Selasa, 26 November 2013

Pria Mungil

 "Saat hidup dengan kenikmatan yang ada. Merasa diri paling tak berguna dan tidak ada apa-apanya. Kucoba tengok sebelah."

  Ketika senja telah pudar dipaksa oleh waktu. Saat semua sudah mulai sibuk untuk pergi keluar rumah dengan megahnya. Disaat semua sedang duduk manis di samping keluarga. Menikmati segala hidangan yang ada.

  Ketahuilah, ada seorang mungil sibuk dengan pekerjaannya. Mencoba merogoh tong sampah berselimutkan warna hijau. Dengan tergesah-gesah ia melakukannya. Mengambil segala plastik yang ada, berupaya untuk memenuhi perutnya malam ini. Pria mungil itu terus dengan gigih.

  Tidak dengan pakaian mewahnya, tidak dengan segala gadgetnya. Pria mungil dengan rambut berponi, berkulit kecoklatan dan tidak terawat, berbadan kurus, berpakaian polo dengan garis-garis yang kumal. Pria mungil itu tak peduli orang sekitar, ia terus merogoh tong sampah itu.

  Walau begitu ia terus menatap sekitar, rasa cemas terpancar dari mimiknya. Tangan mungilnya terus merogoh tong sampah yang bahkan tingginya sedadanya. Pria mungil itu terus memasukan plastik ke dalam plastik besarnya.

  Pria mungil itu dihampiri oleh seorang wanita. Mungkin ini malam yang baik untuknya. Entahlah, aku tak tahu apa yang dilakukan wanita itu? Memberinay secercah harapan atau hanya membuang sampah? Aku tak bisa memastikan.

  Pria mungil itu enggan peduli. Dengan segenap tenaga, bahkan ia bersusah payah memiringkan tong sampah yang bertujuannya cuman satu. Agar sisi dalam tong sampah tercapai oleh tangan mungilnya yang tak benar-benar terawat.

  Tak lama, pria mungil itu merasa puas berjalan entah kemana. Menelusuri malam dengan apa adanya. Kuyakin ia lebih baik dibanding Dia. Pria mungil itu terlihat lelah, sangat lelah. Aku harap kebaikan selalu menyertainya.

  Hidup ini adil, suatu saat kuyakin anak kecil itu menemukan segala mimpinya. Tentu saja, jika ia terus berjerih payah. Pasti itu terjadi.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komentar bagi yang perlu