Senin, 22 September 2014

Berjalan di Pekat Malam

  Saat yang kunikmati, kesendirian di tengah keramaian. Ketenangan yang kudambakan, tersembunyi dari pekat malam. Kepuasan yang segera kurasakan, setelah semua itu terlaksanakan. Tentu saja. Itu hal yang sungguh-sungguh membuatku berpikir.

  Bukan sebuah hal yang penting, tapi berjalan di tengah malam dan sendirian itu mempunyai kenikmatan sendiri bagiku. Selain bisa melihat hiruk-pikuk dunia luar yang begitu berkecamuk, aku bisa melihat bagaimana seorang penyendiri memandang dunia yang begitu mengerikan dan mencekam.

  Berjalan di pekatnya malam, aku bisa berpikir lebih baik. Entah kenapa aku bisa menyebutnya seperti itu, terkadang aku benar-benar menikmatinya. Saat melihat kesenangan di tengahnya malam, saat melihat keramaian yang mereka buat. Dunia ini sungguh menyenangkan. Berwarna, begitu penuh dengan hiburan.

  Dari sanalah terkadang aku mulai berpikir, entah apa hubungannya. Tiba-tiba selaksana bintang jatuh, pikiranku terbayang akan diriku. Betapa jauh aku melangkah, betapa hebat aku terus berjuang. Nyatanya semua penuh dengan kesalahan. Sebagaimana yang kurasakan, saat dunia mulai mengucilkanku, saat dunia mulai aneh kepadaku.

  Saat itu, berjalan di tengah keheningan dan pekatnya malam, aku merasakan ada yang salah dengan diriku. Tak ada yang lebih buruk kepadaku, selain perbuatan burukku kepada orang lain. Di saat itu, kata-kata intropeksi diri melumuti pikiranku. Aku terus berpikir, apa saja yang sudah kulalui, apa saja yang membuatku bisa tiba di sini--berjalan di tengah pekat malam.

  Itu sebuah hal yang indah, betapa hebatnya semua ini, betapa hebatnya jalan cerita ini, bagaimana bisa aku melewati segala masalah itu? Bagaimana bisa aku bisa menghabiskan kebahagiaan itu? Bagaimana bisa aku tak peduli dan kini itulah yang kurindu?

  Ketenangan ini, membuatku damai sedamai-damainya dalam perjalanan yang kulalui. Aku bisa tersenyum di balik kegelapannya. Aku bisa bersedih atau menangis di balik kegelapannya. Tanpa ada yang harus melihat dan peduli. Dan dari sana, akulah yang beraksi. Menebar kebaikan yang seharusnya tertanam.

  Walau terkadang, setelah pemikiran hebat itu ada, saat cahaya mengorbitkan dirinya. Pemikiran itu suka punah, oleh gemerlapnya kehidupan. Keramaian itu, keseruan semua itu. Semua pemikiran yang timbul dari ketenangan jiwa seolah lenyap.

  Tapi, di sinilah aku. Kembali berjalan di tengan pekat malam. Saat kumerasakan, ada yang tak beres dengan hidup ini. Saat itu pula aku mulai berpikir dengan kesendirian dan menatapi kehikmatan orang bergerombol dengan keasyikannya. Aku merasa, itu sungguh kenikmatan.

  Ketenangan...

  Terkadang itu yang kubutuhkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komentar bagi yang perlu