Rabu, 20 Maret 2019

Bukan Tentang Apa-Apa, Semua Perihal Kehendak-Nya

"Gue proses sampai ada yang udah saling ketemu orang tuanya, sudah oke malah..." katanya.

"Terus?" tanyaku penasaran.

"Eh nggak jadi, alasannya sederhana banget."

"Apa?" Aku berusaha menebak-nebak di kepala, tapi tak dapat.

"Beda prinsip aja padahal. Dia mau tinggal di Bandung, mau S2, gue masih mau tetap di sini, deket kantor gue."

Aku rasanya ingin menepok jidat, memangnya hal gitu nggak bisa dirundingin lebih jauh ya?

"Jauh-jauh gue mencari, proses berpanjang-panjang, eh gue sama dia (orang yang dalam waktu dekat ini ingin dinikahinya) cuman 3 minggu doang, udah langsung ngomongin tanggal nikahnya juga."

Aku terkejut. "Iya-ya, udah banyak proses dilalui, dengan waktu pun yang tidak sedikit. Tapi, ujung-ujungnya sama orang yang tidak jauh di mata, dan cuman 3 minggu... Jadi penasaran gue kok bisa cuman 3 minggu. Emang kalau dari elu gimana bisa milih dia?"

"Yakin."

Aku mengusap dagu, menunggu lanjutannya. Tapi, ternyata tidak ada lanjutannya, eh. "Maksudnya gimana tuh?"

"Waktu gue ditawarin beberapa akhwat, gue milih dia, karena gue yakin, udah itu aja. Bahkan yang ini gue nggak pakai istikhoroh kayak lainnya. Tapi, langsung jadi."

Aku tertawa, masa iya hidup selucu itu? "Tapi apa gitu yang membuat yakin? Mungkin karena udah sering ketemu juga kali ya?"

Orang itu menggumam. "Ya, kalau ketemu mah iya, tapi kalau ngobrol jarang. Tapi, ya tiba-tiba yakin aja gitu, dan ternyata keyakinan itu terjawab dengan indah."

Aku tersenyum. "Oke, gue paham rasa keyakinan itu." kataku.

"Justru gue penasaran sama dia, apa yang dia rasain ya? Kok bisa cuman 3 minggu dia langsung ngeiyain?"

Aku setuju, aku pun penasaran apa cerita dibalik 'iya'-nya calonnya orang itu. "Nanti, kalau sudah akad, sudah tahu ceritanya, berkabar ya." aku terkekeh.

Kurang lebih itu obrolan selepas menjemput fajar setelah dengan sekuat tenaga menahan kantuk. Walau banyak hal yang dilebih kurangkan--isi dialognya. Tapi, sungguh ini bukan perkara seberapa dekat dan seberapa lama berproses. Seperti sesuatu yang... entahlah, mahluk-Nya tak akan pernah tahu akan apa yang akan dikehendaki-Nya.

Pada akhirnya, hati pria itu berlabuh ke wanita yang tak jauh dari kesehariannya. Padahal jauh sebelum itu, dia mencari-cari jauh di luar sana. Rasanya lucu, seperti jauh-jauh mencari, ujung-ujungnya sama orang sekitar juga. Tapi, ya memang begitulah garis takdir yang tertulis rupanya.

Itu pun yang membuat hidup ini semakin seru, kita tidak pernah tahu bahkan untuk menebak-nebak plot kehidupan kita saja, kita tak mampu. Itu salah satu yang ku suka dari kehidupan ini, tidak seperti kebanyakan film yang plotnya mungkin bisa diduga dan benar, atau ketebak secara gamblang. Hidup ini penuh teka-teki dan plot yang amat-amat menarik.

***

Tadi, lihat undangan pernikahan salah satu teman kantor yang dibuat dari website--undangan lama. Kok lucu ya, ada tentang kedua pasangannya, foto-foto yang tidak disengaja, dan lucunya lagi tuh video kisah tentang dari awal proses mereka berdua.

Dari proses mengirim CV yang tidak sama-sama tahu, eh ternyata teman satu organisasi, dan itu mungkin salah satu plot twist kehidupan mereka berdua. Lalu dengan seiring berjalannya waktu, mereka akhirnya menikah dan sekarang sudah punya dua anak.

Jadi kepikiran, untuk segala apapun aspek dalam kehidupanku, kira-kira plot twist apa yang akan hadir ya? Semoga semua itu kelak menjadi jalan untuk menggapai ridha-Nya ya, walau terkadang untuk meluruskan niat itu amat-amat susah sekali. Nafsu terkadang sangat egois dalam diri ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komentar bagi yang perlu