriku. Ya, jika aku ditakdirkan mempunyai istri.

Oh ya, apa yang dirasa beberapa tetanggaku yang menikmati harinya sendirian? Terkadang banyak omongan tentangannya karena tidak bekerja, adiknya juga sama, tapi sedikit lebih baik. Aku penasaran, apa yang mereka pikirkan tentang kesendirian dan tidak ada ambisi bekerja seperti itu. Semoga saja aku salah menilai, dan mereka sudah jauh jauh lebih baik. Semoga cepat ditemukan jodoh dan disemangatkan kerjanya ya.

Kenapa? Kenapa jodoh itu begitu penting? Padahal kematian lebih siap. Karena apa-apa yang dilihat mulai memuakkan, nyatanya, mereka seolah bermesraan tapi hati tak tenang tak karuan.

Minggu, 15 Juli 2018

Kehebatanku

Jika ayahnya dia bertanya kepadaku, akan apa kehebatanku? Aku dengan bangga dan fasih serta lantang akan menjawabnya.

"Saya bisa naik motor dari kantor sampai rumah atau sebaliknya sembari tertidur."

Hoam...

Sabtu, 14 Juli 2018

Kopi Sang Penakluk

"Mukamu, My. Kalau lagi kelaparan nggak enak banget, kayak orang marah." - Romi

***

Selepas aku roaming oleh pembahasan desain yang diisi dengan bahasa inggris, aku dan beberapa rekan kantor keluar dan berniat mencari makan. Waktu itu aku sudah menunda makan malamku dan perutku sudah tak karuan. Lalu Romi bilang kalau mukaku gak enak banget saat kelaperan. Hingga sekarang, setiap ketemu Romi selalu bilang begitu. Pfft...

Beberapa hari sebelumnya, aku ngobrol sama temen lama dan ngingetin bahayanya menahan makan dan parahnya maag kalau dibiarkan. Aku, punya riwayat maag, dan sekarang aku menderita karena itu. Dan semua omonganku ke temanku harus aku telan sendiri. Aku tertawa mengingatnya.

Malam itu, perjalanan pulang selalu berat, badan lelah, mata tak kuat. Aku menepi, membeli sebotol kopi, kali ini aku benar membeli kopi. Meminum sedikit, tiba-tiba mata kembali fit dan aku berjalan pulang.

Aku yang berpantangan kopi, karena perutku tak cocok akhirnya menyisakan kopi itu. Ternyata besoknya aku lanjut meminum kopinya, karena pengen minum yang rasa-rasa. Saat itu siang hari, dan aku sudah makan pagi harinya. Tapi, nafsu makanku benar-benar payah siang itu, aku menunda makan. Hingga makan agak sorean, lalu sorenya aku pergi bersama teman-temanku dan akhirnya makan lagi jam setengah 10 malaman.

Namun, setitik saja semua itu terjadi, hingga hari ini aku tersiksa oleh kopi dan telat makan. Seperti pernah ketika puasa aku menahan makan setelah buka hingga tengah malam, langsung saja ke depannya aku menderita...

Pada akhirnya, kemana-mana sedia promag. Sedih sih, karena harus bergantung sama obat gini... Kan bergantung mah sama Allah aja ya? Hehe. Setelah cerita ke ummi perut gak enak karena kopi, ummi langsung ambisius apa-apa suruh cepet makan.

Ummi lebih parah lagi maagnya, harus makan nasi setiap saat, kalau tidak nasi, pasti kambuh. Bicara maag juga jadi keinget teman ospek kuliah, baru kelar ospek, ternyata temenku yang sering kubercandai meninggal karena lambungnya bocor. Menahan makan, banyak sekali orang meninggal karena itu, rasa malas, tidak dipaksakan saat tidak nafsu. Hiks, jaga diri aja belom bisa diriku, apalagi jaga engkau, dek? Haha

Kereta dan Aku

Aku heran tapi aku suka.

Saat berdiri di tepi stasiun, menatap kereta lewat, mata kadang sakit, tapi itu nikmat. Melihat sesuatu melaju, lalu aku termenung. Begitu cepat, sangat cepat kereta itu, menatap setiap orang di dalamnya dalam sekejap, lalu aku tersenyum, bahagianya, entah apa yang bahagia, tapi aku ingin berkata saat itu adalah bahagia.

Saat berdiri, menatap palang kereta tertutup perlahan, terkadang tersendat, terkadang terterobos oleh motor tak bertanggung jawab. Kuping, mendengar, suara rintihan kesedihan, dari balik suara pemberitahuan akan kereta yang datang, aku merasa rindu sekaligus sedih. Aku termenung. Suara itu, terngiang di kepalaku hingga beberapa waktu ke depan.

Saat duduk di kereta, menatap celah gerbong, sebuah jendela memancarkan cahaya, aku menatap cepat pergerakan latar-latar di luar sana, mataku kadang sakit, tapi aku suka, termenung selintas, melihat begitu banyak terlewatkan, seperti waktu-waktu lampau yang telah tiada. Begitu cepat, tapi aku bahagia, aku termenung lagi, membayangkan waktu yang telah berlalu.

Saat aku berlari diantara gerbong, aku selalu teringat bagaimana film-film holywood menampilkan adegan mengerikan, kejar-kejaran dengan kereta, atau melewati lautan manusia di tengah stasiun yang gegap gempita. Aku mendengar suara perpindahan, dari jalur 1 menuju jalur 3, aku berlari, ramai-ramai dengan lautan manusia yang sama denganku, satu tujuan. Menyebrangi gerbong kereta yang tertahan di jalur 2. Hingga saling sikut masuk ke gerbong tujuan, terengah, peluh mengucur, lalu aku tertawa, aku termenung, menatap perjalanan itu dari balik pintu kereta. Betapa bahagianya saat itu.

Aku, menatap dari luar kereta, melihat mereka begitu deras melaju, tak sedetik aku melihat masing-masing paras di dalamnya. Aku yang menunggu palang pintu ke angkat, aku yang dihantam kombinasi kebahagiaan, di tepi kereta, menatap begitu deras laju kereta, palang pintu yang tertahan, dan suara pemberitahuan kereta datang terdengar, tapi, terkadang aku tak suka, aku tak termenung, aku menggerutu benci. Betapa lama sekali palang ini naik? Kapan aku bisa melaju? Lantas aku takut, cerita-cerita kematian, kereta yang menghujam tubuh-tubuh sang korban, tanpa belas kasihan, tanpa pikir panjang. Terkadang aku mulai termenung, bagaimana jika itu aku? Aku lantas ketakutan, dan berhenti menggerutu ataupun menggumam.

Aku ingat betul, perjalanan panjang dalam kereta. Satu gerbong di sewa untuk perpisahan. Perjalanan menuju jogja, dan aku lusa ke jogja lagi. Apa yang aku rindu dari sebuah kereta? Pembicaraan hangat dari sore menuju pagi, saling bertatap, terkadang melongo ke jendela, melihat bayangan dalam gerbong dari biasnya cahaya lampu akan jendela-jendela yang ada. Lalu kita mendekatkan wajah kita ke jendela, terpapar jelas hamparan-hamparan pepohonan di luar sana, kereta memiliki jalur yang unik, walau jarang aku pergi jauh menggunakan kereta, aku menikmati pemandangan kereta, yang tak pernah kulihat ketika menggunakan kendaraan lainnya.

Sederhana saja, aku suka, saat aku bisa termenung. Dan kereta memberi aku luang untuk itu.

Atas Izin Allah

Jika Allah mengizinkan makan ayam siang itu, bagaimanapun yang terjadi pasti makan ayam.

***

Siang itu sepulang dari masjid, ka Ardhi bertanya kepadaku. "Udah makan My?" Aku yang memang belum makan siang dari kantor lantas menggeleng.

Tiba-tiba kak Ardhi cengengesan. Aku menatap heran, lalu dia berkata. "Wah, coba lihat deh ke tempat makan." Biasanya kantor setiap selasa, rabu, jumat ada makan siang, hari ini hari jumat harusnya tidak ada masalah apapun di tempat makan.

Belum genap aku ke meja makan, kak Ardhi sempat menahanku dan menunjuk ke arah ruang dimana aku kerja dan berkata. "Itu ada ayam, berdua sama pak Dayat (salah satu rekan kerjaku juga)."

Jelas aku semakin heran, ini kenapa? Ada apa? Aku tidak tahu apa-apa. Pas sampai aku ke meja makan, ternyata oh ternyata ayam suwir untuk soto telah ludes, tak bersisa, hanya beberapa tulang yang akhirnya kuambil dengan terpaksa dan meringis. hiks.

Ternyata ayamnya habis, dan beberapa orang datang ke tempat makan dan menatap kecewa. Tumben makanan tidak mencukupi? Biasanya berlebih malah... Aku hanya tertawa saja saat itu.

Pas sampai ke ruanganku, setelah mengambil makan seadanya, aku tersadar kenapa kak Ardhi bilang ada ayam dan bisa bagi dua denan pak Dayat, rupa-rupanya karena ayam di meja makan habis toh. Akhirnya ayam kubagi dua dengan pak Dayat.

Aku yang hari rabunya mengeluh kok makanan akhir-akhir ini kurang manteb ya, maksudnya pemilihan lauknya kurang menarik seleraku hingga aku makan sedikit, kadang malas, dan akhirnya aku jadi gak enak badan sendiri.

Namun, disaat makanannya enak, ayam, eh malah habis duluan... hiks...

Sorenya, aku mampir ke kantor sebelah yang diisi oleh rekan-rekan kerja lainnya, kita cerita-cerita hingga mengarah ke masalah ayam siang itu yang habis terus aku cerita yang entah kak Ardhi dapat ayam dari mana lantas memberikannya kepadaku dan pak Dayat. Lalu, sore itu, aku dan mas Latif yang jadi lawan bicaraku, menyimpulkan. "Berarti memang siang itu, Rezeki Hilmy makan ayam. Mau darimana pun itu, rezekinya makan ayam." Aku cengengesan.

"Meskipun aku tidak dapat dari kak Ardhi dan terpaksa membeli ayam karena untuk menambah selera makan, berarti memang siang itu Allah tetep mengizinkanku makan ayam ya?"

Kita tertawa.

Lalu kita main PES hingga maghrib tiba, dan aku menang banyak. Oh ya, semoga istrinya mas Latif dimudahkan proses kehamilannya hingga persalinan dan hingga membesarkanna ya, mas Latif yang sibuk akhirnya gak bisa nongkrong sama anak-anak lagi, malam itu gak jadi makan keluar bareng, akhirnya aku pulang, membatalkan semua janji-janji, duh maaf teman-teman, tiba-tiba gak enak badan menerjang lagi...

Minggu, 08 Juli 2018

Hehe Ngelantur

Kalian tahu? Aku tidak sehebat dia, dan aku tak akan bisa sehebat dia. Karena aku punya jalan hebatku sendiri.

Begitulah cara mudah menjaga asa... lalu aku tergelak, hahahahaha

Hidup bukan untuk dibandingkan, tapi diperjuangkan.

Berjuang Kepada Allah

Hari ini, tumben-tumbenan abi ngomong banyak kepadaku. Bermula dari dengerin potongan kajian di Instagram, ummi mengoceh lalu abi menimpal. Terjadilah obrolan lumayan panjangan dengan abi, walau beberapa senggang, abi terus melanjutkan ceritanya, perjuangannya.

Ah, rasanya malas sekali belajar tuh, aku bukan pembelajar yang baik, tapi aku pembelajar yang licik hehe. Abi dan ummi cerita perjalanan belajarnya yang jauh, dengan kendaraan seadanya dan membandingkan dengan keluhku pagi itu.

Lalu, aku luluh, hatiku yang sedang berkecamuk, luluh dengan kata-kata panjang abiku, aku pun memutuskan untuk menuruti apa kata abi ummi ku. Ya, mungkin akhir pekanku tidak akan pernah gabut lagi, semoga ini menjadi keberkahan sendiri untukku dan orang-orang sekitarku karena nggak akan aku ganggu untuk main dan main hehe

Setelah semua oke, lalu ummi dateng ke kamar, dan berkata. "Kata abi, kalau kamu 2 tahun menyelesaikannya, kamu boleh deh nikah."

Aku mendengarnya, rasanya aku tidak suka, padahal dulu-dulu seneng aja bercanda soal nikah-nikah, tapi kali ini rasanya tidak enak sekali di denger. Mungkin aku mulai muak? Lalu aku menjawabnya.

"Nggak usah, Mi. Nanti mimi niatnya karena pengen nikah lagi ngelakuin semua ini."

Aku yang baru saja dihempaskan akan kekecewaan terhadap manusia, sudah sepantasnya belajar dan mengimplementasikannya, dan ini waktu yang tepat untuk berjuang hanya kepada Allah, untuk Allah. Lah, riya ya jadinya ini?

Sebenarnya ingin menceritakan rantaian peristiwa yang cepat di minggu ini, yang begitu banyak pelajaran buat diriku pribadi, dan catatan ini akan menjadi bukti atau saksi, bahwa karena Allah tidak akan mengecewakan.

Rasanya lelah sekali kecewa-kecewa tuh, apalagi kalau niatnya biar orang menjadi respek terhadap kita. Padahal kata-kata orang yang sering sekali menghalangi kita mendapatkan hidayah. Begitu kata Ustad Budi Ashari di pagi itu yang buat ummi terngiang-ngiang, jangan denger apa kata orang, maka dia akan menghambatmu. Tentu saja orang-orang yang menilai kita tidak dalam kacamata Islam.

Nah, mungkin kalau niat berjuangnya kepada Allah saja, mungkin apa kata orang jadi nggak pengaruh kali ya? Toh, yang kita butuhkan adalah penilaian dari Allah bukan? Sungguh rentetan yang memberi banyak pelajaran untukku.

Ikhlas kepada Allah

Berdamai dengan hati ada formulanya.
Ya, setelah gelisah tiada tara. Ternyata memang semua itu butuh waktu... Terus sabar... Terus memaafkan... Terus bilang ke Allah, tolong dijaga ya Allah. Jangan, jangan terulang lagi, sedikit pun, aku mohon please...

Ikhlas, seperti surat al-ikhlas yang tidak terselip pun kata ikhlas di dalamnya, tapi ikhlas. Ikhlas itu jauh, jauh lebih sulit... Kalau sabar kadang masih bisa tersulut emosay, tapi kalau ikhlas harus benar-benar merelakan apapun itu... Kalau bersyukur itu gimana? Sama-sama rela gak sih?

Apa jenjangnya bersabar, bersyukur, lalu mengikhlaskan? Ya intinya tuh dari sabar... Biar waktu yang menjawab pertanyaan-pertanyaan, sakit-sakit, dan kebimbangan-bimbangan di masa sulit itu. Karena semua pasti pernah berada di titik sulit bukan?

Nah, justru orang hebat tuh bukan orang yang berhasil, kalau bagiku, orang yang bisa bangkit dari jatuhnya. Entah kenapa, selalu berpikir, mendapatkan itu mudah saja, tapi menjaganya itu susah, apalagi kalau terjatuh, bangkitnya itu perjuangan banget...

Pernah dulu kecewa banget sama diri sendiri, menatap sedih temen-temen yang udah sidang, sementara aku belum padahal diniatkan untuk lulus lebih cepat, terus kalah di lomba, rasanya demotivasi banget, jatuh banget... Tapi, kebangkitan itu rasanya nikmat sekali ternyata... Apalagi comeback, epic comeback setelahnya!!! Luar biasa hehe

Ya, jadi sabar, waktu terus bergulir, berpikir positif... Susah emang, ngomong mah gampang, pas terjadi, ya Allah kumaha ieu teh? Kok perih sekali hati, rasanya nggak sembuh-sembuh, rasanya kayak dihempaskan begitu saja.

Tapi, orang ingin mendapatkan kenikmatan selalu butuh perjuangankan?

Jadi siapa yang mau aku perjuangkan? Sini sini... Lah eh... Haha

Berakad kepada Allah

Malam itu, dingin sekali rasanya. Setelah pesakitan di malam sebelumnya, ternyata malam ini juga sama payahnya. Perjalanan Ragunan-Cileungsi harus ditempuh dengan rasa dingin tak karuan, selain cuaca yang dingin rupanya hati pun dingin.

Rasanya berdamai dengan hati itu ternyata ada rumusnya sendiri. Pernah satu waktu, aku berusaha untuk menjadi lebih baiklah istilahnya. Alih-alih berharap juga ada orang yang ikut berubah dengan berusahanya aku berubah.

Tapi, setelah lama waktu ditempuh, saat berjumpa kembali dengan orang itu, ternyata aku dipukul telak malam itu, ya malam yang dingin. Kupikir semua telah berubah, kupikir aku sudah berusaha tapi harapanku berantakan.

Saat itu aku sadar, ada yang salah dari semua skenario ini, rupanya hatiku telah salah berniat. Rasanya semua itu mudah sekali dihancurkan dalam satu malam saat tahu ternyata semua terlihat masih sama, walau aku tak tahu yakin bagaimana sesungguhnya.

Lantas saja, aku mengambil dalih, mencari alasan akan siapa yang harus aku salahkan. Jauh, jauh malam terselami. Aku sadar, semua dalih itu semua orang yang aku salahkan tak lain hanya korban dari jatuhnya harapanku sendiri.

Rupanya selama ini aku salah menaruh tujuan, berharap ada orang yang berubah, tapi harapan itu tertumpu kepada manusia itu. Saat aku melihat semua tetaplah tidak berubah, disitulah Allah menunjukkan kuasa-Nya dan memperingatiku.

Perlahan aku merenung, jadi selama ini aku berubah karena berharap orang itu ikut berubah? Ah sial, rupa-rupanya aku salah berniat, seandainya aku menaruh harapan itu kepada Allah dan berharap seseorang itu berubah karena Allah, pasti mau seseorang itu berubah atau tidak aku tidak akan kecewa seperti jatuh nan sakit gini, tapi aku akan lebih giat lagi berdoa dan berbuat lebih baik  serta terpasti berharap kepada Allah agar orang itu berubah.

Ternyata masalah niat benar-benar bisa mengacaukan segalanya. Bagaimana malam itu bilang, hilang semua amalan jika niat itu salah atau tidak karena Allah. Dan mungkin diawal niat kita sudah benar, tapi namanya setan tidak pernah berhenti menggoda manusia terus menerus. Lama kelamaan, berubah deh niat itu, hilang deh amalannya, sayangkan? Iya sayang banget :(

Mungkin itu yang dimaksud mencintai karena Allah, berteman karena Allah, dan apa-apa melibatkan dengan Allah. Karena, jika tidak, ya begitu, hanya kecewa dan hilangnya amalan-amalan itu. Kan sedih banget, misal udah sekuat hati serta tenaga setiap malam bangun tahajud, tapi karena diakhir dia menceritakannya dengan bangga/riya, hilang semua amalan setiap malam... Begitulah, cerita di malam itu...

Rasanya sakit ini semakin menjadi, ya apa daya, memang seharusnya berhati-hati dalam segala hal yang dilakukan, dan selalu melibatkan dengan Allah, insya Allah berkah dan tidak kecewa hiks...

Semoga Allah juga yang menyembuhkan rasa sakit ini, kekecewaan ini, dan selalu menjaga dari hal ini agar tidak terulang lagi hikss. Aamiin...

Sabtu, 07 Juli 2018

Aku yang ingin ketidaktahuan

Aku yang ingin ketidaktahuan
Biarkan aku tidak menerka-nerka
Walau harus tanpa kalian
Biarkan aku menjaga mengurangi kegelisahaan yang ada

Biar aku yang berjuang
Agar terbiasa dengan kesepian
Mungkin ini dosa yang harus kubayar
Pria pengecut yang lari dari pertemanan

Aku tahu, tiada maksud dari kalian
Hanya saja aku bukan seorang cenayang
Senantiasa paham apa-apa yang kalian pikirkan
Hingga sampai aku jatuh sendiri dalam keraguan terngiang-ngiang

Biarkan, biarkan pria pengecut ini merintih ketiadaan
Karena perbuatan buruk harus diganjar hukuman
Semoga saja semua ini berakhir cepat
Agar kita saling tahu bahwa tak terbesit sedikit kesakitan yang harus dirasakan

Beribu alasan coba kupastikan
Biar waktu terjenjang begitu panjang
Hingga kita lupa akan apa-apa yang sudah berjalan
Dan semoga Tuhan mengampuni apa-apa dosa yang kian terbayang

Ditengah Malam

Aku benci sepi, aku rasa bisa gila saat sepi. Enyahlah! hikssss Tapi nanti mati sepi ya, sendirian, hiksss. :(

Aku masih seorang bocah, aku seorang bocah, aku seorang bocah.

Jadi bagaimana hidup sendirian? Kenapa kalian bisa tapi aku tidak?

Banyak, banyak sekali buku disini, tapi aku tidak tertarik

Dosa, dosa seolah sedang menghukumku, ingatan masa lalu menakutkan seolah tertayang kembali, dan aku geram rasanya!

Biarkan, biarkan kalian, hantu masa lalu, menjauh, tidak, aku masih belum bisa berdamai dengan semua itu. Tidaaaak!!!

Seandainya aku bisa sehebat kaian menjadi orang-orang yang pandai menyimpan kegelisahan itu, seandainya... Dan sekarang aku menahan napasku. Haaaahhhh hehe

Hey, Hilmy, kamu cowok, kok perasaan banget sih!? arghhh gemessshhhhh

Orang-orang sudah jauh memikirkan hal-hal hebat lainnya, dan kamu masih terjebak di sini aja? Penuh alibi kamu Hilmy.

Pada akhirnya kamu lari di tempat, atau lebih tepatnya berputar balik, aku tergelak. Hahaha

Pulang

Sejauh kemana pun aku pergi, pada akhirnya, aku benar-benar ingin pulang. Kepangkuan, dengan segelas teh hangat, dan bercengkrama tawa.
*

Akhir pekan ini aku berjumpa oleh teman kampusku yang ingin sekali aku ceritain di sini, karena dia berhasil membuatku tersentak oleh kata-katanya.

Namanya keju, itu nama panggilannya, nama aslinya Rinaldy. Tanpa disangka dia salah satu teman pertamaku di kampus dan ternyata kita sampai sekarang tetap akrab, dibanding aku kepada teman-temanku pertama di kampus lainnya.

Keju orang yang pendiem, pendiem yang konsisten dari awal hingga sekarang. Orang yang selalu bisa diandalkan dan memegang teguh kata-katanya, makanya aku selalu menghargai setiap main sama dia, aku pasti dateng jika dia sudah mengiyakan.

Keju sangat suka fotografi, bahkan dia rela fotoin setiap main, videoin setiap main hanya untuk berkarya dan kami sangat berterima kasih dan menikmatinya. Bahkan terkadang dia jadi tukang foto kita-kita pas lagi main. Maaf ju.

Namun, belakangan ini dia terkena musibah besar, ibunya meninggal, beberapa minggu yang lalu, sebelum lebih jauh mari sama-sama kita doakan agar almarhumah ibunda keju diterima disisi Allah, semoga amalan baiknya di dunia dilipat gandakan, dan kesalahan-kesalahannya dihapuskan serta semoga keluarga yang ditinggalkan dikuatkan. Aamiin.

Berita itu memang sungguh mengejutkan, keju memang tidak pernah cerita kalau orang tuanya mengalami sakit, jelas karena dia orang yang pendiam. Tapi, karena kami sudah cukup akrab, terkadang dia suka bercerita, tepatnya akhir pekan ini.

Kami yang terlibat sebuah proyek akhirnya bertemu lagi setelah beberapa bulan tak berjumpa karena aku yang melarikan diri dari teman-teman karena suatu alasan. Setelah persitiwa duka dari keju, ternyata keju pun membuat heboh diriku.

Keju yang aslinya bertempat tinggal di Bali, akhirnya memutuskan resign dari kantornya—di Jakarta—bulan depan dan berniat balik ke Bali untuk menemani ayahnya yang sendirian dan ingin ikut dagang membantu ayahnya.

Saat mendengar itu, aku terkesiap, keju termasuk orang yang santai dan gigih, dia pandai berdagang walau pendiem. Tapi, keputusan itu membuatku benar-benar terkejut. Aku pikir, kakak perempuannya—mereka dua bersaudara—yang seharusnya pulang, tapi ternyata keju lebih, ah tidak, dia jauh lebih hebat dariku. Dengan hebatnya dia berkata.

“Gue kan cowok, kewajiban gue yang ngurus orang tua, kakak gue nanti kan kalau nikah dibawa suaminya.”

Aku, terdiam seketika.

Mendengar keputusan keju untuk pulang ke kampungnya, untuk berhenti dari kantornya sebagai programmer dan meneruskan usaha ayahnya sebagai pedagang benang dan berencana membuka sebuah konveksi adalah manuver besar.

Tapi, entah kenapa aku selalu yakin dengan keju, keju yang gigih pasti bisa memperluas bisnis ayahnya itu, terlebih keju memang passion dibidang pakaian. Namun, tetap saja ini terlalu... terlalu cepat.

Jika melihat keyakinan itu, aku merasa malu. Benar-benar malu, mengingat aku yang malas pulang, mengingat aku yang ingin buru-buru menikah, padahal aku belum banyak berbakti dengan orang tua, tapi aku sudah ingin melepas diri lagi saja.

Apakah aku harus perlu ditegur besar-besaran oleh Allah agar aku sadar makna kenikmatan pulang itu? Beruntungnya, Allah memberikan kenikmatan pulang itu selama ramadhan. Aku jadi terpikir saat keju bilang akan pulang ke Bali bulan depan dan meninggalkan Jakarta, dan meninggalkan kami teman-teman kampusnya serta teman mainnya.

Aku jadi kepikiran, kalau sekarang aku benar-benar rindu pulang. Sayangnya hari ini aku tidak bisa pulang ke rumah, aku pulang ke rumah nenekku, ya sama saja, tapi entah kenapa aku rindu pulang ke rumah. Entah kenapa aku selalu menunggu waktu selepas subuh. Saat Ummi teriak dari ruang tengah. “Siapa yang mau teh?”

Dan aku serta adik-adikku berseru “Mau.”

Lalu kami meminum teh yang selalu panas, tapi sekarang Ummi buat teh untukku yang sudah dicampur air biasa jadi tidak terlalu panas. Terkadang ditengah minum teh selepas subuh itu kami bercerita, entah aku, entah ummi, entah abi, atau aufa. Kalau Ahmad? Terkadang tidur lagi.

Cerita macam-macam, entah ledekan pernikahan, masalah pesantren aufa, dengerin ceramah bareng-bareng dan pasti ada masa dimana pas dengerin ceramah saling bilang. “Tuh! Tuh! Tuh mi, tuh fa, tuh bi, tuh hil!” Ya biasa saling tunjuk.

Tak jarang Ummi terlawa lepas, ah rasanya bahagia sekali punya Ummi yang mudah tertawa, bahkan candaanku yang selalu garing pasti Ummi pasti selalu tertawa. Parahnya, pernah Aufa membuat banyolan dan Ummi tertawa hingga pipis dicelana... ups... Bisa gitu ya? Aku sampai tergelak tak karuan waktu itu.

Aku juga kangen sepulang kantor mendusel ke Ummi entah Ummi berada dimana, terus Ummi pasti cerita... “Kamu tuh ya Hil dulu tuh blablablabla...” Ya, biasa menceritakan masa kecilu yang hanya 2 tahunan bersama Ummi.

Rasanya, ah, rasanya momen ini selalu kunanti dan selalu membuatku ingin pulang dan tahu makna pulang. Tapi, mungkin keju tidak seberuntung aku sekarang, dia harus mengikhlaskan ibunya dan berusaha keras merawat serta berbakti kepada ayahnya. Beruntung, keju orang yang tenang, dia tidak gampang misuh-misuh sepertiku atau menyesali apapun, dia seolah tidak terjadi apa-apa walau baru saja ujian besar menimpanya.

Ketika kutanya soal mengejar mimpinya? Dia masih bersikeras untuk pulang ke bali dan bekerja santai bersama ayahnya.

Mungkin sekarang aku belum benar-benar mengerti kenapa keju bersikeras pulang ke rumah, tapi aku tahu kenikmatan pulang itu. Ah, semoga sebulan terakhir ini kita bisa terus menjalin persahabatan yang baik dan saling mengingatkan ya, ju. Semoga kita juga sama-sama sukses di jalan Allah.

Aku tidak sabar ju ente mengirim undangan. Jangan lama-lama ya, nanti keburu didahuluin orang hehe.

Jumat, 06 Juli 2018

Mewarnai

Ideologi yang kuat pasti mewarnai bukan diwarnai. Jika sekarang kita diwarnai terus oleh ideologi lain, berarti ideologi kita belumlah kuat.

self reminder

***

Kamis, 05 Juli 2018

Perjalanan Zombie

Di bawah langit yang ku tak tahu berbulan atau berbintang, karena aku zombie sepanjang jalan.

Rasanya, aku tak habis pikir, selalu tak habis pikir. Perjalan pagi ini ke kantor, dan malam ini ke rumah seolah aku tertelan tak tersadarkan layaknya zombie, berjalan begitu saja.

Emang dulu aku sering tertidur setiap ngendaraib motor waktu SMA, tapi sampai sekarang aku juga tak benar-benar mengerti rasanya seperti tiba-tiba sampai saja, atau tiba-tiba mau nabrak aja.

Pagi ini dan siang ini lengkap sudah, padahal paginya berjalan di bawah terik matahari menyengat, harusnya aku kegerahan bukan ketiduran. Malam pun tak nyaman-nyaman amat untuk tidur, tapi aku tertidur.

Sepanjang jalan, aku seperti tidak merasakan apa-apa, paling sesaat ngeh lagi dimana, atau mau nabrak, lalu tiba tiba sampai.

Jika bukan karena Allah masih sayang, itu sebenarnya ah, habis sudah haha.

Pertanyaan, kenapa aku selalu ngantuk pas bawa motor? Ini bahaya sekali... Hiks.

Selasa, 03 Juli 2018

Tamasya Ke Kebun Binatang

Aku tidak pernah tahu, apa masalah kecoa dengan diriku? Rasa-rasanya tidak ada keinginan atau impian untuk mengganggu mereka, tapi kenapa mereka selalu menggangguku?

Malam itu di kantor, aku selalu mendapati kecoa sudah dengan percaya dirinya mejeng di kamar mandi-kamar mandi. Mereka siang tidak ada, tiba-tiba malam muncul begitu saja. Dari satu kamar mandi ke kamar mandi lain mereka selalu ada, luar biasa.

Namun, ada satu kamar mandi, kamar mandi kecil di ujung, biasanya tidak ada kecoa. Lalu aku menyalakan lampu kamar mandi, dan, ah, aku rupanya sedang bertamasya ke kebun binatang. Bisa-bisanya seekor kodok yang cukup besar mejeng di toilet duduk.

Habis sudah diriku, dimana aku harus buang air? Salah apa aku hey kecoa dan kodok-kodok? Mana kucing kantor entah tak pulang-pulang, mungkin dibuang, hiksss...

Jadi aku harus buang air kemana sekarang?

Musik Minggu Ini

Perjalanan rumah-kantor, atau bisa disebut cileungsi - depok, selalu menunggu beberapa lagu yang rasanya pengen didenger terus belakangan ini. The 1975 lagunya memang tidak mengecewakan, Tak pelak maroon 5, panic at the disco, dan di tambah Kygo yang featuringnya belakangan ini membuahkan lagu yang amat enak ditelinga, sekarang mereka bersama Imagine Dragon!!! Maka dari itu aku ingin berbagi playlist beberapa hari ini yang menemani cileungsi - depok. Selamat menikmati!!!





Minggu, 01 Juli 2018

Sore Bersama Abang Cukur

Sore itu, aku duduk di depan tukang cukur, pertama kali aku cukur di komplek perumahaan setelah 4 tahun berlalu, terakhir mungkin pas aku mau masuk kuliah. Aku duduk disana dan memang cukurnya sangatlah sedikit, ketika dicukur abangnya cukup ramah, dia mengajakku berbincang.

"Kerja apa kuliah mas?"

Aku menjawab sejujurnya. "Kerja Mas."

"Oh kuliah, eh apa kerja?"

"Kerja, Mas."

"Oh kerja, kirain kuliah, kerja dimana?"

"Depok, Mas."

Lalu abangnya berbicara yang lain, soal motogp yang sebenarnya nggak aku ketahui. Dari situ aku tersenyum, wah berarti aku masih terlihat anak kuliahan, eh... Hehe apa aku yang kegeeran? haha

Biarkan Aku Merindu

Bolehkah aku merindu? Untuk orang yang telah tiada? Untuk penyesalan yang pernah kuperbuat? Untuk kepayahan diri ini atas segala bentuk kejadian yang terjadi sebelumnya? Masih pantaskah aku merindu? Barang sedetik saja, biarkan aku merindu?

Aku tak sengaja membaca kembali tulisan hatiku tahun 2015, saat itu, aku tersadar betapa payahnya aku ini menghadapi serta menyikapi perihal keluarga. Hingga aku tumbuh dengan sedikit penyesalan yang harus kubenahi.

Biarkan aku mengingatnya untukmu, disini, penyesalan itu.