Senin, 20 Agustus 2018

Sesuatu yang Sama

Rasanya lucu jika menemukan sesuatu yang sama dari seseorang yang sedang kita ajak obrol, sama di sini itu benar-benar spesifik dan belum tentu orang lain sama dengan kita. Dan hari itu, selagi menyantap ayam geprek (jadi kepingin lagi) ku tertawa tak habis pikir, jadi kita sama nih?

*

Namanya Latif, aku tak tahu nama lengkapnya. Dia baru gabung di kantor kisaran dua bulan setelah aku masuk. Aku dan Mas Latif serta beberapa temenku sempet nongkrong bareng beberapa kali selepas taraweh saat itu. Kami ternyata sama-sama suka makan pedas, berhubung ketiga temanku yang lainnya kurang suka, akhirnya aku dan Mas Latif yang sering saling mengajak untuk makan makanan pedas.

Sudah 3 kali kita makan ayam geprek di deket kantor di dua tempat berbeda, kita beberapa kali ngobrol soal kerjaan, soal kehidupan satu sama lain, bagaimana dia cerita tentang istrinya yang mau melahirkan beberapa bulan lagi, dan bagaimana aku cerita tentang keluargaku yang jauh dari diriku.

Di waktu ke 3 pas kita makan ayam geprek berdua, akhirnya kita menemukan kejanggalan. Aku bertanya tentang rumah orang tuanya, yang kutahu selama ini dia orang jogja, namun ternyata kedua orang tuanya tinggal di Jakarta Utara, di Priuk dia bilang.

Aku lantas terkejut, lho? Aku juga orang Jakarta Utara, jadi kujelaskan aku juga tinggal di Jakarta Utara sebagaimana sering ku bilang kepada Mas Latif, aku bilang rumahku di dekat daerah Kelapa Gading, tak jauhlah dari Priuk.

Bicara dan bicara, mengerucut ke sekolah, aku sekolah di SMP 84, salah satu SMP terbaik di Jakarta Utara saat itu. Dan ternyata Mas Latif sekolah di SMP 30 yang merupakan SMP terbaik pertama di Jakarta Utara saat itu hingga kini mungkin. Dan... Wah, kita SD dan SMP satu wilayah ternyata...

Terus dia cerita juga SMA nya di SMA 13 Jakarta Utara, SMA terbaik pertama juga, lalu aku cerita ibuku dulu sekolah di SMA 75 yang menjadi pesaing SMA 13 saat itu. Aku juga cerita om-ku yang di SMA 13 juga. Wah, ternyata kita begitu dekat ya?

Semakin diperkecil pembahasannya, ternyata rumahnya tidak ada setengah jam dari rumahku, bahkan 15 menit cukup jika tidak ada mobil angkutan berhenti sembarangan. Dan rumah Mas Latif dekat langganan kebabku di daerah Semper.

Wah, aku seperti tidak menyangka ternyata kita tinggal di daerah yang sama, sekolahnya pun saling kenal. Bagaimana dia cerita adiknya di SMP 231, sekolah yang dulu saat diriku SMP di 84, disana--231--isinya teman-teman SD-ku semua.

Lalu kita cerita tempat berkunjung di daerah Jakarta Utara, dar masjid hingga kondisi mal-mal yang ada. Dan aku akhirnya merasakan di tempat yang tak dekat dengan wilayah kita, berjumpa dengan orang satu wilayah yang membuat kita membicarakan tempat-tempat yang pernah kita kunjungi.

Ternyata chemistry sering ngobrol dan cari makanan pedas sama Mas Latif ada dari sisi ini juga ya, sungguh aku tidak menyangka...

***

Jika bicara kampung halaman, belakangan ini mendadak ingin kembali kecil, bermain sebebasnya, bermain tanpa pencitraan. Apa adanya, dan tidak ada masalah-masalah yang terus terbayang-bayang hingga berhari-hari, atau bulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.

Namun, semua itu hanya pikiran, dan hari esok harus tetap di lalui...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komentar bagi yang perlu