Rabu, 15 Agustus 2018

Pengantar Pizza

2012 atau 2013 ya? Antara dua tahun itu, aku ingat betul bulan puasa dan ummi abi sedang sibuk merintis usaha rotinya. karena usaha roti doang kurang menggiurkan, maka ummi dan abi berpikir untuk berjualan mini pizza. Saat itulah bulan puasaku menjadi sebuah petualangan.

Menjelang buka puasa, biasanya ada beberapa pesanan, abi sibuk memasukkan adonan, ummi biasanya bantuin untuk topping dan finishingnya. Setelah itulah aku yang bekerja. Saat itu aku liburan sekolah, sore aku di rumah, dan mengantarkan Pizza Mini adalah hal paling tidak kusukai saat itu.

Aku benar-benar malu, menjadi tukang antar pizza? Ke rumah-rumah orang kaya, bertemu anak sepantaran, rasanya aku tidak bisa untuk mengemban ini... Tapi, mau tidak mau, aku terpaksa melakukannya. dan disitu aku menemukan sesuatu momen yang buatku gimana ya... seneng aja gitu...

Aku ingat betul, saat menjelang buka puasa, aku harus mengantarkan dua loyang mina pizzi ke sebuah cluster rumah yang dekat jalan besar yang biasanya terkesan cluster yang cukup elit. Ah, senang sekali rasanya bertanya ke satpam dan saling melempar senyuman untuk meminta izin lewat.

Sore itu, waktu buka benar-benar hampir tiba. Kalian tahu? Rasanya ketika aku memanggil pesanan pizza, dan seseorang menyahutinya, itu rasanya menyenangkan sekali. Rasanya kayak misi ini bakal selesai yeesss... Karena beberapa kali susah sekali manggil orang sampai harus buka diluar... Bahkan aku sampai bawa air untuk siap buka diluar.

Ketika panggilanku tersahuti, terlihat kakek apa nenek ya? Entahlah, tapi sudah cukup tua dan bertanya. "Pizza ya?"

Aku menjawabnya, rasanya gembira sekali. Aku turun dan dia memberikan uangnya, wajah orang itu berseri gembira, dan entah kenapa aku ikutan gembira.

"Maaf, ini uangnya berlebih?" tanya ku setelah aku memeriksa uangnya yang ternyata berlebih.

"Ambil saja." Katanya

Wah, aku benar-benar senang sekali rasanya, aku dapat uang lebih 5 ribu saat itu, dan bagiku 5 ribu saat itu benar-benar besar sekali. Aku sampai ketika dirumah langsung cerita dengan riang ke ummi, kalau aku dikasih 5 ribu dari yang beli.

Rasanya saat itu benar-benar senang, dari berjumpa satpam dengan ramah, lalu dengan cepat pemilik rumah menyahuti dan terlihat menanti-nanti. Serta tentu saja uang lebih yang mereka berikan yang cukup besar. Aku tidak menyangkan hal begitu saja membuatku senang sekali.

Lalu, momen kedua yang tidak kalah menyenangkannya. Saat itu, seperti biasa menjelang maghrib aku berkelana menelusuri komplek mencari alamat, bertanya satpam hingga akhirnya aku tiba di sebuah rumah yang cukup panjang nan ramai sekali jika ditilik dari luar.

Kupanggil rumah itu berkali-kali, ah rasanya sebal sekali jika orang di dalam rumah begitu sibuk hingga tak mendengar panggilanku. Hingga maghrib benar-benar mau menjelang aku terus memanggil. Hey, kemana orang-orang di dalam? Apa segitu sibuknya mereka?

Aku masih bertahan, aku belum menyerah dan lantas pulang, aku terus memanggil. Hingga akhirnya panggilanku terdengar, seorang anak-anak keluar dan bertanya-tanya. Ketika aku bilang Pizza, lantas air muka orang itu berubah, air muka mereka terlihat begitu gembira, seolah mereka telah menunggu-nunggunya. Lalu dia teriak dan orang rumah berseru senang, "Pizza datang, pizza datang."

Tiba-tiba aku tersenyum sendiri, wah kehadiranku bisa buat orang-orang seneng tuh rasanya gimana gitu ya hehe eh bukan kehadiranku sih, pizza yang aku bawa. Lalu orang tuanya keluar dan membawakan uang, kalau gak salah saat itu dia memesan lagi karena ternyata kurang.

Walau awalnya aku bete menunggu lama dan rasanya seperti diabaikan, tapi ketika melihat setelah itu. Ah bekerja yang bersentuhan langsung ke orang-orang itu menyenangkan ya, melihat respon bahagia mereka karena kita. Mungkin itu kenapa dulu aku berpikir ingin jadi guru ya...

Setelah beberapa kali aku mengantarkan pizza-pizza, menjelang lebaran mulai sepi rupanya. Usaha pizza ummi abi tidak bertahan lama, ternyata kita tidak berbakat untuk berjualan ya. Tapi, mengantar pizza adalah momen berharga sendiri bagiku.

Dari situ aku selalu merasa senang sekali menyapa para pekerja yang mungkin orang memandangnya kurang membanggakan atau semacamnya. Karena mereka-mereka itu terkadang membuat kita tersenyum-senyum.

Sayangnya di negara ini, orientasinya sebagian besar ke uang dan jabaran, siapa yang berpenghasilan lebih besar dan jabaran tinggi, dia lah yang lebih baik. Padahal betapa baiknya para pekerja misal tukang sapu atau pengelola sampah, mereka rela harus melawan debu dan baunya sampah untuk membuat peputaran kehidupan itu terus terjadi dengan baik.

Dan terkadang aku berpikir, itu, kita baru berharap datangnya pizza saja rasanya sudah senang sekali ya ketika datang. Apalagi jika Allah mengabulkan permintaan kita? Ah, rasanya haru...

Dari situ juga aku berharap, kehadiranku menyenangkan untuk orang lain... Walau hiks... Terkadang membuat orang lain sebel yaa... Kuminta maaf hiks...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komentar bagi yang perlu