Jumat, 22 Juni 2018

Untuk Kekalahan

Bagiku kekalahan adalah menyerah dalam kegagalan.

***

Selasa, sesekali kamis, atau sekarang jumat. Riak air di permukaan danau adakalanya terjadi, entah dari jatuhnya dedaunan, bijian, atau batu yang dilontarkan. Aku memandang riak itu, dibalik jeruji besi berbentuk diamon, dibawah teduhnya atap, diatas licinnya permukaan.

Saat itu, setiap waktu itu, dentuman bola tiada hentinya mengusik telingaku, aku masih memandang riak itu, alih-alih menolak memandang jembatan merah. Aku tidak tahu apa nama pastinya, bagiku itu jembatan merah, karena warnanya memang merah. Tapi, bagiku paling dalam, itu adalah jembatan kegagalan. 

Aku ingat betul, sore itu aku dan rekan-rekanku bingung harus kemana, setelah presentasi di hadapan beberapa dewan juri, setelah semalam suntuk berupaya mencari jawaban setiap pertanyaan yang mungkin saja akan keluar, tapi pertanyaan yang muncul justru tidak pernah terpikirkan sedikit pun malam itu. Lucu bukan?

Terkadang, kita, manusia, berpikir segala kemungkinan, nyatanya tidak segalanya, tidak benar-benar segalanya. Ya, di jembatan merah itu, sore itu, cuaca mendung selepas hujan, dan hujan belumlah tega menghujam daratan ramai-ramai untuk kedua kalinya . Aku dan rekan-rekanku cukup yakin, ini jembatan yang khas di kampus ini, maka dari itu kami berfoto-foto.

Sesekali melihat para mahasiswa menyeberanginya, dan beberapa pasangan muda-mudi melewatinya dengan mesra. Hingga akhirnya hujan tiba lagi dan kami menyudahinya.

Jembatan itu, sangat teringat jelas, malam penghargaan tiba, sebuah kegagalan telak. Kalian tahu apa pertanyaan yang dilontarkan juri padaku--selaku presenter? Tidak, tidak teknik yang rumit--saat itu aku dan rekan-rekanku mengikuti perlombaan animasi--tidak juga alat-alat yang canggih, tidak. Terkadang kita, ya, aku mungkin, terlalu jauh berpikir, atau terlalu takut dengan hal yang jauh nan besar dan terlihat, tapi suka lupa hal besar yang ada di dekat.

Mungkin beberapa tulisan di blog ini sudah menceritakannya, ya, kesalahan tim ku adalah melupakan tema, sebuah tema dari perlombaan, kurangnya unsur pada tema adalah sebuah kesalahan fatal, oh bukan, bukan kurang, tapi tidak ada. 

Hingga salah seorang juri berkata, "Seandainya, kamu menaruh saja sedikit teknologi, misal di voting, atau pemberitaannya tidak pakai koran tapi sosial media, itu sudah cukup?" saat itu tim ku membuat cerita sebuah audisi layaknya indonesia idol atau pencarian bakat.

Aku, tersenyum, lirih.

Selepas dari ruangan itu, aku tertawa, dalam lelahku. Aku bingung, aku panik, berkali-kali aku berkata. "Ya ampun, salah teman, haha" kataku, ke rekan-rekanku, ke dosen pembimbingku, ke dosen kemahasiswaanku yang benar-benar mereka menaruh harap, menaruh doa, dan sungguh mereka dosen terbaik yang pernah aku kenal--diluar dari perlombaan ini juga diperhitungkan.

Aku tidak mengecewakan diriku sendiri, tapi aku mengecewakan mereka--rekan dan dosenku. Walau sesungguhnya ini bukan salahku saja, tapi, aku yang membuat ceritanya, aku yang meminta ini itu ada, untuk segera selesai, dan saat itu aku bertanya sambil ketawa. "Bagaimana bisa salah tema tapi masuk final?"

Seusai kembali ke Bandung, kampus-ku, itu menjadi pelajaran berharga dan selalu diulang setiap sesi acara lab, terutama mengenalkan lab yang diisi olehku dan rekan-rekanku, bahwa, segalanya tuh penting, aku yang terlalu yakin dengan apa yang kami buat, nyatanya runtuh dengan hal sederhana, tapi benar-benar besar.

Saat malam penghargaan itu, juara kedua dari kategori animasi adalah tim kampus-ku lainnya, beda jurusan, dan aku melihat mereka berbahagia. Sedih? Tentu, itu sepertinya kegagalan pertama-ku dan satu-satunya selama mengikuti final pada perlombaan.

Dan selasa, sesekali kamis, atau sekarang jumat, aku terus memandang riak, alih-alih tidak memandang jembatan merah itu. Bukannya aku takut mengingat kegagalan itu, tapi aku bisa tersenyum sekarang, karena aku tidak kalah. Aku telah mengalahkan kegagalan itu, pada tahun berikutnya, bersama rekan-rekan lebih banyak dan lebih hebat, pada acara yang cukup besar dan pesaing bukan dari kalangan mahasiswa saja, akhirnya kami bisa berdiri diatas panggung memasang wajah bahagia seraya mengangkat piala.

Tapi tahun ini kami tidak ikutan, alias tidak mengirim, karena waktu tidak terkejar. Ya, biasa, terpenting memang adalah tim, tim yang kompak, itu sudah cukup. Tentu saja kemampuan.

Aku mengusap peluh-ku yang keluar lembut dari pori-pori, napas-ku tersengal-sengal, tangan-ku memegang jeruji besi. Menahan napas, lalu menghembuskan lewat mulutku. Riak itu, terlihat seperti sebuah usaha yang indah, ia tak sebesar ombak, tapi semakin besar beban yang dihempaskan ke dalam danau itu, riak itu berbanding lurus.

Aku berbalik, dan aku terus ingin merasakan kegagalan itu, ingin merasakan riak itu, batu yang besar, akan membuat riak itu bergelombang lebih besar dan besar dan besar, hingga kalian tak sadar itu sebuah riak yang sebelumnya kecil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komentar bagi yang perlu