Kamis, 31 Mei 2018

Kala Itu Hujan Sore Hari

Hujan,
Aku tidak sedang terjebak
Tapi kau tepikan
Dari lelah berkepanjangan

Menikmati padatnya jalan di tepi jalan
Tak akan terjadi
Jika hujan tidak tiba
Dan aku ditepikan

Hujan,
Aku tidak sedang bermuram
Tapi rasanya berat sekali
Mungkin menepi dan beristirahat adalah tepat

Aku menengadah ke langit
Sebuah keindahan terjadi
Saat hujan menghujam curam
Doa terperanjat berharap mustajab

Allahumma shoyyiban nafi’an

Terima kasih ya Allah
Kau titipkan hujan
Untuk istirahat di tengah kehidupan
Yang terus harus terlalui

Minggu, 20 Mei 2018

Titik Perhelatan Pertemuan

Hei, aku mulai bosan
Seharian di rumah dengan gadget rasanya hambar. Tidak kah kamu mau sedikit saja keluar? Kita santap remah roti manis dan seruput teh atau kopi? Itu sih sebagaimana seleramu, tapi tidak kah kamu benar-benar ingin saling menatap dan memahami perasaan yang terdiam ini. Ah, maksudku cerita-cerita lampau atau menanti mimpi-mimpi kita.

Tidak kah kamu berpikir
Semakin hari, semakin dalam, kamu hanya merasakan diluar sana begitu keras, begitu hebat, rasanya kita tidak ada apa-apanya di dunia ini. Liburan yang indah, belanja ke pusat jualan ternama, dan peperangan pemikiran. Apakah kamu tidak jenuh?

Hei, ayoklah sedikit saja
Biarkan kamu atau aku bercerita, biar kita saling tahu, kalau kita bisa saling mendukung, saling berbagi, dan saling menginspirasi. Bukan dengki ataupun iri, tapi ini masalah hati ke hati.

Cuaca begitu aneh
Tidaklah terik menghalangi apalagi hujan membasahi. Hanya butuh satu alasan untuk mengalahkan berjuta keadaan. Ya, keinginan. Kamu tahu sekali itu bukan? Tidaklah semua itu menghalangi pertemuan kita yang mungkin saja sudah Allah takdirkan, tidaklah.

Istirahat sungguh menghangatkan
Ah, kamu atau aku yang terlalu naif? Istirahat tidaklah disini teman, biarkan semua berjalan begitu kejam lalu kita melompat dan melesat untuk menghindar dari curamnya kekelaman itu. Biarkan saja teman, kita akan beristirahat nanti, sangat lama, dan belum kamu genap berpikir, mungkin kamu sudah berisitarahat di sana, mungkin saja.

Jadi
Apa yang kamu pikirkan? Pertemuan ini tidak seindah obrolan di percakapan digital, tidak seindah cerita dan membagikan foto-foto di area digital, tidak memang, tidak indah. Karena kita butuh berjuang bukan?

Menerjang kelam
Keluar rumah, berkendara, tertusuk terik matahari, terbasuh curam hujan sore hari, bertabrakan dengan polusi langit-langit, lantas tak sedikit menanti dan menanti yang telat bukan? Kamu tahu kenapa ini tak indah? Karena semua pertemuan ini butuh perjuangan bukan? dan tidaklah kamu lupa, atas apa yang kamu perjuangkan, sebuah pertemuan singkat yang tak indah mulanya, lalu menjadi kenangan yang tak terlupakan katanya.

Kamu tahu apa yang menyakitkan?
Saat kamu menolak pertemuan dan perjuangan itu sudah terkadung di kepala ini... Bukankah merencanakan pertemuan adalah sebuah perjuangan? Menyatukan jadwal mencari tempat, berharap-harap mendapatkan keberkahan atas pertemuan yang dinanti, tapi sesak sepertinya sudah meradang, dan aku tidak mengerti lagi.

Mungkin, kita terlalu nyaman, akan gemerlapnya langit-langit tak berawan, rasanya dekat namun tidak menawan. Semua penuh kepalsuan dan ketidaktahuan. Tapi, ah, aku harusnya berkhusnudzon saja bukan? Karena kita semua sudah sibuk dengan pertemuan-pertemuan yang lain bukan?

Sabtu, 19 Mei 2018

Nenekku Hilang

Aku kehilangan,

Kehilangan nenekku,

Aku terbangun diatas benang yang telah terajut rapih setinggi 1 cm dengan kehalusannya berwarnakan merah.

Aku berjalan terhuyung, setangkup air membuncah di mukaku. Aku mengkerjap berkali-kali.

Aku masih terhuyung, melihat koridor rumah sakit, rasanya pening, berkali-kali mengkerjap, aku tidak menemukan nenekku di barisan kursi para pasien itu. Tidak, aku telah kehilangan nenekku. Aku duduk pada sebuah kursi, ah sial, aku tidak dapat melihat penjaga loket yang cantik saat itu.

Aku beranjak dan masih terhuyung, menatap kanan dan kiri berharap nenek hadir kembali disini di tempat sebelum aku meninggalkannya. Aku pindah tempat duduk, bukan, bukan untuk melihat penjaga loket. Aku masih belum sempurna sadar, aku masih melihat kanan dan kiri.

Terlihat seorang anak yang mungkin memiliki gangguan mental sedang mengajak ayahnya bercanda namun terasa memiluhkan. Sang ibu tertawa berkata ke beberapa pasien yang melihatnya. “Lagi pengen diajak bercanda itu.”

Aku melihat ke arah ayahnya, datar, ah, aku tak sanggup melihatnya.

Belum genap kepalaku berputar 180 derajat—tidak persis. Aku melihat seorang anak kecil dengan rambut kusut nan tergerai, memakai jaket olahraga berwarnakan hitam dominan dan garis tipis pink tanpa ekspresi menggandeng seorang ayah yang tunanetra dengan tongkatnya. Tangan kanan gadis itu merangkul erat tangan ayahnya, ia berjalan di depanku tanpa peduli sekitarnya ia terus berjalan.

Aku berdiri, berjalan ke beberapa ruangan mengintip sedikit dari luar, tidak, aku tidak menemukan nenekku. Aku akhirnya memberanikan diri bertanya ke bagian farmasi dimana biasanya aku menunggu atau mengambil obat untuk nenekku. “Ruanga dokter syaraf dimana ya?” tanyaku, tentu saja aku tidak menggodanya hey.

Aku berjalan ke arah kiri, hingga mentok lalu menoleh satu lorong pendek, dan tidak ada tanda-tanda nenekku. Aku tidak menemukannya. Aku memutar balik badanku dan aku melihat penjaga loket itu, ah, sekarang aku sudah tidak tertarik, aku langsung duduk disembarang dan berpikir. Kemana nenekku? Apakah dia sudah pulang terlebih dahulu? Sudah genap 3 jam aku tertidur di masjid, apa iya ia tidak menghampiriku?

Aku terus bertanya-tanya hingga akhirnya suara adzan menggema perlahan merembet dari udara sekitaran masjid dekat rumah sakit hingga menggema masuk ke dalam rumah sakit dan menjalar ke setiap orang yang ada di situ.

Nenekku yang harusnya berobat jam 8, dan sekarang jam 12 aku tidak tahu dia dimana. Aku bertanya-tanya, apakah harus menunggu hingga akhir detik adzan berkumandang? Ah aku terbayang bagaimana jika aku menunggu lalu ditinggalkan?—mungkin ini beda konteks, tapi menyakitkan. Tapi, beberapa kejadian kemarin dan mendengar kisah-kisah kehidupan, aku selalu percaya Allah punya skenario sendiri.

Belum genap detik akhir adzan berkumandang, aku menyerah, aku harus kembali sujud dan bertanya, kemana nenekku? Aku berjalan sedikit tidak terhuyung, hingga aku melewati koridor dengan percaya diri. Aku tiba diluar dan nenekku terlihat keluar dari koridor lainnya.

Aku tersenyum, kami bertemu dengan mesra, di tempat dari jalan yang berbeda, berpasrah diri dan mengharapkan bantuan-Nya ternyata diberikan secepat dan semudah itu. Aku tertawa kecil lalu kita berjalan bersama menuju Masjid itu. Panas saat itu tidaklah terasa, apalagi ketika menjumpai orang yang kita cintai. Alhamdulillah...

Jumat, 18 Mei 2018

Menantang Maut 2

Ini namanya kerja sama, tiba-tiba lampu mati lagi dan aku terkantuk diperjalanan.

Dengan begini, mereka telah memutuskan minta diperbaiki.

Menantang Maut

Temen bertanya, "My, katanya motor lu gak ada remnya ya?"

"Ada kok." Sahutku

Semua terheran, aku menyambung omonganku. "Pake kaki remnya sama istighfar banyak-banyak."

Lalu kita semua tertawa, aku juga tertawa tapi merasa sedih juga. Hehe

Selasa, 15 Mei 2018

Konspirasi Mimpi

Konspirasi tetaplah konspirasi, bagaimana pun itu terjadi, itu adalah konspirasi.

konspirasi/kon·spi·ra·si/ n komplotan; persekongkolan

Selamat menikmati kehidupan penuh muslihat
Malam yang pekat selalu berkata
Hai, sini mendekat
Lalu kita tertelan oleh rayuannya

***
Lagi random karena besok harus presentasi desain tapi dari tadi cuman ngomong menghayal, tapi dengan ini dan bismillah 2020 mimpi baru itu harus terwujud, semoga Allah mengizinkannya.

Terbenam

Pernahkah kamu merasa? Dunia begitu kejam saat wajahmu terbenam pada ponselmu.

Lalu semua baik-baik saja saat kamu mendongak dan seseorang tersenyum kepadamu.

Senin, 14 Mei 2018

Kamu Mungkin Tidak Tahu

Kamu tahu? Diam itu membosankan.

Lalu aku berteriak ke semua orang dan berbicara sembarang, entahlah, bosan sekali diam itu.

Minggu, 13 Mei 2018

Ayah dan Anak



Baruuu aja denger lagu Saykoji terbaru dan aku merasa ituuuu sangat kereeeeeeeen. Bagaimana seorang ayah dengan anak, ah menyenangkan sekali rasanya jika melihatnya.

Belakang ini aku dirumah, tapi lebih sering ngobrol sama ummi doang, cerita soal gimana abi sangatlah cuek dan jutek. Sekalinya ngobrol sama abi pun paling ketika berangkat ke masjid. Itu pun sekena-nya ada bahasan aja.

Terus ummi tiba-tiba ngomong, "Nanti kalau kamu punya anak jangan ngasih semua fasilitas ke anaknya."

Aku menyahut dengan cepat. "Iyalah, gak akan, Mimi mau anaknya sesusah mimi nanti." Aku ketawa jahat, susah maksudku adalah apa-apa harus berjuang dulu, gak ada tuh dikasih cuman-cuma, agar anakku nanti tahu, semua akan terbayar lewat perjuangan hehe.

Ummi juga bilang, pas golden age pokoknya istri gak boleh kerja apalagi sampai anak ditinggal dulu (ini terlalu visioner sih), tapi mengingat materi-materi atau bacaan-bacaan selama Tugas Akhir, rasanya aku cukup mengerti pentingnya Golden Age dan hal-hal yang mempengaruhi tumbuh kembang anak.

Beberapa yang buat menarik juga adalah postingan-postingan dari Ayah Edi di Facebook, bagaimana edukasi di Finlandia membebaskan anak-anak untuk menjadi apapun dan belajar apapun serta menghargai apapun. Lalu edukasi di Jepang bagaimana mengutamakan adab (ahlak) dahulu baru akademis dalam pembelajarannya.

Benar-benar itu membuat aku penasaran, aku juga dari kecil rasanya kurang puas dengan pendidikan yang ada, bagaimana aku lebih penasaran dibanding hal yang tidak ada di sekolah. Tapi, semua dihabiskan oleh mengerjakan PR. Heuh.

Hari kemarin pun mendapati ilmu tentang cara belajar berdasarkan Al Qur'an. Bagaimana kurikulum bisa dibuat berdasarkan Al Qur'an. Dari gimana ayat-ayat Al Qur'an menjadi sebuah inti pembelajaran hingga pengaplikasian, dan menarik. Semua itu mungkin akan dijabarkan secara luas di buku kurikulum manusia yang ditulis Munif Chatib dan akan segera kelar, disitu kalian mungkin dapat banyak dan lebih jelas bagaimana belajar beradasarkan Al Qur'an.

Beberapa hal menariknya pembelajaran seperti yang diteorikan oleh Munif Chatib dijadikan kurikulum di Jepang, bagaimana anak-anak belajar bukan karena ketetapan dari sekolah tapi dari keingintahuan anak terhadap sesuatu hal, dan memang beberapa sudut pandang bagiku seharusnya kita menjawab keingintahuan anak selain memberi wawasan lainnya. Mungkin kurasa, ilmunya akan lebih melekat dan teringat oleh anak itu.

Beruntung juga anak yang dibebaskan untuk memilih jalan hidupnya, menjadi apa dia, sekolah dimana, kerja dimana, hobinya apa, asal tentu tidak menentang syari'at Islam.  Tapi tetap arahan dari orang tua begitu penting. Itu selalu terbayang-bayang olehku, walau beberapa hal sebenarnya aku dapatkan dalam hidupku.

Ah, rasanya semakin gak sabar ngurus anak (dalam artian sesekali ngurusnya), tapi gak kebayang juga kalau harus jagain anak tiap hari.

Ah rasanya pengen cepet-cepet punya anak dan bereksperimen parenting-parenting selama ini di dapat, rasanya optimis banget gitu. Semoga rezeki dan berkah dari Allah senantiasa terus diberikan kepadaku dan kalian dan ummat Islam diseluruh dunia. Aamiin...


***

Oh ya setelah perdebatan keras, 2022 atau 2020, tampaknya masalah perizinan tergantung kebahagiaan orang tua. hehe... semoga kita bisa membahagiakan orang tua terus ya... Aamiin.

Salma

Belakangan ini aku suka cerita sama Salma, suka chat-chatan nggak jelas gitu walau sekadar cuman "oi-oi" terus nanya "jam berapa disana Sal?" Terus Salma nanya balik, "Lagi di rumah Ummi mas?" Ya, terkadang lucu juga kita adek-kakak tapi hanya setahun serumah begitu pula dengan kembarannya Qonita  (ketika Salma Qonita baru lahir).

Sebenarnya aku tidak ingin menulis tentang ini, ada banyak yang ingin aku tulis yang sekiranya lebih bermanfaat, tapi entah kenapa karena lagi asyik chat sama Salma sementara Qonita lagi super sibuk, jadinya pengen cerita hubungan adek-kakak yang baru berlangsung intens kurasa hehe (selama 23 tahun kemana aja My sama adek sendiri? :" )

Sebenarnya bicara Salma, dia orang pertama yang bantu aku menjadi penulis (oh ya, bulan ini tepat 5 tahun sejak buku pertamaku terbit, yeay), waktu itu kita nulis bareng, lebih tepatnya aku yang berpikir cerita secara garis besarnya, Salma jadi temen diskusi dan penulisnya.

Dari situ aku merasa, sebenarnya aku lebih seneng berjuang bareng-bareng dan males apa-apa sendiri hehe. Oke, jadi setelah dikirim ke penerbit, tulisan kita diterima tapi berakhir na'as tanpa kejelasan. Ceritanya cukup rumit, intinya tidak jadi terbit.

Salma sebenarnya adek kedua, kembaran dari Qonita sang kakak, sifatnya yang lebih galak dan lebih akademis membuat dia paling ditakuti di rumah (selain ummi abi)... Bahkan aku sebagai kakaknya aja takut sama Salma kalau lagi mode juteknya, dia bener-bener jutek sekali.

Ketika aku balik ke rumah (setelah 13 tahun tinggal sama nenek-kakek) ternyata aku tidak bisa serumah sama Salma dan Qonita karena mereka harus mondok jauh di Solo. Nasib, lalu pas aku lulus kuliah, mereka juga masih di pondok, genap sudah kita tidak akan bertemu. Dan sekarang pas aku kerja, mereka berdua masih jauh.

Begitulah kenapa aku merasa kurang sekali punya adek perempuan dan nggak deket, karena kita emang nggak pernah lama-lama serumah. Bahkan, pertengahan tahun kemaren, aku dan keluarga harus melepas Salma yang akan kuliah di Al Azhar Kairo. Seneng sih, tapi kalau Mas mimi (panggilan dirumah terkadang) mau nikah kan mahal nyuruh pulangnya? Hiks :"

Iya, Salma dan Qonita memutuskan pisah kuliahnya, Salma yang akademis, akhirnya memilih dari sekian banyak pilihan waktu itu ada dari LIPIA, UIN, Al Azhar, dan banyak lagi memutuskan untuk mengambil Al Azhar. Sementara Qonita tetep kuliah di Solo.

Dengan berat hati aku bilang ke Salma, "Sal, nabung aja dari sekarang, nanti kalau Mas Mimi nikah, bisa pulang sendiri." Salma mengeluh dan nggak mau pulang kalau nggak dibiayarin. Aku tertawa saja, nikahnya mbok kapan?

Beberapa hari ini aku memutuskan ingin cerita-cerita sama Salma, dari masalah kerjaan hingga Agama. Ya, sekadar pengen tahu gimana sih jadi seorang kakak dengan punya adek kembar. Oh ya, Salma juga anak tengah terbilang, adeknya dua lagi, Aufa dan Ahmad juga pesantren di Solo.

Lucunya, Salma di Mesir dianggap orang cina, ya emang matanya semakin menyipit dengan pipi yang semakin menggelembung hahaha (maaf sal). Dia sering cerita ditanyain berasal dari cina kah? Ya begitulah, rasanya menyenangkan juga ya kuliah di luar, tapi aku belum kepikiran untuk S2 apalagi di luar hehe.

Ya, mungkin, itu sekadar intermezzo tentang Salma Izzatunnuha, dia juga penulis cilik, bahkan kayaknya seharusnya buku dia lebih dulu terbit dibanding kembarannya Qonita Aliyatunnuha. Mereka berdua sudah menerbitkan lebih dari 10 buku (kayaknya), mungkin jika kalian pembaca KKPK, PCPK, dan PBC sekiranya kenal mereka berdua? Ah, senangnya bisa membanggakan adek sendiri, walau kakaknya masih jauh dari membanggakan, tapi kita semua percaya, kita punya potensi yang bisa membanggakan (dalam artian menginspirasi dan berbagi kebaikan). Semoga ini bukan maksud dari kesombongan... Astagfirullah...


Sabtu, 12 Mei 2018

Shinsei Kamattechan

Setelah menghubungkan dengan YabaTo. Aku mendenger ulang lagu Yuugure no Tori di youtube, melihat beberapa komentar yang terlontar dan boom, ternyata vokalisnya cowok? Ah tidak mungkin kurasa, karena personel band mereka ada ceweknya dan suaranya seperti cewek.


Namun, semua terbantahkan, aku mencari live dan melihat di wikipedia, dan ternyata benar-benar pria yang menyanyi. Sayang untuk versi livenya kurang asyik bagiku. Kalian dapat mendengarkan versi livenya...



YabaTo




Tedengar indah, band yang tidak sengaja kutemui secara acak. Dan aku menyukainya. "Kata have a good day" dengan versi terbaru, entah kenapa kupingku merasa terdengar seperti lagu Yuugure no Tori (ending Attack On Titan Season 2). Menyenangkan mendengarnya~

Oh ya ada satu lagu lagi yang paling aku suka dari band ini, soal kucing. Itu lucu menurutku, dan suara vokalis wanitanya cempreng lucu. Good luck YabaTo...

Tadi niatnya nyari lirik terjemahan inggrisnya, tapi gak nemu, wassalam, tapi aku optimis liriknya bagus...


Rabu, 09 Mei 2018

Firasat Buruk

Tetiba saja firasat merasa buruk. Kuberjalan lalu kembali, lalu aku bertanya-tanya, dimana? dimana firasat buruk ini terjadi? Aku merasa itu akan terjadi, firasat buruk terkadang suka benar, entah bagaimana itu adanya. Dan, begitu saja ternyata itu terjadi, sebuah kesalahan terjadi, ya dan itu salahku dan aku merasa selalu salah disitu.

Firasat buruk itu terjadi, dan aku tidak mengerti kenapa ini seolah pasti. Dan permasalahnnya adalah keburukan yang terjadi merupakan hal yang sering kulakukan, bagaimana aku harus merubahnya? Rasanya susah, berikan aku waktu dan penghakiman agar aku terpaksa lalu menyerah lantas segera berubah.

Senin, 07 Mei 2018

Pejuang Subuh

Aku tak tahu mana yang benar, ah tapi ini sungguh menyedihkan. Untuk kesekian kalinya jadi pejuang subuh yang berbeda, tapi nyatanya di rumah sakit sudah terdiri antrian panjang.

Aku berada dalam dilema, adzan sudah berkumandang, tepat sekali berkumandang sesampai aku di rumah sakit, namun antrian sudah cukup panjang, apa aku harus menitip antrian semisal menaruh tas lalu shalat berjamaah atau shalatnya nanti? atau lagi aku shalat aja lalu mengantri?

Aku memilih yang terakhir, aku shalat dan mengantri, sesampainya ke antrian lagi aku sudah berada jauh dibelakang, bahkan belakangku hingga tiba di depan parkiran motor. Terbayang bukan betapa panjang antrian ini? Itu pun baru selepas subuh...

Aku mengantri dengan mendengarkan musik biar tidak terasa, antrian terus berjalan, tak sedikit satpam berkata beberapa dokter habis slotnya, wajah kecewa terperanjat kepada beberapa pengantri yang membutuhkan dokter yang sudah habis itu. Aku hanya melihat wajah kecewa mereka.

Lalu selang 6 orang lagi aku sampai ke pengambil antrian, tiba-tiba satpam berkata. "Dokter Wasis abis." aku menepuk jidat, ternyata aku juga harus menampakan air muka kecewaku dan terkekeh sendiri.

Sepertinya aku salah strategi ngantri apa sistem rumah sakit yang salah hingga nenek-nenek atau kakek-kakek ngantri dari jam 4 pagi hingga dapet antrian? Lucunya kata beberapa pasien yang mengantri bareng dahulu berucap.

"Ini mah mau berobat bukannya bikin sembuh, malah tambah saktit dulu, beruntung rumah adek (itu aku) deket, lah ibu jauh, harus ngantri dari pagi sampe sore untuk berobat gak bisa bolak-balik."

Mendengarnya aku menelan ludah, wah iya aku masih beruntung, bagaimana yang rumahnya jauh ya? Seharian menunggu untuk mendengar kabar tubuhnya yang paling gak sampe 10-15 menit berobatnya, tapi mengantrinya bisa seharian. Apa yang salah? Apakah sistemnya? Atau dokternya yang kekurangan? Aku tidak tahu, aku harap hal seperti ini segera terselesaikan secepat dan sebaik-baiknya. Aamiin

Mungkin, ke depannya aku harus ganti strategi, aku harus menitip barang ke seseorang di antrian lalu pergi shalat subuh. Semoga itu berhasil, doakan yaa :')

Minggu, 06 Mei 2018

Meong

Dahulu aku sangat menyukai sapi, sekarang aku sangat menyukai kucing. Apakah jadi kucing-man? Ha ha ha.

Terlalu Menyebalkan

Astagfhirullah... Maafkan aku ya Allah,

Aku sedang benci.

Masih Membayangkan Di Pinggir Jalan

Di bawah rembulan yang setengahnya tersipu malu, aku dan Septian merasakan hal yang sama. Bukan, kita tidak saling mencintai dan layak disebut homo. Kita menyimpulkan sesuatu hal.

"Sekarang karena kerja gue gitu-gitu aja ya makanya gue males nulis, atau karena gue gak nulis jadi ya gue ngerasa gitu gitu aja? Jadi kayak gak ada yang harus diinget untuk ditulis atau hal penting yang ingin ditulis gitu. Kalau nuliskan rasanya harus diinget-inget gitu." Ujar Septian pada intinya seperti itu. hehe.

Aku menyahutinya. "Bener tuh, gue ngerasa kalau gak nulis ya hal detail mana gue perhatiin, yaudah biarin aja berlalu. Tapi, kalau nulis tuh kayak bisa memaknai kejadian-kejadian kecil, jadi kayak hidup tuh semua bener-bener penting. Terkecil sekali pun."

Setelah kita setuju soal menulis itu membuat kita merasakan hal berbeda dalam hidup terutama memperhatikan hal kecil, Septian melanjutkan pikirannya.

"Tapi, gue ngerasa sekarang tuh mau nulis apa-apa takut, bahkan nulis di snapgram pun gue takut, takut dianggap apalah sama orang-orang, jadinya gue urungin deh tekad nulis gue."

Aku tertawa, dilematika zaman now begitulah, terlalu mudah orang menjudge sesuatu, lalu aku teringat dari moto blognya Fitri--rekan kerja di Badr--dan aku sampaikan ke Septian dengan penuh harap.

"Gue juga sama, rasanya kayak dianggap, apasih ini orang gitu banget. Ya gitu, kita udah takut dari bayangan kita terhadap reaksi orang-orang, sampai akhirnya kita membatasi diri dan gak berkembang."

Septian mengangguk setuju.

"Tapi, gue beruntung di kantor..." sambungku. "Banyak yang suka nulis, suka baca, suka gambar sesuai passion gue gitu, dan disana gue mendapatkan banyak hal dalam menikmati dan memaknai apa yang kita suka. Tapi, mungkin ini cocok buat topik kita sekarang, ini dari blognya temen gue di Badr yaitu inti isinya tuh: menulislah, seperti tidak ada seorang yang ngelihatnya/membacanya. Kurang lebih begitulah, dan jadi kebayang kita dulu nulis tuh ya terserah kita asal itu gak negatif buat orang lain jadi yang kayak ini hidup gue, yaudah begini cerita gue, gak perlu dipikirin dulu tuh apa kata orang-orang."

Kita berdua mengangguk dan setuju bahwa pembatas yang selama ini ialah kritik dari orang lain, maka itu harus dihilangkan. Karena kita memang tidak pernah bisa menjadi yang semua harapkan bukan?

Lalu kami memutuskan membeli makan dan aku berharap Septian mau menulis lagi. Satu hal yang aku terkejut dari dulu adalah, Septian lebih suka baca dibanding aku, bahkan soal novel Tere Liye dia udah hatam semuanya kayaknya, aku baca satu aja bisa setengah tahun :(

Btw, kredit buat Fitri karena ketika iseng baca blognya membuat aku merasa semakin semangat nulis lagi setelah sekian lama membeku, karena ternyata banyak hal sederhana di kehidupan kita yang sangat indah. Sebenarnya ada beberapa anak-anak yang suka nulis di Badr, tapi belum sempat kujelajahi. Sementara buku Tere Liye yang aku pinjam dari Septian belom kelar-kelar setelah sudah setengah tahun lamanya. Maafkan Sep...

Reaksi Aksi

Setelah magrib aku sebenarnya tidak ada niat untuk main, tapi aku ingin mampir ke rumah septian yang aku pikir sekalian lewat pulang dari rumah sakit (dan ini ke rumah sakit untuk ke lima kalinya hari itu).

Setiba dirumah Septian--temen smpku yang udah aku anggap lebih dari sahabat--menyambutku seperti biasanya, aku niatnya memberikan sesuatu lalu pergi, tapi keburu adzan Isya berkumandang, aku dan dia akhirnya memutuskan ke masjid.

Sepulang dari masjid kita bercerita tentang anime, kita sama-sama suka jepang dan semacamnya, cerita begitu panjang hingga akhirnya kita duduk di kursi plastik yang diletakkan tepat pinggir jalan rumahnya yang agak condong ke tengah jalan, rasanya kayak itu jalanan milik sendiri.

Kita berduduk disana, berdua dan bercerita dari zaman-zaman dahulu. Ada beberapa hal yang kita sepakati seperti perubahan jati diri pada setiap masa hingga merasakan kehidupan dalam hal kecil.

"Jadi," kataku menyimpulkan. "Setiap kita masuk SMP, SMK, kuliah atau kerja, kita kayak buat pribadi baru yang ingin dilihat orang-orang kita tuh seperti apa ya? Dari SD gue dianggap penting, SMP yang cupu banget dibuli-buli gitu, SMA yang gak nyangka gue bener-bener dipandang dan segitunya, hingga kuliah gue jadi biasa-biasa lagi. Bener-bener kayak kita ada banyak versi ya?" Aku melanjutkannya.

Septian mengangguk dengan setuju. "Bener tuh, gue juga ngerasa gitu, ya kita emang gak bisa menjadi apa yang diharapkan orang-orang sepenuhnya, tapi gue juga, SD gue dibuli, SMP makanya gue gak seneng sama orang ngebuli dan terlihat jadi kuat tapi tetep ya kita culun SMP tuh, SMK malah jadi banyak yang suka dan merasa dikenal gitu."

Kita membayangkan perubahan itu karena suatu dampak dari sebelumnya, aku yang SD tergolong nyambung sama semuanya dan tidak ada masalah, SMP aku anggap sama tapi ternyata aku cukup cupu atau culun hingga tak sedikit aku dipalakin dan dibuli. Dari SMP itu aku bereaksi dan SMK aku ingin lebih dipandang, Alhamdulillah, Allah memberikan kesempatan itu. Kuliah, aku ingin rasanya jadi aktif dan punya banyak temen, ya begitulah perubahaan yang aku rasakan.

Membayangkan Di Pinggir Jalan

Di bawah setengah purnama yang halus tertutup awan, aku dan septian duduk di pinggir jalan berbagi kisah lama yang jarang sekali kita bincangkan. Lalu kita merenung.

"Bagaimana kalau blog tiba-tiba tutup ya?" Tanyaku dengan rasa takut

"Iya ya, gimana ya? Semua keseharian, cerita kita ilang gitu aja."

"Padahal itu kenangan banget ya." Tambahku.

Lalu kami pergi mencari makan dan berharap blog tidak tutup walau tak dipungkiri aku rasa jumlah penggunanya semakin dikit dan agak pasif.

Sabtu, 05 Mei 2018

Buku Dongeng Anak

Ternyata tanpa sadar ada beberapa entitas yang serupa dan dari dulu aku tak pernah tahu dunia itu. Ya, buku dongeng anak, dari mulai Asya ilustrator jagoan timku dulu yang magang sebagai ilustrator buku cerita anak, hingga kak Manda yang ternyata giat membaca dan memperhatikan pergerakan dongeng anak.

Semasa kecil, buku dongeng anak adalah sesuatu yang asing bagiku. Suatu hal yang pernah aku baca hanyalah komik, itu pun ketika aku suka sebuah game dan nemu komiknya tanpa sengaja di planetarium--dijualnya bukan oleh pedagang komik, entahlah kenapa bisa dia menjual komik shaman king.

Saat itu pertama kalinya aku rasa punya sebuah bacaan. Bahkan komik saja aku cuman punya dua biji. Ya, nenek kakekku tidak tertarik menjejalkan aku bacaan, apapun itu, bagi mereka mungkin belajar dan mata pelajaran harus yang utama. Sehingga, aku terbilang baru mulai membaca-baca ketika smp akhir itu pun novel karena kebutuhan untuk menulis, sisanya hanya manga, bagaimana dengan buku dongeng anak?

Aku hanya tahu dongeng lewat cerita, entah siapa yang menceritakan, atau animasi, atau film. Aku hanya melihatnya tidak berbentuk buku. Lalu aku tertarik memulai pembahasan tentang buku dongeng anak yang asing dan mahal karena belinya harus paketan.

"Bagaimana kalau buku dongeng anak dibuat pada sebuah platform ponsel?" ujarku ke kak Manda.

Dia dengan idealisnya menolak keras-keras. "Nggak bisa Mi, anak tuh butuh bentuk fisik, pada umur yang anak yang masih kecil--dibawah 7 tahun--gak bagus dikasih ponsel atau semacamnya, makanya buku masih sangat penting agar anak tahu itu buku, dan buku itu menyenangkan." itu inti kata-katanya yang aku lupa persisnya.

Entah kenapa, ketika aku tahu betapa mahalnya produksi buku dongen anak yang bagus, dan susahnya menggambar dan membuat ceritanya, digital adalah solusi pintas untuk mereduksi biaya percetakan, tapi, balik ke psikologi anak, memang bentuk digital untuk usia dini sangatlah tidak baik, terlebih dari kelas parenting di Badr yang aku ikuti menjelaskan pentingnya anak merasakan sentuhan langsung dengan benda nyata untuk membangun imajinasi mereka. Maka terbantahkan sudah ideku mendigitalkan buku dongen anak Indonesia--Namun diluar negeri sudah ada aplikasinya dan sangat bagus.

Ya, mungkin, maksudku adalah seperti tugas akhirku, dimana menjadikan solusi kebingungan orang tua memberikan konten di ponsel mereka untuk anak--dimana faktanya anak-anak sering meminta ponsel orang tuanya untuk main atau semacamnya dan orang tuanya mengizinkan. Tapi, idealis kak Manda memang sangat perlu dipertimbangkan yang berpengaruh untuk cara berpikir orang tua terhadap anak.

Selepas platform, kak Manda berkata. "Tapi memang peluang buku dongeng anak tuh masih besar, sekarang dongeng anak tuh lagi krisis sama kayak lagu anak-anak. Kenapa krisis? Karena buku dongeng anak Indonesia tuh masih kurang memberi kesan, kalau di luar negeri kan kita bisa terbayang-bayang cinderella dan semacamnya, paling kalau dongeng anak Indonesia yang teringat adalah kayak si kancil, bawang merah bawang putih. Nah itu yang belum ada di dongeng anak sekarang ini."

Aku menyahutinya dengan pemikiran sejernih-jernihnya (ini intinya aku mikir). "Jadi yang kurang dari cerita dongeng anak sekarang adalah karakter yang kuat ya? Karakter yang bisa menjadi tokoh, yang detail, tidak sembarang buat lalu bercerita begitu saja?"

Kak Manda mengangguk, "Nah bener, kalau lu ada cerita yang semenarik itu, gue bisa bantu ke penerbit nih, gue ada kenalan penerbit. Tapi ya yang gue bilang, ceritanya harus kayak gitu, karakternya harus kayak gitu kuatnya." Lalu dia menunjukkan sebuah instagram buku dongeng anak yang terkenal (itu bukan penerbit yang dimaksud dalam pembicaraannya) tapi katanya itu buku dongeng anak yang dianggap bagus.

FYI, kak Manda memiliki selera tinggi terhadap seni, jadi aku percaya penilaian dia sangat bagus, bahkan dia suka nonton beberapa acara yang bagiku aneh, tapi dia punya sudut pandang lain disana dan entah kenapa dia selalu menemukan seni-seni abstrak itu.

Setelah itu kak Manda ingin memberitahuku sebuah buku anak Islami yang menurut dia tidak menggurui dan sangat bermakna. Tapi, sampai sekarang dia belum mengirimkannya...

Oke, tak apa, jadi yang aku paham sekarang adalah, sebuah karakter utama atau karakter yang kuat, jelas, detail itu sangat mempengaruhi pembaca terhadap kualitas ceritanya entah itu dalam dongeng anak, novel, cerpen, atau apapun aku rasa itu menjadi penekanan yang bener-bener aku rasa harus dilakukan.

Jadi bagaimana nasib buku dongeng anak? Entahlah... Nyobain nulis dongeng anak? Aku hanya bisa tertawa. Mungkin buat cerita anak dan gambar sendiri lucu juga. Terpikir setelah berguru cat air dengan Zaki dan diskusi yang cukup seru. Gambar lagi berarti? Apa nulis? Ah bagaimana jika keduanya? Hahahahahahaha.

Membuat Mimpi Baru...

3 tahun, 6 tahun yang lalu aku mempunyai mimpi, mimpi yang ternyata berakhir dengan indah walau tak seindah surga (nada laskar pelangi). Ya, aku bermimpi, dari aku menerbitkan buku, hingga aku ingin keluar negeri gratis. Alhamdulillah, semua terwujud. Namun, ada pertanyaan tersisa, lalu berikutnya apa?

Semenjak di Badr, entah kenapa aku merasa jadi seorang wartawan, entah berapa banyak orang aku tanya soal kehidupan, soal tujuan, soal pilihan, dan aku mendapatkan banyak hal menarik yang membuatku merasa, “kok aku gak ada gairah kayak mereka ya?”

Beberapa wawancara dan menelaah orang-orang keinginan mereka bahkan tidak pernah aku sadari, dan juga temen-temen dikuliah pun ternyata keinginan dan tujuan mereka sederhana tapi punya. Karena dengan punya aku rasa membuat hidup lebih menantang dan berarti... mungkin.

Jika dilihat, ada yang mereka ingin pulang ke kampung dan membuat usaha entah apa, ada yang ingin menjadi ilustrasi buku anak dan mempunyai bisnis sendiri dari pergerakan islam lewat industri kreatif, ada juga yang ingin menjadi penulis buku anak, ada juga yang ingin menjadikan produknya bermanfaat untuk umat, dan banyak lagi yang mungkin aku tak sadar mereka menyebutkannya.

Lalu giliran aku yang ditanya mereka, lima tahun atau ke depannya nanti apa yang mau kembangin? Apa yang kamu inginkan? Apa dan apa? Aku hanya bisa melepas cengengesku, aku ingin berkata menjadi desainer tapi aku merasa bingung jadi desainer seperti apa ke depannya, aku ingin menjadi penulis yang lebih hebat dari Tere Liye, tapi gadget lebih dominan daripada baca buku. Walau itu bukan berarti aku tidak boleh bermimpi. Lalu aku kebingungan, dan tidak menjawab, mungkin menjawab, tapi tidak semantap mereka-mereka yang sering aku tanyai.

Jadi, apa tujuan hidupku selanjutnya saat ini? Setelah kemarin-kemarin aku bermimpi dan merasakan pahit serta manisnya perjuangan, sekarang apa?—tentunya diluar konteks untuk mendapatkan ridha Orang Tua dan ridha Allah.

Ketika aku menulis ini, aku masih memikirkannya, jadi apa ya?

Jawaban paling aman, menjadi orang yang bermanfaat bagi umat...

Sebel-sebel-sebel

Seperti sajak-sajak, mentari mulai merekah dari ufuk timur.

Aku terjaga selama 24 jam, hari itu adalah jum’at aku masih di luar hingga sabtu pagi dan matahari terbit lagi. Aku sengaja tidak pulang ke rumah untuk terlelap disana, aku merasakan rasa malas karena harus berebutan kamar bahkan kasur dengan tante dan sepupuku, hingga aku memutuskan terjaga hingga subuh.

Subuh, petualangan setiap bulanku dimulai, sungguh menyedihkan, menjelang pagi, nenek-nenek atau kakek-kakek harus rela mengantri untuk berobat menggunakan bpjs, itu pun hanya untuk mengambil antrian saja, berobatnya bisa jadi siang atau sore.

Disitu, antrian sudah berbaris panjang, membosankan bukan? Tidak ada yang gembira dengan mengantri, kecuali mengantri ke surga mungkin (?) ya aku ikut rombongan antrian cukup panjang itu, kami menunggu dipagi yang masih gelap bahkan orang mungkin masih terlelap.

Diluar sistem yang aneh dan menyusahkan ini, aku merasakan perihnya mengantri apalagi di Indonesia ini kurasa, entah diluar seperti ini atau tidak. Terkadang aku merasa iba dengan kakek-kakek dan nenek-nenek yang mengantri, tapi, rasanya jika mereka menyelak antrian dengan berpura-pura kelelahan—atau mungkin emang kelalahan?—entahlah tapi itu membuat kami merungut dan tak sedikit orang ingin berkata padanya. “Sudah tua gak tahu diri, harusnya mengantri dengan adil.”

Saat itu, seorang kakek melenggang dengan terpincang, awalnya aku merasa iba, aku pikir dia akan duduk sejenak lalu kembali ke antrian. Namun, ketika aku masih mendengar perbincangan orang lain, lantas saja kakek itu maju ke meja terdepan untuk mengambil antrian pendaftaran berobat, dan, itu, membuatku kehilangan rasa ibaku.

Sungguh, tidak seperti itu caranya. Aku pikir izin adalah lebih baik, atau minimal duduk dan menitipkan antriannya, tidak dengan menyelak begitu saja, entahlah, dari sudut pandangku yang berada diantrian, itu sangatlah menyebalkan.

Antrian begitu panjang, hingga akhirnya aku mendapatkan nomorku, 57, ya, itu masih setengah lagi, antrian yang berlangsung adalah 25-an, aku yang belum terlelap sejentik pun berusaha bertahan, aku membaca novel, tapi malah semakin kantuk, ponselku mati tak berdaya, aku rebahan sejenak yang aku pikir masih lama.

Nyatanya, benar saja, aku harus merasakan perih dan penyesalan sendiri, kali ini tak ada yang bisa aku salahkan, tapi aku rasanya ingin terus mengumpat. Antrian yang sudah berlangsung sudah mencapai 75-an, argh, aku gemes, sangat gemes ya Allah, kenapa? Aku lantas berlari ke meja pengambil antrian, dan dapatlah 121. Ya Allah, aku ingin meledak.

Aku gelisah di kursi, ingin marah, tapi aku yang salah, akhirnya aku menyerah dengan keadaan, aku tidak bisa berbuat apa-apa kecuali aku mengubah sudut pandangku. Aku memaksa diriku untuk keluar dari rumah sakit dan pergi ke pasar sukapura—pasar tradisional—yang kebetulan dekat dari rumah sakit islam sukapura.

Sudah berapa lama aku tidak ke pasar tradisional? Aku berkunjung kesana, tak ada tujuan, tak ada pemaknaan, hanya berkunjung. Tapi beruntung aku sudah merencanakan beberapa barang yang ingin dibeli dan akhirnya aku membelinya disana. Ya aku jalan-jalan, rasanya sungguh nikmat, tidak mengerti bagaimana bisa terasa nikmat, tapi aku merasakan kegelisahan akibat ketiduran itu hilang sesaat.

Setelah aku berjalan-jalan, aku kembali ke rumah sakit dengan beberapa belanjaan seperti hanger, celana pendek basket, dan es cendol. Aku menikmati semilir angin di lobi rumah sakit dengan meminum es cendol, nikmat itu sederhana bukan? Apalagi sambil membayangkan sudah berumah tangga... ah betapa lucunya, mungkin.

Lalu akhirnya aku maju ke meja pendaftaran berobat, namun ternyata ada berkas yang kurang, aku nahan emosi, aku perhatikan baik-baik, beruntung tidak disuruh pulang, aku pergi ke kamar 3 untuk meminta surat lalu memfotokopinya, namun, aku tidak mengerti, kenapa kita terlalu egois sekali? Seakaan kita yang paling tidak punya waktu?

Lagi, aku yang mengantri untuk fotokopi terlebih dahulu, harus menahan emosi lagi ketika aku diselak. Kronologisnya adalah dimana sang penjaga fotokopi sedang keluar, aku mengantri dengan duduk agak ke belakang, aku pikir orang pertama kali datang paham antriannya sehabis dia adalah aku, tapi tiba-tiba penjaga fotokopi datang dan mereka seolah mengulang antriannya, dan aku tak tahu, apa aku yang salah? Apa aku terlalu optimis untuk memahami keadaan bahwa aku mengantri kedua?

Yasudah, aku meyakini, beginilah memang aku harus mengerti orang lain, mungkin bisa jadi selama ini aku bertindak seperti mereka dan banyak orang terdzalimi tanpa aku ketahui, astagfirullah. Mungkin itu balasan oleh Allah untuk menyadarkanku akan tindakan kita bisa jadi tanpa sengaja mendzalimi orang lain? Seperti beberapa hari ini aku kembali merasa suka berkata menyakitkan orang lain walau niatku bercanda, apakah ini yang dirasakan mereka yang sering aku bercandai tapi nyatanya menyakiti? Semoga Allah dan mereka memaafkan kesalahanku. :(

Selepas semua mengantri itu dari kesalip, ketiduran, kesalip lagi, akhirnya nenekku bisa berobat buat nanti siang, Alhamdulillah, walau ternyata aku memfotokopinya begitu banyak padahal yang dibutuhkan hanya satu kopian, hmm, aku harus bersabar, mungkin aku harus lebih bijak dan mau mendengarkan seksama perkataan orang lain.

Selasa, 01 Mei 2018

Belanja

Paradigma sudah bergeser, sekarang belanja online sudah mulai menjadi lazim dan aku pikir sudah mulai terbukti lebih mudah dalam pemilihan barang dan harga yang benar-benar murah. Bahkan tingkat keamanan belanja online sudah berjalan pesat dan membuat kita pembeli sangat merasa aman.

Malam ini, ketika aku sebelum menulis, aku benar merasakan betapa nikmatnya belanja online walau harus keluar untuk transfer di atm, tapi belanja offline harus terbebani dengan biaya tempat sewa, listrik, penjaga, dsb sehingga harga pantas lebih mahal dan rasanya akhir-akhir ini untuk nawar barang males banget, jadi aku hanya memutuskan liat-liat berapa harga di offline dan mungkin aku akan beli secara online.