Jumat, 20 September 2013

Berkeping Oleh Angka

  Gue kira semua telah berakhir. Ya, gue kira masa-masa di mana angka-angka lebih menakutkan dibanding setan. Di mana angka-angka selalu memberi rasa mual setiap kali gue berkutit denganya. Gue kira semua itu telah berakhir. Ternyata, anggapan gue itu salah.

  Bukan hanya salah, tapi benar-benar salah! Bagaimana tidak? Baru sebulan gue mengikuti kuliah TPB secara intensif, rasanya gue sudah ingin gantung diri. Siapa? Kalian bertanya siapa yang membuatnya? Gue akan terkekeh mendengar pertanyaan itu.

  Tentu saja itu, ya itu. Angka-angka yang berkutit dengan huruf-huruf yang terkadang menjadi sebuah sudut, derajat, garis, dan entahlah. Kuharap semua itu enyah. Aku terus berharap selepas masa SMK. Ternyata, mimpi ini lebih dari kata buruk.

  Parahnya lagi. Sangat parah, pelajaran angka-angka itu melebih kapasitas otak ini. Menurut gue begitu. Walau sebenarnya ada kesempatan untuk gue menguasainya. Tapi, ini parah. Pelajaran ini mungkin banyak dipahami sebagian orang di kelas gue. Karena apa? Karena mereka sebagian besar SMA.

  Sementara gue? Bukan, bukan masalah karena gue SMK. Sementara gue emang benar-benar gak bisa memahami dengan angka-angka itu. Gue juga gak bisa memahami perkataan dosen yang begitu tinggi. Vickinisme pun lewat.

  Tapi, sejatinya gue gak akan pernah menyalahkan dosen gue. Dia sudah berusaha sebaik mungkin. Hanya saja, setiap masuk kelasnya. Seolah-olah semua anak tersihir. Sihirnya begitu mengerikan, yak, baru sepuluh menit pelajarannya seolah-olah satu kelas diminta untuk tidur dengan khidmat.

  Bahkan, anak yang pinter sekali pun matanya selalu sayu-sayu. Sampai akhirnya semua pada heran. Kenapa itu terjadi? Hipotesis yang gue ambil, dosen gue menerapkan cara pelajar yang pasif. Tanpa interaksi, yang membuat para muridnya mencerna katanya tanpa melakukan apapun.

  Apa hasilnya? Kantuk pun terjadi. Tak mengerti pun menjadi hal yang takzim. Oke, walau begitu gue tak menyerah. Selintas gue mau berkata berputus asa. Teman sebelah gue berkata sebuah kata-kata yang sebenarnya gak gue pahami. Alias tak terdengar.

  Tapi, seolah-olah gue dibangunkan dari mimpi buruk. Gue memacu diri gue dan hal hasil, tiba-tiba gue sedikit mengerti. Dan sebenarnya ini masalah kemauan. Bisa atau tidak, ditentukan dari langkah itu. Mau atau tidak? Semua bisa menjadi lebih baik. Jika kalian atau gue mau!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komentar bagi yang perlu