Sabtu, 01 Februari 2014

Sentimental

Terkadang aku bisa menjadi lebih menakutkan daripada seorang wanita yang datang bulan.

*

  Begitulah pendapat para teman-temanku yang sudah mengenalku baru-baru ini. Aku pun nggak bisa menutup-nutupi atau mengelak. Memang begini cara kerja emosional yang tak bisa aku tahan. Sebenarnya ini masalah tak begitu rumit, namun terkadang aku bisa menjadi seorang anak-anak dengan sifat yang sulit dimengerti orang lain hanya karena sesuatu yang sangat sepele.

  Jadi, begini. Sebenarnya sifat payah ini sudah menjadi bawaan dari orang tua. Ya, salah satu orang tuaku sering kali begini. Entah kenapa aku jadi ikut mengindap sifat itu. Sifat seolah kamu ingin orang lain memedulikanmu lebih daripada biasanya. Kalau kata orang tuh, ngambek.

  Sentimental, begitu kata salah satu temenku. Dia bilang aku lebih sentimental daripada seorang wanita yang datang bulan. Saat itu, memang tak ada angin tak ada apa. Hanya karena bercanda, aku bisa diam dan membuat dia bingung serta menduga aku benar-benar marah.

  Terkadang aku nggak ngerti apa yang aku lakukan, aku juga tak tahu tujuan dari semua itu. Jika aku jujur, aku hanya butuh peduli yang lebih. Mungkin itu alasan yang tepat. Saat dia meminta maaf seolah aku merasa menang, merasa apa yang kubutuhkan tercapai.

  Dan bukan tak mungkin sifat itu membuatku dijauhin banyak orang. Tentu saja itu mungkin. Orang bisa saja menilaiku orang yang begitu sentimental, jadi mereka akan mengambil jalan untuk mengenalku hanya saling menyapa di jalan saja. Ya, karena terlalu berurusan denganku sama saja mencemplungkan diri ke lumpur.

  Entahlah, terkadang ada yang bisa memaklumi ada juga yang nyindir. Dan yang terakhir memang sudah sering dilakukan, mereka bilang saat aku diem di tengah-tengah keramaian, aku lagi sedang datang bulan. Diam, sekali ditegor seolah seiap menerka.

  Aku juga nggak ngerti, sifat ini membuatku merasa gila. Merasa idiot dan tolol. Oh, betapa kekanak-kanakannya aku. Sampai akhirnya suatu ketika aku benar-benar merasa sifat sentimenku begitu memuncak, aku sampai tega ngehapus kontak seseorang hanya karena sebuah gurauan. Betapa tololnya aku.

  Sampai akhirnya pagi-pagi ia minta maaf, dan bodohnya aku hanya membalasnya dengan tawa. Sungguh setelah itu aku merasa menyesal, merasa terus bertanya berapa umurku sekarang? Apa yang kulakukan itu? Sungguh aku malu sendiri, beruntung orangnya baik. Well, semua kembali seperti semula. Walau agak canggung karena hal itu.

  Entah sampai kapan sifat ini, kuharap jika kelak punya anak tidak menurun. Sungguh menyiksa dan rasanya kau seorang pecundang yang kekurangan kasih sayang. Oke, mungkin saat itu aku butuh waktu untuk tenang. Untuk berpikir apa yang terjadi. Dan sebaiknya ingatkan aku, jangan lakukan hal bodoh saat seperti itu.

  Bicara sentimental, terkadang aku bisa menjadi gila hanya karena komentar orang lain atau memperlakukan orang lain tanpa sengaja dengan tidak enak. Aku bisa gila jika tidak minta maaf, rasanya seolah dia akan menghujatku sebagai musuh.

  Ya, beginilah aku dan sentimentalku. Kuharap semua bertumbuh lebih baik, lebih dewsa dan tenang serta tegas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komentar bagi yang perlu