Senin, 04 Agustus 2014

Salahkah Meniru?


 Sejak kecil aku sangat kecanduan dengan menggambar. Saat teman-teman sebayaku masih menggambar dua gunung dengan satu jalan serta sawah-sawah yang berhamparan. Aku sudah bisa membuat beberapa orang, ya, walau masih terlihat amatir. Tapi, aku satu langkah di depan para temanku.
 
  Sebenarnya, bukan maksudku menyombongkan diri. Tapi, di sinilah awal mula kesalahanku dan mengapa aku tak berkembang.  Aku seorang maniak kartun yang suka menggambar. Itu wajar, bukan? Tentu saja. Tak ada yang salah di situ.
 
  Seiringnya waktu, sebanyak aku menggambar, aku mulai berpikir. Kenapa gambarku terasa begini-begini saja? Tak menarik, dan menggambarnya—bentuknya—itu-itu saja.
 
  Semenjak SMP aku mendapati beberapa kenalan yang suka menggambar juga. Dan saat itu, aku membenci mereka. Aku lebih suka menggambar karakter-karakterku sendiri tanpa meniru gambar kartun lainnya, menanamkan benih benci pada temanku yang juga suka menggambar dengan meniru gambar orang lain.
 
  Dahulu aku sempat bilang sama mereka, bahwa kita harus bia membuat karakter sendiri. Tidak hanya meniru. Kalau meniru semua orang bisa. Ya, mungkin aku terlihat terlalu naif atau sombong, atau lebih mengerikan lagi.
 
  Dan sekarang, aku amat menyesali semua itu. Aku memang berbeda dengan temanku, aku paling malas meniru gambar orang. Menurutku, aku seorang pembuat, bukan peniru. Maka dari itu, aku membuat tokohku. Namun, dalam lubuk hatiku terdalam, aku memendam iri saat gambar tiruan mereka ternyata jauh lebih bagus dari pada gambar buatanku.
 
  Sekarang, ya, sekarang. Aku mengerti kenapa seorang ayah melatih anaknya untuk mengikutinya. Kenapa orang bijak bilang, “untuk mengalahkan musuhmu, jadilah musuhmu.” Atau lakukanlah berkali-kali hingga kau bisa.
 
  Sebagaimana anak bisa mengatakan ‘ayah’ atau ‘ibu’ dengan mengikuti orang tuanya yang berkata seperti itu. Sebagaimana para iblis menjelma menjadi manusia untuk menghancurkan manusia lainnya. Sebagaimana Thomas Alva Edison menemukan lampu.
 
  Sejatinya, meniru adalah bahan pembelajaran paling mudah dan berguna—efektif. Dengan meniru, setidaknya kita tahu bagaimana melakukan itu, bagaimana membuat itu.
 
  Mungkin meniru terdengar kasar, tapi jika diartikan seorang yang meniru orang lain lalu memamerkan karyanya dengan mengatas namakan dirinya, itu memang sangat kasar, mengerikan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komentar bagi yang perlu