Selasa, 21 Mei 2019

Bapak-Bapak

Aku tidak pernah kepikiran untuk nimbrung ke aliansi bapak-bapak secepat ini. Tiba-tiba ditunjuk untuk bantu-bantu, aku hanya bisa pasrah dan sembari penasaran, bagaimana sih atmosfer diskusi dengan bapak-bapak?

Sejauh ini, ku hanya menunggu, menahan-nahan jika ingin bersuara. Bahkan terbilang, ngikut aja deh. Aku paling menimpal satu dua yang mungkin tidak terlalu penting atau signifikan. Biasanya yang aku tahu, terkadang orang berumur itu memiliki ego sendiri terhadap yang lebih muda.

Aku pun sempat pesimis akan beberapa rencana barang bapak-bapak ini, tapi Alhamdulillah, ternyata track record rencananya cukup bagus dan akhirnya tahun ini berjalan dengan baik. Walau sempat ada beberapa permasalahan kecil, tapi aku bersyukur tanggung jawabku telah tuntas. Lega~

Ku pikir, semakin kita tua, akan berjalan lurus semakin dewasa. Rupanya, tidak semudah itu. Terlalu banyak intrik yang berkerja. Seperti ego, tujuan, politik, dan ah banyak lagi. Ketika bulan puasa berjalan beberapa hari, aku dijegat selepas shubuh untuk ikut rapat oleh bapak-bapak.

Aku pikir ini hanya membahas tentang kegiatan selama ramadhan saja, tapi tidak. Pembicaraan berlangsung intens hingga jam 7 tiba. Awalnya memang membahas tentang kegiatan ramadhan, lalu kemudian pembahasan permasalahan DKM dengan RT setempat.

Aku mengernyitkan dahi ketika membaca surat dari RT untuk DKM. Intinya ketua DKM disuruh mundur dan kepengurusan DKM diberikan dibawah RT. Aku bertanya, kok semudah itu ya? Kenapa sih sebenarnya?

Aku tidak tahu dari mana sumbu itu berasal, yang ku tahu hanya pemicunya saja. Jadi saat itu DKM sedang menyiasatkan untuk gotong royong di sekitaran musholla, sementara itu ada acara rutin dari RT untuk senam. Rupanya terjadi bentrok disana, masalahnya timbul dari pengeras suara yang bentrok antara musholla dan senam.

Dari situ hingga akhirnya rapat RT diadakan dan keluar surat untuk DKM seperti yang ku sebut diatas. Aku pikir ini hanya masalah komunikasi, masalah saling support, masalah pembagian waktu. Namun, rupanya tidak.

Mediasi dilakukan, ah aku tidak tahu persis apa yang terjadi di sana. Tiba-tiba aku dibilang oleh marbot setempat. "Bapak ketua mundur."

Aku terkejut, masa sih mediasinya tidak berhasil? Kayaknya ini masalah yang sederhana, walau memang tidak mudah. Aku tidak tahu apa yang masing-masing pertahankan hingga akhirnya DKM diambil alih oleh RT dan ketua DKM mundur.

Aku tidak tahu, apa ini sebesar itu permasalahannya? Apa ini tidak berlebihan? Hey, aku pemain baru di sini. Akhirnya setelah malam pengumuman pengunduran diri itu, satu-satu orang di grup WA pada minta maaf dan mengundurkan diri semua. Pada keluar dari grup, aku melihatnya sedih. Baru kemarin aku merasa keberatan dimasukan grup ini, tapi udah dibubari aja.

Terkadang memang kebijaksaan itu adalah menerima. Aku tidak tahu apa yang dirasakan semua dengan hasil mediasi seperti itu. Menerima begitu saja dan membiarkan yang sudah diperjuangkan itu rasanya sulit sekali.

Aku tahu betul bagaimana ketua DKM setiap sehabis shalat selalu ngurus mushollanya. Ngobrol sana-sini. Bahkan tak jarang aku ditelpon untuk urus ini itu. Aku tidak mengerti, sungguh aku benar-benar tak tahu apa-apa kenapa dia harus mundur.

Ada beberapa fakta juga, ternyata musholla didirikan bukan dari tanah wakaf, ternyata dari tanah fasilitas umum. Mungkin itu salah satu permasalahannya. Sempat ada yang serius untuk pindahin mushollanya dengan patungan beli tanah karena daripada menjadi keributan warga.

Ah, tapi aku tetap tidak tahu apa-apa. Mengerikannya juga, ternyata mereka suka sekali terlalu blak-blakan jika bicara. Terkadang aku mikir, apa mereka tidak takut menyakiti lawan bicaranya atau gimana ya?

Ku kira, ketika sudah di era bapak-bapak, semua semudah dengan kebijaksanaan yang ada. Tapi, rupanya, tak bedanya dengan masa remaja atau anak-anak. Satu yang penting. Komunikasi. Itu memang masalah terbesar umat manusia. Entah itu soal kata, intonasi, atau keseluruhan penyampaian atau maksudnya.

Komunikasi adalah kunci. Kata Ka Amri gitu. Hehe

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komentar bagi yang perlu