Rabu, 07 November 2018

Lambat Waktu

Kau tahu? Lambat waktu aku benar-benar tidak peduli siapa yang mau mendengarkan cerita-ceritaku, bahkan rasanya cerita kepada mereka mulai terasa sia-sia. Bukannya aku takut atau kecewa karena ceritaku diabaikan, tapi aku mulai malu dan merasa hal yang ingin aku ceritakan tidaklah penting, tidak perlulah mereka sampai memperhatikan seksama dan mencari-cari solusinya. Kurasa tidak perlu.

Lambat waktu, aku merasa lebih baik diam dan mendengarkan, bukan aku tidak ingin berbagi, tapi aku mulai sadar diri ceritaku lebih baik kutulis sendiri atau kubagi sendiri tanpa ada yang peduli siapa yang mau membacanya, siapa yang mau melihatnya, siapa yang mau mempedulikannya aku tidak akan memaksa orang-orang. Aku hanya tidak ingin ceritaku membuat waktu kalian terbuang.

Lambat waktu, aku hanya menikmati bibir yang terbuka-terkatup, gemetar dan menganga. Mata tak menatap, tapi sesekali menatap, sesekali melepar pandangannya entah ke atas atau ke mana alih-alih agar tidak grogi, atau-atau yang benar-benar berani menatap.

Lambat waktu, aku hanya menikmati orang di sekelilingku bergerak semau mereka dan melihat mereka menyeringai atau menyengir, tersenyum atau cemberut, usil atau serius. Aku hanya ingin belajar menjadi penonton saja, syukur-syukur jadi tim pembantu, mungkin atau mungkin memang begitu harus sekarang. Aku hanya berusaha menerimanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komentar bagi yang perlu