Minggu, 12 Oktober 2014

17:23

  Kalau tidak salah, ya, sepertinya itu benar. Tepat pada waktu itu. Rasanya sejuta mimpi yang dulu diotak, kini seperti migrasi ke ujung bibir yang ketar-ketir namun terus terpanjat doa. Segala upaya seolah telah dikerahkan. Mimpi itu kini tinggal menghitung waktu untuk menjawabnya, apa sudah layak aku menggapainya, atau masihkah harus kurasakan ketar-ketir luar biasa di setiap detiknya.

  Seperti ayam yang baru menetaskan telurnya. Bahagia, berharap anaknya menjadi orang yang hebat layaknya para orang tua. Begitu pula kenyataan ini. Tepat di waktu itu, semua menjadi tak terbayangkan. Seolah sejuta warna hanya ada putih atau hitam. Menang atau kalah. Bahagia atau sedih.

  Tapi, peduli setan. Keesokannya, waktu untuk berjuang di lain hal telah dimulai. Perang ini tak menyisakan luka, tapi menyisakan rasa yang tak terdefinisikan. Maka dari itu, tak ada hal yang tak patut diperjuangkan. Sejenak aku berseru akan waktu itu, dan kini aku harus berkutat mempersiapkan perang selanjutnya.

  Biarkan aku menyelesaikan urusanku dan tak semua orang tahu, biarkan mereka melihat apa yang kuraih. Agar mereka tahu, hidup ini nyatanya tak sesulit sebagaimana orang menganggapnya. Tentu saja, ada masa semua harus jelas serinci mungkin. Kuharap itu hal yang terjadi.

2 komentar:

  1. kenapa jd sering ada kata 'peduli setan' nya yah di cerpen cerpen lu --'

    BalasHapus
  2. Padahal udah jarang lhoo mboo, ini baru keluar lagi aja hehe

    BalasHapus

komentar bagi yang perlu