Jumat, 21 September 2018

Kenangan dan Masa Depan

Antara kenangan dan masa depan
Kurasa belakangan ini diriku terjerembap
Sebuah ilusi yang pernah nyata
Sebuah asa yang pernah menjadi rasa

Jatuh, ke beberapa tahun silam
Bercerita tentang indahnya masa kuliah
Gedung yang sering dijelajahi
Tempat-tempat yang sering dikunjungi

Beramai-ramai, penuh riang dan gurau
Tak jarang berganti,
Dari satu lingkaran pertemanan ke lingkaran lain
Membuat kelompok-kelompok hingga akhirnya sendiri

Di penghujung kenangan itu, semua sudah sibuk
Masing-masing punya asa untuk dikejar
Dan kita perlahan dipersatukan kembali untuk perpisahan
Ya, wisuda itu sangat cepat berlalu, November depan, setahun sudah

Di kepala, terus berputar semua itu
Di mana selalu ingin buru-buru ke lab
Bertemu orang banyak, bercerita, bercanda,
Atau menonton bersama

Di kala hujan,
Sebangun tidur,
Di lab langsung nonton film,
Sejuk dan kadang di kala hujan jatuh semua itu sangat menguat di kepala

Dan sekarang, aku terjebak dengan kenangan itu
Ku seperti tak ada arah, kenangan dan masa depan
Ku mendengar kata-kata itu saat sibuk menjajal makanan semasa kecil
Kenangan itu sudah berlalu, dan kata orang kita harus menyongsong masa depan bukan?

Masa depan, aku tak tahu
Rasanya, ku sedang di tengah kehampaan,
Hanya melewati rutinitas dengan berusaha sesuka cita mungkin
Tapi, menjelang malam, rasa yang di pendam itu selalu muncul

Lalu apa?
Bagaimana dengan cerita masa depannya?
Apa rencanaku?
Kenangan itu telah pergi.

***

Keadaan ekstrovert di diriku kambuh, aku butuh lingkaran pertemanan yang bisa aku jumpai, yang bisa berbicara panjang lebar tanpa harus tertahan, aku seperti kehilangan energi, ku lelah sendiri rasanya. Semua serba terpendam dan menelannya sendiri.

Tapi, semua sudah di zonanya masing-masing, menyamakan waktu antara dua zona tampaknya tak mudah.

Baik, sekarang ku hanya bisa bermain game dari kejauhan, demi adanya lawan bicara.
Selamat Malam.


Tiba-tiba di Facebook pas banget nampilin foto ini, ini foto dies natalis IF kedua, siap petualangan antar kelas, di sini kekompakkan skip kalkulus menjadi modal penting bahwa kita saling mendukung, dan menjadi kelas yang terbilang paling kompak dan disegani. Di tahun ini futsalnya hampir aja final, seandainya aku tidak salah oper, hiks, teringat betul masa itu. Tapi, jauh, perjalanan jauh ke semi final itu menjadi haru bagiku sendiri. Terima kasih, iFive! Make it Simple!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komentar bagi yang perlu