Minggu, 24 Agustus 2014

Terpaksa Untuk Bisa

"Terpaksa untuk terbiasa, terbiasa untuk bisa, bisa untuk sebuah karya luar biasa."

*

  Malam itu sungguh terjadi begitu saja. Setelah berhasil menjadi panitia dadakan pada OSFAK IF (Ospek Fakultas IF), malam itu aku duduk manis di sekre dengan rentetan cerita sebelumnya. Seperti ngelihat temen ngoding, main bulutangkis, nyari karpet, dan sampailah saya di sebuah sekre dengan seorang yang terbilang senior.

  Pada malam itu, perbincangan tumpah begitu saja, banyak hal yang kami bicarakan. Pada awalnya kami jarang berkomunikasi lebih dalam, hanya saling sapa di jalan dan sebatas menanyakan kabar. Tapi, malam yang berangin dan penuh bintang itu kami bertukar kata untuk sebuah hal-hal yang terus menyusut ke sebuah masalah.

  Setelah berbagai masalah terjadi, tibalah di suatu hal yang cukup mengejutkan. Mendadak kakak seniorku tiba-tiba dapat telepon dari seseorang dan ternyata penelpon itu membutuhkan MC untuk acara besok. Kakak senior itu menyebutkan beberapa nama sampai akhirnya tiba dinamaku. Aku tersentak, terdiam, tapi dalam diri merasa bingung.

  Aku terus berpikir jangan sampai aku menjadi MC untuk besok. Tapi, apa daya, kakak itu bilang. "Kan katanya kamu masih malu jadi public speaking, saatnya sekarang kamu harus berusaha."

  Aku masih bungkam. Enggan berkomentar, hanya menggeliat di karpet dengan bingung.

  "Gimana mau nggak? Terkadang kita harus terpaksa untuk memulainya memang, nanti terpaksa itu akan membuat kita terbiasa, dan setelah terbiasa kita akan bisa. Gimana mau kan?"

  Enggan menjawab, aku hanya misuh-misuh sendiri.

  Tapi, inilah jalan yang diberikan Allah. Begitu saja, tanpa persetujuanku, kakak itu mengkonfirmasi bahwa aku siap untuk MC besok. Oh, tidak. Itu seperti serangan tiba-tiba yang menusuk mentalku, aku menolak malu. Walau aku sedikit tertantang.

  Jika ditinjau cerita-cerita sebelumnya. Tampil di depan umum bukanlah hobiku, bahkan sempat aku bersih keras, aku adalah pekerja di belakang layar. Atau di belakang kamera. Pertama kali tampil di depan banyak orang ketika sebelum kuliah dilangsungkan, saat itu acaranya non formal. Aku bebas ngomong sesuka hatiku.

  Lalu berikutnya, mengisi acara di panti asuhan. Dan seperti pada postingan yang lalu. Saat itu kisahnya menyedihkan, aku seperti sepucuk yang terabaikan. Indah namun tak ada yang melihat. Secara keseluruhan terbilang gagal.

  Berikutnya, aku mempromosikan UKM Aksara, saat itu memang luar biasa menyebalkan. Apalagi saat membagikan brosur ditolak. Dan sekarang aku tahu rasanya sales yang brosurnya enggan diambil para pengunjung. Sakit sekali. Saat itu, aku bersih keras menjadi orang di belakang panggung saja.

  Tapi, cerita memang begini adanya. Aku dipaksa membagikan brosur lagi, sebelumnya untuk promosikan UKM, kalau sekarang untuk mempromosikan dagangan ke para mahasiswa baru. Ini sungguh menyebalkan, aku benar-benar kikuk. Hingga memaksa orang lain untuk membagikannya.

  Semua itu memang telah terjadi, pengalaman berarti walau seperti sisaan makanan yang di sepelekan. Tapi, siapa tahu sisaan itu ternyata yang membawa kekenyangan? Setelah ditunjuk menjadi MC aku tak bisa mengelak, saat itu ada acara bakar-bakaran panitia OSFAK IF, aku terpaksa ikut sebentar dan mengadakan briefing di malam yang dingin dan flu.

  Saat briefing, rasanya luar biasa. Kacaunya. Gugup setengah mati. Belum ada persiapan. Dan waktu memang begitu, saat kau butuh waktu yang panjang, ia seolah menyusut. Saat kau ingin cepat, ia seolah melar tak berlogika. Menyebalkan sekali memang.

  Sayangnya, kita tak bisa menyalahkan waktu. Malam semakin menjadi, aku malah ikut bakar-bakaran UKM Aksara setelah briefing yang menyedihkan. Karena, sama sekali masih bingung. Karena lapar, aku akhirnya bakar-bakaran.

  Pada akhirnya aku terlelap, selama tidur sungguh tak senikmat biasanya. Penuh guncangan diotak, walau tak bermimpi tapi membuat seolah kita terjaga. Hingga pagi tiba, dan hari itu datang. Aku mencoba menyongsongnya dengan gagah walau pada akhirnya, entahlah, begitu saja terjadi. Dan kini, acara itu telah selesai.

  Tapi, kalian tahu apa yang aku rasakan? Ya, sepertinya aku ingin melakukannya lagi, lebih lama, dan lebih banyak pesertanya. Keterpaksaan itu memang menyebalkan, tapi terkadang dengan terpaksa kamu akhirnya tahu, bahwa hal itu menarik atau tidak untukmu.

 Begini ternyata jalannya hidup, terkadang membingungkan tapi lambat waktu menyenangkan. Sisanya bagaimana kita menjalankannya, bahagia atau terseok-seok menyesali?

  Ada satu hal yang menarik dan perlu diungkapkan, ada perbedaan ketika mengisi acara di panti asuhan dan menjadi MC di acara yang baru terjadi. Dan ternyata, cara ini cukup sukses membuat perbedaan. Di mana ketika menjadi MC perasaan lebih tenang, dan lebih percaya diri. Apa rahasianya? Satu, hal yang sering terdengar namun sering dilupakan pula. Tilawah.

Rabu, 13 Agustus 2014

Dan Aku Terdiam Merenungkan Segalanya

  Mungkin jika ada Hoeda--Penulis serta blogger favoritku--di sini, ia akan bilang. Ini semua masalah mental. Dan sepertinya memang mentalku yang ciut. Seolah dunia terlalu besar dan aku hanya sebatas puing debu bertebaran.

Senin, 04 Agustus 2014

Salahkah Meniru?


 Sejak kecil aku sangat kecanduan dengan menggambar. Saat teman-teman sebayaku masih menggambar dua gunung dengan satu jalan serta sawah-sawah yang berhamparan. Aku sudah bisa membuat beberapa orang, ya, walau masih terlihat amatir. Tapi, aku satu langkah di depan para temanku.
 
  Sebenarnya, bukan maksudku menyombongkan diri. Tapi, di sinilah awal mula kesalahanku dan mengapa aku tak berkembang.  Aku seorang maniak kartun yang suka menggambar. Itu wajar, bukan? Tentu saja. Tak ada yang salah di situ.
 
  Seiringnya waktu, sebanyak aku menggambar, aku mulai berpikir. Kenapa gambarku terasa begini-begini saja? Tak menarik, dan menggambarnya—bentuknya—itu-itu saja.
 
  Semenjak SMP aku mendapati beberapa kenalan yang suka menggambar juga. Dan saat itu, aku membenci mereka. Aku lebih suka menggambar karakter-karakterku sendiri tanpa meniru gambar kartun lainnya, menanamkan benih benci pada temanku yang juga suka menggambar dengan meniru gambar orang lain.
 
  Dahulu aku sempat bilang sama mereka, bahwa kita harus bia membuat karakter sendiri. Tidak hanya meniru. Kalau meniru semua orang bisa. Ya, mungkin aku terlihat terlalu naif atau sombong, atau lebih mengerikan lagi.
 
  Dan sekarang, aku amat menyesali semua itu. Aku memang berbeda dengan temanku, aku paling malas meniru gambar orang. Menurutku, aku seorang pembuat, bukan peniru. Maka dari itu, aku membuat tokohku. Namun, dalam lubuk hatiku terdalam, aku memendam iri saat gambar tiruan mereka ternyata jauh lebih bagus dari pada gambar buatanku.
 
  Sekarang, ya, sekarang. Aku mengerti kenapa seorang ayah melatih anaknya untuk mengikutinya. Kenapa orang bijak bilang, “untuk mengalahkan musuhmu, jadilah musuhmu.” Atau lakukanlah berkali-kali hingga kau bisa.
 
  Sebagaimana anak bisa mengatakan ‘ayah’ atau ‘ibu’ dengan mengikuti orang tuanya yang berkata seperti itu. Sebagaimana para iblis menjelma menjadi manusia untuk menghancurkan manusia lainnya. Sebagaimana Thomas Alva Edison menemukan lampu.
 
  Sejatinya, meniru adalah bahan pembelajaran paling mudah dan berguna—efektif. Dengan meniru, setidaknya kita tahu bagaimana melakukan itu, bagaimana membuat itu.
 
  Mungkin meniru terdengar kasar, tapi jika diartikan seorang yang meniru orang lain lalu memamerkan karyanya dengan mengatas namakan dirinya, itu memang sangat kasar, mengerikan.