Senin, 18 Juni 2018

Akhir Perjalanan 4 Tahun



Rasanya waktu cepat sekali berlalu, peraasaan baru kemaren pusing-pusing mikirin TA nggak kelar-kelar, sekarang sudah bulan juni, dan satu setengah bulan lagi tepat sidang TA dan membuat semua jadi plong.

Terkadang waktu kosong, merasa keinget kenangan 4 tahun kuliah, 4 tahun seru-seruan, dan sekarang ya beginilah kerja. Patut disyukuri memang, tapi ya begini dan begitu saja tidak se"wah" kuliah dan setidaknormal kuliah.

Jauh, sebelum lulus, bahkan sebelum masuk kuliah, aku pernah bertanya-tanya pada diriku sendiri. Apa aja sih yang ingin aku capai selama kuliah? Aku buatlah 10 keinginan atau mimpiku di kertas lalu aku lipat kecil dan masukin ke dompet, walau dibukanya jarang-jarang, di sana salah satunya aku ingin merasakan pergi keluar negeri tanpa keluar uang sepersenpun. Ya, pas pertama mikir dan nulis itu kayak mustahil, ya tapi namanya juga mimpi, bebas saja di benakku.

Selain itu, ketika aku masuk kuliah, aku melihat ke belakang, aku memiliki teman yang prestasi dan juaranya banyak sekali, piala seolah numpuk di rumahnya, dan jika aku berkaca pada diriku sendiri, hmm, rasanya aku belom pernah memenangkan apapun hingga aku tiba kuliah sekarang, dari situ seolah aku jadi kepikiran, ah kayaknya pengen deh banggain orang tua dengan bawa piala atau semacamnya.

Tak pernah terpikir, bahwa aku yang bermimpi dan berpikir aneh-aneh itu bakal melalui kuliah yang begitu menyenangkan dari organisasi hingga perlombaan. Aku yang modal kemampuan horizontal, alias, nggak jago-jago banget selain bisa semua tapi biasa aja, akhirnya jadi tim support beberapa tim lomba, aku yang sangat ambisius akhirnya membuahkan hasil.

Pertama kali, di UI, juara 2, aneh sih, saat itu juara 1 dan 3 dari UGM, juara 2 seolah mimpi pertama yang terwujud, karena sejatinya itu lomba pertama dan nggak yakin kalau langsung menang, karena aku mikir ini hanya untuk menghabiskan jatah gagal saja.

Setelah itu, aku juga merasakan mimpiku terwujud, dapet juara salah satunya, dan satunya lagi masuk berita kampus.

http://soc.telkomuniversity.ac.id/read/95/tim-heaven-sundaes-alliance-berhasil-meraih-juara-2-ajang-game-and-apps-competition-islamict-fair-2015

Dari situ, masih belom kepikiran kalau bakal sejauh ini, terus-terus lomba, dari yang finalnya gagal karena salah tema, hingga juara 3 terus-terusan, sampai menjelang sidang bertanya-tanya, kok gak pernah juara 1?

Setelah sidang berakhir, alhamdulillah, mimpi yang aku tulis menjadi kenyataan, akhirnya bisa bertarung di Malaysia dengan gratis keseluruhan rame-rame bareng temen-temen, dan rasanya kayak kado spesial saat aku ulang tahun dan setelah sidang. Rasanya hidup komplit sekali waktu itu.

Ketika di Malaysia, sebenarnya udah nggak terlalu berharap juara, karena bisa jalan-jalan gratis-tis-tis ini saja sudah sangat bersyukur dan lebih dari cukup. Namun, Allah seolah memberikan kado manis, tanpa disangka, akhirnya dapet juara 1. Dan semua itu terjadi dipenghujung kuliah.

Ah, rasanya tidak ada penasaran lagi di kepala. Tapi, setelah kuliah seolah kehilangan semua ambisi, walau bersyukur karena cerita dikampus selalu menarik dan selalu saja kebayang-bayang. Dari suara detak jam yang teringat tahun pertama di kosan, sendirian, tidak ada kipas angin, yang terdengar hanya suara detak jam.

Dari riung senyapnya di Masjid Syamsul Ulum, melihat para penggiat dakwah meriung bercerita. Nikmatnya danau galau kalau jogging sore hari, serunya lab kalau main dota dari malam sampai pagi, kalau nobar film sambil makan, atau jalan-jalan ke sekeliling bandung menikmati alam yang telah Allah ciptakan.

Kangen juga kalau mati lampu di kosan, ngumpul main gitar nyanyi bareng sambil HQ time, camping ala-ala, main basket didukung sejurusan, main futsal ramean dengan tim seadanya di kelas terus sampai magrib, terus bikin goal, terus aku nyanyi burung hantu, tapi semua diam, aneh tapi rasanya nikmat.

Ketika di kelas ngobrol, tidur, nyontek, pura-pura ngerti. Belajar giat h-1 ujian, jadi memang nilai didapat dari belajar semalam saja rasanya... :'D Ngerjain Tugas Pendahuluan Praktikum setiap weekend yang selalu dikeluhkan dan rame-rame ngumpulin, nggak jarang cuman ubah variabel, terus manjat-manjat ngumpulinnya karena ditutup. Disini, ujian seorang teman sejati diuji, mau ngasih jawaban TP atau nggak ke temen lainnya, sampai akhirnya ketahuan deh aku cuman ubah variabel dan satu modul praktikum 0. Haha

Jalan-jalan sama anak kosan, sama berenam, sama ana lab, sama anak aksara, berendem, ke gunung, ke pantai, ke air terjun, ngebut disepanjang jalan lembang-subang yang rasanya mau mati, lihat bukit bintang yang remnya blong yang udah mikir aneh-aneh aja pas itu, ke pantai yang 12 jam sendiri, sampai sana nginep di deket pantai seadanya terus nemu tempat tambang yang kayak markas penjahat. Pergi ke boscha yang rasanya sepi tapi tenang, makan kuliner bandung, makrab kelas, makrab aksara, makrab angkatan. Ke Ciwidey dingin-dingin marahin adek-adek kelas, maaf ya dek...

Tidur di Sekre berhari-hari, tidur di lab berhari-hari, tidur di kosan temen, tidur di kamar temen. Sahur masak di lab, buka berburu di MSU. Selalu rame, rasanya keramean itu seperti bagian dari keharusan.

Terlebih dengan orang-orang yang sudah dianggap spesial, willy temen basket yang suka namanya kebolak-balik sama aku, yono yazid berto keju temen dota yang sampe pagi kerjaannya mmr-an terus, dan para cewek-cewek yang suka ngingetin dan mau dititipin kalau lagi beli makan diluar. Bahkan cewek-cewek yang suka meracuni dengan koreanya, dan dance koreanya sampe-sampe aku sedikit bisa dance korea :'D

Rasa dimana dari kos habis mandi buru-buru mau balik ke lab, makan di kantin ramean, upgrading, pelantikan, ah banyak sekali ya kenangan itu. Ah rasanya nggak habis pikir kalau semua sudah berlalu begitu saja.

Mungkin video itu penutup perjalanan panjang selama kuliah di Bandung, dalam sebuah perjalanan memang selalu ada yang ditinggal. Kenangan, entah manis atau buruk. Itu selalu ada dan selalu dirindukan--bagi yang manis.

Untuk semua temen kuliah yang pernah direpotin, aku minta maaf sebesar-besarnya, dan aku rindu kaliaaaaaan. hiks.

Semua Benar Berakhir

Setelah sebulan penuh aku istirahat, akhirnya aku memberanikan diri untuk minta maaf secara general atas dosa-dosa lampau. Ah rasanya jadi aneh, semua yang begitu dekat dan baik saja menjadi secanggung ini. Tapi begitulah cara kerjanya.

Beberapa kali sempet melihat perkembangannya alhamdulillah, sebenarnya kita akan baik-baik saja, tanpa ada atau dengan seseorang yang kita anggap teman atau sahabat terbaik. Tapi, dengan, selalu menjadikannya lebih menarik bukan?

Memang terkadang sebuah hal perlu pengorbanan, bagaimana jalan tol dibangun butuh mengorbankan lahan milik warga. Entah itu pembebasan lahan secara baik-baik, atau agak "terpaksa". Semua memang butuh pengorbanan.

Mungkin, terlalu berpikir, pergi berarti bahagia, kali ini ingin mengungapkan sedikit, bagaimana butuh banyak topeng agar semua terlihat baik-baik saja. Karena semua itu terjadi begitu cepat dan harus bertahan begitu lama.

Ah, namanya memori, terkadang memang tidak bisa dipilah begitu jauh. Seandainya mengingat pelajaran atau ilmu rasanya susa sekali, tapi momen-momen yang hanya memberi luka terus tersimpan dan seolah menghukum, bagaimana masih ingin mengulangi semuanya? Begitulah katanya--memori.

Ah mungkin kita sekarang tidaklah sahabat tidaklah teman jua, hanya beberapa orang bingung dan terus berlari, tak perlu lihat kebelakang memang, kenangan manis itu terlalu luka, kenanangan buruk itu terlalu menyiksa.

Tidak ada kejadian setelah istirahat sebulan penuh, tapi ketika suasana begitu hampa, rasanya hati tercekat, seolah seorang mencekek dan rasanya tidak enak. Walau beribu maaf telah disampaikan, ah, seandainya saja semua begitu mudah, mungkin sudah bertahun yang lalu hal ini terjadi. Setan memang pandai memposisikan.

Berbahagia, saat sedikit sapa gurau terjadi, semoga kita semua baik-baik saja dan terus menjadi orang baik yang bermanfaat. Setidaknya kita punya teman-teman baik yang selalu mengelilingi, selalu mengingatkan, antara ibadah dan berbahagia.

Mungkin, menutup rapat perlu dilakukan. Karena cerita akan berakhir entah itu pershabatan atau pertemanan atau musuhan. Terima kasih atas petualangan bertahun-tahunnya, aku jadi sedikit sedih heuu hiks.

Sabtu, 16 Juni 2018

Ibu Telah Pulang

Terkadang kita tak sanggup melihat keburukan yang memalukan, terlebih teman dekat atau kerabat sendiri. Rasanya ingin menolak tapi itu adanya.
***

Pagi ini sama seperti sebelumnya, sepi, tapi ibu telah pulang, aku harus segera menyusulnya.

Sang Pembuat Takdir

Kau tahu? Semalam aku bermimpi, setelah resahku kuadukan, seolah aku mendapatkan jawaban untuk sebuah kisah.

Aku yang seolah semakin yakin, masih harus menanti lagi, penantian ini tidaklah singkat, bulan? Tahun? Bisa saja lebih dari itu.

Mungkin tidak semudah yang dibayangkan, penantian itu butuh perjuangan. Sekarang aku masih di nol, entah kapan meteran angka itu beranjak.

Banyak yang terjadi diluar sana, membuat hati kadang menjadi keruh. Presepsi suka berpikir seenaknya, dia tak tahu betapa susahnya hati menyaring atas apa yang di dirinya--akal pikiran--lakukan.

Hati ialah, secara harfiah ataupun kiasan, dia tetap penyaring, antara racun tubuh atau racun pikiran. Ah bahkan diriku bukanlah seorang filsuf atau profesor yang pantas mendefinisikan.

Begitulah penantian dan hati kerap berjuang. Sampai suatu hari tiba, tak ada keraguan dan kepastian itu memberikan kado terbaik yang telah dinanti.

Nikmatnya hasil, perjuangan yang hampir gagal bukan? Seperti nikmatnya makan, ketika diri rasanya akan mati kelaparan.

Biarkan aku bergumam dan bergumam sejenak, bicara soal nanti, walau dalam bisik kepada sang ilahi, berharap tak menggurui, sebaiknya pembuat takdir ialah Rabb-ku.

Sabtu, 02 Juni 2018

Tersungkur

Aku ingin tertawa terbahak-bahak rasanya.

Hari ini sungguh mengejutkan, pertama, tanpa sadar aku meninggalkan motor beserta kunci yang tercantol di pinggir jalan, sedang aku masuk ke dalam ruangan. Beruntung Allah masih kasihan sama diriku ini, motornya aman, mungkin males juga orang ambil motor yang terlihat butut ini hehe

Kedua, akhirnya, pada akhirnya terjadi, setelah sekian lama naik motor sambil tertidur, sekian lama hampir nabrak, kali ini akhirnya terjadi. Beruntung lagi, Allah masih kasihan sama diriku ini. Aku yang sudah terkantuk, berjalan di tengah pekatnya malam, akhirnya harus nyungsep ke semak-semak agar aku kembali tersadar dari kantukku. Efeknya pun kaki kiri ku terkilir, setelah hari kemarin motornya mogok karena hujan dan aku harus mati-matian menyela motor dan membuat kaki kananku terkilir, sekarang lengkaplah sudah. Alhamdulillah.

Ah, rasanya lucu sekali tegur-teguran ini, seandainya Allah sudah tidak lagi sayang, mungkin motor bisa saja hilang, atau bisa aja aku menabrak mobil dan lainnya yang sebelumnya hampir terjadi. Setelah kejadian-kejadian pahit, pasti timbulah hikmah dan mengerti untuk lebih dan lebih berhati-hati.

Sama kayak beberapa jam sebelum aku pulang, aku bercerita ke teman-temanku, beruntung aku magang kerja waktu SMK di tempat dan momen yang menyedihkan, aku merasa hidup berat banget. Tapi, setelah itu aku jadi harus pintar mencari duit, harus bekerja sesuai passion agar masa-masa kelam itu tak lagi hadir.

Mungkin, ini yang aku rasakan, tidak akan merasakan sebuah kemanisan jika belum merasakan pahit. Walau eksistensi pahit adalah ketiadaan manis.(ini dapet dari sebuah dialog orang atheis ke muslim yang mempertanyakan apakah Allah juga menciptakan kejahatan?)

Menyambung soal eksistensi, ini menarik sih, tidaklah ada gelap sesungguhnya, yang ada adalah ketiadaan cahaya. Karena kita belajar menghitung cahaya, tidaklah gelap. Tidaklah ada kejahatan sesungguhnya, yang ada ketiadaan Allah di diri kita sehingga tidak ada kebaikan. Begitulah intinya dan aku merasa mesem-mesem sendiri membacanya.

Jadi kaki-kakiku terkilir, dan sekarang di jam yang nanggung buat tidur, lusa adek-adekku pulang, akhirnya ramai, semoga ini momentum yang tepat untuk bermain bersama mereka dengan ikhlas hehe.