Kamis, 27 Maret 2014

Ilmu Tak Sia

"Tak ada ilmu tak penting." - unknown

*

  Sejak aku membenci beberapa pelajaran. Terkadang aku bertanya. Apa pentingnya pelajaran itu? Apa berguna untuk kehidupan? Tentu saja, aku membencinya karena aku belum memahami dan memang sulit dipahami.

  Begitulah ilmu. Semakin susah di dapat, semakin besar manfaatnya. Namun, aku terkadang membenci ilmu-ilmu sulit seperti itu. Sebut saja kalkulus, pertama-tama saya bertanya pada diri saya sendiri dan tak pelak ke orang-orang.

  Apa sih untungnya belajar itu--kalkulus? Apa gunanya bagi kehidupan ini? Gak berefek banyak sepertinya dan pelajaran itu rumit sekali. Sesekali bahkan menjadi beban, rasanya tak dapat ilmu itu pun tak apa. Hidupku pun tak akan menjadi berantakan atau apapun yang berubah.

  Malah dengan belajarnya ilmu itu, malah hidup sepertinya menjadi payah. Apa-apa nggak ngerti, apa-apa minta ajarin. Seolah-olah menjadi bodoh. Sering kali aku pun mengeluh, menghujat dan terus bertanya. Apa sih pentingnya pelajaran itu? Bahkan di kampus ini mendapati perhatian lebih pada pelajaran itu.

  Hingga sekarang pun aku belum menemukan jawabannya. Belum menemukan jawaban yang bisa membuatku puas. Tapi, suatu waktu aku mendapatkan sebuah jawaban. Namun, di konteks yang lain. Bukan persoalan kalkulus yang tampak menjijikkan. Bukan.

  Ini menyangkut sebuah ilmu yang bagiku, taklah penting juga, taklah berpengaruh pada kehidupan, dan membosankan. Sejatinya aku tak pernah menaruh peduli terhadap pelajaran itu. Tapi, setelah membaca-baca berita dan artikel-artikel. Saya mengangguk-angguk terkejut.

  Ya, ternyata reaksi-reaksi kimia itu penting. Contoh saja saat kita meniup air yang panas, akan terjadi reaksi kimia yang mengakibatkan pengkristalan di perut nanti. Mungkin jika tidak percaya, kalian bisa cari tahu sendiri di google.

  Dan belakang ini aku mendapatkan berita tentang memakan buah sehabis makan cukup berbahaya. Malah lebih baik makan buah ketika perut kosong atau sebelum makan. Katanya, jika makan buah sesudah makan akan terjadi reaksi antara buah dengan makanan itu sendiri yang berefek buruk.

  Setelah membaca itu, aku benar-benar menarik kembali kata-kata tentang ilmu kimia. Tak disangka, pada akhirnya aku mengakui bahwa ilmu kimia layak untuk dipahami, malah wajib. Jika kita tak tahu, mungkin saja banyak reaksi kimia yang membahayakan kita.

  Maka dari itu, Islam mengajarkan wajib hukumnya untuk menuntut ilmu. Mungkin saja, karena ilmu itu sangatlah penting. Tak ada ilmu yang diibaratkan sampah. Tak ada ilmu yang pantas diremehkan.

  Bukankah kita harus bersyukur mendapatkan ilmu yang sulit dipahami? Mungkin saja kelak sangat berguna untuk kita. Dan menurutku karena di dunia ini tak ada yang pernah sia-sia. Dan sekarang, aku sendiri pun mencoba untuk menerima ilmu itu. Walau terkadang membuat saya bertanya, apakah saya bodoh?

  Jadi, ada yang mau mencela sebuah ilmu? Coba nikmati dulu, sampai kita bisa merasakan. Pentingnya sesuatu itu. Walau kita anggap taklah penting sedikit pun untuk kehidupan kita. Waktu akan menjawab semuanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komentar bagi yang perlu