Rabu, 02 Januari 2019

Kasih Bersemi

Saban hari, ternyata kanker itu menjalar sudah ke seluruh tubuh. Mematikan otak, mematikan hati, diam-diam menyergap dada, membuat sesak tak kepayang. Saban hari, rupanya tidak semakin membaik, pikiran dan hati semakin rumit, mereka berusaha satu tapi ternyata saling menolak.

Seharusnya aku malu sendiri, berkata pada dunia tentang langit. Kataku, jika hati sempit, tengok sedikit ke langit. langit membentang bukan? Jika pikiran terkukung, jalan-jalan sedikit, ke tempat Ilahi. Ah, rupanya itu hanya kata-kata ketika tenang, bukan saat berjuang.

Saban hari, kupikir menjalaninya dengan baik, lebih berhati-hati, ah namanya juga jebakan. Mana aku tahu, tiba-tiba kuterjerembab oleh jeratan yang dirancang sedemikian rupa agar menyerahlah diriku dari melarikan diri.

Seharusnya aku malu sendiri, kemarin kumenatap hari esok dengan percaya diri, sedikit senyuman kusimpulkan dan melangkah dengan pasti. Lalu aku berkata, hari esok harus lebih baik dari hari kemarin. Ah, rupanya hari esok datang, dan aku kembali mual, ingin memuntahkan segalanya.

Saban hari, kupikir kasih akan bersemi dengan bijak, bersemi sebagaimana mestinya, tapi ternyata kasih yang bersemi cuman berkasih di sebuah lagu. Ku hanya bisa mendengarkannya, sebuah paradoks dari apa yang dihadapi.

Aku akan tutup ini dengan sebuah lagu, yang kuharap kasih itu akan bersemi, entah bagaimana, dengan siapa, atau apa.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komentar bagi yang perlu