Kamis, 28 Maret 2019

Peluk Erat Ayah

Nak, peluk badan ayah erat. Agar jika kamu terlelap, kamu tidak terjatuh nak.
Biarkan ayah memegang erat tangan-tangan mungil yang melingkari tubuh ayah.

Ayah minta maaf nak, jikalau nanti sepanjang perjalanan belum bisa senyaman temanmu lainnya. Tidak bisa terlelap dengan khidmat tanpa takut jatuh atau apa. Ayah minta maaf ya, nak. Mungkin kita bisa memulai perjalanan dengan pembicaraan sederhana. Mungkin dengan begitu kamu tidak bosan dan tidak jatuh terlelap.

Mulai darimana kita bicara? Atau kamu mau mendengarkan cerita ayah? Baiklah, biar ayah ceritakan sedikit dengan sesosok wanita yang luar biasa, nak. Ya, kamu benar, itu ibumu, nak. Ayah jamin, kamu akan terkagum dan menyesal jika kamu tertidur.

Kalau kamu bosan menatap kanan dan kiri atau punggung ayah, kamu bisa melihat ke langit-langit, nak. Dahulu ayah sering berbincang pada langit-langit. Tentang dunia ini, tentang Sang Pencipta dan segala rahasianya, ah tentu saja nak, selalu ada tentang ibumu.

Bersabar ya, nak. Perjalanan kita masih cukup panjang. Walau terik menyelimuti kulit dan tak sedikit keringat bercucuran, itu tandanya kita tengah berjuang, nak. Karena suatu hari jika kamu berhasil melewatinya dan mendapatkan apa yang kamu inginkan, maka kamu akan tersenyum mengingat momen-momen seperti ini.

Nak, tumbuh menjadi hebat dan sholeh ya. Karena dunia dan seisinya tidaklah amat penting, mungkin sekarang kamu belum mengerti. Tapi, kamu tidak akan menyesal jika mendengar perkataan-perkataan ini.

***

Sepanjang perjalanan berangkat, aku melihat seorang ayah yang membawa dua anaknya di satu sepeda motor. Anak perempuan di depan dan anak laki-laki di belakang.

Anak lelaki itu memeluk erat ayahnya. Namun, kepalanya yang terkantuk-kantuk membuatnya beberapa kali hampir terjatuh dari motor. Aku yang berada di belakangnya pun ketar-ketir. Tapi, ayahnya memegang erat tangannya agar si anak bisa terus tertidur dan tidak terjatuh.

Aku pun jadi ingat, ketika waktu-waktu penjemputan aku dari rumah nenek menuju rumah abi dan umi serta adik-adikku. Saat itu, aku diboncengi dibelakang. Aku mudah kantuk, dan aku sering tertidur. Akhirnya abi menyuruhku memeluknya, dan abi memegang tanganku erat. Kadang-kadang abi mengelus tanganku. Sentuhan yang tak akan ku lupakan, dan mungkin sudah sangat sulit terjadi lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komentar bagi yang perlu