Kamis, 07 Maret 2019

Takdir Ruang-Ruang

Hingga ruang itu merasa sangat aneh.
Dimana pada awalnya ruang itu adalah yang sangat akrab. 

Semua rupanya bisa berubah, oleh siapa dan apa, oleh kenapa dan bagaimana, oleh waktu yang terus bergulir dan aku tidak tahu, bahwa aku tidak kembali ke ruang itu, aku hanya berkunjung ke masa lalu, dan melihat semua tengah tidak sesuai lagi dengan diriku saat ini.

Mungkin memang sumber bahagia adalah diri sendiri, dari bagaimana kita melihat sesuatu itu, dari bagaimana kita memaknai sesuatu itu. Tapi bagaimana jika sesuatu itu telah berubah? Awal yang membuatku amat bahagia--dari apa yang aku lihat--, menjadi biasa saja, atau mungkin lebih buruk? Lantas adakah yang bisa menjelaskan bagaimana dengan semua keadaan itu?

Sebagai manusia yang menikmati sekelilingnya, sungguh amat berarti sekali setiap manusia yang mengelilingnya itu. Sebagai manusia yang memiliki perasaan bak kaca, prasangka bak kilat, sensitif sekali untuk merasakan apa yang ada di sekitarnya. Mungkin pada akhirnya, bisa mendapat simpul-simpul jawaban, apakah merasa bahagia atau tidak.

Tidak ada topeng untuk kehidupan ini, karena sesungguhnya susah sekali memakai topeng itu. Memakainya untuk mendustai diri sendiri. Air muka itu hadir untuk menunjukkan pada lainnya, bahwa sedang bahagia atau berduka? Walau tentu saja tidak serta merta semua akan menjadi lebih baik saat semua tahu apa yang ditunjukkan, bahkan bisa jadi lebih buruk

Setidaknya bagiku begitu.

Semuanya telah berubah, yang awalnya ada ruang untukku, kini hanya menjadi serpihan, hanya bisa memandang dari kejauhan. Sesekali melihat riuh kebahagiaan yang terpaksa kutinggalkan. Dan memintaku mencari kebahagiaan baru di ruang lainnya.

Kebahagiaan yang harus kubuat lagi, dari nol lagi, dengan manusia-manusia lainnya di sekelilingku.

Namun, ada hati kecil berkata, "Semua sudah baik-baik saja, tak apa, aku sudah menemukan kebahagiaanku disini." Walau jauh dari itu, aku masih tetap memandang ruang-ruang terdahulu yang telah berubah dari kejauhan, dan sesekali berpikir, "Apakah masih ada kebahagiaanku di sana?"

Manusia paling menyedihkan adalah manusia yang berusaha menunjukkan bahwa ia tengah bahagia. Padahal jauh di hati kecilnya, ia merana.

Banyak waktu telah terjadi, melompat dari suatu kebahagiaan ke kebahagiaan lainnya, dari suatu cerita ke cerita lainnya, yang pada akhirnya membuatku takut untuk terlalu nyaman untuk terlalu akrab akan sekelilingku.

Karena pada akhirnya, mungkin, keadaan akan memisahkanku lagi dari ruang-ruang itu. Lantas ruang-ruang itu menjadi ruang-ruang terdahulu yang hanya bisa ku saksikan dari kejauhan, yang hanya ku bisa lihat riuh kebahagiaannya dari sekat-sekat takdir.

Tapi, tak apa, memang selalu ada fase kita harus melepaskan dan merelakannya. Agar menjadi pembelajaran akan apa yang kurang dari ruang sebelumnya, dan memberikan nilai-nilai pada ruang yang baru.
Kebahagiaan itu melewati proses. Saat semua terjadi seolah tampak mudah, namun pernahkah terpikir bagaimana kebahagiaan itu bisa terjadi? Bukankah banyak waktu yang telah dihabiskan dengan takut dan malu? Bukankah itu adalah perjuangan sendiri?

Kebahagiaan menempatkan dirinya pada sebuah waktu yang telah diusahakan.

Jadi, semua balik lagi akan daya upaya membuat kebahagiaan itu hingga akhirnya waktu tidak bisa menolaknya. Merelakan ruang-ruang sebelumnya, untuk memaknai ruang saat ini berada.

***

Suatu waktu aku cerita sesuatu hal paling penting dalam hidupku, hal-hal paling membuatku amat merana, yang perlahan aku mulai tahu sebab-akibatnya kepada Mas Salingga.

Sebagai pria yang memiliki kepekaan yang kurang lebih sama, Mas Salingga tahu apa yang kurasa dan dia pun menceritakan bagaimana itu terjadi pada dirinya, bagaimana semua terasa menjadi amat merumitkan.

Ada sebuah nasehat darinya, yang ku pikir tidak ada salahnya ku coba. Tapi, selain itu, berbicara dengan orang yang bisa merasakan apa yang kamu rasakan--karena dia memiliki hal serupa--adalah sebuah kebahagiaan sendiri.

Bukankah kita ingin dimengerti akan apa yang kita rasa?

Begitulah rasanya obrolan saat itu, kita menyepakati, bahwa kita pandai sekali memikirkan hal yang mungkin orang lain tidak peduli, rincian perasaan yang terkadang kita tidak mengerti, padahal jauh itu semua sedang baik-baik saja. Prasangka itu, mengerikan.

Kita pun menyepakati, kalau kita harus menyudahi pembicaraan. Karena malam sudah semakin menjadi, dan kita punya kehidupan yang harus diteruskan lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komentar bagi yang perlu