Sabtu, 13 Oktober 2018

Penjual Kelapa

Biasanya, selepas pergi bareng umi setiap sabtu, kita mampir ke tempat penjual kelapa muda langganan umi. Katanya, di situ airnya dan kelapanya lebih besar di banding yang lain. Jadilah kita setiap sabtu pasti ke sana untuk membeli kelapa muda.

Setiap sabtu tiba ke penjual kelapa, biasanya penjualnya wanita, bercadar dan berkerudung panjang serta jubah panjang. Terkadang siang itu terik terkadang siang itu teduh. Tapi wanita penjual itu, tetap mengenakan pakaian seperti biasanya, bercadar, kerudung panjang, dan jubah panjang.

Terkadang aku gerah sendiri, karena siang itu terik. Tapi aku melihat penjual itu tak mengeluh sedikit pun akan teriknya siang itu, bahkan setiap kita mampir dia selalu menyambut dengan ceria, sepatah dua patah berbincang dengan umi sambil menyiapkan pesanan umi.

Wanita penjual itu lantas memilah kelapa muda yang banyak airnya dan bagus kelapanya, lalu dengan golok yang berada di sekitarnya, tak tanggung wanita itu memotongnya dengan lihai beberapa kali. Saat memotong, tak sengaja aku memerhatikan telapa tangannya. Iya, telapak tangan yang penuh goretan dan kerja keras tentunya. Bukan telapak tangan wanita sebagaimana umumnya yang halus nan lembut, tangannya seperti, bekerja begitu bahagia.

Beberapa kali aku melihat suaminya membawakan banyak kelapa dari motornya dan menaruhnya di tempat stok kelapa yang mereka punya. Lalu membantu sang istri untuk memotong kelapa muda yang mereka persembahkan untuk para pelanggan.

Umi selalu suka beli disana karena saat memiliki kelapa yang kecil dengan porsi air dan kelapanya yang sedikit pun, terkadang wanita penjual itu memberikan umi dua kelapa, jadi terasa seperti satu kelapa besar.

Tapi, hari ini aku tidak kesana dengan umi. Tidak pula sendirian ke sana. Umi pergi, dan aku sendirian di rumah. Sepi. Tidak ada yang tertawa hari ini, atau esok. Semoga senin pulang dengan selamat. Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komentar bagi yang perlu