Jumat, 31 Januari 2014

Tokoh Fiksi

Jika aku tokoh fiksi, maka aku memilih untuk menjadi penjahat psikopat seperti Joker.

*

  Terlalu kebanyakan rasa putus asa. Terlalu banyak menonton film dengan adegan keji. Terlalu banyak cerita tentang obat penenang. Terlalu banyak kamuflase. Terlalu banyak dicekokkan hal semacamnya membuat aku berpikir, membuat tokoh yang mengalami keterbelakangan mental seru ya, tentu saja, seorang yang psikopat.

  Tak jarang tokoh-tokoh yang psikopat muncul di film-film atau cerita lainnya. Salah satu tokoh yang terkenal adalah Joker.  Bagaimana peran Joker membuat aku terpukau. Ya, bagaimana dia bisa membuat sang Batman kewalahan dengan aksinya yang tak pernah dipikirkan.

  Seorang psikopat memang tak sepenuhnya gila, ia sadar namun ada hal yang unik dari mereka. Ya, bagaimana cara mereka berpikir. Bahkan jika diperhatikan dalam film Batman, Joker lebih terlihat pintar dari sang tokoh utama tersebut.

  Sejatinya itu hanya pendapat aku sewaktu menyaksikan film itu. Bahkan dari penelitian oleh seorang ahli psikopat menyatakan seorang psikopat selalu membuat kamuflase yang rumit, memutar balikan fakta, fitnah, pembohongan hanya untuk kesenangan dirinya.

  Menurut aku pribadi, tokoh dengan sifat itu sangat memukau. Ya, belakangan ini aku menjadi pecandu misteri kriminal yang alur ceritanya berliku dan sulit ditebak. Bahkan ketika kau diujung alur itu, kau tak akan bisa menebak siapa pelakunya.

  Terakhir kali, saya baca tulisan baru dari J.K Rowling, ya novel kriminal pertamanya. Entah pada akhirnya pembunuhnya bisa dikatakan psikopat atau tidak. Tapi, dari sifatnya kurang lebih begitu. Menebar fitnah, kamuflase yang rumit.

  Entah kenapa saya jadi kepikiran untuk benar-benar membuat seorang tokoh yang memiliki sifat psikopat yang bisa menghancurkan satu negara karena ulahnya. Ya, itu hanya opini. Saya tak tahu bagaimana alurnya berjalan sampai membuat kalian ingin muntah karena membacanya.

  Sebenarnya masalah tokoh psikopat, sepertinya sekarang sudah lazim. Tak sedikit orang memasukan tokoh itu sebagai tokoh kejahatan yang keji dan sebagainya. Selain sangat hebat dijadikan sesosok yang jahat, psikopat juga sempurna membuat kalian pusing, ya tentu saja cara berpikirnya yang rumit.

  Tapi, sebenarnya bukan kalian yang pusing. Namun, para penulislah yang pusing, bagaimana mereka harus berpikir seperti seorang psikopat. Bagaimana dia harus menciptakan tokoh yang kuat dan berefek yang signifikan tentunya saja menciptakan konflik yang hebat dengan berbagai pemikiran yang buat orang bingung.

  Jadi, saya benar-benar suka tokoh dengan sifat psikopat atau gangguan jiwa lainnya. Mungkin karena saya rada keganggu jiwanya oleh kabar-kabar buruk itu. Entahlah, kuharap Joker itu tak pernah ada. Jika ada, maka pasti dia bukan seorang yang membawa senjata ke bioskop di negara sana. Ya, kalian tahu sendiri bukan?

Indikasi

  Sejatinya Tuhan telah memberikan tanda-tanda untuk selanjutnya.

*

  Kita memang tak pernah tahu apa yang terjadi sepersekian detik selanjutnya. Tapi, Tuhan selalu memberikan kita petunjuk. Memberikan kita arah. Sebuah hal yang tak pernah terduga sepertinya bisa kita perkiraan. Walau tak selalu tepat, tapi selalu ada tanda-tanda yang tersedia untuk apa yang terjadi selanjutnya.

  Begini, mungkin kita bisa memahami bukan? Jika kita terus belajar, maka kita akan pintar. Bukankah terus belajar adalah indikasinya dan pintar adalah takdir berikutnya. Ya, tak semuanya semulus. Terkadang kita sudah mengetahui segala indikasi itu tapi ternyata apa yang kita perkirakaan gagal. Tentu saja, itu pasti terjadi. Hidup ini tak ada yang mustahil.

  Belakang ini saya mendapatkan kabar buruk, ya buruk sekali, membuat saya limbung di tengah hujan yang tak henti-henti sepanjang januari. Setelah saya mendapatkan liburan yang kurang mengenakkan, ya saya mendapatkan indikasi kabar buruk itu.

  Jika kita urutkan, mungkin semua tak seperti apa yang terjadi selanjutnya. Terkadang begitu saja terjadi, begitulah yang kita pikirkan. Padahal sejatinya Tuhan telah memberikan tanda-tanda itu kepada kita. Hanya kita saja yang terus menutup mata kita sendiri.

  Setelah berita buruk tentang kakek yang ternyata kena kanker otak dan sudah mencapai stadium 3, lalu di tambah ekonimi orang tua yang belum membaik, banjir yang melanda sekitar tempat tinggal, liburan yang muram, bertemu teman yang enggan, dan berantem dengan ayah.

  Mungkin semua kabar buruk itu tak ada hubungannya dengan kabar buruk yang paling membuat hati hancur lebur. Ya, mungkin tak ada hubungannya, atau mungkin kita tak pernah tahu hubungannya? Tuhan telah membuatku menjalankan perjalanan yang berat, dan sayangnya aku tak pandai bersyukur dan terus mengeluh. Pada akhirnya Tuhan telah menyiapkan hadiah untukku. Mimpi buruk yang lebih besar. Sangat besar. Membuatku harus terus belajar, bahwa bersyukur masih penting dari setiap langkahku.

  Sebenarnya aku bukan tak bersyukur, tapi terkadang aku jerah dan suka ngeluh. Ya, ibuku sering menasehatiku terus bersyukur, tapi itu, terkadang membuatku semakin stres. Sejatinya aku tak pernah tulus melakukan itu sampai akhirnya hadiahku kudapatkan.

  Waktu itu aku sedang asyik ngobrol bersama teman di kamar, berbincang nggak jelas, terus sebelum ngobrol paginya aku mimpi yang semakin tidak jelas. Kacau tak menentu. Tak lama ponselku berdering, seorang kurir menelponku.

  Lantas bilang rumahku tak ada orang, paket itu untukku. Aku mencoba bertanya seperti apa paket itu, lantas kurir itu menjelaskan adalah sebuah buku. Aku pun terdiam, jantung seolah ingin melompat. Saat pertanyaan kedua kulontarkan, dari mana paket itu? Aku langsung seolah terjun ke jurang.

  Ya, paket itu dari sebuah penerbit yang beberapa bulang lalu aku kirimkan sebuah naskah. Apa artinya? Ya, tentu saja itu penolakan. Pengembalian naskah. Akhirnya paket itu dititipkan pada satpam di pos 4 di komplek perumahaanku.

  Aku memang belum buka paketku itu, tapi aku sudah mendapatkan segala indikasi yang menyimpulkan kali ini aku gagal lagi. Ya, sedih memang. Tapi orang di sekitarku selalu bilang, masih banyak jalan menuju Roma. Ya, walau aku tak ingin ke Roma, aku ingin ke Turin--sejatinya aku fans Juventus.

  Ya, aku sudah mendapatkan semua indikasi itu. Aku pun sudah menyimpulkan. Walau aku belum tahu pasti apa isi paket itu, tapi kecewa sudah menyelimuti perasaan ini. Jika bicara liburan terbaik, mungkin ini bisa dibilang terburuk. Tapi, di suatu sisi terbaik.

  Kenapa terbaik? Mungkin ini indikasinya, bisa melihat kakek tertawa dari segala pendertiaannya. Kupikir aku harus bersyukur beliau masih bisa menertawaiku. Indikasi kebahagiaan selalu sama, saat kau bisa bersyukur. Itulah kebahagiaan yang selalu kau tutupi.

Kamis, 16 Januari 2014

Bosan

  Saya bukan tak tahu untuk melakukan apa. Tapi, saya ingin melakukan banyak hal dalam suatu waktu. Sampai pada akhirnya saya males dan tak melakukan apapun.

  Banyak hal terjadi dalam satu waktu. Banyak masalah tiba dalam satu waktu. Banyak cerita dalam satu waktu. Banyak pikiran dalam satu waktu.

  Saya Bosan. Tak tahu kenapa. Bosan saja.

  Saya kesal. Tak tahu kenapa. Kesal saja.

  Saya butuh liburan. Enah kemana. Sungguh ingin.

Sabtu, 04 Januari 2014

Pecutan

"Dia yang memecutku suatu kecil, sungguh dia pasti sungguh menyayangiku."

  Aku pikir terlalu banyak cara orang untuk menunjukkan kasih sayang kepada orang lain. Sungguh, banyak sekali bukan? Bukan tak mungkin dengan satu pecutan, sejuta kasih sayang tersalurkan. Kenyatannya, apa yang kau lihat tak pernah berbanding lurus akan apa yang ada di pikiran serta hatinya.

  Itu sebuah kata-kata kuno, jangan melihat seseorang dari penampilannya. Lihat dari hati dan cara berpikirnya. Tak ada yang salah dari kata-kata itu, tak salah sedikit pun. Aku pikir saat beliau memecutku, beliau sungguh jahat padaku. Begitu jahat.

  Tapi, setelah waktu berputar begitu deras. Ocehannya, pecutannya, kini begitu bermakna. Sekarang aku bisa mendefinisikan apa yang diingkan beliau. Apa yang beliau pinta adalah kebaikan. Dan saat itu aku menjadi seorang penjahat yang mengingkari kebaikan.

  Bukankah penjahat pantas mendapatkan hukuman? Mungkin saat itulah aku layak mendapatkan pecutan. Hukuman antas pembangkangan yang aku lakukan. Kebaikan yang seharusnya terlaksana dengan mudah. Aku hanya mempersulitnya.

  Kini usianya semakin menua, tak bisa dipungkiri banyak kisah yang terjadi. Kebaikannya sudah tak bisa dipungkiri. Ada satu yang kurang dari cerita ini. Ya, akhir di mana aku menunjukkan kesuksesan di hadapannya. Lantas tertawa bersama di tengah kebahagiaan.

  Tapi, itu hanya di film-film. Walau tak bisa dipungkiri di dunia fana ini bakal terjadi pula. Tapi, oh Tuhan beri aku sedikit waktu untuk mewujudkan itu. Membuatnya bangga yang telah mendidikku, mengasihiku, memberikan segalanya hanya untuk pertumbuhan serta kebaikanku.

  Aku terus berdoa untuk beliau. Kesehatan semoga menyelimutinya. Kebaikan untuk segalanya. Ampunan untuknya dan segala-galanya. Sekarang ini aku terdiam di tengah hening. Menyaksikan sebuah kabar duka yang tersentak begitu saja.

  Bukan awal tahun yang sebagaimana mestinya--gembira. Beliau semakin hari semakin melantur. Omongannya sudah tak sesuai dengan lawan bicara. Terkadang aku takut melihatnya, takut apapun yang terjadi.

  Bahkan terkadang aku ingin hidup sendiri. Tak ada yang mengenali dan kukenali sedikit pun. Setidaknya aku tak akan merasakan kehilangan yang menyedihkan. Kuharap itu tak pernah terjadi. Walau sesungguhnya suatu saat itu pastilah terjadi.

  Minggu, aku tak tahu apa yang terjadi di minggu pertama tahun ini. Beliau terus bertanya kepadaku. "Kamu tak pulangkan hari minggu?" Entah apa yang kurasa, aku ingin berjumpa dengannya hari minggu. Aku tak tahu apa yang akan terjadi. Hanya berdo yang terbaiklah yang terjadi. Aamiin.