Rabu, 27 Juni 2018

Oh Jodoh Oh



Tiba-tiba ummi bilang kepadaku sepulang aku dari kantor. "Hil, kamu harus nonton ini ceramahnya Budi Ashari soal Ayah, sebelum nikah harus paham ginian dulu."

Aku mengiyakan, hingga waktu pagi hari sebelum berangkat kerja ummiku menyetelnya di ruang tengah dan langsunglah ummiku menunjuk-nunjuk. "Tuh... tuh... tuh..."

Sebenarnya, sebelum menonton atau mendengar ceramah ini, dikepalaku bertanya-tanya, dan pertanyaan ini belum tentu terjawab karena bisa saja aku lebih dulu tiada sebelum mendapatkan jawabannya haha.

Pertanyaan ini terlintas setiap aku kepikiran untuk bermain game. "Ketika sudah nikah nanti, kira-kira istriku masih ngebolehin main game nggak ya? Terkhusus dota dan mobil legend (dimana masih rame sama temen-temen)."

Pertanyaan liar itu suka keluar, iseng aja ada pertanyaan seperti itu dibenakku. Dan pas nonton ceramah itu, terjawab rupanya, walau bukan jawaban dari istriku dimasa mendatang, tapi jelas sekali, berbahaya jika menghadiahkan sebuah game kepada anak, dan sudah tidak mengerti lagi kalau ayahnya ternyata seorang pecandu game.

Aku lantas bingung... Terus skeptis sama pernikahan, untung dibolehin nikahnya masih lama... haha, lucu ya, bicara soal nikah tiba-tiba teringat sesuatu yang terngiang di kepala dan selalu menjadi keheranan sendiri bagiku.

Sebelumnya pertanyaan naifku terjawab soal jodoh, sekarang pertanyaan lainnya, ah kenapa sih bahas jodoh mulu? Rasanya aku malu sendiri, tapi ini mengganggu sekali di kepala. Berangkat dari sebuah ayat yang sering didenger, yang intinya adalah wanita keji untuk laki-laki keji, wanita baik untuk laki-laki yang baik. Walau aku tidak tahu tafsir semestinya tapi ini sering kali dikaitkan dengan perjodohan.

Tapi, bukan sebuah rahasia, terkadang ada yang sulit diterima, seburuk-buruknya cowok terhadap cewek, jika menikah, dari sekian banyak pengalaman pasti ingin mendapatkan cewek yang soleha dsb. Itu rasanya, kasihan ceweknya lah, rugi gitu...

Dan aku selalu berpikir, wah, kalau ingin dapet istri yang soleha, berarti kasihan istrinya dong, rugi dapet aku yang begini... Hari itu, aku bertanya ke rekan kerjaku, kebetulan kita berangkat bersama untuk main basket di UI, seperti biasanya aku lakukan.

Saat itu, di mobil tua miliknya, aku lupa, entah aku bertanya atau beliau yang bercerita. Jadi, dia sedikit bercerita atas hal tersebut. Dia bilang, dia itu bukan orang baik-baik, tapi istrinya itu benar-benar orang baik sholeh yang kalau dirasa itu kayak jomplang gitu, tapi mereka berjodoh pada akhirnya?

Tapi aku menyanggahnya, karena beliau--rekan kerjaku--itu orang baik. Dia bilang, dia tuh dulu tidak seperti ini, semenjak menikah, barulah istrinya yang mengajak dia untuk ini itu dalam kebaikan. Hingga akhirnya dia bilang, mungkin bukan baik untuk baik yang sekarang, tapi mungkin kamu baik, tapi dalam perjalanan, yang akhirnya kalian sama-sama baik. Jelasnya...

Aku masih heran, tapi, tetep saja, rasanya rugi, kasihan wanitanya. Seandainya aku mendapatkan wanita yang ilmunya dibawah, mungkin saja aku merasa rugi, kalau bisa dapet yang lebih soleha dan lebih bisa mengingatkan kenapa harus yang dibawah? Tapi, kasihan wanitanya soleha itu, terus begitu saja berputar-putar.

Hingga akhirnya beberapa orang bercerita, bagaimana orang-orang (pria) itu berubah setelah menikah, beberapa ada juga contoh orang di kantorku, dan rasanya, seperti, ah entahlah, mungkin akunya yang menolak setuju soal untung rugi itu. Padahal jika istrinya lebih soleha, istrinya bisa dapat pahala banyak karena sabar mengajarkan suami, yang dimana pria lebih cenderung ingin memimpin dan tidak mau digurui. Begitupun sebaliknya, suami akan mendapatkan pahala besar jika mengajarkan istrinya.

Pada akhirnya memang harus menerima kekurangan dan melengkapinya, bukan masalah untung rugi, tapi menikah itu bekerja sama bukan? Tapi, tetep, masih ingin menjadi orang yang dimana dia berada, sekitarnya selalu merasa beruntung dan bermanfaat :" walau apa daya hayati masih begini perilakunya, haha

Dan memang pria itu fitrahnya menjadi pemimpin ya, kerasa banget pas berkuda, dimana sebuah kepemimpinan itu begitu diperlukan, ketegasan, pengendalian emosi, apresiasi, itu baru sama kuda, apalagi pemimpin negara ya? Aih, tak terbayang hayati dek.

Sudah ah, bicara menikahnya, semoga ini yang terakhir ya... hehe

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komentar bagi yang perlu