Kamis, 27 September 2018

Senyum-senyumku

Ngiiiinnggg...

Aku melihat sekitar, sesekali mencondongkan badan ke depan dan ke belakang, suara itu menghilang. Saat balik ke posisi semula, suara itu terdengar lagi.

Ngiiiingggg...

Kupingku sedikit sakit, aku menoleh ke samping, kumelihat seorang guru dengan pakaian pramukanya dengan telinga kanan terdapat sesuatu yang menempel ke daun telinganya, seperti headset atau mungkin alat pendengar?

Aku kembali menatap ke depan, lalu menunduk dan tersenyum.

***

Saat itu lampu merah sedang menghadang, aku terpatri diantara motor-motor. Aku melihat seorang wanita, memeluk pria di depannya, tatapannya ke depan, matanya terlihat sangat belok, sangat belok daripada biasanya mata orang-orang, dan bibirnya terlihat merengut.

Aku kembali menatap ke depan, menatap kosong dan tersenyum.

***

Selepas shalat, anak kecil berjalan menuju imam, tidak sampai imam ternyata, dia bermain-main ke mimbar, membuat suara gaduh. Ayahnya terlihat kerepotan, ia menuju mimbar, membawa anaknya ke shaf ayahnya, anaknya bersih keras ingin di mimbar, tapi ayahnya telah memutuskan, bahwa mereka harus kembali ke shaf.

Lain hari, ayahnya sedang shalat, sang anak terlihat tiduran di depan hadapan ayahnya, terkadang sampai ayahnya menggendong si anak sembari shalat, terkadang si anak teriak-teriak sendiri. Matarnya sedikit belok, jika dilihat perawakannya kayak artis Indonesia, ah kulupa namanya...

Umurnya kisaran 5 tahun ke atas jika dilihat tubuhnya.

Aku menatapnya, dan tersenyum.

***

Awal masih menginap di kantor, malam terkadang menjadi masalah untukku sendiri, aku harus mencari makan keluar. Saat itu, pertama kali aku ke sebuah tempat penjual nasi goreng, kumelihat pria yang memasaknya, tingginya setengah dariku, kakinya panjang sebagaiman mestinya, tangannya panjang sebagaimana mestinya, wajahnya sebagaimana mestinya. Namun, tidak untuk badannya.

Aku menatap bulan malam itu, dan tersenyum.

***

Perjalanan jauh Abdul Qodri, Jakarta Pusat - Bogor, dengan tinggi setengah dariku, dengan ciri seperti di atas (penjual nasi goreng). Tidak ada masalah berarti jika dilihat baginya, dia tetap melewatinya. Terkadang ketika beres-beres bangku, walau tinggi bangku dengannya hampir sama, dia tetap melakukannya.

Aku tersenyum, menatapnya.

***

Saatku tersujud, tak sengaja ku melihat kaki disebelahku. Aku benar-benar terkejut, aku seperti melihat hantu. Aku tak tahu, seusai shalat. aku memastikan lagi kakinya. Kaki terlihat sangat lebih putih, terukir kaku, tanpa kuku, terbuat dari kayu. Ketika berjalan terdengar suar pegas.

Sore dan keesokannya, aku berjumpa lagi.

Aku yang terkejut, pun tersenyum seraya menunduk.

***

Aku tersenyum, dengan tatapan kosong...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komentar bagi yang perlu