Senin, 07 Maret 2011

SD? Memalukan!

  Masa-masa SD adalah masa-masa belum tahu apa-apa, termasuk gue. pertanyaan: emang pernah SD? Pastinya pernah walau males-malesan, tapi tetep aja masuk terus. Kalo nggak masuk di usir dari rumah nenek dah. Kehidupan yang menjenuhkan terus berjalan. Gue SD di jakarta kota yang berisi berbagai penduduk dan suku dan budaya dan ras dan bangsa dan...dut (dibaca: dangdut).
  Dulu gue punya temen, (tumben). Emang gag banyak seh, tapi gue cukup terkenal di kalangan gepeng-gegeng dan pengamen. Waktu itu masa-masanya gue belum tahu apa-apa, sampe sekarang juga belum tahu apa-apa seh. Sepulang sekolah gue selalu ke rumah adek kelas gue. Karena rumah gue di kunci, Semua orang rumah pada kerja. Gue yang lagi asiknya main PS di rumah temen gue, tiba-tiba merasakaan hawa kegelapan datang. Gue sudah nggak kuat. Perut gue bergemuruh dan terdengar musik-musik di film thriller yang mencekam. Gue mules.
  Gue sang pemalu ini (laskar pemalu selanjutnya! Coming soon…) tidak berani meminjam kamar mandi temen gue. Soalnya nggak sanggup balikinya kalau minjem. Jadinya gue memutuskan pergi menyusul nenek gue yang sedang mengajar cukup jau. Dengan sepeda ijo kecil butut kalo temen gue bilang sepeda tukang jengkol. Namun sepeda ini cukup bermakna dan berarti, dia telah setia mengantar gue kesekolah. Walau ngegoesnya pegel banget. Dan sekarang gue pun terus menggoesnya. Perjalanan panjang di mulai, melewati gunung, dan melewati lembah, berbagai rintangan ku hadapi, perlahan-lahan dan menang... jalani hari dengan berani... tegaskan suara hati. wooooo u woooo. lalalala. pidum-pidum pamapam. (maksudnya?) abaikan itu.
  PS (Pesang Sinkat!! bukan PlayStation): Bagi yang sedang makan lebih baik jangan baca yang di bawah ini, karena akan ada adegan menijikan. (bagi yang mau muntah silahkan. gue udah depanan waktu nginget-ngingetnya).
  Kita lanjutkan, gue yang udah gak tahan sementara perjalanan masih panjang. Akhirnya dengan terpaksa tanpa basa-basi melepaskan ranjau-ranjau ketika di jalan. Hal hasil ranjau yang gue keluarin berceceran di jalanan, gue emang masih kecil. Tapi yang gue bingung kok blo’on banget yah gue kecilnya. Banyak orang melirik gue, karena gue masih kecil jadi sedikit cuek. Walau itu sangat-sangaaaaat memalukan. Akhirnya gue sampai di sekolahan nenek gue mengajar.
  "Ya ampun Mi!!! kamu yang bener aja, ranjau berceceran kemana-mana!" ucap nenek gue histeris kaya di sinetron-sinetron maling kolor. Gue gak bisa berkata apa-apa, akhirnya gue mandi di sekolah nenek gue kerja. Dan meminjam baju murid nenek gue. Sampai sekarang itu baju belum gue balikin. Udah jadi keset mungkin itu baju.
  Ini hal paling menjijikan di kehidupan gue, tapi semua kehidupan gue sangat menjijikan. Apalagi muka gue yang abstrak ini. Entah harus mengabadikannya tapi kesannya gue blo’on banget. Ngelupainnya, mungkin orang-orang yang ikut campur ngeliat ranjau-ranjau gue berceceran pasti nggak bakal maafin gue. Iyalah, udah jatuhin kaga mau beresin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komentar bagi yang perlu