Selasa, 06 Agustus 2013

Selamat Datang 18

  Adzan shubuh berkumandang. Tepat bersamaan, 18 tahun yang lalu, tibalah saya di dunia yang fana ini. Tanpa sebalut bahan. Dengan tangis menjerit. Semua masjid mendengarkan adzan kepada saya.
 
  Segala harap terpanjat. Menjadi apa kelak, mereka semua menginginkan yang terbaik. Entah itu hanya setitik. Setidaknya baik. Karena, baik adalah pilihan. Maka, tak sulit mendapatkannya hanya sulit menjalankannya.

  Lambat tahun terlewati entah kelewatan kebaikan apa saya. Segenap rasa sedih betabur bahagia tiba di hari ini. 6 Agustus. Dimana mereka (teman, shabat, keluarga) banyak berdoa terbaik buat saya.

  Pada akhirnya saya harua mengakui, doa mereka adalah sebuah peringatan. Karena, umur saya semakin pendek. Hidup saya belum tentu bisa sejauh sepersekian detik berikutnya.

  Tapi, apa boleh buat. Ibadahlah yang harus saya taatkan. Mengingat apa yang ada setelah kematian. Tak bisa dipungkiri doa mereka membuat saya merinding.

  Senyuman bertabur ketakutan. Itu terjadi ketika adzan shubuh berkumandang di pagi itu. Banyak orang bertanya, jika besar jadi apa anak ini? Seorang baik atau sebaliknya?

  18 tahun telah berlalu, hanya kalian yang tahu. Apa saya sebenarnya? Siapa saya sebenarnya? Kalianlah yang mengerti akan hal itu. Dan segenap rasa syukur harus saya panjatkan kepada Sang Pencipta.

  Terima kasih atas hari ini dan hari sebelum-sebelumnya. Berharap masih ada kehidupan di detik berikutnya. Agar apa yang salah dapat saya benahkan. Semoga saja menjadi sebuah kebaikan.

  Dibalik doa mereka. Ada kepedulian buat saya. Dan sebaliknya, saya peduli denga mereka. Sukses untuk saya maka sukses pula untuk mereka. Jika tak ada mereka, apalah seorang saya? Lemah tak berdaya dengan pemikiran yang masih antah berantah.

  Dari mereka saya pun belajar banyak. Perjuangan. Kedamaian. Kehidupan. Mimpi. Syukur. Sabar. Cinta. Sayang. Bahagia. Sedih. Dan segala rasa bak permen nano-nano.

  Untuk mereka. Terima kasih banyak!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komentar bagi yang perlu