Sabtu, 09 Maret 2019

Memandang Langit Yang Sama

Setiap memandang langit, aku selalu bertanya-tanya. Adakah orang yang juga memandang langit yang sama denganku?

Memandang langit menjadi sesuatu yang cukup menyenangkan, mungkin tepatnya menenangkan. Seolah aku tidak akan kesepian, karena langit selalu ada, saat siang dan malam, saat hujan maupun terik, saat di timur ataupun barat. Langit selalu mengiringi, dan terkadang kita tidak terlalu peduli bukan?

Bulan akan terbenam, lalu matahari terbit.
Begitu sebaliknya, matahari terbit dan bulan yang terbenam.
Malam berganti fajar, senja berganti malam.
Dan langit selalu ada di setiap itu.

Dahulu, ketika berjalan hanya menatap ke depan, melihat keriuhan jalanan, melihat hal yang tidak ubah-ubah, semua tampak begitu-begitu saja. Lalu entah bagaimana aku tertuntun untuk menengadah, dan melihat langit-langit sambil berjalan, rupanya sangat indah.

Pepohonan yang berlalu di tengah-tengah awan, atau gedung-gedung, atau mungkin burung-burung yang sedang lalu-lalang, pemandangan yang tidak dapat dilihat jika hanya menatap ke depan, pemandangan yang menenangkan.

Setiap memandang langit, aku selalu bertanya, adakah orang yang memandang langit yang sama juga? Lalu kita bercerita tentang langit yang kita lihat, tentang keindahannya, atau terkadang jika awan menggelap, tentang rasa takut langit-langit atas apa yang sekelilingnya membuat semua terlihat begitu mengerikan--awan-awan gelap.

Setiap memandang langit, rasanya aku ingin memberi kabar, ingin bercerita, walau aku tidak tahu siapa yang akan menjawab kabarku atau ceritaku, bahkan aku tidak tahu siapa yang akan mendengarkan semua kabar dan ceritaku itu.

Terkadang langit menjadi amat indah saat bertabur bintang, atau menjadi mengerikan saat awan menghitam dan hujan begitu lebat. Tapi, langit masih tetap di sana, berdiri tegak dan tak berpaling, tak juga pergi, sungguh tidak pengecut bukan langit itu? Dia selalu ada untuk menemani, hati-hati yang mungkin terkadang terasa sepi dan gelisah ini.

Setiap memandang langit, kupanjatkan doa-doa, agar langit benar-benar tidak akan pergi, setidaknya sampai aku tahu siapa orang yang memandang langit yang sama denganku, yang mau dan berbagi ceritanya, mimpinya, atau sedikit kabar yang mungkin membuatku tersenyum malu.

Adakah langit ingin kamu sampaikan sesuatu? Atau memberi tahu siapa orang yang memandang langit yang sama saat aku bertanya-tanya akan itu? Jika tidak, tak mengapa, aku masih punya banyak waktu untuk memandangmu, keindahanmu, dan menunggu jawaban itu. Semoga aku tidak bosan. Ah. Tentu saja aku tidak akan pernah bosan.

Tapi langit, belakangan ini, aku jarang keluar dari atap-atap kayu ini. Aku sedikit kesulitan bertanya-tanya kepadamu, dan aku sedang tidak percaya diri sekarang. Aku merasa prasangka buruk amat menyelimutiku, aku merasa getir akan apa-apa yang ada di sekitarku, bisakah kita cerita sejenak? Setidaknya, hanya kamu yang bisa ku bisikan sekarang.

Entah sampai kapan, mungkin saat aku berjumpa orang yang memandang langit yang sama, aku akan mengajaknya memandangmu--langit--bersama-sama, biar aku bisikan rasa bahagianya saat itu kepada kalian berdua. Aku harap saat itu teduh dengan angin mendayu-dayu di sebuah perkebunan duduk berdua dengan masing-masing segelas teh hangat yang masih menguap-uap. Tentram sekali bukan?

Maafkan aku langit, saat aku beribadah kepada-Nya, tapi aku masih takut akan dunia beserta mahluk-mahluk-Nya. Aku seolah lupa, bahwa diri-Nya amatlah Besar, Maha Besar, dan aku perlahan tidak melibatkan-Nya. Mungkin gelisah itu dari sana, kuharap kamu memaafkan aku, langit.

Harus kuakui, kamu--langit--adalah salah satu mahluk-Nya yang terindah.

Dengan begitu, akan aku akhiri tulisan ini, boleh aku minta tolong, langit? Titipkan doa dan salamku kepadanya--orang yang memandang langit yang sama--aku akan menjemputnya, cepat atau lambat, kuharap dia menungguku dan terus memandangmu dengan tentram.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komentar bagi yang perlu