Selasa, 16 Oktober 2018

Memahami Orang Lain

"Kalau mau ngasih emas berlian juga harus dengan cara yang baik, kalau ditimpuk juga belum tentu orang-orang mau terima, malah marah bisa-bisa." - Donny Yordan (Netizen di kolom komentar).

*

Sebenarnya pembahasan ini tentang pendekatan pemahaman Islam (dakwah) ke berbagai kalangan, salah satunya adalah ke orang-orang yang memberikan sesaji tanam kerbau sebagai titik awal dimulainya proyek NYIA (New Yogyakarta International Airport) di kulonprogo.

Sebagai manusia yang diberikan akal pikiran, kita dapat menangkap berbagai macam pemahaman, dari yang baik hingga buruk. Sayangnya tidak semua manusia memiliki pemahaman yang sama, ada pemahaman baiknya banyak, ada yang buruknya banyak, atau dibolak-balik. Tentu saja baik buruknya itu berlandasarkan Islam, Alquran dan Hadis.

Selain pemahaman, manusia juga punya prilakunya (tindakan), dan itu berkaitan erat dengan pemahaman manusia itu sendiri. Lalu apa hubungannya dengan sesaji di kulonprogo itu?

Terkadang untuk merubah cara pandang orang, kita harus mengetahui cara pandang orang itu bagaimana? Melihat film The Good Doctor, ketika dokter autis itu (tokoh utama) berusaha memahami pasiennya yang autis juga, terlihat bagaimana si dokter berusaha memahami bagaimana cara berpikir pasiennya, hingga akhirnya pasiennya itu nurut, setelah pasien merasa dipahami dan mulai nurut, sangat dokter bisa merubah prilaku sang pasien untuk mau diam (saat itu konteksnya pasien tidak bisa diam). Nah disitulah pentingnya memahami orang lain dulu baru merubahnya.

Begitu juga seperti obrolan jumat kemarin tentang hasil tes kepribadian (MBTI), waktu itu aku bertanya "Emang betapa pentingnya sih tes MBTI ini?"

Lalu Fitri celetuk. "Sebenarnya tes ini untuk kita bisa memahami orang lain, sehingga kita bisa menyesuaikan apa-apa pada orang itu." kurang lebih intinya begitu.

Memahami orang lain. Ya, sebelum kita merubah orang lain kita harus memahami orang lain, agar tidak terjadi penolakan, bahkan penolakan yang begitu keras. Menurutku dengan kita memahami orang itu, sehingga orang itu merasa dimengerti, dan barulah saran-saran yang kita sampaikan jadi masuk dalam pemahaman dia dan itu dapat merubah tindakan itu (atas izin Allah).

Pergerakan dakwah, jika ditulisan yang aku temukan terkait sesaji di kulonprogo itu, akhirnya aku sedikit paham bagaimana dakwah itu harus bertahap dan ada penerusnya. Terkadang kita tidak bisa merubah orang total secara langsug (Bahkan kita tidak bisa merubah orang, itu kuasa Allah SWT), kita harus pintar-pintar dalam berdakwah, kita harus tahu medan dakwahnya, sehingga yang disampaikan oleh mereka tidak menyakiti pemahaman mereka saat itu yang berdampak mereka menjadi sangat menentang akan apa yang kita sampaikan.

Kisah sesaji di kulonprogo itu ternyata adalah perjalanan dakwah yang belum usai, dikisahi memberikan sesaji dengan mengurbankan gadis perawan hingga akhirnya tergeser menjadi kerbau oleh Sunan Kalijaga. Tentu saja, walau kerbau, sesaji itu tetap termasuk syirik. Tapi, tidak lantas kita meneriaki mereka syirik serta-merta, maka meledaklah mereka, yang ada peperangan.

Seharusnya kita melakukan pendekatan yang kurang lebih sama oleh Sunan Kalijaga atau mungkin lebih baik, sehingga melanjutkan dakwah beliau dan perlahan meninggalkan syirik secara tuntas dengan baik-baik. InsyaAllah. Kecuali memang sudah mentok, ya harus di jihad-in.

Jika ditilik lebih jauh, dakwah Islam sekarang sudah semakin luas dan pendekatannya menyesuaikan medan-medannya. Karena jika tidak memahami medan yang akan diterjang, tentu saja ikan tidak akan berhasil memanjat pohon dan burung tidak akan berhasil menyelami lautan untuk ke bikini bottom. Pendekatan ke mereka berbeda, karena medannya berbeda-beda. Walau soal ikan dan burung itu perkara karakteristik mahluk (khasiat di mahluk itu) bukan pemahaman, tapi jika dipaksakan maka tidak akan berhasil seperti memaksa anak akan apa yang tidak ia kuasai, hanya membuat masalah pada anak itu.

Lihat bagaimana sekarang para ustadz hebat melakukan pendekatan yang tidak biasa, tidak hanya ta'lim di masjid. Ada yang merangkul ke geng motor dengan nongkrong bareng dahulu, atau anak sket, atau dengan sebuah visual seperti komik untuk yang suka baca komik, video untuk yang suka video, film untuk pecinta film. Mereka menyajikan aneka ragam pintu dakwah yang tak biasa dengan tujuan yang satu, membangun pemahaman yang Islami.

Melihat semua itu aku jadi paham, kita tidak bisa lantas berteriak tanpa adanya edukasi yang persuasif. Tentu saja balik lagi, mengingatkan itu baik, tapi pendekatannya harus lebih lihai dan haluuusss...

Bukankah dakwah itu mengajak? Bukan memusuhi? Bukankah kita ingin diajak dengan cara yang baik (dari segi pemahaman)? Menyatukan frekeunsi atau memahami, menyampaikan, mengajak, perubahan, dsb. Terkadang tak semulus itu, maka itu kita harus memiliki penerus, agar tahapan yang sudah berlangsung terus dijalankan hingga peradaban Islam bangkit kelak.

Karena dakwah adalah kewajiban, apapun pekerjaanmu.

Surga itu luas, jadi jangan takut tak kebagian dengan mengajak orang.

Soal emas yang ditimpuk, itu orangnya abis marah-marah lalu pungutin emasnya ya? hehe

2 komentar:

  1. Kayaknya yg dibilang ga sampe menyesuaikan sih, tapi kita jd paham kenapa seseorang bersifat spt apa. Tapi bener juga sih kalau kita mau berpkir lebih dalam, tau hal itu bisa membantu kita ketika memutuskan akan bersikap spt apa thdp org lain.

    ((Dan sebenernya itujuga dr ka shanin sih))

    Start with definition juga kaliya. Kadang orang berantem padahal udah tau definisi yang diperdebatkan beda. Ya gak akan sampe kecuali masing2 tau sudut pandang orang lain gimana mendefinisikannya.

    Nice mi, kujadi ngeh sama berita kepala kerbau itu. Masih rentetan dakwah yg blm selesai ya ternyata :'

    BalasHapus
  2. fitri: eh gak sampai menyesuaikan toh... iyaa, sama kayak mau mengalahkan musuh dengan cara berpikir seperti si musuhnya...

    hoo kak shanin hehe...

    hmm iya sih, terkadang sudut pandang dalam suatu hal berbeda memaknainya sehingga membuat pergesekan hingga terlihat ego mempertahankan argumen masing-masing yang tak kunjung usai...

    kalau kubaca sih begitu, semoga valid, tapi ada komiknya itu di Liqomik 2 tentang Misteri Mbah Petruk.

    BalasHapus

komentar bagi yang perlu