Selasa, 01 Januari 2019

Pengetahuan Tertinggi

Bicara penghujung 2018, aku banyak sekali menjumpai kerumitan yang tidak mudah begitu saja diselesaikan. Saat itu, rasanya sungguh lelah, berhadapan dengan itu semua. Tapi memang pembelajaran kehidupan terbaik adalah permasalahan kehidupan itu sendiri.

Dari sekian banyak permasalahan penghujung 2018, ada satu hal yang membuatku terpikirkan. Lebih dari terpikirkan, aku terasadarkan. Saat itu bisa dibilang aku sangat payah, tapi salah dua hakikat manusia adalah tempatnya salah dan harus banyak bertaubat. Jadi, kuanggap ini adalah jalan menuju taubat.

Saat itu seorang berkata. "Manusia bisa dapat sesuatu, lalu ia bisa memilih bagaimana ia merespon."

Aku tetiba begitu saja terpaku dengan kata merespon. Jika kita bicara merespon, itu adalah sebuah bentuk pilihan atas kondisi atau fakta atau bahkan kejadian yang terjadi dihadapan kita. Sebuah respon seseorang akan bergantung apa yang menjadi pemikiran orang itu.

Jika seseorang melihat orang pacaran, dan pemikiran orang itu pacaran adalah sesuatu yang baik-baik saja. Tentu saja orang itu akan merespon membiarkan orang pacaran itu. Begitu pun sebaliknya, jika seorang melihat orang pacaran lalu orang itu memiliki pemikiran bahwa pacaran itu adalah pintu maksiat, maka ia akan melarang keras orang pacaran itu.

Sebuah pemikiran pun adalah perjalanan panjang dari berbagai macam masukan yang ia cerna selama ini, baik dari tekstual, video, doktrin, pelajaran atau apapun. Permasalahannya adalah semua respon yang kita pilih adalah sebuah bentuk tanggung jawab kita, dan risikonya pun kita yang menanggung.

Aku jadi teringat tahapan sebuah pengetahuan. Ada empat segmen tahapan pengetahuan yaitu dari Data, Informasi, Pengetahuan, dan Kebijaksanaan.

Jika aku melihat pada fase kehidupan, data dan informasi seperti fakta atau kejadian yang terjadi, pengetahuan adalah apa yang kita pikirkan terhadap kejadian itu dan menjadi modal sebuah keputusan, tapi terpenting dari semua itu dan yang tertinggi adalah kebijaksanaan.

Aku melihat peta pemikiranku setahun terakhir, aku bisa mengumpulkan beberapa informasi atau fakta, aku punya pengetahuan atau pemahaman untuk mengambil sebuah keputusan walau masih sangat minim, tapi permasalahannya adalah aku selalu melewatkan kebijaksanaan.

Kucoba memahami, Kebijaksanaan ku lihat sebagai pemilihan keputusan yang tepat, artinya aku harus berpikir lebih jauh akan keputusan yang akan aku ambil. Berpikir menyeluruh, apakah keputusan yang muncul dari pengetahuanku ini berdampak baik? Apakah adil? Apakah tidak merugikan orang lain? Apakah ke depannya akan baik-baik saja? Apakah aku tidak terbawa hawa nafsu?

Jika masih banyak yang pertanyaan di atas belum terjawab, berarti pengetahuanku masih perlu dikembangkan.Ah sungguh, hamba sangat fakir akan ilmu ya Allah. Rasanya harus menumbuhkan rasa malu untuk terus belajar, karena kebijaksanaan tidak bisa dilakukan dengan sedikitnya ilmu. Pemirikan menyeluruh harus berpikir secara aspek yang menyeluruh pula. Maka jika saja ilmuku sangat sedikit, maka bagaimana aku bisa berpikir menyeluruh ke segala aspek? Bagaimana aku bisa bijaksana?

Ya, aku sering melewati fase tertinggi itu yang justru sangatlah penting, tentang kebijaksanaan. Kebijaksaan bagiku seperti mengendalikan atau melawan hawa nafsu dalam mengambil keputusan. Bukankah melawan hawa nafsu adalah jihad tertinggi?

“Jihad yang paling utama adalah jihad seseorang melawan hawa nafsunya.” Hadits ini dishahihkan oleh Nashiruddin al-Bani dalam Shahihul Jami (1099).

Aku sempat melihat parah ayah memiliki kebijaksanaan luar biasa, mereka pastilah orang yang memiliki banyak pengalaman dan ilmu. Sehingga keputusan yang mereka buat pun insya Allah yang syarat akan kebijaksanaan, bahkan terkadang aku heran dengan keputusan mereka.

Salah satunya adalah seperti merespon untuk tidak marah saat anaknya mencoret mobil dengan batu. Sang ayah tahu, memarahi anak kecil adalah bukan tindakan yang bijak. Karena sang ayah tahu, anak kecil belum mengerti apa yang ia lakukan saat itu, dan jika ia memarahinya habis-habisan banyak pengaruh pada anak kecil itu yang berkaitan pada mental si anak kedepannya. Di sisi lain, ayah berusaha mengendalikan hawa nafsunya yang pasti sangat kesal karena mobilnya tercoret.

Satu lagi seseorang itu berkata. "Yang salah bukan perasaannya, tapi kita bertanggung jawab sama responnya."

Manusia pasti memiliki perasaan yang mau dihilangkan atau sembunyikan bagaimana pun pasti akan tercuat dalam perasaannya. Tapi orang bijak sadar, ia bertanggung jawab akan respon dari perasaan itu, berpikir menyeluruh, orang bijak mampu mengendalikan perasaan yang menjadi sifat manusiawi itu. Orang bijak tahu bagaimana ke depannya akan semua opsi respon yang akan dilakukan.

Balik lagi ke mobil yang tercoret, sang ayah pasti sangat kesal mobil indahnya yang terawat harus terbaret-baret oleh anaknya. Itu perasaan wajar, tapi setelahnya, itu adalah pilihan sang ayah, tanggung jawab sang ayah terhadap pilihannya. Dan kembali lagi, tahapan tertinggi sebuah pengetahuan adalah kebijaksanaan. Sang ayah harus berpikir menyeluruh dan mengendalikan perasaannya untuk menyelesaikan permasalahan ini dengan baik.

Ah, tentu saja, kita harus punya standard pengetahuan. Walau aku masih tak cukup baik dan fakir ilmu, bagiku standard pengetahuan umat muslim ialah Alquran dan As-Sunnah. Jika kita menaruh standard yang kebenarannya sudah pasti, maka insya Allah, respon atau pilihan yang kita pilih adalah sebuah kebijaksanaan. Insya Allah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komentar bagi yang perlu