Selasa, 01 Januari 2019

Jembatan Rel Kereta

Saat itu suasana begitu meriah, suara radio terdengar menyenangkan, seisi mobil berdendang. Walau tertahan karena macet, tapi sungguh pemandangan dari sebelah kiri mobil sangat indah, disana ku bisa melihat sebuah jembatan rel kereta yang membentang menyeberangi danau. Jauh dari rel kereta, terlihat latar gunung atau bukit dengan langit-langit membiru. Ah indah sekali bukan?

Semua terasa baik-baik saja, perjalanan menuju rumah Mutiara menjadi perjalanan yang indah, hingga akhirnya ku menatap ke arah jendela kananku. Tak terlihat apa-apa, seharusnya di sebelah kanan adalah jalan lawan arah, tapi aku tidak melihat apa-apa. Aku tersedar, ternyata di sebelah kanan mobil kami, dari lawan arah, sebuah mobil pengangkut kontainer secara gandeng melintas.

Aku melihatnya dengan terpana, aku seperti "waw" sungguh pemandangan luar biasa, seperti melihat ikan lumba-lumba lompa di hadapanmu dan menutup seluruh pandanganmu. Aku terpana, namun tak lama, kaca yang tepat berada di sebelahku retak-saat itu aku berada di bagian belakang sebelah kanan dekat kaca--, serpihannya membuncah ke dalam, suaranya retaknya tidak menggema karena teredam oleh jenis kaca, tapi aku hanya menatap dengan tatapan kosong. Aku seperti melihat kematian, di depanku.

Saat bersamaan, ke lima temanku menatap ke arahku, menatap jendela di dekatku. Mereka pun terkejut, tapi lantas fokus melihat ke arah mobil pengangkut kontainer itu. Banyak orang melihat, mereka berusaha menyuruh kami yang ada di mobil untuk keluar dan mencegat mobil pengangkut kontainer itu.

Beberapa orang bergegas, tepatnya dua orang. Sisanya bingung, kami semua masih melongo, terlebih aku. Akhirnya semua pada keluar dan tersisa aku di dalam. Aku tidak habis pikir, semua itu tepat di sebelahku, dihadapanku. Seandainya saja aku sedang senderan ke kaca mobil sebelah kananku atau aku sedang terlelap disana, entah bagaimana ceritanya.

Serpihan kaca itu berhamburan di kursiku, aku agak sedikit condong ke depan saat kejadian, aku menutup kursi tengah dan menjauhi kursiku. Aku menatap ke belakang, seseorang anak kecil sedang menjulurkan ponsolnya dan menaruh arah kameranya ke mobil kami. Aku melihatnya.

Saat itu, aku sendiri yang tidak mengejar mobil pengangkut kontainer itu. Aku masih terdiam, hingga akhirnya aku berusaha untuk keluar dari mobil dan membantu temanku--yang bawa mobil--untuk menyusul mobil pengangkut kontainer yang sudah cukup jauh.

Sementara itu, dua temenku sudah mencegat lebih dulu, dibantu oleh seorang bapak-bapak pengendara motor yang memperjuangkan kita untuk mengejar mobil pengangkut kontainer itu. Tapi, beberapa saat ketika kejadian, aku melihat mobil kontainer itu terdiam, bingung juga, aku yakin mereka tidak ingin lari begitu saja.

Akhirnya kami semua berkumpul dengan pengendara mobil pengangkut kontainer itu. Aku masih termenung, tidak habis pikir. Sebelumnya kami berdendang dengan ceria, aku bisa menikmati dari kejauhan danau dengan rel kereta dan berlatarkan perbukitan atau pegunungan itu.

Semua berusaha saling menenangkan. Beberapa ada yang melihat keadaan mobil. Mobil terlihat sangat kacau, kaca belakang kanan hancur, body mobil pun lebih dari penyok--robek--lalu lampu kanan mobil copot dan pecah.

Selain aku, Rahmat--sang pembawa mobil--terlihat lebih shock, dia tahu dia tidak salah, tapi dia mendadak seperti trauma karena membuat mobil yang dia bawa jadi tertabrak. Padahal itu sama sekali bukan salah dia, kita diam, tidak melewati garis jalan, dan mereka pun tidak memperhitungkan belokan yang tajam itu dengan pelan-pelan.

Selagi beberapa orang dari kami termenung, sisanya ngobrol ke supirnya, saat itu kita saling ngotot-ngototan. Karena terlihat kita masih bocah, mereka benar-benar berani memainkan mimiknya dan menggunakan nada tinggi. Aku tidak menilai dia orang yang buruk, kondisi membela diri memang sulit dimengerti.

Saat semua membela, aku masih terdiam. Aku berpikir, aku bertanya-tanya, jika aku pemilik mobil ini, jika aku seorang ayah yang mempunyai mobil ini dan anakku membuat kacau balau, apa yang harus aku lakukan? Walau aku tahu, anakku bukan yang berbuat kesalahan.

Kita semua masih ngotot-ngototan. Hingga akhirnya ayah temenku yang mempunyai mobil ingin menghampiri kami untuk menyelesaikan permasalahannya. Kami pun akhirnya sama-sama menunggu setelah tidak menemukan jalan keluar.

Perkiraan biaya ganti rugi sekitara 2 jutaan, tapi sang supir mobil pengangkut kontainer itu hanya bisa memberikan 200 ribu. Ah, aku bingung, bagaimana aku bisa terima 2 jutaan dengan 200 ribu? Aku ingat di malam waktu aku dan septian di tabrak oleh tiga bocah yang boncenan pada satu motor. Saat itu hujan membasahi kami, kami berdebat, hingga perwakilan orang tua bocah itu datang dan ayahnya Septian datang. Di situ, aku dan Septian tidak bisa menerima pengajuan uang yang mereka tawarkan, karena jauh sekali dari harga kerusakan motor Septian--saat itu aku dan septian boncengan menggunakan motor Septian.

Aku, tidak terima jika nilainya sangat jauh.

Ah, tapi aku hanyalah seorang anak baru kemarin. Ayah temanku datang, mereka berdiskusi dengan logat serta bahasa jawa mereka. Mereka saling menghitung-hitung, melihat kembali kerusakannya, lalu berbicara tentang bagaimana kejadiannya, walau sang supir ngotot, kami pun tidak mau kalah dan lebih ngotot, karena jelas-jelas kami tak salah. Hingga akhirnya ayah temanku dan sang supir berbicara lebih jauh.

Aku dan beberapa temanku sibuk mencari harga sparepart untuk mengganti kerusakan, dan harganya ternyata tidak sesuai dengan harga perkiraan sebelumnya. Lebih jauh, lebih mahal. Ah, ku muak rasanya jika bicara uang. Kita tahu semua butuh itu, tapi kalau keadaan seperti ini, bagaimana seharusnya?

Akhirnya pembicaraan antara ayah temanku dan sang supir telah usai. Kesepakatan terjalin, sang supir menyerahkan uang senilai 600 ribu. Aku dan yang lain terbengong, itu jauh sekali dari biaya reparasinya. Kenapa bisa ayah temanku mengiyakan?

Tapi sekali lagi, aku, mungkin kita, masihlah anak baru kemarin. Ayah temanku pun berkata. "Ini musibah, jangan dipikirkan, walaupun kalian diam, namanya musibah mau gimana lagi. Terima saja, nggak usah menganggap salah berlebihan. Ya, memang kalau begini kita tidak bisa meminta ganti rugi seutuhnya."

Aku tidak mengerti, kenapa? Kenapa tidak meminta ganti rugi yang sepadan? Begitu pun ketika kejadian kecelakan dengan Septian, ayahnya Septian pun tidak ngotot meminta ganti rugi yang sepadan. Aku heran, apakah seperti ini cara penyelesaiannya? Ada apa sebenarnya? Aku bingung.

Satu yang kusadari saat itu, kebijaksanaan menanggapi musibah. Seorang bocah sepertiku tentu saja punya nafsu menggebu, mana aku sadar bahwa kerugian itu tidak hanya di diriku, tapi di diri pelaku juga. Dan disaat bersamaan, kita harus bijak dalam mengambil kesepakatan. Hanya itu yang kupikir.

Akhirnya masalah selesai, aku dan yang lainnya kembali jalan menuju ke rumah Mutiara dengan dibantu ayah temenku yang membawa mobil itu ke kota dekat rumah Mutiara. Sementara itu temanku, Rahmat, masih terlihat shock dan sebenarnya dia menolak membawa mobil lagi, tapi diantara kami semua hanya dia yang bisa, sebenarnya ada temanku satu lagi, tapi sudah ada perjanjian dia bawa ketika perjalanan pulang.

Sepanjang perjalanan, aku tidak habis pikir, bagaimana aku bisa mendapatkan ilmu kebijakan itu? Ilmu pengendalian itu? Seolah maut di depan mataku terlupakan, aku malah fokus bagaimana jika suatu saat aku sebagai ayahnya, apa yang akan aku lakukan?

Sesampai di rumah Mutiara, kita disambut dengan ramah, orang rumah Mutiara tahu kita habis kecelakaan, mereka pun pada melihat mobil yang cukup rusak ini dan berusaha menghibur dengan membawa santai. Terutama oleh ayahnya Mutiara, dia cerita bahwa dirinya sering banget mengalami kejadian itu ketika bertugas membawa mobil. Jadi dia minta untuk menganggap biasa saja.

Obrolan di rumah Mutiara pun masih seputar kecelakaan, hingga akhirnya kita melihat Rahmat sangat tidak nyaman dengan wajah yang pucatnya itu. Aku pun berusaha mencari pembahasan lainnya, dan ya akhirnya ada saja pembahasan dan membuat kita tertawa-tawa.

Hari itu, aku pun ketemu adik kecil bernama Agung. Adik yang gemesan. Kita akrab sebentar, sebelum aku benar-benar pulang dari rumah Mutiara.

Malam telah tiba, kami memutuskan pulang dengan mobil yang sudah diupayakan masih bisa berjalan dengan baik. Kaca mobil yang berserakan pun dirapihkan, sementara itu kaca yang masih ada di tempatnya pun di lakban, begitupun lampunya.

Perjalanan malam itu di bawa oleh temanku satunya, kita selamat sampai tujuan, Alhamdulillah. Tadinya kita mau jalan-jalan, tapi setelah kejadian itu, kita lebih banyak terdiam dan merenung, lalu memutuskan untuk menaruh mobil terlebih dahulu barulah kita pikirkan kemana lagi.

Setidaknya, tidak ada yang terluka saat itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komentar bagi yang perlu