Minggu, 30 September 2018

Keringat Dingin

Ternyata, keputusanku kurang tepat
Memberanikan diri ke Byzantium seperti mencari luka
Dengan kebodohan yang terlupa
Ah, kenapa minum kopi sebelum makan nasi?

Sebelum ku memberanikan diri ke Byzantium
Ritual Durian mingguan terjadi
Aku tidak bisa mengelak dan membela diri
Karena terkadang itu yang kunanti

Jauh sebelum itu lagi,
Rupa-rupanya aku lupa menyantap nasi
Terakhir mungkin siang
Tapi tubuh ini tidak bisa seenaknya

Pada akhirnya, selepas kumenatap bulan penuh
Selepas melihat jalan tol yang ternyata senyap
Melihat beberapa orang tengah berbincang
Aku pulang, dengan luka tersisa

Keringat dingin.

Suratman

Pagi hari.
Aku mengeluh.

"Ini pergi 45km mi, pulang pergi udah bisa di jama' shalatnya," tuturku berusaha menghibur diri.

Tubuh yang masih pegal, mata yang masih mengantuk. Aku akhirnya pergi bersama ummi sejauh itu.

Dijalan tak sedikit dibenakku rasa kesal yang tertahan...

*

Sore hari.
Aku di tegur oleh-Nya.

Hari ini di kelas sangat menyenangkan, kumulai dekat dengan Suratman, kita satu kelompok. Saat bersiap pulang aku bertanya kepadanya.

"Tinggal dimana, ustadz?" Tanyaku

Dia menjawab. "Tanggerang." Seraya mengenakan helm.

Aku langsung terdiam menelan ludah. "Berapa jam?"

"2 jam an lah."

Aku mencerna kembali, aku aja satu jam seperempat sudah merasa payah, apalagi jika 2 jam. Aku penasaran, "itu berapa kilo?"

"Nggak pernah ngitungin." Katanya sambil mencari sendal.

"Ya ampun, jauh banget." Aku takjub.

"Ya semakin jauh kan semakin banyak amalan yang dihitung." Jawabnya.

Tersentak aku teringat khotbah jum'at kemarin, jika kita tau fadilah fadilah setiap ibadah, pasti kita akan merasa rugi jika melewatkannya dan berlomba-lomba mendapatkannya.

Sore itu, aku pertama kali tertawa banyak di kelas, dan yang lain pun tertawa.

Sabtu, 29 September 2018

Si Kembar

Salma.

"Mas, itu ih fotonya."

"Mas, pp-nya jelek banget."

"Mas, itu pp-nya apaan MasyaAllah *emot sedih*"

"PP-nya dikondisikan ih."

"Coba deh pp nya diganti dulu..."

"Gaje banget sih ppnya."

"Jelek ppnya."

"Kenapa nggak ada ppnya?"

"PP-nya alay."

"PP-nya mas Hilmyyyyyyyy *emot sedih*"

Dari sekian banyak chat kita, sebagian besar semua berawal dari komentar Salma terhadap foto profil WA-ku.

Sepertinya Salma belum siap menerima kakak sepertiku. Haha... Sabar ya Sal... :p

***

Qonita.

"Mas, kalau presentasi pakai mic ndak?"

"Suara Qonita kecil, pengen pakai mic mas, tanpa kabel. boleh nitip mic nggak? Beliin di toko online gitu, nanti nitip ke ummi pas ummi ke solo, Qonita nggak ngerti soalnya. Harganya dibawah 200k aja ya. Hehe"

Aku bertanya. "Memang di kelas ada speakernya?"

"Yah harus pakai speaker kah?"

Aku menahan tawa. "Nanti micnya dikemanain Qon? Kan inputan suaranya di Mic, terus ngeluarinnya dimana dong Qon?"

"Wkwkwk Qonita nggak faham, lah terus yang wawancara itu gimana? Mereka nggak bawa mic, tapi bisa ada suarnaya gitu? Kok bisa ya?"

Aku menjawabnya dengan sabar. "Itu dia pakai recorder, kedengeran suaranya pas di laptop. Kalau kamu di kelas, pakai recorder, terus mau didengernya gimana?"

"*emot nangis* yaaah, gimana doong? Qonita udah teriak poll di kelas tapi tetep aja dibilang suaranya paling kecil, di kelas ada 50 orang, di bagian depan aja katanya terdengarnya samar-samar."

"Yaudah, lebih keras lagi."

"Tapi sakit nanti tenggorokan Qonita."

"Yaudah, jangan dipaksain nanti sakit."

Aku tertawa tapi tidak tega. Mungkin Qonita harus bersabar punya kakak yang tidak membantu sama sekali. :))

Jumat, 28 September 2018

Buntu dan Bandung

Buntu.
Beberapa hari ini, aku merasa tertahan
Berjalan ditempat
Oh tidak, berlari, karena aku lelah sekali, rasanya

Sepertinya aku harus keluar dahulu
Untuk kembali yang lebih baik
Dua hari, aku tidak banyak berkutik
Terdiam menatap warna dan garis yang menyatu tapi tak menentu

Berkenaan dengan keluar
Mendadak banyak suara sepihak denganku
Kita kangen Bandung,
Ya kita.

Setahun sudah aku pergi dari Bandung,
Walau masih menjumpai Bandung setelah itu
Tapi, cerita di Bandung memang sudah berakhir, tak bersisa
Sekarang aku kangen, dan aku tak sendiri hehe

Kita kangen Bandung
Aku buntu
Seolah mereka saling sahut menyahut
Hidup ini memang selalu dengan tanda-tanda

Jadi kapan kita ke Bandung?
Wah, ternyata Keju mau ke Jakarta
Mungkin setelah itu?
Ah aku kangen.

Kuharap,
Kangen yang terusaikan ini
Melepas kebuntuan itu
Tapi, hidup tak ada yang tahu.

***

Allah Maha Mengetahui.

Kamis, 27 September 2018

Hujan dan Harapan

Tadi hujan,
aku harap ibu tetap disini.

Begitulah harapan Ji Ho... Menatap langit dengan penuh doa, agar hujan senantiasa mengiringi sepanjang hari.

Agar ibu tidak pergi.

- Be With You

Senyum-senyumku

Ngiiiinnggg...

Aku melihat sekitar, sesekali mencondongkan badan ke depan dan ke belakang, suara itu menghilang. Saat balik ke posisi semula, suara itu terdengar lagi.

Ngiiiingggg...

Kupingku sedikit sakit, aku menoleh ke samping, kumelihat seorang guru dengan pakaian pramukanya dengan telinga kanan terdapat sesuatu yang menempel ke daun telinganya, seperti headset atau mungkin alat pendengar?

Aku kembali menatap ke depan, lalu menunduk dan tersenyum.

***

Saat itu lampu merah sedang menghadang, aku terpatri diantara motor-motor. Aku melihat seorang wanita, memeluk pria di depannya, tatapannya ke depan, matanya terlihat sangat belok, sangat belok daripada biasanya mata orang-orang, dan bibirnya terlihat merengut.

Aku kembali menatap ke depan, menatap kosong dan tersenyum.

***

Selepas shalat, anak kecil berjalan menuju imam, tidak sampai imam ternyata, dia bermain-main ke mimbar, membuat suara gaduh. Ayahnya terlihat kerepotan, ia menuju mimbar, membawa anaknya ke shaf ayahnya, anaknya bersih keras ingin di mimbar, tapi ayahnya telah memutuskan, bahwa mereka harus kembali ke shaf.

Lain hari, ayahnya sedang shalat, sang anak terlihat tiduran di depan hadapan ayahnya, terkadang sampai ayahnya menggendong si anak sembari shalat, terkadang si anak teriak-teriak sendiri. Matarnya sedikit belok, jika dilihat perawakannya kayak artis Indonesia, ah kulupa namanya...

Umurnya kisaran 5 tahun ke atas jika dilihat tubuhnya.

Aku menatapnya, dan tersenyum.

***

Awal masih menginap di kantor, malam terkadang menjadi masalah untukku sendiri, aku harus mencari makan keluar. Saat itu, pertama kali aku ke sebuah tempat penjual nasi goreng, kumelihat pria yang memasaknya, tingginya setengah dariku, kakinya panjang sebagaiman mestinya, tangannya panjang sebagaimana mestinya, wajahnya sebagaimana mestinya. Namun, tidak untuk badannya.

Aku menatap bulan malam itu, dan tersenyum.

***

Perjalanan jauh Abdul Qodri, Jakarta Pusat - Bogor, dengan tinggi setengah dariku, dengan ciri seperti di atas (penjual nasi goreng). Tidak ada masalah berarti jika dilihat baginya, dia tetap melewatinya. Terkadang ketika beres-beres bangku, walau tinggi bangku dengannya hampir sama, dia tetap melakukannya.

Aku tersenyum, menatapnya.

***

Saatku tersujud, tak sengaja ku melihat kaki disebelahku. Aku benar-benar terkejut, aku seperti melihat hantu. Aku tak tahu, seusai shalat. aku memastikan lagi kakinya. Kaki terlihat sangat lebih putih, terukir kaku, tanpa kuku, terbuat dari kayu. Ketika berjalan terdengar suar pegas.

Sore dan keesokannya, aku berjumpa lagi.

Aku yang terkejut, pun tersenyum seraya menunduk.

***

Aku tersenyum, dengan tatapan kosong...

Rabu, 26 September 2018

Kopi Gayo

Akhirnya, ku memberanikan diri
Duduk di Byzantium
Memandang tol di pesisirnya
Melihat kendaraan hilir mudik

Kusendiri?
Oh tidak, malam ini kuditemani
Oleh rembulan
Yang purnama

Senin, 24 September 2018

Makanan Panas

"Huhh Haah huuuh haaah." Seorang bocah kelabakan.

"Sudah tahu panas, kenapa kau makan?" Tanya bocah lainnya keheranan.

Selepas makanan panas di mulutnya tertelan, bocah itu menjawab dengan masih kepanasan. "Lidahku melepuh." keluhnya.

"Dan kupikir, aku sulit bicara sekarang." Lanjut bocah itu menjulurkan lidahnya.

"Lalu kenapa masih kau lakukan?" tanya bocah yang masih keheranan.

Bocah itu pun mengakhiri ucapannya. "Setidaknya, aku malas bicara sekarang--lidah melepuh--, dan aku jadi sedikit salah."

Kedua bocah itu terdiam, menyantap makanannya yang masih panas.

Jumat, 21 September 2018

Kenangan dan Masa Depan

Antara kenangan dan masa depan
Kurasa belakangan ini diriku terjerembap
Sebuah ilusi yang pernah nyata
Sebuah asa yang pernah menjadi rasa

Jatuh, ke beberapa tahun silam
Bercerita tentang indahnya masa kuliah
Gedung yang sering dijelajahi
Tempat-tempat yang sering dikunjungi

Beramai-ramai, penuh riang dan gurau
Tak jarang berganti,
Dari satu lingkaran pertemanan ke lingkaran lain
Membuat kelompok-kelompok hingga akhirnya sendiri

Di penghujung kenangan itu, semua sudah sibuk
Masing-masing punya asa untuk dikejar
Dan kita perlahan dipersatukan kembali untuk perpisahan
Ya, wisuda itu sangat cepat berlalu, November depan, setahun sudah

Di kepala, terus berputar semua itu
Di mana selalu ingin buru-buru ke lab
Bertemu orang banyak, bercerita, bercanda,
Atau menonton bersama

Di kala hujan,
Sebangun tidur,
Di lab langsung nonton film,
Sejuk dan kadang di kala hujan jatuh semua itu sangat menguat di kepala

Dan sekarang, aku terjebak dengan kenangan itu
Ku seperti tak ada arah, kenangan dan masa depan
Ku mendengar kata-kata itu saat sibuk menjajal makanan semasa kecil
Kenangan itu sudah berlalu, dan kata orang kita harus menyongsong masa depan bukan?

Masa depan, aku tak tahu
Rasanya, ku sedang di tengah kehampaan,
Hanya melewati rutinitas dengan berusaha sesuka cita mungkin
Tapi, menjelang malam, rasa yang di pendam itu selalu muncul

Lalu apa?
Bagaimana dengan cerita masa depannya?
Apa rencanaku?
Kenangan itu telah pergi.

***

Keadaan ekstrovert di diriku kambuh, aku butuh lingkaran pertemanan yang bisa aku jumpai, yang bisa berbicara panjang lebar tanpa harus tertahan, aku seperti kehilangan energi, ku lelah sendiri rasanya. Semua serba terpendam dan menelannya sendiri.

Tapi, semua sudah di zonanya masing-masing, menyamakan waktu antara dua zona tampaknya tak mudah.

Baik, sekarang ku hanya bisa bermain game dari kejauhan, demi adanya lawan bicara.
Selamat Malam.


Tiba-tiba di Facebook pas banget nampilin foto ini, ini foto dies natalis IF kedua, siap petualangan antar kelas, di sini kekompakkan skip kalkulus menjadi modal penting bahwa kita saling mendukung, dan menjadi kelas yang terbilang paling kompak dan disegani. Di tahun ini futsalnya hampir aja final, seandainya aku tidak salah oper, hiks, teringat betul masa itu. Tapi, jauh, perjalanan jauh ke semi final itu menjadi haru bagiku sendiri. Terima kasih, iFive! Make it Simple!

Bekerja

Kalau aku tidak bisa kerja secara cerdas, setidaknya aku harus kerja lebih keras.

***

Postingan tentang ayah yang selalu tertunda, malam ini atau besok kudu dibuat.

Basket dan Istiqomah

Pagi itu, jadwal pengganti basket hari rabu setiap minggu. Aku datang terlambat, tidak seperti biasanya setiap basket. Entah kenapa rasanya males sekali buru-buru, karena biasanya juga mulainya agak siangan. Karena kulihat di grup whatsapp cukup sepi, semakin yakin aku berangkat agak siangan.

Setiba di lapangan, ternyata udah rame, bahkan ketika aku masuk ke lapangan, sudah pada selesai. Lalu bang Banu bertanya. "Kok tumben siangan? Biasanya selalu pagi." Sapanya sambil salaman denganku.

Aku menjawab dengan bercanda. "Abis biasanya ramenya baru siang, eh sekalinya siang, ternyata udah pada kelar."

Bang Banu tertawa. "Makanya harus istiqomah, kitakan gak tahu kapan yang paginya rame dan kapan yang enggak." Tuturnya.

Aku ikut tertawa, benar juga ya, aku jadi teringat sesuatu. Sama seperti ibadah, kita tidak bisa menjamin ibadah yang sedang kita lakukan diterima, kita juga tidak tahu ibadah mana yang akan diterima oleh Allah SWT, kalau nggak istiqomah, bisa jadi ibadah kita memang belum ada yang keterima bukan?

Karena kita tidak tahu apapun, Allah Maha Mengetahui.

***

Beruntung, mereka menghargai ke datanganku, tadinya yang pada mau udahan, jadi lanjut segame lagi, full lapangan. Sampai siang menjelang. Lalu aku diajari pola shoot naufal, bagus juga untuk 2 point, tapi nggak kuat untuk posisi 3 point. Terima kasih, hari itu.

Kamis, 20 September 2018

Melewati

Siapa sangka?
Hari ini aku kejar-kejaran dengan hujan.
Tempat-tempat yang kulewati terguyur begitu saja.
Dua hari yang teduh, tapi pikiran ini tidak.
Biarkan begitu, setidaknya pikiranku masih berfungsi dengan baik.

Allah Maha Mengetahui.

Sabtu, 15 September 2018

Kooperatif

Kooperatif.

Menurunkan ego, Berkomunikasi, Menyelesaikan Masalah.

*

Kenapa sih kita harus berselisih? Semua beranjak dari latar belakang atau inputan kita selama ini, kita punya konsentrasi masing-masing yang terus kita perjuangkan, hingga akhirnya kita melupakan soal masalah yang harus diselesaikan, dan jadilah perselisihan itu.

Hingga akhirnya aku merasakan, belakangan ini, seolah di dua lingkungan utamaku--rumah dan kantor--sangatlah kooperatif sekali, kita tahu, kita selalu punya masalah yang harus diselesaikan, dan kita tidak bisa berjalan sendirian, terlebih kita tidak bisa terus beranggapan jalan kita adalah jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah ini (bicara lain soal jalan berlandasan Islam, itu mutlak benarnya ya!), hingga akhirnya kita menahan, setiap ego yang ingin dilampiaskan, dan kita harus saling mendengarkan.

Di rumah, ada tiga orang, aku, umi dan abi. Ketiganya punya kesibukan masing-masing, bahkan waktu kumpul pun cuman selepas subuh. Hingga akhirnya, di akhir pekan ini, kita bertiga ada kesibukan yang saling bersangkutan. Aku yang biasanya mengantri dan mengantar nenek ke rumah sakit, tapi harus tetap mengikuti aktivitas rutin yang biasa bareng umi, sedangkan umi harus pergi ke cirebon pagi ini, dan abi harus berobat siang ini.

Semua sibuk, hingga akhirnya semua menurunkan ego, kita diskusi bagaimana enaknya? Pertama, umi pasti ke Cirebon, dan aku nggak boleh bolos, Abi harus tetep berobat. Oke, akhirnya abi mengalah, abi yang ngantri dan nganter nenek ke rumah sakit agar aku tetep masuk. Dan aku harus nganter umiku ke sekolahnya agar tidak ketinggalan untuk pergi ke cirebon.

Tidak semudah yang dipikir, pertama kita harus bangun lebih pagi semua, sempat aku ingin mengeluh karena masih ngantuk dan tidak tahu jalan menuju tempat aktivitasku jika dari sekolah umiku, tapi ada orang lain yang bergantung kepadaku, jika aku memaksa egoku untuk tidur lebih lama sedikit aja atau berlasan gak tahu jalan ke tempat aktivitasku, bisa jadi umi ketinggalan rombongan. Sedangkan abi juga harus lebih dulu berangkat ke Jakarta agar dapat nomor antrian dan dokter yang diinginkan. Jika terlewat saja, bisa jadi nenekku tidak jadi berobat. Dengan nenek tidak berobat mungkin saja banyak mudarat yang terjadi lagi. Semua terhubung.

Akhirnya kita berangkat, kurang lebih jam 4 kurang, di tengah gelapnya dan dinginnya pagi, aku terus menahan-nahan, rasanya dingin sekali, jika bukan atas izin Allah, biasanya perut udah sakit. Aku sama umi sudah tiba di sekolahan. Tapi, ternyata umi pakai helm juga. Karena biasanya kalau nganter umi, umi suka gak pake helm, dan kalau bawa helm dua itu meribetkan, karena dashboard motor bebek tidak seenak matik, aku sempat mengerutkan keningku dan rasanya kesal. 

Kenapa harus bawa helm dua? Kan pagi-pagi gini, gak ada polisi juga? Biasanya juga gak bawa helmkan? Benakku. Tapi aku hanya bertanya, "Ngapain bawa helm dua mi? Kan susah bawanya Hilmy."

Lalu umi menjelaskan. "Umi nggak kuat anginnya dingin nanti kena kepala jadi masuk angin." Aku langsung diem, aku merasa bersalah detik itu juga, toh cuman helm doang, yang pada akhirnya tidak ada masalah sama sekali selama perjalanan kemana-mana.

Setelah itu, misi mengantar umi kelar, dan aku melanjutkan perjalanan yang sebenarnya tidak tahu kemana harus berjalan, walau abi menjelaskan sedikit, tapi rasanya masih ada kesal aja, tapi akhirnya sampai pada tempat tanpa nyasar, misi sampai lokasi pun selesai, tanpa masalah.

Begitu pun abi, akhirnya berhasil mengantri untuk nenek ke rumah sakit. Dan siangnya bisa pergi ke berobat. Dan alhamdulillah, semua selesai.

Menurunkan ego.

Sedangkan, jauh dari rumah, sekitar 24 kilometer, kantorku. Aku merasakan hal yang sama, ada yang berbeda belakangan ini. Belakangan ini, di tim, kita lebih intens diskusi, walau suka ada perubahan setiap diskusi, tapi disini, kita menahan ego, mencoba mendengarkan, dan menyampaikan konsentrasi masing-masing.

Tak sedikit terlihat wajah yang menahan egonya, dan itu membuatku tersanjung. Dulu, mungkin, ini yang aku rasakan, kita seolah berjalan masing-masing, kita punya konsentrasi masing-masing yang perlu dikedepankan, hingga akhirnya kita saling memberatkan satu sama lain, terlebih dari aku, aku merasa sangat sering memberatkan yang lain.

Tapi belakangan ini, kita lebih sering komunikasi, dan saling mengingatkan hal-hal yang perlu diperhatikan. Rasanya seperti kita tahu sama-sama tujuan akhir, dan kita perlu saling membantu, terkadang beberapa orang memberikan saran desain untukku. Pernah satu waktu aku hingga menghela napas melihat feedback desain, rasanya saat itu malas sekali bertemu orangnya dan merubah banyak desainku, tapi saat itu pikiranku adalah, omongkan saja dulu. Kita tahu tujuan akhir yang sama, dan Alhamdulillah semua terselesaikan dengan baik.

Tahannya perkara desain, beberapa orang juga memberikan saran algoritma ke teman lainnya, dan banyak lagi. Bahkan aku sempat memberikan saran untuk sebuah template codingan include desain, dan responnya sangat-sangat positif, saat itu juga aku merasa hidupku benar-benar berguna hehe... 

Walau terkadang ada perubahan secepat kilat, tapi kita tahu, ini yang perlu kita lakukan agar semua pekerjaan ini segera selesai dengan baik. Tapi tetap saja, kita tidak bisa seenaknya mengubah-ubah.

Dan saat itu pun aku merasa sedang banyak belajar, belajar bagaimana mendengarkan dan memikirkan orang lain. Mungkin selama ini idealismeku membuat orang lain jengkel.

Masalah.

Mungkin, jika memang tujuan kita adalah menyelesaikan masalah, kekacauan di dunia politik saat ini gak semenjijikan saat ini. Kenapa harus politik? Jika memang ingin negara ini damai dan segala masalah terselesaikan, bukannya seharusnya kita saling mendengarkan dan bekerja sama? Bukan saling menjatuhkan dan menjelek-jelekkan? Bukankah kita harus memikirkan apa solusinya? Bukan berebutan kekuasaan lalu melupakan masalah untuk sebuah pencitraan "terlihat bagus"?

Aku selalu bertanya-tanya, apakah benar-benar mereka yang sedang bertarung ini ingin menyelesaikan masalah? Atau hanya ingin kenikmatan berkuasa? Lantas buat apa uang bermiliyar bahkan triliun hanya untuk menentukan kepala daerah dan lainnya. Padahal jika uang itu digunakan untuk menyelesaikan masalah misal dengan membuka sebuah peluang usaha atau semacamnya, bukankah itu setidaknya tindakan konkret untuk menyelesaikan masalah negara ini yang salah satunya hutang?

Begitupun dengan kenapa kita harus impor jika kita sama-sama berjuang mengolah yang ada untuk selayak bahkan lebih baik dari barang-barang yang harus kita impor? Kenapa kita tidak berusaha untuk membuat bukan untuk membeli? Kenapa kita harus memakan buatan orang, kenapa kita tidak bisa memakan buatan sendiri?

Bicara menghabiskan uang, bagaimana kita dengan mudah menghabiskan uang untuk pembukaan asian games hanya biar terlihat wah, sementara masalah utama saat itu diantaranya adalah bencana dan hutang yang harus? Bukan, bukan berarti kita tidak boleh memberi sambutan meriah. Tapi, ini menyangkut hidup dan harap jutaan orang bukan?

Jika mereka-mereka ingin masalah ini selesai, seharusnya mereka berpikir jalan keluar bersama. Setidaknya itu menurutku.

Aku sering dengar, mungkin kita bisa bersatu jika sudah punya musuh bersama.

Masalah ini tidak akan berakhir, jika kita semua sibuk menunjukkan, aku adalah pahlawannya.


Jemari Kecil

Jika dibandingkan ke teman-temanku dan adikku yang kurang lebih tingginya sebanding denganku, jemariku terhitung paling kecil sampai akhirnya suatu waktu aku bilang ke salah satu dari mereka.

"Pantes gue nggak jago basket, jari gue kekecilan dibandingkan bolanya." Pancingku.

Lalu mereka menyahut menolak pernyataan itu. "Lah, terus anak kecil yang jago basketnya itu gimana?"

Aku tersenyum senang.

Di hidup ini, janglah kita membatasi diri, terlebih untuk kebaikan. 

Salam tangan kecil kuku jengkol~ hehe


Jumat, 14 September 2018

Menulis Dengan Kalian

Weeelcooommeee baaaackkk Calon Bapak Guru, Dikawow!!!

Setelah liat story WA-nya Dhieka aku senyum-senyum sendiri, yeay, akhirnya ngeblog lagi! Tinggal Septian nih yang belum bergema lagi.

Setelah dipikir-pikir ternyata kita ngeblog sudah lama ya, dan kita ngeblog kayaknya masing-masing, lu-lu ya gue-gue, kita sibuk sama cerita kita sendiri ya? Tapi, karena kita udah jarang ngobrol dimana pun itu, rasanya seneng baca cerita-cerita kalian, kayak lagi diceritain tanpa adanya batas ruang dan waktu.

Aku juga ingat dimana aku sama Dhieka sibuk sama edit-edit desain blog, dulu kita terobsesi sama Benakribo, tapi sejujurnya aku yang tidak suka baca ini, hanya seneng aja melihat kreatifitasnya. Tapi dunia perblog-an mulai padam sekarang.

Kalau Dhieka cukup terobsesi banget sama Benakribo, kalau aku mungkin dulu pengen banget bisa nulis blog kayak Raditya Dika, walau, sebenarnya aku tidak pandai ngelucu. Ya, tapi namanya juga gak ngerti, jadi sok-sokan aja ngelucu.

Mungkin aku harus menyedikitkan cerita tentang diri sendiri, rasanya ingin belajar menulis sesuatu hal yang penting, yang ada manfaat keilmuannya gitu, tapi tidak kaku atau baku. Hal ini terpikir karena melihat akun instagram Doniriw, yang tulisannya penuh analogi yang enteng tapi syarat makna, kayak setiap habis baca ketawa sendiri, ketawanya karena, oh iyaya, bisa juga diibaratkan begitu.

Mungkin cerpen juga bisa. Ah, sudah lama tidak berimajinasi, kebanyakan mikirin yang tidak penting. Kalau cerpen atau novel dulu suka nulis-nulis bareng Bebby, atau sama Hannan serta Sitah. Atau sama adik-adik di Aksara. Atau juga menulis kisah sepotong di twitter, terus sahut-sahutan sampai buat cerita sendiri dari dua pemikiran yang berbeda. Wah menyenangkan ya kalau menulis rame-rame tuh, ada yang review, ada yang komentar, dan jadi ada yang terpaksa baca punya orang lain (ini aku sih yang harus terpaksa-paksa kalau baca tuh).

Bicara membaca. Terkadang, ada yang tidak kuhabis pikir jika dipikir-pikir. Ternyata Septian suka baca, sangat suka baca, hampir semua buku Tere Liye telah dia baca, dan aku berbanding terbalik. hiks...

Aku juga masih ingat, Septian suka nulis, tapi dia lebih suka buat cerita bersambung di blog-nya tentang cinta-cinta gitu, hihi tampangnya serem tapi suka nulis cinta-cinta, terkadang lucu sendiri. Sampai akhirnya kita bisa masuk antologi ramadhan ya hehe

Well, senang melihat postingan dari Calon Bapak Guru Dhieka. Masih ditunggu ya bapak akuntansi kita, Septian. Hehe... Kapan kita bisa kumpul bertiga lagi ya?

Kamis, 13 September 2018

Banyak

Allah memberikan cobaan sekaligus kemampuannya. Begitu tutur ustadz Haikal Hassan dengan gemasnya.
Maka merugilah dia yang tidak mengambil kesempatan atau cobaan yang besar, karena nggak dapet kemampuan yang besar.

Hari minggu ujian, gak ngerti apa-apa. Karena ujian itu cobaan, berarti sebenarnya sudah dikasih kemampuan. Berarti harusnya bisa dong ya? Haha... Oke baiklah, tadi padahal Allah sudah kasih tanda-tanda di kantor sebelah buat belajar. Tapi hati belum tergerak.

Hidup ini memang harus pandai-pandai mengenali dan memahami tanda-tanda ya. Semua berawal dari tanda-tanda. Hidayah pun begitu. Tanda-tanda.

Beberapa hari belakangan mendengarkan cerita teman-teman yang kemarin-kemarin kepikiran apa kabarnya? walau belum semua terjumpai, setidaknya kubisa tersenyum dengan cerita hebat mereka-mereka.

Dan akhirnya naik kereta belakangan ini, dan itu menyenangkan...

Setelah menunggu berapa waktu, ternyata jam lonceng di masjid al fauzien bunyinya, nadanya sama kayak distasiun. Jadi suka nungguin deh...

Ketika kamisnya, pagi di stasiun sudirman, ngejar kereta ke bogor, lari-lari, dan ternyata... Waw lautan manusia sudah menyinggahi stasiun, dan akhirnya tidak keburu. Dan rasanya bersyukur banget tidak harus mengantri begini setiap harinya.

Terima kasih ya Allah.

Kapan ya diundang ke pernikahan lagi? Padahal mau jalan-jalan, rasanya seru, walau sebenarnya september ini kakak kelas menikah, tapi sayangnya tidak diundang.

Bicara main sambil menyambangi pernikahan, aku sampai bilang ke anak kelas waktu kumpul sedapatnya. "Ini kita nunggu ada yang ngundang nikahan aja, baru deh pada bisa ngumpul, makrab kalau perlu."

Dan ternyata, di depanku, anak kelas beserta (yang ternyata adalah tunangannya) teman kerjanya, telah mengundur pernikahannya yang direncanakan dibulan agustus. Aku jadi malu sendiri setelah tahu.

Entah jadinya kapan, aku ingin jalan-jalan hehe...

Ayam-ayam

Ayam geprek bensu buka di jalan pulang ke rumah. Ayam gempuk pak gembus buka di ruko perumahaan. Ini pemerasan macam apa yang sedang dilakukan? Hiks...

Rabu, 12 September 2018

Surprise

Surprise!

Wah dua hari ini, dipenuhi kejutan. Dari kisah pahit dan gembiranya sepasang yang berpisah lalu sebagian bertunangan. Hingga akhirnya kakak kelas melepas masa lajangnya yang ternyata dengan teman kantornya, padahal dulu sering digadang-gadang dengan temenku.

Kita tidak tahu apa-apa, benar-benar tidak tahu. Allah Maha Mengetahui.

Kamis, 06 September 2018

Sop Durian

Aku bertanya ke seseorang, "jika diberi pilihan hal yang kemungkinan kita sudah tahu jawabannya dengan hal yang mustahil, kira-kira pilih yang mana untuk diraih?"

"Hal yang mustahil."

"Kenapa? Padahal kita punya pilihan yang lebih enak, nggak perlu effort lebih, tidak perlu khawatir, sudah jelas, walau memang gak ada yang pasti sih."

"Karena, dengan meraih yang mustahil, berarti kita naik level, ibarat tuh itu pencapaian selanjutnya, level selanjutnya, lebih menantang, dan kenikmatan jika telah diraih itu, jauh, jauh berbeda rasanya dengan yang pilihan pertama--lebih pasti."

"Kalau begitu, kita sama."

Pertanyaan selanjutnya. "Tapi, bukannya lebih menakutkan ya mengejarkan yang mustahil?"

"Ya, namanya juga hidup, semua ada risikonya. Semakin tinggi yang ingin kita raih, semakin tinggi yang kita dapat, semakin tinggi juga risikonya."

"Tapi, ada rasa kekhawatiran tetep."

"Itu tandanya, jangan terlalu kebanyakan mikir. Lakuin aja. Nanti juga tahu setiap tahapannya apa yang harus dilakuin dan gimana menghadapinya."

"Kalau begitu, terima kasih."

***

Sop durian ini enak, tapi ternyata penuh ketan hitam. Mungkin minggu depan ke sini lagi--tempat sop durian--dan beli yang sop durian original.

Nongkrong

Waktu itu aku dan beberapa teman kantor akhirnya memutuskan cari makan di luar. Saat itu pilihan pertama adalah ayam geprek, karena ayam geprek harus ngantri setengah jam dulu untuk bumbunya, akhirnya beralih ke makanan cepat saji di dekat kantor. Yang ternyata, bisa saja kita mengantri setengah jam lagi, pffft... Memang harus sabar. Tapi akhirnya milih yang bisa paling cepat aja...

Saat itu kami berlima, diantara kami berlima hanya satu orang doang yang sudah menikah. Jadi obrolan kami saat makan paling nggak jauh soal nikah dan nikah. Kayaknya aku hampir overdosis bahas nikah-nikah. Tapi, mau gimana lagi, kalau kata orang-orang, memang udah masanya-kan? Begitu juga kata ummi.

Kita asyik ngobrol soal nikah, sampai akhirnya aku nyeletuk. "Sekarangkan, kita belum pada nikah, jadi kalau ngumpul gini omongannya nikah ya, nah kalau nanti udah pada nikah semua gimana?" tanyaku.

Hening sebentar sampai akhirnya seorang menyahuti dengan pasrah. "Ya, kalau udah nikah mah nggak ada nongkrong, sibuk sama istri masing-masing. Haha"

Kita semua mendadak tertawa. Bener juga ya? Kalau udah nikah kayak nggak seleluasa ini untuk ngumpul atau main. Ini temen ngumpul yang sudah menikah aja karena istrinya sedang hamil dan di tempat mertua jadi dia bebas, kalau udah bareng istrinya nggak mungkin bisa main sampai malam gini.

Akhirnya obrolan berlangsung, "Mungkin aja nanti ngumpulnya bawa istri." Kata seseorang.

Kita kembali tertawa dan sedikit membayangkannya.


Senin, 03 September 2018

Beberapa Pertanyaan

Apa aku sudah baik?
Atau hanya terlihat baik?

Apa aku sudah benar?
Atau mencari pembenaran atas apa yang dilakukan?

Apa aku sudah butuh?
Atau keinginan yang direngekan?

Apa aku sudah siap?
Atau hanya ingin terlihat siap.

Apa aku paham?
Atau mengangguk pura mengerti

Banyak pertanyaan untuk diri.
Malam ini angin kencang, kuharap kamu tidur dengan tenang. Tanpa kedinginan.

Selamat Tinggal Agustus

Tanpaku sadari, Agustus telah berakhir, sungguh cepat ya waktu? Rasanya baru kemarin awal Agustus, sekarang telah usai. Tapi, rasanya aneh, diusia yang bertambah, selalu ada orang yang ingat mengucapkan, rasanya terima kasih banyak, tapi tidak bisa membalas kebaikannya.

Agustus sudah berakhir, ditemui dengan tengkar yang cukup besar, tak ada ucapan dari saudara yang biasanya kita bilang Hiroshima dan Nagasaki, ah sudahlah, apa yang diharapkan dengan begituan? Terpenting semoga tengkar itu surut, dan menjadi tandus.

September, kuingat betul, Ali berulang tahun bulan ini, sahabatku dari kecil, rumah kita dekat, umur kita tak jauh beda, tanpa sadar aku punya temen sedari kecil ingusan hingga kini, wah, seneng. Oh ya, September juga bulannya Septian. Septian juga sahabat smpku, kenalan diangkot, keturunan cina, kita bersahabat karena rumahnya saling dekat waktu SMP, sementara yang lainnya sangat jauh. Tapi, kita lebih dari itu.

Kemarin bilang, perjalanan 2018 itu masih panjang, tapi ini sudah mau menuju ujungnya. Kebahagiaan semu dan kesedihan semu juga sudah silih berganti berlalu, lalu apalagi yang ada di sisa 2018 ini?

Agustus juga jadi kejutan sendiri, temen kuliah sudah menikah, biasanya yang paling suka ngajakin main kini sudah sibuk sendiri-sendiri, begitu pun teman yang lainnya, tampaknya mereka juga sibuk sendiri-sendiri, tegur sapa pun jarang. Sepi, hening.

Apa kabar teman-teman yang tak sedikit pun terjamah oleh isi kepala? Teman smp, smk, kuliah? Adakah mereka yang kepikiran apa kabar teman-teman mereka yang tidak terjamah oleh pikiran mereka? Entahlah.

Suatu waktu aku pernah berjalan di malam hari, menatap bulan dan bertanya, apakah ada orang bulan yang berpikir sama bahwa ada sesosok mahluk yang sedang menatap planet lawannya dan bertanya? Apakah ada yang melihat? Lupakan... hehe

Bagaimana ya hari esok? Apakah ada kejutan yang menyenangkan, kalau kejutan diharapkan, lalu kejutan itu muncul, apa masih bisa dibilang kejutan? Kan kita sudah berharap, atau mengira, atau memikirkannya. Aturan tidak jadi kejutan dong ya?

Dari semenjak niat untuk menulis lagi, hingga sekarang aplikasinya minta lisensi dan nggak bisa digunain lagi, tak satu pun tertulis.

Jadi kemarin chattingan sama temen kuliah yang sudah lama tidak berjumpa, dia mau ke Jakarta weekend ini, katanya sekalian main, aku sih ayok aja. Terus tanya-tanya, gimana masih main dota nggak? Dia katanya masih main, terus aku ditanya balik, aku bilang enggak, terus dia nanya kalau waktu kosong ngapain aja? Aku pun juga bingung sekarang, aku ngapain aja ya? Aku jawab, tidur. Yaa, kayaknya memang sekarang kerjaanku tidur, kemarin tidur dari jam 8 sampai dibangunin subuh. Haha

Agustus sudah berakhir, 23 tahun telah berlalu, terima kasih atas waktunya teman-teman, terima kasih memberikan pelajaran-pelajaran setiap detiknya, ada yang sampai bener-bener peduli sama orang cuek terkadang ini, ah jadi merasa bersalah. Maaf ya...

Lope lope yu all :v

Aku Bingung

Kamu bingung nggak?

Kalau iya, berarti kita sama.
Kalau tidak, berarti aku saja yang bingung.