Jumat, 18 Januari 2019

Tentang Penerimaan

Ah pantes saja rasanya tidak asing kata-kata ka Ima tadi sore soal

"Jika sudah ada penerimaan, maka sisanya adalah keberanian."'

Rupanya pernah baca di blognya Fitri disini yang di reblog dari sini. Disaat bersamaan lagi baca ini juga terus juga dari sumber yang sama, ini juga.

Kalau bahas soal menerima, jadi inget kata-kata abi. "Hil, kalau kamu nikah, kamu harus siap sepaket untuk cerewetnya, betenya, ngambeknya, ribetnya, dan lainnya."

Begitu pun yang dikatakn Ustadz Haikal. "Saya terima nikahnya bersama dengan cerewetnya, betenya, ngambeknya, dst." kurang lebih begitu.

Terus juga Mas Salingga cerita. "Cewek tuh My, sampai kapan pun kita nggak bakal bisa pahami."

"Iya, sih." Kataku setuju.

"Istri gue tuh, bisa tiba-tiba aja marah atau ngambek. Padahal gak ada omongan apa-apa sebelumnya. Jadi dia tuh selalu membuat harapan bahwa suaminya itu melakukan apa yang dia harapkan, tapi harapannya itu tidak dikasih tahu ke suaminya. Jadi gue harus peka banget, harus tanya setiap saat biar nggak ada yang kelewat, tapi tetep aja, dia tuh nggak mau ngomong, intinya lu harus lakuin apa yang ada di pikirannya tanpa perlu dia omongin."

Dalam hatiku berkata, cenayang dong ya bisa baca pikiran orang.

"Ya, tapi itulah bumbu rumah tangga. Jadi ada aja yang diributin." Mas Salingga mengangkat kedua bahunya sambil terkekeh.

*

Terus apa kesimpulan atau yang ingin dibahas dari kisah-kisah di atas?

Hmm, nggak ada. Selamat tidur, semoga besok bisa menikmati akhir pekan dengan bijak. Walau masih harus kerja, semoga bahagia.

2 komentar:

komentar bagi yang perlu