Minggu, 20 Mei 2018

Titik Perhelatan Pertemuan

Hei, aku mulai bosan
Seharian di rumah dengan gadget rasanya hambar. Tidak kah kamu mau sedikit saja keluar? Kita santap remah roti manis dan seruput teh atau kopi? Itu sih sebagaimana seleramu, tapi tidak kah kamu benar-benar ingin saling menatap dan memahami perasaan yang terdiam ini. Ah, maksudku cerita-cerita lampau atau menanti mimpi-mimpi kita.

Tidak kah kamu berpikir
Semakin hari, semakin dalam, kamu hanya merasakan diluar sana begitu keras, begitu hebat, rasanya kita tidak ada apa-apanya di dunia ini. Liburan yang indah, belanja ke pusat jualan ternama, dan peperangan pemikiran. Apakah kamu tidak jenuh?

Hei, ayoklah sedikit saja
Biarkan kamu atau aku bercerita, biar kita saling tahu, kalau kita bisa saling mendukung, saling berbagi, dan saling menginspirasi. Bukan dengki ataupun iri, tapi ini masalah hati ke hati.

Cuaca begitu aneh
Tidaklah terik menghalangi apalagi hujan membasahi. Hanya butuh satu alasan untuk mengalahkan berjuta keadaan. Ya, keinginan. Kamu tahu sekali itu bukan? Tidaklah semua itu menghalangi pertemuan kita yang mungkin saja sudah Allah takdirkan, tidaklah.

Istirahat sungguh menghangatkan
Ah, kamu atau aku yang terlalu naif? Istirahat tidaklah disini teman, biarkan semua berjalan begitu kejam lalu kita melompat dan melesat untuk menghindar dari curamnya kekelaman itu. Biarkan saja teman, kita akan beristirahat nanti, sangat lama, dan belum kamu genap berpikir, mungkin kamu sudah berisitarahat di sana, mungkin saja.

Jadi
Apa yang kamu pikirkan? Pertemuan ini tidak seindah obrolan di percakapan digital, tidak seindah cerita dan membagikan foto-foto di area digital, tidak memang, tidak indah. Karena kita butuh berjuang bukan?

Menerjang kelam
Keluar rumah, berkendara, tertusuk terik matahari, terbasuh curam hujan sore hari, bertabrakan dengan polusi langit-langit, lantas tak sedikit menanti dan menanti yang telat bukan? Kamu tahu kenapa ini tak indah? Karena semua pertemuan ini butuh perjuangan bukan? dan tidaklah kamu lupa, atas apa yang kamu perjuangkan, sebuah pertemuan singkat yang tak indah mulanya, lalu menjadi kenangan yang tak terlupakan katanya.

Kamu tahu apa yang menyakitkan?
Saat kamu menolak pertemuan dan perjuangan itu sudah terkadung di kepala ini... Bukankah merencanakan pertemuan adalah sebuah perjuangan? Menyatukan jadwal mencari tempat, berharap-harap mendapatkan keberkahan atas pertemuan yang dinanti, tapi sesak sepertinya sudah meradang, dan aku tidak mengerti lagi.

Mungkin, kita terlalu nyaman, akan gemerlapnya langit-langit tak berawan, rasanya dekat namun tidak menawan. Semua penuh kepalsuan dan ketidaktahuan. Tapi, ah, aku harusnya berkhusnudzon saja bukan? Karena kita semua sudah sibuk dengan pertemuan-pertemuan yang lain bukan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komentar bagi yang perlu