Kamis, 30 Agustus 2018

Ketidakpentingan yang Ingin Kuceritakan #2

Baru kemarin Fitri bilang bersyukur bisa pulang sebelum maghrib, dan sekarang aku (mungkin lainnya) bisa izin pulang siang ini. Dan akhirnya aku pulang siang ini, setelah dipikir-pikir jarang pulang cepet juga ya...

***

Hari ini pulang siang hari alih-alih listrik di kantor mati, pas banget sampai rumah. Listrik kantor nyala. Hehe. :"

***

Kemarin diskusi kayak dulu, sama Nadia dan Fitri (Tim Solusi kata Nadia), aku rasa kita memang terlalu banyak gimmick di setiap diskusi ya, syukur-syukur problemnya solve ya, Alhamdulillah :") Sekalinya aku udah serius, ada aja yang nanggapinnya bercanda heuu...

***

Beberapa waktu lalu biasa tengokin kedai kopi saat perjalanan pulang, kukira lagi dirobohin dan sudah tutup itu kedai, ternyata desain kedainya memang begitu. Keesokannya ku masih melihat kelap-kelip lampunya, seneng.

***

Kemarin rabu aku merasa sangat berenergi, atau lebih tepatnya, kita semua para pemain pagi itu. Hampir 3 pertandingan, dengan jumlah total yang dikejar itu 100 poin, belom lagi nilai kedua poin jika dijumlah. Sering-seringlah main 5v5 selama ini.

Itu Naufal, badannya besar, sudah kujaga bagaimana pun, sekalinya aku diblock oleh Bang Banu, kelepas dikit si Naufal, shoot 3 poin, langsung masuk. Dan itu beberapa kali. Whaaaat...

Kucapek sendiri menjaganya. Dan akhirnya kalah.

***

Malam itu mau pulang, eh mas Latif ngajakin main PES, akhirnya aku bablas sampai jam 10 an, terus berbincang sama Bang Ryan dan Arya, bablas sampai jam 11 an, dan aku ketiduran, dan akhirnya aku tidak pulang. dan akhirnya selepas subuh berbincang lagi sama Bang Ryan. Terima kasih atas informasi manajemen keuangannya. Jadi tidak sabar punya uang, Lah?

***

Husna sudah punya anak, perempuan, wah selamat Husna, selamat juga kak Sya'ban. :)

***

Tampaknya aku harus belajar merelakan, sebelum begitu amat berat merelakan.

***

Menanti Syuruq,

Aku selalu tersenyum melihat anaknya pak Hidayat tertidur selepas shubuh di musholla, alih-aih menanti ayahnya tilawah menjelang syuruq, anaknya ke tempat jamaah wanita yang cukup untuk 3 orang saja, lalu tergeletak di sana, tertidur. Dengan taatnya, dia menunggu.

Lucu ya.

***

Kemaren malam pas aku nginep di kantor, ternyata ummi udah beliin es kelapa muda, ayam bakar buat sahur, pasangin seprei kasur, dan nungguin. Duh, maaf, Mi...

***

Berpikir aku pantas untuk seseorang aja sudah gak kebayang bingung dan takutnya setengah mati, belum buat keluarganya, belum buat lingkungannya. Apalagi berpikir pantas kepada Allah ya? Waaahhh... Bedebu...

***

Tulisan ini benar-benar random, entahlah, kuingin luapkan saja, bosan terlalu lama di kepala. Terima kasih. Untuk sebelumnya yang tidak penting, ada di sini Ketidakpentingan yang Ingin Kuceritakan #1

Rabu, 29 Agustus 2018

Sebuah Puisi

Suatu hari aku ingin mengajakmu
Ke tempat kopi yang sering aku lewati
Penuh lampu kecil di sekitaran tempatnya
Namanya penuh sejarah, Byzantium

Setiap kumelewati, rasanya kuingin berhenti
Tapi aku tersadar saat itu juga
Ku payah sekali minum kopi
Jadi biarkan dirimu menjadi alasan aku berhenti disana

Memandang setiap lampu
Memesan beberapa menu
Menatap jalan tol menuntaskan rindu
Lalu kita bahas apapun yang kita mau

Bagaimana?
Jadi kapan aku bisa mengajakmu?
Berhenti sejenak di sebuah kedai kopi
Yang penuh lampu dan pohon yang sejuk

Ah aku lupa,
Besok adalah kamis
Lalu Jumat, Sabtu, dan Minggu
Dan akhirnya Senin

Aku terbangun dari mimpiku

Senin, 27 Agustus 2018

Plang

Jangan-jangan bukan salah si mereka tapi di aku.

*

Jadi tuh di plang breadtalk, bukan di dalam breadtalknya, Mi.

Sabtu, 25 Agustus 2018

Coba-coba



Awalnya mau buat gambarnya gerak (animasi), ternyata buat orangnya aja udah seharian sendiri. Terus minimal ada backgroundnya deh, eh ternyata belom ke konsep, jadinya bingung backgroundnya apa. Yasudah, backgroundnya samar, terus lanjut ke audionya, lah ini dimana ya yang pengen dipotong, diputer berkali-kali durasinya 1 jam, gak ada, akhirnya sampe jam segini baru dapet itu pun sebenarnya tidak sesuai keinginan sebelumnya audionya...

Waahhhh dari sini aku benar-benar mengapresiasi orang yang suka potong video semenit-semenit itu. Hiks. Kalian luar biasa~

Detik ke Detik

Bahagia itu amat terasa
Saat kamu bangkit dari kesedihan paling mendalam
Memiliki itu amat terasa
Saat kamu bangkit dari kehilangan

Bahagia itu akan berlalu
Sedih pun begitu
Memiliki juga tak beda jauh
Apalagi kehilangan

Apa yang kamu takutkan?
Sepersekian detik semua itu akan berbalik
180 derajat
Tidak ada yang pernah tahu

Saat kamu tertawa detik itu,
detik berikutnya kamu menangis tak karuan
Saat kamu ditemani banyak orang detik itu,
detik berikutnya kamu sendirian tak ada yang peduli

Bukannya hidup ini begitu kejam
Tapi, hidup ini sebuah perjalanan,
Seperti pepatah bilang
Bagai roda, kadang di atas dan kadang di bawah

Kamu tak akan tahu rasanya senang
Jika belum merasakannya kesedihan
Tak tahu mudahnya kehidupan
Jika belum merasakannya fakir keilmuan

Dan hidup ini tentang perjuangan
Perjuangan pada perjalanan
Perjalanan yang singkat dan tak akan terulang
Sabar sedikit, waktu akan berputar

Dan semoga semua menjadi lebih baik.

***

Malam itu, aku bercanda dengan Ahmad seperti kakak adik sungguhan, Ahmad yang menyenangkan, dan aku yang mendengarkan. Ahmad tidak mau balik ke pondok katanya, di pondok makanannya tidak enak, Ahmad sering kali memaksakan makanannya lalu setelah itu muntahkan semuanya.

Ahmad capek rasanya hafalan, apakah masa kecil sebegitu kejamnya, Mas? Tapi Ahmad tidak bertanya seperti itu, yang kuingin Ahmad perlu tahu, kelelahan masa kecilmu itu akan mempermudah masa tuamu.

Kumengalaminya sendiri, ketika aku mencoba menghafal surat pendek dari 0, rasanya amat berat, selintas hafalan waktu kecil hanya beberapa saja yang membantu, dan sudah usia begini berat sekali, godaan banyak, hafalan gak kuat-kuat, dan Ahmad setelah melewati rasa lelah menghafal itu akan menikmati buah yang dia tanamnya, kenikmatan di masa tua yang semoga menjadi berkah untuk kehidupannya.

Hari ini Ahmad pulang, walau dia bilang tak mau kembali ke pondok, tapi setelah di pondok pasti dia lupa segalanya. Tentu saja ketika bertemu teman-temannya. Sekarang kamu merasa dahaga, nanti kamu akan merasakan kenyang, Mad. Bersabarlah, hingga perputaran itu tiba.

Seperti yang Mas Salingga bilang. "Bersabarlah ketika fajar mulai ingin tiba, dan kamu kritis di pekatnya malam itu. Semua akan berbalik keadaannya, saat mentari tiba. Dan semua itu terjadi hanya berbicara sepersekian detik" Oke, aku sedikit merubahnya, eh banyak merubah kata-katanya deng. Hehe

Pulang Dengan Senyuman

"Hanya ingin selalu membawa kabar positif pulang ke rumah. Seorang ayah."

*

Saat itu kumelihat dosenku sedang merayakan hari khitbahversary-nya. Kuterkandung penasaran mana sih istrinya, ku melihat akun facebook yang di tag oleh dosenku. Dan disitu aku melihat sebuah postingan yang di share ulang oleh istri dosenku.

Lalu muncul kalimat di atas.

Mimpiku

Tindakanku merupakan bagian dari impianku - Tenya Iida

***

Dan aku lupa kapan terakhir aku bermimpi dan kapan terakhir aku berusaha mewujudkannya.

Buah Hati



"Lagu ini bukan menceritakan belahan jiwa, ataupun ungkapan kasih anak terhadap orangtua. "Aku mengenal dikau tak cukup lama, separuh usiaku". Lagu ini adalah sebuah perasaan dan pesan orangtua kepada buah hatinya. Perasaan bahwa kehadiran buah hati yang membawa banyak pelajaran. Titik dimana orangtua mengerti makna kehidupan. Sebuah pesan bahwa sekuat apapun orangtua akan rela menjadi lemah, melepas reputasi untuk sang buah hati, mata bagi dirinya, dan yang dapat membukakan keyakinan. Seorang anak adalah cahaya bagi orangtua dalam kegelapan, sebuah kebahagiaan. Hal yang terlihat kecil dan bukan sesuatu dapat menjadi kebahagiaan besar baginya. Bahwa kehadiran seorang anak menjadi suatu perbedaan, namun menciptakan rasa harmonis dalam hati orangtua. Sebuah pesan akan perasaan tulus akan kasih terhadap darah dagingnya." - Ardyotha Dzaky Hidayat

Kamis, 23 Agustus 2018

Bercerita pada Langit

Hari ini
Pergi untuk basket
Namun ternyata lapangan dipake semua,
Ketika pulang, ternyata ada lapangan kosong

*

Kemarin
Pergi setengah hari sama Ummi
Ke rumah Mbahbu (nenek).

Terus kami sibuk potong daging sapi, tanganku kapalan
Disamping itu, Ummi bilang, Mbahbu sedih, nangis katanya
Teringat Mbahkung (Kakek), yang paling semangat kalau saat beginian
Mungkin Mbahbu kangen, Mbahkung

Tau nggak mbahkung? Hilmy sekarang sudah lulus kuliah, tepat 4 tahun, seperti yang Mbahkung inginkan. Hilmy sekarang sudah kerja, tapi Hilmy nggak bisa nemenin Mbahbu, Mbahbunya sekarang sendirian, dan Mbahbu jadi sering sedih Mbahkung.

Sore ini hujang Mbahkung, tapi terang. Hilmy ingat kalau hujan dipagi hari, pasti Mbahkung nganterin sampai tempat angkutan umum. Jalannya jauh banget sih, jadi harus ngerepotin Mbahkung.

Oh ya, walau Hilmy masuk jurusan Informatika, tapi akhirnya pekerjaan Hilmy desain Mbahkung, kayak yang Hilmy suka lakuin dari kecil, Mbahkung ingetkan Hilmy gambarin pas duduk? Sayangnya dulu nggak mirip, sekarang Insya Allah bisa kok mirip, tapi Mbahkung nggak bisa duduk di depan Hilmy lagi dan Hilmy Gambarin.

Akhir tahun kuliah, Hilmy pergi ke Malaysia Mbahkung, Lomba, Juara 1 lagi, Hilmy bisa membayangkan kok kalau Mbahkung masih bersama Mbahbu, pasti Mbahkung sudah beritahu semua teman Mbahkung kalau Hilmy telah ini itu... Seperti Mbahkung dulu cerita ke orang-orang kalau Hilmy masuk Telkom, padahal cuman masuk Telkom ya, apalagi kalau Hilmy masuk UI, ITB, atau lainnya? Seperti apa ya bahagiannya Mbahkung? atau seperti waktu Hilmy berhasil buktiin kalau bisa nulis novel kayak adek-adek Hilmy, Mbahkung terlihat bangga, Hilmy pun merasa sangat dihargai. Dan mungkin juga sekrang Mbahkung benar-benar bangga, Salma ke Mesir Mbahkung, dia sekolah disana. Semoga dimudahkan ya dia, Mbahkung.

Mbahkung, setelah berpuluh tahun Hilmy hidup, akhirnya Hilmy ngerasain nikmatnya bersama orang tua, setiap hari kalau nggak ketemu orang tua rasanya ada yang kurang Mbahkung. Tapi, Abi sekarang suka diem, sama kayak Mbahkung waktu sakit. Abi juga lagi sakit Mbahkung, semoga Abi lekas sembuh ya Mbahkung. Hilmy ingat waktu Mbahkung hanya bisa memandang, mengluarkan kata pun tidak pernah sesuai. Tapi, Hilmy selalu dan selalu ingat tawa terakhir Mbahkung, waktu itu pagi hari, Hilmy bercanda soal gula yang salah ditaruh oleh Mbahbu. Lalu Mbahkung tertawa, walau tawa Mbahkung bukan tawa yang dahulu, walau bibir Mbahkung susah digerakan, tapi tawa terakhir itu selalu terbayang oleh Hilmy, dan Hilmy senang liburan pertama kuliah bisa bersama Mbahkung 24 jam full selama liburan.

Tapi Mbahkung, terkadang Hilmy bingung, Mbahbu sering sedih, terkadang cerita bercampur air mata, terkadang terasa putus asa di setiap air mukanya. Semenjak Mbahkung pamit, semua seolah menjadi tak terkendali, anak-anak Mbahkung menjadi... Entahlah, seenaknya, dan Mbahbu tidak berdaya, terkadang tangis, terkading bermimpi ingin ini itu sambil mata berkaca-kaca, Hilmy bingung Mbahkung harus bagaimana... Mbahbu sekarang semakin sering ke rumah sakit, semoga Mbahbu disehatkan terus ya Mbahkung. Hilmy berencana menikah 1 atau 2 tahun lagi Mbahkung, semoga Mbahbu bisa menyaksikan, bahkan semoga bisa sampai jadi uyut, hihi. Rasanya pengen Mbahbu tinggal bareng Hilmy aja, setelah semua masalah dengan anak-anaknya kelar, biar nggak pusing, Mbahkung hehe.

Beberapa waktu Hilmy keinget Mbahkung kalau sakit gigi atau kulit terasa gatal, Hilmy inget betul betapa galak dan ganasnya Mbahkung kalau nyuruh Hilmy sikat gigi atau mandi, tak sedikit tangis dan pukulan dari Mbahkung, dan sekarang baru deh kerasa dampaknya. Oh ya, bicara galak dan ganasnya, tampaknya Hilmy harus minta maaf, karena tidak bisa menjadi orang yang tegas, berwibawa, dingin, dan baik kayak Mbahkung. Ternyata Hilmy orangnya banyak omong Mbahkung, cowok yang cerewet, terus Hilmy juga nggak bisa galak, nggak tega rasanya kalau galak tuh Mbahkung. Tapi Hilmy selalu ingin kayak Mbahkung, dikenal dan disegani banyak orang, walau terkadang jatuhnya Hilmy kayak sok asyik gitu hehe.

Oh ya, waktu kuliah Hilmy beberapa kali buat game bersama teman-teman. Hilmy inget dulu kita bersaing main tetris di gamebot. Tiga hal dulu yang sering membuat kita interaksi itu gamebot, kalau malam jumat main kelitik-kelitikkan ketika Mbahbu ngaji, terus main bola pake balon yang gawangnya dua pintu. Tiga hal itu yang bisa Hilmy deket sama Mbahkung dan melihat tawa Mbahkung yang begitu lepas.

Untuk kado terakhir yang Mbahkung kasih sebelum pamitan, Hilmy minta maaf juga Mbahkung, ternyata laptopnya bermasalah, tampaknya Hilmy sedikit kena tipu atau kurang beruntung? Jadinya laptop pemberian Mbahkung harus Hilmy jual, tapi motor punya Mbahkung masih Hilmy pakai untuk pulang pergi ke kantor lho! Motornya masih enak, Mbahkung dan Mbahbu memang paling pandai merawat ya. Semoga perjalanan Hilmy ke kantor dan rumah menjadi pahala yang mengalir ke Mbahkung ya, karena udah pinjemin Hilmy motor Mbahkung hehe. Semoga awet terus ya, dan mengalir terus kebaikan setiap digunain motornya.

Sebenarnya masih banyak yang Hilmy ingin ceritakan ke Mbahkung, tapi, biarlah segini dulu, suatu waktu Hilmy mau cerita lagi ya Mbahkung, semoga bukan keluh kesah, tapi hal menarik yang pasti buat Mbahkung antusias dan merasa Bangga. Terkadang Hilmy selalu berpikir, untuk menjadi yang terbaik, untuk bisa mendapat sesuatu yang tidak semua orang bisa dapatkan, dan semua itu untuk membanggakan Mbahkung atau Mbahbu serta ummi abi, karena sebagai wujud hasil didikan Mbahkung, Mbahbku, dan Ummi abi. hehe, terlalu naif memang. Tapi begitulah, Mbahkung.

***

Saat itu perjalanan pulang dan rintik, ku tak tahu itu air yang mana, di pipi.

Yang kutahu, aku teringat Mbahkung saat Mbahbu bersedih.


Senin, 20 Agustus 2018

Pernikahan Hannan

Rasanya kurang klimaks, saat akad dari pria terucap tidak ada kata "Sah" Atau suara "Alhamdulillah" yang begitu keras. Tidak ada... Hingga akhirnya doa-doa tiba.

Tapi tak sedikit juga teman-temanku yang cowok dengan getol menyaksikan akad itu, lalu kuledeki mereka. "Lagi mengamati sebagai contoh buat nanti ya?" aku tertawa dan merasa tersindir juga...

Melihat sahabat sendiri menikah di depan mata tuh, ah haru dan iri rasanya. Akhirnya kegelisahan-kegelisahaan tergugurkan ya, Nan? Dulu sempet aku mengancam Hannan dengan bilang, "Kalau nggak nikah tahun ini, aku gak akan datang." Eh ternyata dia beneran nikah tahun ini, walau dikasih tahu paling terakhir, walau sempet terkejut ternyata eh ternyata, tapi rasanya melihat temen memasuki era baru membuat diriku banyak berpikir.

Selama pernikahan berlangsung, tak sedikit aku berjumpa dengan teman-teman kuliah hingga adik-adik kelas di lab Multimedia. Rasanya waktu bergulir cepat ya, yang kemaren baru masuk sekarang lagi berjuang skripsi, yang kemaren masih begajulan bareng, sekarang baru kelar sidang, dan kemaren yang dota-an dan main bareng sekarang sudah ada yang menikah.

Selama pernikahan itu pula tak sedikit adik-adik kelasku dan beberapa teman dengan entengnya tersenyum lantas berkata.

"Jadi kak Hilmy kapan?
"Kak Hilmy kapan nyusulnya?"
"Kak, kakak kan udah kerja, jadi kapan?"
"Kak, umur kakak berapa? Oh 23, tuh, apa yang ditunggu lagi?"
"Kak, Kak Hannan aja itu udah, Kakak kapan?"
"Kalau gue kan tinggal nyari kerja, kalau lu kan nyari calonnya dulu, My. Lebih susahkan."
"Kak, ini si Ucup aja hari ini udah mau ketemu calonnya, kakak gimana?" (ucup itu adik kelas, dibawahku 2 tahun)
"Kak itu kak Aswan aja kemaren wisudaan sama calonnya, katanya tahun depan, Kakak?"

Hei, kalian-kalian yang bertanya kenapa nggak nanya lebih banyak ke mereka yang kondangan bawa pasangannya kemaren tuh--ketika nikahan Hannan? Hei-hei... Pffft...

Tapi, dari situ ku tersadar, era baru memang sebentar lagi tiba atau sudah tiba? Terlihat jelas, raut wajah dari teman-temanku setelah acara pernikahan Hannan.

Tidak seperti saat pernikahan Willi dibulan sebelumnya, setelah acara tertawa dan saling melempar canda, jadi siapa selanjutnya? Jadi gimana? Itu acaranya habis berapa ya? Tidak, tidak ada omongan riang itu semua sekelar pernikahan Hannan.

Terlihat raut wajah yang serius dengan pandangan kosong, semua sedang sibuk, memikirkan garis takdir mereka masing-masing hingga tiba di masa Hannan sekarang ini untuk memulai era baru dengan pasangan mereka masing-masing. Ku bisa melihat dari raut mereka, mereka sangat serius, sampai aku candai jadi siapa berikutnya? Tak terlihat sedikit pun senyuman.

Aku yang kelewatan suka bercanda atau memang sekarang udah saatnya untuk lebih serius dalam menghadapi kehidupan? Era baru ya...

Beberapa temanku, terlebih yang bareng-bareng ke tempat Hannan rata-rata sudah memiliki pasangan masing-masing, dan entah apa yang mereka tunggu atau masalah apa, tapi ini benar-benar menjadi serius.

Ternyata kita sudah pada tua ya, membayangkan Hannan menjadi seorang istri aja seperti yang kayak, ah gak nyangka Hannan udah jadi istri orang ya... Tak hanya diriku, teman-temanku juga begitu, kita semua tak nyangka, waktu begitu cepat ya...

Sepulang dari pernikahan Hannan, Abi ngeledek, "Wah habis ke nikahan, jadi kepengen dong ya?" Aku tertawa dan membalasnya dengan gurauan. Tapi entah kenapa pikiranku semakin males memikirkannya, rasanya benar-benar masih jauh bagiku, pada masalahku ini.

Dan untuk seperti apa dan siapa dan bagaimana dan mengapa dan kenapa menikah juga masih belom benar-benar serius terpikir dikepalaku, terkadang kebayang, jika ditanya visi pernikahan, aku harus jawab apa? Aku melepas termenungku dan grup line semakin sepi sekarang, semua sudah mulai hilang satu persatu, ada yang pulang ke rumah, ada yang menikah.

Sepulang dari kosan Noor, entah kenapa kita berbicara pelan lantas saling termenung. Tidak ingin pulang rasanya, entah kenapa seperti semuanya bakalan berpisah benar-benar berpisah. Rasanya sudah tak sama lagi seperti sebelumnya. Ada yang hilang. Teman-teman dengan kondisi dan perjuangannya masing-masing. Semua sudah saatnya, ya?

Hidup dengan keluarga kecil masing-masing.


Hadiah foto di pernikahan Hannan. Lihat aja yang warna bajunya sama banget, itu janjian mereka huuu...


Dua hal

Ada dua hal, lega dan kehilangan.

Satu sisi lega masalah itu telah selesai,

Di satu sisi lainnya kehilangan karena masalah itu telah selesai.

***

Kepikiran seraya berjalan ke Al-Fauzien.
Dan sepertinta aku akan malas untuk berbuat apa-apa selama beberapa hari atau mungkin minggu ini.

Sesuatu yang Sama

Rasanya lucu jika menemukan sesuatu yang sama dari seseorang yang sedang kita ajak obrol, sama di sini itu benar-benar spesifik dan belum tentu orang lain sama dengan kita. Dan hari itu, selagi menyantap ayam geprek (jadi kepingin lagi) ku tertawa tak habis pikir, jadi kita sama nih?

*

Namanya Latif, aku tak tahu nama lengkapnya. Dia baru gabung di kantor kisaran dua bulan setelah aku masuk. Aku dan Mas Latif serta beberapa temenku sempet nongkrong bareng beberapa kali selepas taraweh saat itu. Kami ternyata sama-sama suka makan pedas, berhubung ketiga temanku yang lainnya kurang suka, akhirnya aku dan Mas Latif yang sering saling mengajak untuk makan makanan pedas.

Sudah 3 kali kita makan ayam geprek di deket kantor di dua tempat berbeda, kita beberapa kali ngobrol soal kerjaan, soal kehidupan satu sama lain, bagaimana dia cerita tentang istrinya yang mau melahirkan beberapa bulan lagi, dan bagaimana aku cerita tentang keluargaku yang jauh dari diriku.

Di waktu ke 3 pas kita makan ayam geprek berdua, akhirnya kita menemukan kejanggalan. Aku bertanya tentang rumah orang tuanya, yang kutahu selama ini dia orang jogja, namun ternyata kedua orang tuanya tinggal di Jakarta Utara, di Priuk dia bilang.

Aku lantas terkejut, lho? Aku juga orang Jakarta Utara, jadi kujelaskan aku juga tinggal di Jakarta Utara sebagaimana sering ku bilang kepada Mas Latif, aku bilang rumahku di dekat daerah Kelapa Gading, tak jauhlah dari Priuk.

Bicara dan bicara, mengerucut ke sekolah, aku sekolah di SMP 84, salah satu SMP terbaik di Jakarta Utara saat itu. Dan ternyata Mas Latif sekolah di SMP 30 yang merupakan SMP terbaik pertama di Jakarta Utara saat itu hingga kini mungkin. Dan... Wah, kita SD dan SMP satu wilayah ternyata...

Terus dia cerita juga SMA nya di SMA 13 Jakarta Utara, SMA terbaik pertama juga, lalu aku cerita ibuku dulu sekolah di SMA 75 yang menjadi pesaing SMA 13 saat itu. Aku juga cerita om-ku yang di SMA 13 juga. Wah, ternyata kita begitu dekat ya?

Semakin diperkecil pembahasannya, ternyata rumahnya tidak ada setengah jam dari rumahku, bahkan 15 menit cukup jika tidak ada mobil angkutan berhenti sembarangan. Dan rumah Mas Latif dekat langganan kebabku di daerah Semper.

Wah, aku seperti tidak menyangka ternyata kita tinggal di daerah yang sama, sekolahnya pun saling kenal. Bagaimana dia cerita adiknya di SMP 231, sekolah yang dulu saat diriku SMP di 84, disana--231--isinya teman-teman SD-ku semua.

Lalu kita cerita tempat berkunjung di daerah Jakarta Utara, dar masjid hingga kondisi mal-mal yang ada. Dan aku akhirnya merasakan di tempat yang tak dekat dengan wilayah kita, berjumpa dengan orang satu wilayah yang membuat kita membicarakan tempat-tempat yang pernah kita kunjungi.

Ternyata chemistry sering ngobrol dan cari makanan pedas sama Mas Latif ada dari sisi ini juga ya, sungguh aku tidak menyangka...

***

Jika bicara kampung halaman, belakangan ini mendadak ingin kembali kecil, bermain sebebasnya, bermain tanpa pencitraan. Apa adanya, dan tidak ada masalah-masalah yang terus terbayang-bayang hingga berhari-hari, atau bulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.

Namun, semua itu hanya pikiran, dan hari esok harus tetap di lalui...

Minggu, 19 Agustus 2018

Hari Setelah Kemarin

Hari ini, setelah kemarin tertawa banyak

Akhirnya sedih itu datang

Entah kenapa, sebuah kunjungan membuka luka lama, mengingatnya adalah derita.

Dingin

Malam itu dingin sekali
Kenangan masa lalu itu menusuk sekali...

***

Telkom University, Bandung, 19 agustus 2018

Jumat, 17 Agustus 2018

Aku dan Dia

Mari sedikit menatap bukit yang silih berganti...

E itu soal aku
I itu soal dia

Aku suka membicarakan aku
Dia suka membicarakan dia lainnya

Lalu aku tak menikmati dengan aku lainnya
Entah bagaimana dia dengan dia lainnya

Tapi yang kurasa, aku selalu menikmati bicara dengan dia
Entah bagaimana dia merasakannya

Aku selalu suka sekali bicara
Dia tak terlalu atau mungkin terkadang

Terkadang aku terlihat egois
Dia selalu mengalah

Apakah aku dan dia itu yang dibilang perihal saling melengkapi?
Perbedaan kedua itu cukup mendasar

Memahami aku seperti memahami dia,
Memahami manusia memang menyenangkan bukan?

Rabu, 15 Agustus 2018

Pengantar Pizza

2012 atau 2013 ya? Antara dua tahun itu, aku ingat betul bulan puasa dan ummi abi sedang sibuk merintis usaha rotinya. karena usaha roti doang kurang menggiurkan, maka ummi dan abi berpikir untuk berjualan mini pizza. Saat itulah bulan puasaku menjadi sebuah petualangan.

Menjelang buka puasa, biasanya ada beberapa pesanan, abi sibuk memasukkan adonan, ummi biasanya bantuin untuk topping dan finishingnya. Setelah itulah aku yang bekerja. Saat itu aku liburan sekolah, sore aku di rumah, dan mengantarkan Pizza Mini adalah hal paling tidak kusukai saat itu.

Aku benar-benar malu, menjadi tukang antar pizza? Ke rumah-rumah orang kaya, bertemu anak sepantaran, rasanya aku tidak bisa untuk mengemban ini... Tapi, mau tidak mau, aku terpaksa melakukannya. dan disitu aku menemukan sesuatu momen yang buatku gimana ya... seneng aja gitu...

Aku ingat betul, saat menjelang buka puasa, aku harus mengantarkan dua loyang mina pizzi ke sebuah cluster rumah yang dekat jalan besar yang biasanya terkesan cluster yang cukup elit. Ah, senang sekali rasanya bertanya ke satpam dan saling melempar senyuman untuk meminta izin lewat.

Sore itu, waktu buka benar-benar hampir tiba. Kalian tahu? Rasanya ketika aku memanggil pesanan pizza, dan seseorang menyahutinya, itu rasanya menyenangkan sekali. Rasanya kayak misi ini bakal selesai yeesss... Karena beberapa kali susah sekali manggil orang sampai harus buka diluar... Bahkan aku sampai bawa air untuk siap buka diluar.

Ketika panggilanku tersahuti, terlihat kakek apa nenek ya? Entahlah, tapi sudah cukup tua dan bertanya. "Pizza ya?"

Aku menjawabnya, rasanya gembira sekali. Aku turun dan dia memberikan uangnya, wajah orang itu berseri gembira, dan entah kenapa aku ikutan gembira.

"Maaf, ini uangnya berlebih?" tanya ku setelah aku memeriksa uangnya yang ternyata berlebih.

"Ambil saja." Katanya

Wah, aku benar-benar senang sekali rasanya, aku dapat uang lebih 5 ribu saat itu, dan bagiku 5 ribu saat itu benar-benar besar sekali. Aku sampai ketika dirumah langsung cerita dengan riang ke ummi, kalau aku dikasih 5 ribu dari yang beli.

Rasanya saat itu benar-benar senang, dari berjumpa satpam dengan ramah, lalu dengan cepat pemilik rumah menyahuti dan terlihat menanti-nanti. Serta tentu saja uang lebih yang mereka berikan yang cukup besar. Aku tidak menyangkan hal begitu saja membuatku senang sekali.

Lalu, momen kedua yang tidak kalah menyenangkannya. Saat itu, seperti biasa menjelang maghrib aku berkelana menelusuri komplek mencari alamat, bertanya satpam hingga akhirnya aku tiba di sebuah rumah yang cukup panjang nan ramai sekali jika ditilik dari luar.

Kupanggil rumah itu berkali-kali, ah rasanya sebal sekali jika orang di dalam rumah begitu sibuk hingga tak mendengar panggilanku. Hingga maghrib benar-benar mau menjelang aku terus memanggil. Hey, kemana orang-orang di dalam? Apa segitu sibuknya mereka?

Aku masih bertahan, aku belum menyerah dan lantas pulang, aku terus memanggil. Hingga akhirnya panggilanku terdengar, seorang anak-anak keluar dan bertanya-tanya. Ketika aku bilang Pizza, lantas air muka orang itu berubah, air muka mereka terlihat begitu gembira, seolah mereka telah menunggu-nunggunya. Lalu dia teriak dan orang rumah berseru senang, "Pizza datang, pizza datang."

Tiba-tiba aku tersenyum sendiri, wah kehadiranku bisa buat orang-orang seneng tuh rasanya gimana gitu ya hehe eh bukan kehadiranku sih, pizza yang aku bawa. Lalu orang tuanya keluar dan membawakan uang, kalau gak salah saat itu dia memesan lagi karena ternyata kurang.

Walau awalnya aku bete menunggu lama dan rasanya seperti diabaikan, tapi ketika melihat setelah itu. Ah bekerja yang bersentuhan langsung ke orang-orang itu menyenangkan ya, melihat respon bahagia mereka karena kita. Mungkin itu kenapa dulu aku berpikir ingin jadi guru ya...

Setelah beberapa kali aku mengantarkan pizza-pizza, menjelang lebaran mulai sepi rupanya. Usaha pizza ummi abi tidak bertahan lama, ternyata kita tidak berbakat untuk berjualan ya. Tapi, mengantar pizza adalah momen berharga sendiri bagiku.

Dari situ aku selalu merasa senang sekali menyapa para pekerja yang mungkin orang memandangnya kurang membanggakan atau semacamnya. Karena mereka-mereka itu terkadang membuat kita tersenyum-senyum.

Sayangnya di negara ini, orientasinya sebagian besar ke uang dan jabaran, siapa yang berpenghasilan lebih besar dan jabaran tinggi, dia lah yang lebih baik. Padahal betapa baiknya para pekerja misal tukang sapu atau pengelola sampah, mereka rela harus melawan debu dan baunya sampah untuk membuat peputaran kehidupan itu terus terjadi dengan baik.

Dan terkadang aku berpikir, itu, kita baru berharap datangnya pizza saja rasanya sudah senang sekali ya ketika datang. Apalagi jika Allah mengabulkan permintaan kita? Ah, rasanya haru...

Dari situ juga aku berharap, kehadiranku menyenangkan untuk orang lain... Walau hiks... Terkadang membuat orang lain sebel yaa... Kuminta maaf hiks...

Hal Sederhana

Apa yang membuatmu bahagia?
Jika bicara dunia, aku bisa menggambar dan menulis, dan mengeluarkan semua dikepalaku, aku merasa bahagia.

Dan apa-apa yang kutulis diatas adalah apa-apa yang membuatku merasa dunia ini tak seburuk apa-apa yang diberitakan.

Menyukai hal-hal sederhana menurutku penting, agar bisa menaikan mood setiap hari. Ada pelarian yang bisa disinggahi jika jenuh dengan apa-apa yang menjadi rutinitas. Lalu bagaimana jika semua itu rutinitas? Terkadang ada masa jenuhnya, terkadang beralih sedikit, biasa desain tampilan aplikasi, lalu nge-doodle gambar orang rasanya sangat membahagiakan.

Aku suka sesuatu yang terbentuk, dapat dinikmati langsung. Dan ketika orang lain menikmatinya juga, bagiku, itu sudah cukup membuat bibirku tersimpul senyum tiada tara.

Seperti apa yang di update oleh Bang Bilal di Story Instagramnya, dia mengutip tulisan dari blog kak @helloditta.

"Gambar jadi salah satu terapi agar tetap saya tetap waras di padatnya kesibukan yang engga seberapa ini."

Dan aku sadar, semua sudah berubah ketika bermain sosial media terasa amat menyenangkan, berjam-jam tapi tak ada hasil yang kudapat, tak ada rasa kepuasan, bahkan rasanya selalu menyesal. Wahai waktuku, kenapa engkau tergerus begitu saja seperti jentikan Thanos kepada para Avengers?

Semakin sering aku menjadi konsumen sosial media, rasanya kepalaku semakin berpikir. Dunia ini menjijikkan. Disitu juga aku merasa imajinasiku mulai terkekang. Apalagi pada zaman ini siapa pun ingin menjadi viral, dan menyedihkannya viralnya itu adalah hal-hal yang tidak berfaedah atau bukan hal yang dulu tuh pasti yang bikin berdecak kagum atau semacamnya, sekarang terlalu banyak drama di keseharian kita.

Kemarin, ketika sesi sharing kantor tentang jati diri, aku ingin bertanya tapi tertahan. Jika bakat itu mendesak jiwa untuk ingin disalurkan, bagaimana jika bakat itu terkekang? Apa yang dirasa? Apa yang harus dilakukan? Sementara rasanya panggilan jiwa itu ingin memberontak apa-apa yang menghalangi.

Tapi karena aku urung, kutidak tahu jawabannya.

Terpasti, kubersyukur masih bisa melakukan hal sederhana yang membuatku bahagia, bahkan kadang tidak sadar aku bahagia. Semoga aku bisa menemukan bakat hebat anak-anakku nanti, dan membimbingnya melewati 10 ribu jam. Rasanya bakat dicampur rasa profesionalisme itu sungguh luar biasa. Dan mereka harus lebih bersyukur dari orang selain mereka untuk itu.

***

Catatan ini sebagai pengingat pribadi, bahwa aku harus mengurangi jadi konsumen drama-drama sosial media dan kembali menuangkan hal sederhana itu dan menikmatinya.

Mengingatkan juga, bahwa sampai ajal tiba, menulis adalah keharusan. Menulis bermanfaat sebuah kewajiban. Agar mereka-mereka tahu aku telah hidup dan berguna hehe

Sekian bicara duniawinya.

Selasa, 14 Agustus 2018

Bekal Kita Berbeda...

Minggu siang, sedikit terik kadang redup. Saat itu menjelang makan siang, aku bertanya ke teman sebelahku yang baru saja kukenal hari itu tapi sudah cukup akrab karena harus menyelesaikan tugas bersama-sama.

"Mau makan keluar apa gimana, mas?" Tanyaku mengajak makan bareng.

Dia tersenyum sambil menjawab. "Nggak, saya bawa bekel." Katanya. Lalu dilanjutkan. "Dibawain nih, sama Istri." Dia tertawa kecil.

Aku yang tidak mau kalah juga bilang ke teman sebelahku ini. "Saya juga bawa bekel mas, tapi nasi doang sih hehe."

"Dibawain istrinya apa gimana?"

Aku menyengir dengan bangga. "Oh, enggak, ini dari ibu yang bawain hehe."

Lalu dari situ seharian teman sebelahku itu terus membuli ku tentang kejombloan dan dia cerita tentang istrinya. Jadi teman sebelahku ini merupakan guru bimbel fisika disuatu tempat, dia baru nikah 4 bulan yang lalu, senyumnya katanya terlihat lepas tanpa beban kalau udah nikah kata temen di depanku, nah istrinya itu ternyata juga dulu ngajar di sana--tempat bimbel teman sebelahku mengajar. Dan ternyata mereka sama-sama ngajar fisika.

Aku iseng menyudutkan. "Jadi kalian tuh cinlok ya, Mas?"

Temenku kikuk gitu kayak tidak yakin. "Cinlok gak ya, ah enggak kayaknya deh..."

"Tapikan kalian sama tuh ngajarnya, cinlok pasti aah..." Godaku cekikikan.

Pembicaraan itu aku lupa berakhir gimana, soalnya teman di depanku ikutan nimbrung, dia lebih muda 2 tahun dibandingku. Dia ikutan bertanya-tanya ke temen sebelahku. "Wah, kalau istrinya udah bisa jadi enak dong ya, nanti pulang tinggal ngulang sama istrinya." Kata teman didepanku berkata terkait materi siang itu.

Aku menimpa. "Iya ya, kalau kita?" Aku melirik ke depanku. "Sendiri-sendiri paling ngulangnya..." aku menambahkan. "Atau nggak, kita berdua yaa..." Kataku ke pada depanku dengan memasang wajah memelas.

Lalu kami bertiga tertawa.

Senin, 13 Agustus 2018

Hari ini

Setelah jantung berdebar pagi ini,

Sehari ini tertawa banyak

Besok mungkin sedih mendalam

Ah, Hilmy kamu terlalu melankolis, begitu nadia UX Researcher memujiku.

Sabtu, 11 Agustus 2018

Tak dan Tak Ingin Membayangkan

Tak terbayang jika tak ada ummi.

Sebuah momen yang sederhana namun berubah tanpanya.

***

Hari ini makan siang dan malam cuman berdua sama abi. Pas makan sunyi senyap, tidak ada obrolan, sekalinya ada cuman sepatah dua patah kelar.

Namun, ketika ada ummi, semua seolah ramai walau keadaan lagi sedih atau lagi gembira, ummi selalu membawa keceriaannya di tengah kami-kami. Kadang asyik sendiri, teriak-teriak sendiri, ketawa sendiri, bahkan ngompol sendiri karena ketawa berlebihan.

Sampai-sampai, ketika makan malam, susah payah bangunin ummi biar ikut makan bareng, tapi ummi terkandung tidur, jadilah makan berdua dan obrolan sepintas.

***

Tak terbayang jika tak ada ummi.

Cerewet itu ternyata menyenangkan, dibanding sunyi tak karuan.

Porsi

Waktu itu temanku ngetweet. "suka bingung sama cara berfikirnya para cowok-cowok ini."

Diriku yang cowok, alhamdulillah masih cowok, reflek bertanya, ada apa mafreen? Apa yang terjadi wityuuu? Lalu dia menjelaskan bahwasanya cowok itu suka menyepelekan hal yang mungkin menurut dia kecil, tapi menurut cewek itu penting banget.

Lalu aku tersentak seperti diingatkan momen ketika di kantor, waktu itu kalau gak salah Fitri benar-benar terlihat sangat detail sekali memperhatikan case-case pengujian aplikasi yang tidak terpikirkan oleh orang lain. Lalu kak Wahyu bilang, yang kurang lebih "Memang ya, wanita itu sifat bawaannya detail banget, hal-hal yang nggak terpikirkan tuh bisa kebayang sama wanita."

Aku menyetujuinya, jika lihat seselebor-selebornya ummi di rumah, tetep namanya beberes, peletakan pakaian-pakaian, hingga jadwal anak kapan bisa ditelpon tuh inget banget. Begitu pun Mbahbu (nenekku di jakarta), kalau soal barang-barang, mau muter tujuh keliling, gak ketemu. Sekali tanya, langsung terjawab sudah. Bukankah itu sering dialami kalian juga?

Wanita itu memang tabiatnya super detail kali ya? Terkadang mau pergi-pergi tuh, ku santai bawa tas rasel udah anteng duduk manis. Sementara itu nenekku atau ummiku bawa ini itu-ini itu yang suka buat aku bete dan nanya, buat apa sih itu dibawa-bawa? Rasanya kok ribet banget sih?

Tapi, ya gimana, terkadang aku harus menelan ludahku sendiri, ternyata apa-apa yang nenek atau ummiku bawa kugunakan juga. hehe

Terus ketika belajar kelompok, atau di kelas, ah sungguh wanita itu membantuku sekali, mereka nyatet sedetil-detilnya terus dengan fasih dan detil mengulangkan materi-materi hehe, jadinya diriku di kelas cuman tidur saja kerjaannya.

Pokoknya wanita itu dabes deh kalau soal mendetailkan, makanya juga bisa inget dengan detail kesalahan pria (?) lho eh haha dan tabiat wanita juga kali ya bisa multitasking, kalau gak susah juga pas punya anak harus ngurus pakaian suami, makan dan lainnya...

Lalu gimana kalau laki-laki tuh? Nah gunanya laki-laki tuhhhh, walau terlihat males dan gak care sama hal-hal kecil (ini diriku sekali, bukan terlihat lagi malesnya, tapi memang males sekali) disamping itu laki-laki lebih visioner. Biasanya gitu sih. Berpikir jauh ke depan secara garis besar, dan membawa optimisme serta juga aman kali ya? Ya gitulah sepengelihatanku dan pemahamanku.

Kalau lihat dirumah tuh kadang abi suka ngomong nanti gini gitu blablabla yaa, dengan ambisius, terus ummi ku dengan singgap cepat tanggap langsung menyanggahnya, yee enak aja, kalau nanti gini gitu blablabla gimana?

Lalu aku hanya tertawa...

Begitulah, semua ada bagiannya, dan saling melengkapi itu bukannya sudah seharusnya?

Ketidakpentingan yang Ingin Kuceritakan #1

Sore itu aku teriak dan menunjuk ke arah bulan atau matahari? dan ku bertanya ke mas Salingga. "Pak, ituu bulan apa matahari yaa? Kok terang banget kalau bulan, tapi kok redup banget kalau matahari?"

Mas Salingga terdiam.

"Pak, coba itu lihaat!" Paksaku.

Mas Salingga menggeleng dengan kaku.

Dalm hatiku bertanya, loh kenapa? Ada apa?

Mas Salingga menoleh dikit dan tidak menggubrisnya.

Yasudah, kami berdua pun kembali ke kantor dengan motor Mas Salingga.

Jadi itu bulan yang begitu terang atau matahari yang tidak menyilaukan? Hmmm... Dan ada apa?

***

Rasanya semenjak pindah ruang kerja, lebih terlalu sibuk mereka-mereka tuh, sedikit bincang-bincang kayak dulu, sekalinya ada cuman sepintas dan sudah. Kurindu mas Salingga menatap jendela lamat-lamat dan berpaling, lalu mas Salingga memulai ceritanya, dan yang lain meregangkan tubuhnya, menjauhkan sedikit dari laptopnya dan siap menyimak perbincangan dari mas Salingga.

Lalu kita semua terhanyut dalam lautan sejarah, masa depan, teori konspirasi, fakta sepintas, dan banyak sekali. Rasanya kurindu. Udah itu saja.

***

Waktu itu ummi menjelaskan kenapa dia jutek banget kalau bahas soal jodoh dan nikah-nikah, eh tapi, besok paginya ummi antusias banget ngebahasnya. Aku diam dan sedikit memberi penegasan. "Bukan Mimi yang mulai bahas beginian ya."

Lalu pembahasan kabur sendirinya...

***

Suatu waktu aku meminta device ke Fitri, lalu dia berkata. "Sabar sabar..." terlihat dia lagi sibuk. Terus akhirnya aku menunggu dengan mengalihkan fokusku kembali ke laptop, lalu Fitri yang gantian memanggilku dengan memegang dua device yang ingin ia berikan, lalu dia meminta agak buru-buru lalu dia sadar. "Aku nyuruh orang lain sabar, tapi aku nggak sabar ya..." Lalu kita ketawa.

***

Pemilih cawapres membuatku tertawa, wah kok lucu sekali ya? Satu kubu, pendukungnya menolak keras agama ke politik, sekarang mereka melakukannya. Satu kubu lagi, memaksa seorang yang baru menjabat untuk maju ke ajang pilpres. Rasanya seperti dejavu dengan presiden sekarang yang masih jabat langsung maju pilpres. Loh mereka bukannya udah bersumpah 5 tahun untuk mengatur ibukota? Hehe.

Lalu orang-orang dan temanku di twitter pada muak dengan politik ini...

***

Sepertinya aku benar-benar harus mengakhiri karir sebagai pembuat kado, selepas ummiku menceramahiku akan apa yang aku buat dari sebuah foto. Hiks, sedih, tapi okelah... Mungkin ada cara lain yang lebih baik untuk menyalurkan dunia pergambaran pada diriku ini....

Oh ya, dari dulu kepikiran untuk membuat naskah lagi, tapi kok, udah 6 bulan pindah kerja, dokumen wordnya saja tidak kebuka ya? Hahaha

***

Belakangan ini pulang malem terus, dan selalu ngantuk terus di jalan, kemaren liat seseorang terkapar di trotoar, rame sekali, seperti terjadi kecelakaan, aku yang tertidur sambil mengendarai tersentak melihat kerumunan itu. Aku langsung ketakutan, dan dalam hati dengan teguh untuk tidak tertidur lagi. Tapi, baru beberapa meter aku langsung tertidur lagi sambil mengendarai, itu mengerikan.

Dan semalam, aku hampir ke serempet di bunderan... Ini jika bukan ada campur tangan Allah SWT, mungkin aku sudah entah jadi apa selalu tertidur sambil mengendarai. Terima kasih ya Allah...

***

Ku mendadak bingung, calon pasangan temenku yang sebentar lagi mau menikah ngechatku dan minta nasehat terhadap temenku. Lah, aku bingung... Jawabnya gimana ya? Bagaimana memfilter hal-hal yang perlu dan tidak untuk disampaikan ke calon pasangan itu ya?

***

Terakhir untuk kali ini, jadi abi kemarin-kemarin update status di facebooknya soal kehidupan dan perjalanan hidup gitu, lalu diakhir statusnya dengan jelas meledek diriku, hiks... Inti sindirannya tuh, kalau jodoh nggak kemana, jadi fokus apa permintaan ummi. Ya, ya, ya diriku sung protes ke ummi, lalu ummi ketawa, tadinya mau dihapus sama abi, tapi udah terlanjur, yasudah... Kugemes...

***

Terima kasih sudah membuang waktunya untuk baca hal ketidakpentingan ini hehe, karena aku suka diprotes untuk bahas tidak penting ke teman-teman, biar kuceritakan disini saja, jadi tak ada yang kupaksa untuk mendengar coletahan tidak pentingku hehe

Jumat, 10 Agustus 2018

Kunjungan

Kemarin ke salah satu perusahaan e-commerce terbesar di Indonesia. Eh ketemu kak dony yang merupalan asisten lab ketika aku jadi asisten praktikum, diriku lupa kalau dia kerja disini.

Lalu dia bilang kalau dia suka baca blog ini. Lalu aku tertawa dan merasa diriku harus menulis di blog ini dengan yang bermanfaat, berisi, berbobot dunia akherat kayaknya.

Terima kasih kak dony sudah berkunjung, semoga ada yang bisa diambil dari setiap tulisan-tulisan di sini, walau kusendiri tak yakin hehe.

Keresahan-Keresahan Pada Tiap-Tiap Insan Muda Milenial Gen Y

Keresahan, rasanya aku suka mikir atau melihat, wah temen-temen udah ditahap yang menyenangkan ya, kubisa membayangkan bagaimana mereka bercerita, namun ternyata cerita yang kuterima saat itu cerita yang begitu pintas.

Belakangan ini, di lingkaran pertemananku lagi semakin serius membahas jodoh dan semacamnya. Dengan berbagai macam kondisi rasanya semakin pelik ternyata. Dan belakangan ini mereka pun bercerita dan aku paham, keresahan itu selalu ada.

Bukankah tidak ada kondisi ideal di muka bumi ini? Beriman diberi cobaan, tidak beriman diberi azab. Semua terus begitu hingga akhirnya tiba masa kekal.

Pertama kali mendengar mereka cerita, rasanya aku merasa paling yang tertinggal. Wah enak ya mereka sudah diizinkan, mereka sudah mau mendatangai, mereka sudah mau menikah, bahkan mereka sudah menikah. Bukan berarti aku benar-benar resah ingin segera, tapi rasanya kayak memang pembahasan itu benar-benar serius saat ini, bukan lagi candaan-candaan saling menggoda.

Dari prespektif salah satu temanku yang ingin menikah. Pertama kali tahu dia ingin menikah rasanya kaget saja, wah nggak nyangka udah mau nikah ya? Kupikir dia benar-benar bahagia sebagaimana mestinya, tapi, dibalik berita baik itu, dia menyimpan sejuta pertanyaan akan kondisinya saat ini.

Ada saja keresahan-keresahaan yang hadir dibenaknya, ketakutan di masa lalu hingga di masa depan. Dari keluarga sendiri hingga keluarga seberang. Dari kehidupaan saat ini hingga kehidupan setelahnya. Dari kesendirian hingga kebersamaan. Pertanyaan-pertanyaan itu terus mengelilinginya hingga ia bertanya-tanya ke berbagai orang yang telah mengalami.

Terkadang terpikir olehnya, apa benar itu orang yang sesuai dirinya? Apa benar nanti dia tidak bisa main dengan teman-temannya setelah menikah? Apa benar dia harus meninggalkan ayah ibunya yang selama ini jarang berjumpa dengannya? Bagaimana jika orang yang dia suka ternyata ingin melamarnya tapi sudah kedahuluan?

Padahal jauh sebelum tiba di kondisi itu, dia selalu mendambakan sebuah pernikahan. Lalu menjelangnya justru dia ketakutan, ketakutan akan ketidakpastian ke depannya. Terkadang terpikir olehku, tidak baik juga berpikir terlalu jauh, membuat rasanya tidak mungkin, padahal masih ada tahapan yang harus dilakukan. Ya, begitulah ketakutan kondisi itu.

Lalu mundur sedikit, malam itu teman mainku cerita, dia sudah izin ke orang tuanya dan berniat menghampiri keluarga calon pasangannya, tapi keresahan itu datang, orang tua calon pasangannya sudah ketakutan kalau anaknya itu tidak tinggal dengan keluarganya, sementara itu temenku juga harus tinggal dengan keluarganya karena anak pria dan ayahnya sendirian. Tapi keluarga calon pasangannya juga mengharapkan anaknya itu merawat kedua orang tuanya. Dan jarak tempat kedua keluarga itu lumayan jauh, terpisah pulau. Lalu keresahan itu membuat ia bercerita kepadaku.

Aku gemes rasanya, tapi aku juga tak pantas berkata banyak, toh aku belom pernah mengalami di kondisi mereka bukan? Tapi, ketakutan terlalu jauh itu memang terkadang, bagaimana ya? Ya, itu membuat kebaikan terkadang terhambat... Hingga saat ini temenku masih menahan-nahan kunjungannya ke keluarga calon pasangannya, karena masih belum diizinkan orang tua calon pasangannya.

Temenku sendiri juga sudah berdiskusi dengan kakak dari si calon pasangannya, namun tampaknya masih belum menemukan jalan keluar. Ya, begitulah keresahan kondisi itu.

Mundur sedikit lagi, ini mungkin bukan cerita langsung kepadaku, tapi melihat gerak-gerik dan cerita dari teman-temannya, tampaknya temanku ini sudah cukup serius dengan calonnya. Bahkan menolak jalan-jalan bersama teman-temannya, dengan kata lain, mungkin sedang menabung? Ya, aku mengerti kondisi itu, namun kalau dari calonnya, tampaknya masih ketakutan untuk move dari dunia perkuliahan, karena baru saja selesai sidang. Tampaknya mereka masih menunggu-nunggu seraya mempersiapkan.

Apa keresahannya? Entahlah, aku tidak tahu pasti, tapi kondisi itu cukup menguras sabar. Terkadang ingin tapi kondisi belum memungkinkan, terus bersabar dan ikhtiar bukan? Tapi kalau dilihat dari dua orang itu, mungkin memang masalah waktu dan kesiapan, jika dilihat dari keluarga mereka tinggal, ketertarikan... semoga saja yang terbaik buat mereka.

Lalu mundur sedikit lagi, temanku lainnya, mungkin dia lagi asyik kerja, terlihat tak acuh terhadap dunia perjodohan. Tapi, ketika pembahasan itu ada, dia baru sadar ternyata waktu begitu cepat dan sekarang obrolan itu begitu serius. Dan teman-temannya sebentar lagi meninggalkannya, mungkin tidak bisa main bersama lebih sering atau semacamnya. Karena punya keluarga masing-masing.

Tapi, ternyata sebenarnya ibunya sudah ingin anaknya segera menikah, berhubung anak terakhir, bahkan sudah ingin mengenalkan calon kepada anaknya. Namun dia merasa tidak cocok, dan akhirnya masih fokus kerja...

Lalu mundur lagi, kali ini temanku yang masih menikmati main-mainnya, obrolan soal pernikahan dia tak terlalu mencolok, terkesan cuek dan ya... nikmati saja dulu di depan mata. Jika ditanya bagaimana kelanjutannya? Tidak ada jawaban.

Tapi, entahlah, mungkin dalam benaknya sudah terancang rencana-rencana bagaimana, aku saja kali yang tidak tahu. entahlah...

Jika mundur lagi, ya, itu diriku. Terdiam mendengarkan cerita-cerita mereka dan sok-sok memberi solusi terhadap masalah-masalah mereka. Padahal aku pun punya keresahan sendiri... Apa keresahanku? Keresahanku adalaaaahh... rasanya setiap hari diriku bukan semakin baik tapi malah semakin menyedihkan... hiks...

Bagaimana dengan orang tua? Bahkan orang tuaku pun punya keresahan seperti apa-apa yang pernah kutulis sebelum-sebelumnya. Mungkin begitu pun orang tua-orang tua lainnya ya...

Rasanya mau apapun dan bagaimana pun, tidak ada yang harus diirikan atau disesali, karena keresahan pasti menghampiri bukan? Tinggal bagaimana kita menghadapinya, kan?





Rabu, 08 Agustus 2018

Kamuflase

Pagi itu aku bersama ummi, berjumpa dengan teman-temannya ummi di sebuah tempat yang kami kunjungi rutin setiap sabtu pagi... Lalu setelah pertemuan itu ummi cerita kepadaku akan perbincangan dirinya dengan salah satu temannya. Kurang lebih begini...

Temannya: Bu, anak saya disuruh keluar dari pesantren sama ayahnya, ayahnya nggak suka.
Ummi: Yah sayang banget
Temannya: Iya bu, mana hafalannya udah 10 juz.
Temannya melanjutkan: Bagaimana kalau anak ibu aja (sambil menatapku yang berada di seberang) yang ngajarin anak saya bu?
Ummi: Lah, anak saya saja nggak ada hafalannya, yang ada malah anak ibu yang ngajarin anak saya

Hening... Kurang lebih begitu ceritanya dan aku tertawa terbahak-bahak. Aku tiba-tiba merasa bersalah ketika merasa dipandang baik, entahlah.

Begitupun kemaren pas aku cerita gimana aku dibanding keluargaku dengan salah dua orang, salah seorang yang ku ajak ngobrol menyeletuk. "Wah tampang kamu doang baik ya, ternyata paling parah." Aku tertawa puas... Antara bersyukur dan miris kalau gini ceritanya.

Dulu-dulu lagi, lebih parahnya, anak kuliah banyak yang mengira aku benar-benar anak baik-baik. Lalu aku merasa berdosa dan tertawa terbahak-bahaknya.

Biarkan aku sedikit menghela napas. Haha. Oke, semoga saja apa yang mereka-mereka lihat menjadi kenyataan pada diriku yang tidak hanya terlihat baik bagi mereka tapi benar-benar baik ya. Hahahahahahahahahahahahahaha...

Aamiin.

Senin, 06 Agustus 2018

Dermaga

Selalu diingat itu menyenangkan ya, tak perlu banyak, tapi diingat beberapa. Terima kasih, tapi memang semua-semua itu harus segera berakhir, karena kapal akan berlayar dan dermaga selalu ditinggal.

Jumat, 03 Agustus 2018

Sapimen: Berharap

Yang membuat kamu semangat, harapan.
Yang membuat kamu kecewa, harapan.
Namun yang membuat kamu semangat tanpa kecewa, harapan kepada Allah SWT.

- ditranskrip dari twitter pribadi