Sabtu, 04 Januari 2014

Pecutan

"Dia yang memecutku suatu kecil, sungguh dia pasti sungguh menyayangiku."

  Aku pikir terlalu banyak cara orang untuk menunjukkan kasih sayang kepada orang lain. Sungguh, banyak sekali bukan? Bukan tak mungkin dengan satu pecutan, sejuta kasih sayang tersalurkan. Kenyatannya, apa yang kau lihat tak pernah berbanding lurus akan apa yang ada di pikiran serta hatinya.

  Itu sebuah kata-kata kuno, jangan melihat seseorang dari penampilannya. Lihat dari hati dan cara berpikirnya. Tak ada yang salah dari kata-kata itu, tak salah sedikit pun. Aku pikir saat beliau memecutku, beliau sungguh jahat padaku. Begitu jahat.

  Tapi, setelah waktu berputar begitu deras. Ocehannya, pecutannya, kini begitu bermakna. Sekarang aku bisa mendefinisikan apa yang diingkan beliau. Apa yang beliau pinta adalah kebaikan. Dan saat itu aku menjadi seorang penjahat yang mengingkari kebaikan.

  Bukankah penjahat pantas mendapatkan hukuman? Mungkin saat itulah aku layak mendapatkan pecutan. Hukuman antas pembangkangan yang aku lakukan. Kebaikan yang seharusnya terlaksana dengan mudah. Aku hanya mempersulitnya.

  Kini usianya semakin menua, tak bisa dipungkiri banyak kisah yang terjadi. Kebaikannya sudah tak bisa dipungkiri. Ada satu yang kurang dari cerita ini. Ya, akhir di mana aku menunjukkan kesuksesan di hadapannya. Lantas tertawa bersama di tengah kebahagiaan.

  Tapi, itu hanya di film-film. Walau tak bisa dipungkiri di dunia fana ini bakal terjadi pula. Tapi, oh Tuhan beri aku sedikit waktu untuk mewujudkan itu. Membuatnya bangga yang telah mendidikku, mengasihiku, memberikan segalanya hanya untuk pertumbuhan serta kebaikanku.

  Aku terus berdoa untuk beliau. Kesehatan semoga menyelimutinya. Kebaikan untuk segalanya. Ampunan untuknya dan segala-galanya. Sekarang ini aku terdiam di tengah hening. Menyaksikan sebuah kabar duka yang tersentak begitu saja.

  Bukan awal tahun yang sebagaimana mestinya--gembira. Beliau semakin hari semakin melantur. Omongannya sudah tak sesuai dengan lawan bicara. Terkadang aku takut melihatnya, takut apapun yang terjadi.

  Bahkan terkadang aku ingin hidup sendiri. Tak ada yang mengenali dan kukenali sedikit pun. Setidaknya aku tak akan merasakan kehilangan yang menyedihkan. Kuharap itu tak pernah terjadi. Walau sesungguhnya suatu saat itu pastilah terjadi.

  Minggu, aku tak tahu apa yang terjadi di minggu pertama tahun ini. Beliau terus bertanya kepadaku. "Kamu tak pulangkan hari minggu?" Entah apa yang kurasa, aku ingin berjumpa dengannya hari minggu. Aku tak tahu apa yang akan terjadi. Hanya berdo yang terbaiklah yang terjadi. Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komentar bagi yang perlu