Selasa, 19 Juni 2018

Jodoh oh

Beberapa minggu ini sering diskusi sama ummi soal jodoh, calon, dan mempersiapkan. Ya, wajar, walau ummi masih memberikan lampu merah, tapi treament-treament seperti itu terus dilakukan, katanya sih biar sadar.

Tapi bukan, itu yang ingin dibicarakan. Beberapa akhir ini juga sering diskusi soal ustadz-ustadz, dan yang tidak nyangka ternyata temen basketku ada seorang ustadz yang terkenal. Menariknya adalah, soal pasangan hidup, ya, waktu dateng ke acara yang diisi beliau, aku melihat istri dari ustadz itu, lalu mendadak berpikir. Hmm, kok? Tanyaku heran.

Ya, asal kalian tahu, ustadznya itu ganteng, bagiku cukup ganteng, ya kalau dapet istri yang model selebgram-selebgram cocok bangetlah. Tapi, kok? Ya, pertama emang aku melihat dari luarnya saja, tapi rasanya membingungkan, ya kita memang tidak pernah tahu apa yang dilihat beliau sehingga memilih istrinya.

Terus lihat beberapa ustadz keren dan melihat istrinya, suka menimbulkan tanda tanya. Sebenarnya bukan maksud untuk mengecilkan seseorang, tapi semua itu seolah menjawab pertanyaan naifku dahulu kala yang bernada, "Apa bisa orang kayak dia (maaf, maksudnya yang gak enak dilihat, atau sifatnya keblinger nyebelinnya) ada yang mau ya?"

Ternyata terjawab, jodoh memang sudah ditentukan semuanya, dan tidak ada yang terlewat seorang pun, walau ada saja jodohnya di surga kelak (ketika ajal duluan yang menjemput). Pertanyaan naif itu terjawab sudah, terkadang, atau tepatnya diriku, suka terpaku oleh fisik, ya karena pertama yang dilihat fisik, jadi kalau lihat orang ganteng tapi istrinya kayak kurang pas, rada heran, tapi kalau lihat wanita cantik dan prianya kurang, nggak heran, cuman jadi suudzon, astagfirullah, begitulah ya mindset juga sudah tercemar.

Ya, kalau gini jadi semakin santai, toh kata rekan kerja di kantor yang bercerita tentang nasib jodohnya, jodoh mah asal cocok dan sesuai perjuangan dakwahnya, udah sisanya gak terlalu dipikirkan, toh cuman sementara dan tujuannya ibadah (kurang lebih begitu intinya). Apa mereka-mereka yang membuatku bingung itu berpikir seperti itu?

Semakin kesini, pemikiran dapat calon pasangan yang cantik mulai terkikis, buat apa cantik, tapi nissa sabyan boleh lah, hehe. Ya, balik lagi, asal suka, cocok, dan agamanya oke, mungkin sisanya lillahi ta'ala aja kali ya, jadi tinggal niatin kalau semua itu ibadah, jadinya tenang dan mudah kayaknya.

Sama kayak hidup kaya dan miskin, kalau orang miskin berpikir ini hidup gini banget, tapi nggak berpikir kalau kaya dan miskin itu sama, sama-sama cobaan, pasti rasanya nggak bersyukur terus. Begitupun kaya, kadang lupa diri, padahal itu juga cobaan.

Ya, begitulah, jodoh sudah diatur, tinggal ibadahnya aja harus lebih teratur. hiks, ramadhan pergi, ibadahnya ikutan pergi juga. :(

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komentar bagi yang perlu